Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!
Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terobosan Meridian dan Pembalasan Berdarah
Kamar Asrama — Tengah Malam
Malam semakin larut menyelimuti kompleks Sekte Pedang Awan.
Di dalam kamar sederhana yang hanya diterangi redup cahaya lampu minyak, Lu Mingseng duduk bersila di atas tempat tidurnya. Topeng hitam separuh wajah tergeletak di sampingnya, sementara tablet hitam peninggalan Balai Penempaan Darah berada tepat di hadapan kedua lututnya.
Setelah mencapai Puncak Pengumpulan Qi, ia dapat merasakan bahwa wadah fisiknya telah menampung beban batas tertentu. Energi spiritual yang mengalir ke dalam tubuhnya tidak lagi menyerupai sungai kecil—kini, energi itu bagaikan gelombang pasang yang menghantam dinding bendungan.
Jika ia tidak segera menerobos, energi meluap itu justru dapat berbalik merusak organ dalamnya.
"Guru, kapan aku bisa mulai menerobos ke ranah Pembukaan Meridian?" tanya Mingseng di dalam batin.
Kesadaran Kaisar Abadi membuka matanya. 'Jangan terburu-buru. Puncak Pengumpulan Qi memang gerbangnya, namun menembus meridian bukan sekadar mendobrak pintu dengan tenaga mentah.'
Sang penjaga Balai Penempaan Darah mendengus keras. 'Kalau cuma mengandalkan teori, dia bisa membusuk di sini! Tubuhnya sudah ditempa leburan api leluhur. Tulang dan ototnya jauh lebih kuat dari kultivator biasa. Dia sudah punya modal mutlak untuk mencoba!'
Perempuan berjubah putih menengahi lembut, "Kalian berdua hanya melihat dua sisi ekstrem. Mingseng siap mencoba, tetapi ia juga harus paham konsekuensi jika gagal."
Mingseng membuka mata. "Kalau aku gagal?"
'Rasa sakitnya bisa merobek jaringan nadimu,' jawab Kaisar Abadi serius. 'Dalam kondisi terburuk, aliran spiritualmu bisa hancur berantakan.'
Mingseng terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Aku pernah kelaparan tiga hari di jalanan, pernah nyaris mati diterkam binatang, dan dihina karena tidak punya kekuatan... Jika rasa sakit adalah harga untuk menjadi lebih kuat, aku tidak akan pernah mundur."
Ketiga pembimbingnya terdiam. Sang penjaga balai akhirnya tertawa bahak-bahak. 'Bagus! Setidaknya kau bukan pengecut!'
'Baiklah,' titah Kaisar Abadi. 'Kami akan memandu sirkulasinya. Tapi ingat, jangan paksakan aliran jika meridianmu belum siap menerima tekanan.'
Terobosan Ranah Pembukaan Meridian
Mingseng mengangguk, memejamkan mata, dan mulai mengedarkan Qi puncak di dalam tubuhnya.
Di bawah bimbingan presisi Kaisar Abadi, Mingseng membimbing gelombang energi spiritual pekat tersebut menyusuri rantai nadinya menuju titik penghalang pertama.
Di sana, berdiri dinding segel tak kasat mata yang menghalangi jalan. Meridian pertama yang telah terbuka sebelumnya memancarkan kilau keemasan samar.
Ketika pusaran energi mendekat, dinding penghalang itu bergetar hebat!
'Jangan hantam secara langsung!' peringat Kaisar Abadi. 'Cari titik terlemahnya, lalu alirkan energi secara bertahap!'
Keringat dingin membasahi dahi Mingseng. Otot-ototnya menegang keras, namun napasnya terjaga dalam ritme sempurna.
Tiba-tiba, suara sang wanita misterius berbisik halus: "Rasakan denyut tubuhmu, Mingseng... Dengarkan di mana letak keretakan alami pada segel itu."
Mingseng menarik napas dalam-dalam. Ia menghentikan dorongan kasarnya, lalu menyebarkan persepsi batinnya untuk meraba struktur penghalang.
Di sana—di sudut paling bawah segel—terdapat sebuah celah mikro yang teramat tipis.
"Aku menemukannya, Guru!"
'Bagus! Salurkan energinya sekarang!' seru Kaisar Abadi.
Mingseng mengerahkan seluruh konsentrasi batinnya. Aliran Qi yang pekat melesat bagai jarum emas menembus celah mikro tersebut!
KRAK!
Rasa sakit yang luar biasa meledak di dalam dadanya, merambat tajam ke sumsum tulang dan jaringan saraf! Darah segar merembes keluar dari sudut bibir Mingseng.
Namun ia tidak berhenti. Dengan keteguhan hati bagai karang, Mingseng melepaskan dorongan terakhir!
BOOM!
Segel penghalang itu runtuh hancur berantakan!
Gelombang energi spiritual meluap memenuhi saluran nadi baru yang terbuka, memancarkan kehangatan luar biasa yang menyegarkan seluruh sel tubuhnya. Sensasi ringan dan tajam menyelimuti indranya.
Mingseng membuka matanya yang berkilat membara. Ia resmi menapakkan kaki di Ranah Pembukaan Meridian Tahap Awal!
Kebingungan Tanpa Jawaban
Namun tepat saat meridian kedua berhasil ditembus, sebuah anomali ganjil kembali terjadi di kedalaman tubuhnya.
Sebuah denyut samar yang melintasi dimensi lain bergetar sekilas, merespons terbukanya meridian tersebut. Namun ketika ketiga pembimbing kunonya mencoba memeriksa struktur batin Mingseng—
Kaisar Abadi mengerutkan dahi dalam-dalam. 'Aneh... Kenapa dalam pindaianku... tetap hanya terdeteksi SATU meridian yang terbuka?'
Sang penjaga balai mengusap matanya tak percaya. 'Mustahil! Aku sendiri melihat energi itu menembus segel kedua!'
Wanita misterius memejamkan mata, memindai lebih jauh, namun hasilnya tetap sama—kabut pekat menyembunyikan struktur meridian Mingseng yang sebenarnya dari penglihatan mereka.
"Ada sesuatu yang bekerja di luar jangkauan persepsi kita," bisik sang wanita pelan.
Mingseng menatap mereka bingung. "Jadi... apakah terobosanku berhasil?"
Kaisar Abadi menarik napas panjang. 'Kau berhasil menembus Ranah Pembukaan Meridian. Tapi tubuhmu... menyimpan rahasia yang bahkan kami bertiga tidak sanggup pecahkan.'
Sang penjaga mendengus gusar. 'Murid ini benar-benar merepotkan!'
Mingseng hanya tersenyum tipis. Apapun rahasia tubuhnya, satu hal yang pasti: kini ia memiliki kekuatan sejati untuk memberi pelajaran pada para penghinanya.
Bentrokan Berdarah di Lorong Paviliun
Keesokan paginya, Mingseng mengenakan jubah murid luar dan mengenakan topeng hitam separuh wajahnya. Ia menekan fluktuasi energinya agar tampak seperti murid biasa di puncak Pengumpulan Qi.
Saat melangkah di lorong dekat Paviliun Kontribusi, mata Mingseng menangkap sosok yang teramat familiar.
Fang Rui.
Bangsawan muda itu sedang tertawa jumawa bersama dua murid pengikutnya. Ketika matanya menatap Mingseng yang berjalan mendekat dengan topeng hitam, Fang Rui menyipitkan mata mengejek.
"Hei! Bukankah itu si muka buruk?" cemooh Fang Rui nyaring. "Sekarang kau pakai topeng? Kenapa, mukamu makin membusuk sampai tak sanggup kau lihat sendiri?!"
Pengikutnya tertawa terbahak-bahak.
Mingseng menghentikan langkahnya. Di balik topeng hitam bergaris merah, sepasang matanya menatap Fang Rui dengan dingin tanpa emosi.
"Aku masih ingat setiap penghinaanmu," ujar Mingseng datar.
Fang Rui mengangkat dagunya angkuh. "Lalu kenapa? Kau cuma sampah tanpa latar belakang! Ingat, aku pernah menamparmu di halaman depan!"
"Aku ingat," balas Mingseng. "Dan aku paling ingat saat kau menghina almarhum ibuku."
Tawa Fang Rui makin menjadi-jadi. "Perempuan mati itu?! Kalau keluargamu sendiri menganggapnya sampah dan membiarkannya mati kelaparan, kenapa aku harus peduli?! Hahaha!"
Wush...
Udara di lorong seketika terasa membeku.
Mingseng tidak lagi bertoleransi. Ejekan pada dirinya bisa ia abaikan, namun membawa-bawa nama almarhum ibunya adalah garis merah yang tidak boleh dilangkahi siapa pun!
"Kutarik perkataanku," bisik Mingseng dingin. "Minta maaf atas penghinaanmu pada ibuku sekarang."
Fang Rui tertegun sesaat, lalu tertawa berang. "Kau menyuruhku minta maaf?! Siapa yang memberimu keberanian, sampah?!"
Fang Rui melangkah cepat, mengayunkan telapak tangannya untuk menampar wajah Mingseng seperti dahulu!
Namun—
TAK!
Sebelum telapak tangan itu menyentuh udara di depan topeng Mingseng, jemari Mingseng telah mencengkeram pergelangan tangan Fang Rui dengan kecepatan luar biasa!
Senyum di wajah Fang Rui seketika runtuh. "L-lepaskan!"
Fang Rui mengerahkan seluruh energi Pengumpulan Qi-nya untuk melepaskan diri, namun cengkeraman Mingseng bagaikan capit besi yang tak bergeming sedikit pun.
"Kau terlalu terbiasa menganggap orang lain tak sanggup melawan," kata Mingseng pelan.
Lalu, Mingseng memutar pergelangan tangan Fang Rui ke arah berlawanan!
KRAK!
"ARGGGHHH...!"
Jeritan histeris Fang Rui memecah kesunyian lorong saat sendi tangannya dipaksa bergeser melampaui batas! Ia jatuh berlutut memegangi pergelangan tangannya yang terkulai.
"Sialan! Serang dia!" teriak dua pengikut Fang Rui sambil mencabut pedang.
Seorang pengikut menebas dari kiri. Tanpa panik, Mingseng menarik jubah Fang Rui ke depan, menjadikannya tameng hidup hingga tebasan itu terhenti mendadak.
Mingseng lalu mendorong tubuh Fang Rui hingga menghantam kedua pengikutnya hingga bertabrakan jatuh terlentang!
Sebelum mereka sempat bangkit, Mingseng melangkah maju. Tanpa mencabut pedang, ia melayangkan satu pukulan terukur berbalut dorongan Tubuh Naga Darah ke arah bahu dan perut kedua pengikut tersebut!
BAM! DUK!
Dua murid itu terlempar menabrak pilar batu, memuntahkan darah dan pingsan seketika!
Seluruh murid luar di sekitar lorong berdiri mematung ketakutan.
Mingseng berjalan mendekati Fang Rui yang merangkak mundur dengan wajah sepucat mayat. Mingseng mencengkeram kerah bajunya dan mengangkat tubuh Fang Rui ke udara dengan satu tangan.
"A-aku anak Keluarga Fang... Kau tidak berani membunuhku di sekte!" ratap Fang Rui gemetar hebat.
Mingseng menatapnya dari balik celah topeng hitam dengan sorot mata bagaikan dewa kematian.
"Aku tidak akan membunuhmu hari ini," bisik Mingseng pelan di telinga Fang Rui. "Tapi ingat kalimatku: mulai hari ini, setiap kali kau mencoba menggunakan nama keluargamu untuk menindas orang lain... ingatlah bahwa aku akan ada di sana untuk mematahkan setiap tulangmu."
BRUK!
Mingseng melempar tubuh Fang Rui ke tanah bagaikan sampah. Ia lalu menyapu pandangannya ke arah kerumunan murid yang ketakutan.
"Jika ada yang menganggap tindakanku melanggar aturan, laporkan pada pengawas. Aku tidak akan lari."
Mingseng berbalik dan melangkah pergi dengan tenang, meninggalkan lorong yang sunyi senyap.
Pengawasan dari Ketinggian
Jauh di Aula Tetua, Tetua Agung Mo Canglan mendengarkan laporan keributan di lorong dari petugas sekte.
Mo Canglan mengetukkan jarinya di atas meja, tidak memberikan hukuman pada Mingseng karena Fang Rui-lah yang terbukti memprovokasi dan menyerang lebih dahulu.
Mo Canglan menatap ke luar jendela. Pemuda bertopeng itu tidak hanya berkembang pesat dalam kultivasi, tetapi juga telah berubah menjadi sosok yang memiliki dominasi mutlak.
"Lu Mingseng... seberapa jauh kau akan melangkah?" gumam Mo Canglan pelan.
Malam Hari — Garis Takdir Baru
Malam harinya, Mingseng duduk di kamarnya, menatap topeng hitam yang diletakkan di samping pembaringan.
Ia tidak merasa jumawa atas kemenangannya dari Fang Rui. Ia tahu Fang Rui hanyalah batu kerikil kecil di jalan panjang kultivasinya. Masih ada Keluarga Lu, Lu Tianhao, dan Lu Wenjie yang kelak harus ia hadapi.
Di dalam kesadarannya, sang penjaga balai tertawa puas, Kaisar Abadi mengingatkannya untuk tetap waspada, dan wanita misterius memintanya untuk menjaga kedamaian batin.
Saat Mingseng memejamkan mata untuk merapikan aliran Pembukaan Meridian Tahap Awal, lempengan tablet hitam di atas meja kembali bergetar halus.
Sebaris tulisan merah darah terukir sekilas sebelum lenyap:
MERIDIAN BERIKUTNYA: TIDAK DAPAT DITENTUKAN.
Sebuah misteri agung baru saja dimulai, dan pemuda bertopeng itu telah siap melangkah menembus takdirnya.
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳