NovelToon NovelToon
Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Sugar Daddy-ku Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Cinta Terlarang / Obsesi / Beda Usia / Tamat
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: Celina González ♥️

Zaira Montes tumbuh di lingkungan kumuh dengan satu tekad: keluar dari kemiskinan lewat kuliah dan pekerjaan yang menguras habis tenaganya. Tapi malam ketika sahabatnya sendiri "menjualnya" ke sebuah klub eksklusif, hidup gadis itu berubah selamanya—karena di balik pintu ruang VIP, seorang lelaki menunggunya.

Leonardo Santos. Taipan berusia lima puluh tahun, dingin, berkuasa, dan menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Dunia mengenalnya sebagai hartawan tak tersentuh; hanya sedikit yang tahu kerajaannya berdiri di atas bisnis-bisnis kelam dan rahasia berdarah. Ia tak mencari cinta. Ia hanya ingin memiliki Zaira—dan lelaki seperti dia selalu mendapatkan apa yang ia inginkan.

Zaira bersumpah dirinya bukan barang yang bisa dibeli. Namun antara penolakan dan gairah yang tak sanggup ia bendung, garis itu perlahan kabur. Dari kesepakatan penuh nafsu, tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: perasaan yang bisa menghancurkan mereka berdua.

Sebab di dunia Leonardo, mencintai berarti menjadi kelemahan. Dan seseorang dari masa lalunya telah lama menunggu—menanti Sang Mafia jatuh cinta, agar akhirnya ia punya sesuatu untuk direnggut.

Ketika peluru mulai berbicara dan pengkhianatan menampakkan wajahnya, Zaira harus memilih: lari dari pria paling berbahaya yang pernah ia kenal, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang lahir dari kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celina González ♥️, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Fajar merangkak masuk perlahan di sela tirai berwarna gading. Cahaya keemasan menyusup bagai jemari hangat yang membelai wajah Zaira, dan ia menggeliat berat di antara seprai. Tidurnya semalam tak nyenyak. Gema suara itu masih berdengung di dadanya. Kata-kata Leonardo, sejauh apa pun, meninggalkan getaran yang enggan pergi di bawah kulitnya.

Dalam tidurnya yang setengah sadar, benaknya menghadirkan kembali sosok pria itu. Cara Leonardo memandangnya seolah dunia tak lagi ada, gesekan janggutnya yang tak terawat pada tulang selangkanya, dan aroma kayu, kulit, serta sesuatu yang lain, sesuatu yang tak bisa ia jelaskan namun membuatnya tersesat.

Zaira membuka mata, merasakan beban hari mulai menekan kelopaknya. Ia bangkit setengah hati, dan hal pertama yang diraihnya adalah ponsel. Notifikasi pesan suara itu masih di sana. Tak tersentuh. Tak terduga. Tak terselesaikan.

Jarinya menyapu layar, seakan sentuhan kecil itu bisa menghapus lautan emosi yang ditimbulkannya. Tapi tidak. Kenyataan tetap di sana, seperti simpul di kerongkongan yang menolak terurai.

Ia mengembuskan napas panjang, lalu bangkit tanpa suara, seolah udara pun terasa berat. Dingin pagi menyentuh telapak kakinya begitu ia turun dari ranjang. Ia melangkah ke kamar mandi dan membuka keran pancuran. Air hangat mengguyur seperti air terjun yang menenangkan, menyelimutinya dengan uap dan memberinya sekejap kelegaan. Di bawah pancuran, ia menutup mata dan menempelkan dahi ke ubin dinding. Ia berusaha tak memikirkan pria itu. Tangannya. Diamnya.

Zaira berpakaian dengan tenang. Celana jin ketat yang memeluk pinggulnya, sweter putih berkerah tinggi yang kontras dengan rambut gelapnya, dan jaket kulit hitam yang tak pernah lepas darinya. Wajahnya memancarkan ketenangan, tetapi matanya bercerita tentang perang di dalam dirinya.

Saat keluar kamar, aroma roti hangat dan kopi yang baru diseduh menyambutnya bagai pelukan.

"Duduk, sayang, makanlah," kata ibunya dengan kelembutan yang menghangatkan jiwa.

"Terima kasih, Mama. Aku sayang Mama," gumam Zaira sambil mendekati meja dengan senyum lelah.

"Justru Mama yang berterima kasih, Nak, karena kamu ada di sisi Mama," balas ibunya, mengecup lembut kepalanya.

Gerakan sederhana, tapi bagi Zaira itu berarti segalanya. Kedekatan itu, perlindungan sunyi yang hanya bisa diberikan seorang ibu. Ia sarapan dalam diam, mengunyah pelan meski kegelisahan menggerogotinya dari dalam. Tak lama, dengan tas tersandang di bahu, ia berpamitan dengan kecupan singkat. Waktu tak mau menunggu.

Dingin pagi merengkuhnya begitu ia melewati ambang pintu rumah. Angin tajam memerahkan pipinya dan mengacak rambutnya. Langit cerah, dilukis warna biru muda yang menandakan hari yang sibuk. Di sekitarnya, kota mulai berdenyut: deru mesin, klakson tak sabar, langkah-langkah tergesa, dan aroma khas roti panggang dari sebuah kafe di sudut jalan.

Dengan earphone terpasang tanpa musik, Zaira berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah. Ia tak ingin ada yang menyapanya. Tak ingin bertukar pandang. Di dalam ranselnya ada buku-buku, termos kopi, dan hati yang penuh pertanyaan, pertentangan, serta luka yang belum juga sembuh.

Di sudut lain kota, gedung utama Grup Santos berdenyut dengan energinya yang biasa. Lift naik-turun, para karyawan melangkah mantap, bunyi sepatu hak dan sepatu kulit bergema di koridor marmer. Telepon berdering. Pintu terbuka dan tertutup. Semua tampak diatur dalam rutinitas yang tak kenal ampun.

Di puncak dunia itu, Leonardo sendirian.

Ia duduk di balik meja kayu walnut gelap, tetapi pandangannya tak tertuju pada dokumen maupun layar laptop. Matanya menatap ponsel. Pada layar yang tak berubah. Pada keheningan yang ditinggalkan Zaira sebagai jawaban.

Rahangnya mengeras. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk kayu meja dengan tak sabar.

"Sialan," gumamnya.

Ia berdiri mendadak dan menuang secangkir kopi hitam. Cairan pekat itu mengalir pelan ke dalam cangkir porselen. Ia menyesapnya. Rasa pahit itu ia sambut, seolah membantunya tetap terjaga di tengah badai emosi yang berusaha ia sembunyikan.

"Ada yang tidak beres?" tanya Marcelo yang masuk tanpa memberi tahu.

Leonardo nyaris tak mengangkat wajah. Matanya kelam.

"Semua baik. Ada apa hari ini?"

"Tinjauan kontrak dengan pihak Arab pukul sepuluh, rapat dengan bea cukai siang hari, panggilan video dengan Swiss pukul tiga."

Leonardo mengangguk, meletakkan ponselnya seolah benda itu membara.

"Ada gerakan mencurigakan?"

"Hanya yang tadi malam. Tapi orang itu belum muncul lagi."

Leonardo mengernyit, berjalan ke jendela besar, dan menempelkan satu tangan ke kaca. Kota terhampar megah di hadapannya, tetapi di benaknya hanya ada perempuan itu. Bibirnya, suaranya yang menantang, cara ia melawan tanpa perlu meninggikan suara.

Zaira tidak seperti yang lain. Ia tak menelepon. Ia tak membutuhkan Leonardo. Dan itu membuatnya jengkel. Membuatnya kehilangan pijakan. Tetapi juga memikatnya.

Ia memutar ulang pesan suara itu. Suaranya sendiri, begitu yakin, begitu terhitung, kini terdengar hampa. Ia ingin menghapus pesan itu. Ia ingin, untuk sekali saja, berlaku jujur.

Tetapi ia tak punya kemewahan untuk jujur. Tidak dengan Zaira. Belum. Tidak jika itu berarti membuatnya dalam bahaya.

Leonardo menggeleng, memaksa diri kembali ke kenyataan.

Di kampus, Zaira menyusuri koridor bagai bayangan. Pikirannya berdesakan di antara kelas, catatan, dan dosen. Namun setiap kali ada jeda, benaknya kembali pada pria itu. Pada matanya. Pada suaranya yang terkutuk.

"Ada apa denganmu hari ini?" tanya Tatiana, duduk di sisinya sambil menggigit sepotong biskuit.

"Tidak ada. Aku kurang tidur."

Tatiana mengamatinya beberapa saat, lalu merendahkan suara.

"Aku tahu kamu tidak terlalu percaya padaku, tapi... ini soal Leonardo Santos, ya?"

Zaira mengatupkan bibir. Ia menyunggingkan senyum yang tak sampai ke matanya.

"Cuma kisah yang tidak akan ke mana-mana."

"Kamu tidak pernah pandai berbohong, Zai. Matamu berbinar tiap kali menyebut namanya."

Zaira mengalihkan pandang. Koridor penuh mahasiswa, tawa, keriuhan. Tetapi di dalam dirinya, semua sunyi.

"Aku kesal padanya. Dan aku tidak mengerti kenapa aku menginginkan begitu banyak darinya... padahal aku hanya menerima tidur dengannya demi uang."

Tatiana mencondongkan badan dengan tatapan bijak.

"Bukan begitu. Kalau kamu tidak menyukainya, kamu tidak akan menerimanya. Itu bedanya kamu dan aku. Aku ambisius, tak peduli apa pun. Kamu cerdas."

Zaira tertawa hambar. Tangannya gemetar, dan ia tak tahu apakah karena marah, takut, atau hasrat.

"Sama saja... Dia hanya mencariku ketika dia ingin... Kamu tahu sendiri."

"Dan kamu menikmatinya, Zaira. Itu perbedaan yang sebenarnya."

Zaira mengatupkan bibir rapat.

"Aku tidak akan menemuinya akhir pekan ini."

Tatiana memiringkan kepala, geli.

"Itu katamu... Tapi kamu tidak tahu apa yang dia inginkan."

Sementara itu, di puncak dunia, Leonardo sudah berada di tengah rapat dengan para investor internasional. Pikirannya terbelah antara angka, kontrak, dan seorang gadis yang untuk pertama kalinya memasang batas padanya.

Marcelo menghampirinya di penghujung hari.

"Bos, ada panggilan video mendesak."

Leonardo mengumpat pelan. Ia menutup map dokumen, mematikan layar ponsel, dan mengangguk.

"Baiklah. Nanti aku yang akan menjemputnya. Biar dia menikmati keheningan ini selagi bisa."

Karena ia tahu satu hal dengan pasti.

Akhir pekan akan tiba. Dan bersamanya, malam ketika Zaira akan teringat bahwa orang tak bisa bermain-main dengan api tanpa terbakar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!