hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 11
"Emma, Sayang? Ini Mami. Boleh Mami masuk?" tanya Raina lembut dari balik pintu.
"Boleh, Mi!" jawab Emma dari dalam kamar.
Mendengar jawaban itu, Raina perlahan membuka pintu dan melangkah masuk. Pandangannya langsung tertuju pada Emma yang sedang duduk di dekat jendela.
Namun, alih-alih menghampiri menantunya, Raina justru memilih berdiri agak jauh. Ada keraguan dalam hatinya. Ia takut Emma masih merasa ngeri setelah mengetahui bahwa dirinya dan seluruh anggota keluarga ini adalah vampir.
Emma yang menyadari kehadiran Raina segera bangkit dari duduknya.
"Mami, kok jauh-jauh dari Emma?" tanyanya sambil berjalan menghampiri perempuan itu.
Raina sedikit terkejut ketika Emma tiba-tiba mendekat. Ia menatap wajah gadis itu dengan ragu sebelum akhirnya bertanya pelan.
"Kamu nggak takut sama Mami, Sayang?"
Emma menggelengkan kepalanya perlahan. Kemudian, tanpa ragu, ia meraih tangan Raina dan menggenggamnya dengan lembut.
"Nggak, Mi. Kenapa Emma harus takut?" jawabnya sambil tersenyum kecil.
"Tapi, Sayang, Mami ini bukan manusia. Mami dan keluarga ini—"
"Emma tahu, Mami. Emma tahu kalian vampir," potong Emma lembut. "Tapi, selama ini Mami nggak pernah menyakiti Emma, kan? Mami selalu baik sama Emma. Jadi, ngapain Emma harus takut sama Mami?"
Raina terdiam.
Ada sesuatu yang menghangat di dalam dadanya mendengar jawaban sederhana itu. Selama ini, ia khawatir Emma akan memandang keluarganya sebagai sekumpulan monster yang harus dihindari. Namun, gadis itu justru masih bisa tersenyum dan menggenggam tangannya tanpa keraguan.
"Ya ampun, Sayang..." gumam Raina lirih.
Ia kemudian membalas genggaman Emma dan mengusap punggung tangan gadis itu dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih karena masih mau menerima Mami," ucapnya tulus.
Emma tersenyum kecil sebelum akhirnya teringat sesuatu.
"Oh iya, Mami ke sini pasti mau membicarakan ritual darah, kan?" tanyanya sambil memiringkan kepala.
Raina mengangguk pelan.
"Iya, Sayang. Malam ini ritual itu akan dilaksanakan. Mami ingin tahu apakah kamu benar-benar sudah siap."
Emma terdiam sejenak. Ia melirik ke arah jendela, memperhatikan cahaya matahari yang perlahan mulai berubah warna.
Sebenarnya, masih banyak hal yang belum ia pahami tentang ritual tersebut. Namun, ia juga mengerti bahwa keberadaannya sebagai manusia di tengah keluarga vampir bisa mendatangkan bahaya.
Akhirnya, Emma kembali menatap Raina dan tersenyum.
"Emma setuju, Mi. Bagaimanapun juga, sekarang Emma sudah menjadi bagian dari keluarga ini, meskipun Emma bukan bagian dari kaum vampir."
Mendengar jawaban itu, Raina justru terlihat semakin gelisah.
"Emma, Sayang, ada sesuatu yang harus Mami jelaskan sebelum kamu mengambil keputusan."
Emma mengernyitkan dahinya.
"Apa itu, Mi?"
Raina menarik napas panjang, berusaha menyusun kata-katanya agar tidak membuat gadis itu semakin takut.
"Ritual darah bukan sekadar ritual perlindungan biasa. Setelah kau dan Damian menjalani ritual itu, ikatan kalian akan menjadi sangat kuat. Kalian tidak bisa memperlakukannya seperti pernikahan manusia pada umumnya."
Emma mulai merasa tidak nyaman.
"Maksud Mami?"
Raina menatapnya dengan serius.
"Jika suatu hari salah satu dari kalian meminta untuk memutuskan ikatan itu, akibatnya bisa sangat fatal. Menurut hukum kuno kaum vampir, perpisahan setelah ritual darah dapat merenggut nyawa salah satu dari kalian."
Senyuman yang sejak tadi menghiasi wajah Emma perlahan menghilang.
"A-apa?" gumamnya, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Raina segera menggenggam kedua tangan Emma.
"Mami tidak mengatakan ini untuk menakutimu, Sayang. Mami hanya tidak ingin kamu menjalani ritual ini tanpa mengetahui risikonya."
Emma menundukkan kepala. Jantungnya berdebar semakin kencang.
Bagaimana mungkin ia harus menghabiskan hidupnya bersama Damian?
Pemuda itu memang mulai bersikap lebih baik kepadanya. Mereka bahkan sudah semakin dekat selama sebulan terakhir. Namun, Emma masih belum tahu apakah Damian benar-benar menyukainya atau hanya menganggapnya sebagai bagian dari kewajiban.
Bagaimana jika suatu hari Damian bosan dengannya?
Bagaimana jika pemuda itu ternyata tidak pernah mencintainya?
Dan yang paling membuatnya takut, bagaimana jika suatu hari mereka ingin berpisah, tetapi salah satu dari mereka harus kehilangan nyawa?
"Mi..." panggil Emma lirih.
"Iya, Sayang?"
"Kalau Damian nggak mencintai Emma, bagaimana?"
Raina terdiam mendengar pertanyaan itu.
Emma mencoba tersenyum, tetapi kali ini senyumannya terlihat begitu rapuh.
"Emma bahkan nggak tahu apakah dia benar-benar menginginkan Emma sebagai istrinya. Bagaimana kalau suatu hari dia menyesal sudah menikahi Emma?"
Raina mengangkat tangannya, lalu mengusap lembut pipi menantunya.
"Kalau kamu merasa kalian belum saling mencintai, cobalah untuk tinggal bersama dan saling mengenal lebih jauh, Sayang. Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa hubungan kalian tidak akan berhasil."
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih lembut.
"Tapi, Mami takut kalau kamu tidak menjalani ritual darah ini. Di luar sana ada banyak vampir yang mengincarmu. Mereka tahu darahmu berbeda karena kamu adalah istri Damian, pewaris keluarga kerajaan."
Emma terdiam cukup lama.
Pada akhirnya, ia mengangguk kecil meskipun rasa takut masih menyelimuti hatinya.
"Emma mengerti, Mi."
Raina langsung memeluk menantunya.
"Maafkan Mami karena kalian harus menghadapi semua ini. Mami hanya ingin kalian berdua selamat."
Emma membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya di bahu Raina.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa keputusan yang akan diambilnya malam ini bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele.
Dan jauh di lubuk hatinya, Emma berharap Damian juga memahami betapa besar pengorbanan yang sedang ia lakukan.
---
Sementara itu, di kantor Damian.
Damian duduk di balik meja kerjanya yang besar. Di hadapannya, beberapa dokumen rapat masih terbuka, tetapi sejak tadi konsentrasinya terus terpecah.
Tatapannya berkali-kali beralih ke jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Malam ini adalah malam ritual darah.
Seharusnya ia merasa lega karena akhirnya Emma akan mendapatkan perlindungan yang dibutuhkannya. Namun, entah mengapa, ada perasaan mengganjal yang membuatnya sulit berkonsentrasi.
"Astaga, Tuan, sejak tadi Anda melihat jam terus. Apa rapat kita membosankan?" celetuk Vandes, asistennya, yang berdiri di depan meja.
Damian mengangkat wajahnya perlahan.
"Kau ingin kehilangan pekerjaan?" tanyanya dingin.
Vandes langsung merapatkan bibirnya.
"Tidak, Tuan. Saya masih ingin hidup tenang dan menerima gaji setiap bulan."
"Kalau begitu, berhenti bicara yang tidak penting."
"Baik, Tuan."
Vandes hendak mengambil dokumen di atas meja ketika Damian tiba-tiba kembali berbicara.
"Vandes."
"Ya, Tuan?"
"Pastikan semua persiapan ritual malam ini sudah selesai. Aku tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun."
Vandes mengangguk serius.
"Semua sudah dipersiapkan. Para tetua juga telah berkumpul di kediaman kerajaan dan menunggu kedatangan Anda."
Damian mengangguk singkat.
"Bagus. Kau boleh keluar."
Vandes membungkuk hormat sebelum meninggalkan ruangan.
Setelah pintu tertutup, Damian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ia menatap kosong ke arah jendela besar di samping meja kerjanya.
Tanpa sadar, pikirannya kembali tertuju kepada Emma.
Ia masih ingat bagaimana gadis itu merapikan dasinya pagi tadi. Wajah Emma yang begitu dekat, aroma rambutnya yang lembut, serta caranya mengomel seolah dirinya bukanlah seorang pangeran vampir.
Damian mengembuskan napas pelan.
"Perempuan merepotkan," gumamnya.
Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali melirik jam tangannya.
"Semoga dia tidak membuat masalah malam ini."
Kalimat itu terdengar seperti keluhan. Akan tetapi, jauh di dalam hatinya, Damian hanya ingin memastikan Emma baik-baik saja.
---
Malam hari.
Langit di atas mansion kerajaan tampak gelap. Cahaya bulan purnama menerangi halaman luas, sementara beberapa pelayan sibuk menyalakan lentera di sepanjang jalan menuju bangunan utama.
Malam ini berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Para vampir bangsawan dari berbagai keluarga telah berkumpul di aula ritual. Mereka mengenakan pakaian resmi dengan lambang keluarga masing-masing, sedangkan para tetua kerajaan duduk di tempat khusus yang menghadap ke sebuah altar batu berwarna hitam.
Di tengah aula terdapat lingkaran ritual yang dihiasi ukiran kuno. Cahaya lilin berwarna merah menyala di sekelilingnya, menciptakan suasana yang begitu megah sekaligus menegangkan.
Emma berdiri di dalam kamarnya, mengenakan gaun putih panjang yang dipilihkan Raina untuknya. Rambutnya ditata sederhana, sementara Sonia membantu merapikan bagian belakang gaunnya.
"Nona, semuanya sudah siap," ujar Sonia pelan.
Emma menatap bayangannya di cermin.
"Son..."
"Iya, Nona?"
"Menurutmu, aku bisa melewati ini semua?"
Sonia terdiam sebentar sebelum menjawab dengan hati-hati.
"Saya tidak tahu apa yang akan terjadi malam ini, Nona. Namun, saya akan tetap berada di sisi Anda selama diizinkan."
Emma tersenyum tipis.
"Terima kasih, Sonia."
Tak lama kemudian, terdengar ketukan dari pintu kamar.
Tok... tok... tok...
"Emma, Sayang, sudah siap?" panggil Raina dari luar.
"Sudah, Mi," jawab Emma.
Pintu terbuka dan Raina masuk. Begitu melihat Emma dengan gaun putihnya, perempuan itu terdiam sejenak.
"Kamu cantik sekali, Sayang," pujinya sambil tersenyum hangat.
Emma terkekeh kecil.
"Benarkah, Mi? Jangan-jangan Mami cuma ingin membuat Emma tenang."
Raina menggeleng sambil menghampiri menantunya.
"Tidak. Kamu memang cantik."
Ia kemudian menggenggam tangan Emma.
"Ayo, Damian sudah menunggu."
Emma mengangguk, meskipun telapak tangannya mulai terasa dingin karena gugup.
Mereka berjalan keluar kamar dan menyusuri lorong mansion yang diterangi cahaya lampu keemasan. Semakin dekat mereka ke aula ritual, semakin jelas terdengar suara percakapan para vampir yang telah berkumpul di sana.
Emma menelan ludah.
"Mi, mereka semua akan melihat kita?" bisiknya.
"Iya, Sayang. Tapi jangan takut. Mami ada di sini."
Ketika mereka tiba di depan pintu aula, dua penjaga kerajaan segera membukakan pintu besar tersebut.
Perlahan, pintu itu terbuka.
Puluhan pasang mata langsung tertuju kepada Emma.
Bisikan-bisikan kecil terdengar di antara para tamu. Sebagian tampak penasaran, sebagian lain mengamati Emma dengan tatapan sulit diartikan.
Emma berusaha mengabaikan semuanya.
Tatapannya justru mencari satu sosok yang paling dikenalnya di antara kerumunan itu.
Dan akhirnya, ia menemukannya.
Damian berdiri di dekat altar dengan setelan hitam yang begitu rapi. Topeng setengahnya masih menutupi sebagian wajah, sementara tatapan mata hitamnya langsung tertuju kepada Emma.
Untuk sesaat, Damian tidak bergerak.
Ia memperhatikan istrinya yang berjalan mendekat dengan gaun putih panjang. Ada sesuatu dalam penampilan Emma malam itu yang membuatnya sulit mengalihkan pandangan.
Namun, sebelum ia sempat larut dalam pikirannya sendiri, Raina membawa Emma hingga tepat di hadapannya.
"Damian," panggil Raina lembut.
Damian mengalihkan pandangan kepada ibunya.
"Aku akan menyerahkan Emma kepadamu. Jaga dia baik-baik, mengerti?"
Damian mengangguk.
"Aku tahu, Mi."
Raina kemudian menoleh kepada Emma dan mengusap pipinya dengan penuh kasih sayang.
"Mami akan berada di sana, Sayang. Kalau kamu merasa takut, lihat saja ke arah Mami."
Emma mengangguk pelan.
Setelah Raina mundur, Damian mengulurkan tangannya kepada Emma.
"Pegang tanganku," perintahnya singkat.
Emma menatap tangan itu selama beberapa detik sebelum akhirnya menyambutnya.
Begitu jemari mereka bersentuhan, Damian menggenggam tangan Emma dengan mantap.
"Kau gugup?" tanyanya pelan, cukup rendah hingga hanya Emma yang bisa mendengarnya.
Emma mendongak menatapnya.
"Menurutmu?"
Damian mengembuskan napas kecil.
"Jangan banyak bergerak. Ikuti saja instruksi para tetua."
Emma langsung mendelik.
"Ya ampun, Damian! Bisa nggak, sih, kau mengatakan sesuatu yang menenangkan sekali saja?"
Damian menoleh kepadanya.
"Aku sedang berusaha menenangkanmu."
"Itu caramu menenangkan orang?"
"Ya."
Emma memutar bola matanya.
"Benar-benar tidak ada obat."
Untuk sesaat, Damian hampir tersenyum mendengar gumaman istrinya. Namun, sebelum Emma menyadarinya, ia kembali memasang ekspresi datar.
Seorang tetua berjubah hitam kemudian bangkit dari tempat duduknya. Suasana aula yang sebelumnya dipenuhi bisikan perlahan menjadi hening.
"Damian Aksara, pewaris takhta kerajaan vampir, dan Emma, manusia yang telah menjadi istrinya," ucap sang tetua dengan suara berat. "Malam ini, kalian berdiri di hadapan kami untuk menjalani ritual darah, sebuah ikatan kuno yang akan menghubungkan kehidupan kalian."
Emma merasakan genggaman Damian sedikit menguat.
Sang tetua melanjutkan, "Sebelum ritual dimulai, ada satu pertanyaan yang harus dijawab oleh kedua pihak."
Tatapan sang tetua beralih kepada Emma.
"Emma, apakah kau memahami bahwa ritual ini akan mengikatmu kepada Damian, dan bahwa ikatan tersebut membawa konsekuensi yang tidak dapat dianggap remeh?"
Emma terdiam.
Seluruh mata kembali tertuju kepadanya.
Ia teringat perkataan Raina tentang risiko ritual itu. Ia juga teringat bagaimana Damian mengatakan bahwa ritual tersebut akan melindunginya dari vampir lain.
Namun, ia masih belum tahu apakah pria yang berdiri di sampingnya benar-benar menginginkannya sebagai istri, atau sekadar menjalankan kewajibannya sebagai pewaris kerajaan.
Emma menoleh perlahan kepada Damian.
Pria itu membalas tatapannya tanpa berkata apa-apa.
Untuk pertama kalinya malam itu, Emma berharap Damian akan mengatakan sesuatu yang bisa membuatnya yakin.
Sesuatu yang menunjukkan bahwa ia tidak akan menghadapi semua ini sendirian.
Namun, Damian hanya menggenggam tangannya lebih erat.
Dan di tengah keheningan aula kerajaan, Emma harus menentukan apakah ia benar-benar siap melangkah lebih jauh walupun belum ada rasa cinta di dalam nya
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭