NovelToon NovelToon
Heir To Immortality

Heir To Immortality

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Wuxia
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!

​Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalur Perdagangan dan Teror di Hutan Cemara Hitam

​Jalur Perdagangan Menuju Kota Awan Agung — Siang Hari

​Jalan pegunungan membentang panjang dan berliku di bawah terpaan cahaya matahari pagi yang mulai meninggi.

​Rombongan Sekte Pedang Awan telah meninggalkan gerbang sekte selama beberapa jam. Di barisan terdepan, dua gerobak besar berderit membawa peti-peti berisi obat spiritual, bahan pemurnian senjata, dan aneka komoditas berharga sekte. Enam murid luar berjalan mengawal di sisi kiri-kanan gerobak, sementara empat pendekar pengawal berpengalaman mengamankan posisi di depan dan belakang.

​Tetua Xu Jian memimpin langsung rombongan dengan kuda tebalnya.

​Perjalanan darat menuju Kota Awan Agung diperkirakan memakan waktu beberapa hari. Rute tercepat dan paling efisien mengharuskan mereka membelah Hutan Cemara Hitam, menyeberangi Sungai Batu Putih, lalu menyusuri jalan perdagangan utama yang menghubungkan berbagai kota kecil di perbatasan.

​Bagi sebagian besar murid, ekspedisi ini adalah kesempatan langka untuk meraup pengalaman dan poin kontribusi.

​Namun bagi Lu Mingseng, perjalanan ini adalah babak baru untuk melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya.

​Ia berjalan santai di sisi kiri gerobak paling belakang, mengenakan jubah sederhana dengan topeng hitam separuh wajah yang melekat erat di kepalanya.

​Seorang murid bertubuh tinggi bernama Peng Wei—pemuda yang sempat ia beri pelajaran di gudang bahan obat—berjalan beberapa langkah di depannya dengan gestur sinis.

​"Hei, Lu Mingseng," panggil Peng Wei ketus tanpa menoleh.

​Mingseng melirik datar. "Ada apa?"

​Peng Wei melirik topeng hitam itu dari balik bahunya. "Kau benar-benar tidak berniat melepas topeng jelek itu? Kita sedang bepergian bersama rombongan, bukan mau menghadiri upacara pemakaman."

​Dua murid pengikut Peng Wei di dekatnya tertawa kecil mengejek.

​Mingseng tidak sedikit pun tersinggung. "Kalau kau tidak suka melihatnya, alihkan saja pandanganmu."

​Tawa mereka langsung terhenti, diganti dengus kesal dari Peng Wei yang merasa diabaikan. Ia pun mempercepat langkahnya meninggalkan Mingseng.

​Di dalam batin Mingseng, sang penjaga Balai Penempaan Darah mendengus puas.

​'Bagus. Tidak perlu membuang energi untuk menanggapi setiap anjing yang menggonggong.'

​Kaisar Abadi langsung menegur, 'Jangan menyamakan semua orang dengan binatang, penjaga tua. Dunia luar menuntut penilaian sosial yang lebih matang.'

​'Baiklah, baiklah,' gerutu sang penjaga. 'Kau memang selalu paling tahu.'

​Wanita berjubah putih tersenyum kecil di kedalaman jiwa Mingseng. Kehadiran tiga entitas kuno yang berdebat itu membuat perjalanan panjang yang melelahkan ini terasa jauh lebih hidup.

​Namun insting Mingseng tetap siaga. Sejak keluar dari batas sekte, ia mengamati bahwa jalan perdagangan ini jauh lebih liar. Ada bekas roda gerobak baru, jejak tapak kaki binatang spiritual liar, hingga sejumlah tanda peringatan yang dipahat pada batang-batang pohon besar.

​Ia bahkan sempat melihat sebuah batu perbatasan dengan lambang tengkorak yang dicoret silang garis merah.

​"Guru," bisiknya dalam hati, "apa arti simbol tengkorak itu?"

​Kaisar Abadi menjawab serius. 'Biasanya itu tanda wilayah kekuasaan bandit atau zona sarang binatang buas berbahaya. Tapi kita tak boleh gegabah menyimpulkan.'

​Mingseng mengangguk kecil. Ia tidak malu mengakui ketidaktahuannya; baginya, kebodohan yang disadari bisa diperbaiki lewat belajar, sementara kesombongan adalah jalan pintas menuju kuburan.

​Cakrawala Luas di Luar Sekte

​Menjelang siang hari, rombongan mendaki sebuah bukit tinggi yang menyuguhkan pemandangan dataran luas terbentang di hadapan mereka.

​Mingseng menghentikan langkahnya sejenak.

​Di kejauhan, beberapa kota kecil tampak berdiri di sepanjang aliran sungai perak. Menara pengawas menjulang di balik tembok batu, sementara jalur perdagangan dipenuhi iring-iringan gerobak pedagang dan para pengelana bebas.

​Lebih jauh di cakrawala, gugusan pegunungan tinggi menjulang menembus lapisan awan putih.

​Pemandangan itu membuatnya tertegun.

​Selama belasan tahun, dunia Mingseng hanyalah sebatas Keluarga Lu yang kejam, jalanan kotor Qinghe, dan tembok pembatas Sekte Pedang Awan. Ia sempat mengira dunia luar hanya berisi orang-orang yang menghina fisiknya atau takut pada kekuatannya.

​Kini ia sadar betapa sempit dunianya dahulu.

​Dunia ini begitu mahar, luas, dan tanpa batas. Ada jutaan orang yang bahkan tak pernah tahu nama Keluarga Lu; ada kota-kota megah yang tak peduli apakah wajahnya tampan atau cacat; ada kultivator agung yang takkan meliriknya jika ia tak punya nilai guna.

​Mingseng mengepalkan tangannya di balik jubah.

​Ia tak lagi ingin menjadi kuat sekadar agar orang lain takut padanya. Ia ingin memiliki kekuatan untuk menentukan kehidupannya sendiri tanpa didikte takdir siapapun.

​"Jangan hanya melamun memandangi pemandangan, Mingseng," suara Xu Jian mendadak terdengar di dekatnya.

​Mingseng segera membungkuk hormat. "Maaf, Tetua."

​Xu Jian menyapu pandangannya ke lembah. "Indah, bukan?"

​"Ya, Tetua."

​"Tapi ingat, keindahan di dunia kultivasi selalu berdampingan dengan maut." Xu Jian menunjuk sebuah kota di kejauhan. "Di balik bukit itu ada Kota Batu Putih. Kota itu tampak makmur, namun beberapa tahun lalu, seluruh anggota satu keluarga kultivator di sana lenyap dalam semalam hanya karena memperebutkan tambang batu spiritual."

​Mingseng mendengarkan saksama.

​"Sumber daya bisa mengubah kawan jadi musuh bebuyutan. Bahkan ikatan darah pun rapuh di hadapan keserakahan," lanjut Xu Jian. "Teruslah berjalan dan belajar dari pengalaman."

​Pertemuan di Kedai Persimpangan

​Menjelang sore, rombongan singgah di sebuah persimpangan jalan di mana berdiri sebuah kedai kayu sederhana. Para pengelana tampak beristirahat, dan dua gerobak pedagang besar terparkir di bawah pohon rindang.

​Tetua Xu Jian memerintahkan istirahat selama setengah jam.

​Mingseng memilih duduk di dekat pagar kayu, mengeluarkan sebongkah roti keras dan termos air.

​"Katanya, kelompok pedagang utara menemukan reruntuhan kuno di dekat Lembah Kabut Kelabu," bisik suara dari meja sebelah.

​"Reruntuhan apa itu?"

​"Entahlah. Konon bangunannya tertimbun ribuan tahun, dan kompas spiritual siapapun yang mendekatinya langsung rusak total."

​Mingseng yang mendengarnya langsung mengangkat kepala.

​Kompas spiritual rusak? Reruntuhan kuno?

​Ia tiba-tiba teringat lempengan tablet hitam miliknya dan lambang merah misterius yang sempat berkelebat di pikirannya.

​Saat ia melamun, seorang gadis berumur sekitar delapan tahun dengan jubah biru pucat dan pedang pendek di pinggangnya melirik ke arahnya. Di sebelah gadis itu duduk seorang pria paruh baya berparut di dagu.

​"Kau tertarik pada kisah reruntuhan itu?" tanya gadis tersebut blak-blakan.

​Mingseng menoleh. "Aku hanya kebetulan mendengarnya."

​Gadis itu mengangkat bahu. "Kalau kau benar-benar penasaran, jangan pernah nekat ke sana. Pedagang yang menyelidiki tempat itu belum ada yang kembali."

​"Kau kenal mereka?" tanya Mingseng.

​"Salah satu pedagang itu adalah rekan dekat keluargaku," jawab gadis itu serius. "Jika dia yang berpengalaman saja bisa hilang, berarti tempat itu menyimpan kutukan."

​Ayah gadis itu menegur putrinya, "Yun'er, jangan menceritakan urusan keluarga pada orang asing."

​Pria paruh baya itu lalu menatap Mingseng singkat. "Anak muda, jika tujuanmu ke Kota Awan Agung, tetaplah di jalur perdagangan utama. Hutan di sebelah barat dipenuhi binatang spiritual ganas."

​Mingseng membungkuk sopan. "Terima kasih atas peringatannya, Senior."

​Gadis bernama Yun'er itu sempat memperhatikan topeng hitam Mingseng sejenak sebelum rombongan mereka dipanggil untuk melanjutkan perjalanan.

​Teror di Hutan Cemara Hitam

​Matahari perlahan tenggelam, mewarnai langit dengan bias jingga kemerahan.

​Tetua Xu Jian memutuskan untuk segera melintasi tepi Hutan Cemara Hitam sebelum malam tiba. Jalur ini memang lebih singkat, namun terkenal angker.

​"Jangan memisahkan diri!" teriak Xu Jian memperingatkan.

​Mingseng berjalan waspada di belakang gerobak kedua. Angin malam yang bertiup dari dalam hutan membawa aroma tanah basah dan bau amis yang ganjil.

​Sêrk... sêrk...

​Seekor burung malam hitam melesat keluar dari semak-semak. Disusul geraman rendah yang menggetarkan dada.

​Xu Jian mengangkat tangan kirinya. "Semua berhenti!"

​Dari balik pepohonan gelap, muncul tiga ekor serigala berukuran raksasa dengan punggung berlapis sisik abu-abu keras—Serigala Sisik Batu.

​Namun yang aneh, ketiga serigala itu tidak langsung menyerang rombongan. Mereka justru menoleh ke belakang, seolah-olah tengah melarikan diri dari sesuatu yang jauh lebih menakutkan.

​DUUM!

​Tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat.

​Dari dalam lebatnya hutan, sesosok bayangan raksasa bermata merah menyala menerobos keluar. Bulunya hitam legam dengan garis-garis merah darah menghiasi punggungnya, dan taringnya meneteskan liur berdarah segar.

​Macan Bara Hitam! Binatang spiritual kelas atas!

​"Mundur semuanya! Jangan hadapi sendiri!" seru Xu Jian panik sambil menghunus pedangnya.

​Macan itu mengaum dahsyat, menciptakan gelombang kejut angin yang merontokkan dahan-dahan pohon. Tiga ekor Serigala Sisik Batu langsung kocar-kacir melarikan diri ketakutan.

​Macan Bara Hitam langsung mengincar peti-peti berisi herbal spiritual di gerobak sekte yang mengeluarkan aroma menggugah selera. Seekor murid junior yang berdiri di jalurnya membeku ketakutan.

​Mingseng bergerak cepat tanpa ragu.

​Ia tidak menyerang kepala macan itu secara membabi buta. Ia melompat menginjak tunggul kayu, lalu menghantamkan sisi pedang kayunya ke arah kepala sang macan sekadar untuk membelokkan arah terjangannya.

​BAM!

​Macan itu terdorong meleset menghantam tanah, memberi waktu bagi murid junior itu untuk menyelamatkan diri.

​Mingseng sempat melirik sekilas: Kaki depan kanan macan itu pincang! Ada luka lama di sendinya!

​Ia langsung berteriak pada Tetua Xu Jian, "Tetua! Kaki depan kanannya terluka!"

​Xu Jian yang berpengalaman langsung menangkap instruksi itu. Ia melesat bersama dua pengawal, mengincar titik lemah pada sendi kaki kanan sang macan.

​Jleb!

​Setelah perlawanan sengit beberapa jurus, tebasan pedang Xu Jian akhirnya menembus dada Macan Bara Hitam hingga binatang buas itu ambruk tak bernyawa.

​Xu Jian mengatur napasnya, lalu menatap Mingseng dengan pandangan menyelidik. "Kau melihat kelemahannya dalam waktu sekejap... Pengamatan yang sangat tajam, Mingseng."

​"Saya hanya kebetulan melihat cara berjalannya pincang, Tetua," jawab Mingseng tenang.

​Xu Jian mencatat dalam hatinya bahwa pemuda bertopeng ini menyimpan insting tempur yang luar biasa.

​Lambang Merah di Balik Kabut

​Malam harinya, rombongan mendirikan kemah di dataran terbuka yang aman dari lebatnya hutan.

​Mingseng duduk bersila di dekat batu besar, memejamkan mata untuk bermeditasi memulihkan energi. Namun tiba-tiba, tablet hitam di dalam ruang kesadarannya bergetar keras.

​Sebuah bayangan pendar merah menyala di permukaan tablet, membentuk sebuah lambang yang jelas: Sebuah lingkaran yang terbelah garis vertikal, dengan tiga titik kecil di bagian bawahnya.

​Mingseng terkesiap membukanya matanya. "Guru, kalian melihat itu?"

​Kaisar Abadi dan sang penjaga balai memeriksa tablet tersebut, namun mereka menggeleng. 'Kami merasakan fluktuasinya, tapi lambang itu asing bagi kami.'

​Wanita misterius memandangnya redup. "Ada memori samar yang terpicu, tapi tertutup kabut waktu..."

​Tepat saat Mingseng hendak menyelidiki lebih jauh, lempengan itu kembali padam.

​Di kejauhan, kabut malam turun menyelimuti pegunungan. Untuk sesaat, Mingseng merasa ada sepasang mata misterius yang tengah mengawasi perkemahan mereka dari balik gelapnya pepohonan.

​Namun ketika ia menoleh, tak ada apa pun di sana—hanya hembusan angin malam dan sunyinya Hutan Cemara Hitam.

​Perjalanan baru saja dimulai, dan rahasia besar di balik takdir Lu Mingseng perlahan mulai menampakkan bayangannya dari balik kabut dunia luar.

1
Sri
😍😍😍
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
kute
keren
Sri
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
Sri
😎😎😎
Sri
😍😍😍
Danzo28
Yuk Like komen vote nya Jangan lupa yahh ❤️❤️❤️🙏👍
Danzo28
pantau terus ya
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳
Uranenantios
langsung up 4 ni thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!