Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab pertemuan
Kesadaran Lily kembali secara perlahan.
Hal pertama yang dirasakannya adalah sakit kepala yang berdenyut. Kelopak matanya terasa berat, sementara tubuhnya lemas seolah seluruh tenaganya telah terkuras. Ia mencoba menggerakkan tangan, tetapi pergelangan tangannya terasa nyeri. Aroma kayu cendana yang kuat memenuhi ruangan, bercampur dengan bau samar obat-obatan.
Lily membuka mata.
Langit-langit tinggi dengan ukiran keemasan menyambut pandangannya. Tirai beludru berwarna merah marun menjuntai di sisi jendela besar, sementara lampu kristal menggantung megah di tengah ruangan. Dindingnya dihiasi lukisan kuno, dan beberapa patung berlapis emas berdiri di sudut ruangan.
Tempat itu terlihat seperti kamar di dalam istana kerajaan.
Lily berusaha bangkit, tetapi kepalanya kembali berdenyut. Ia menahan napas, menunggu rasa pusing itu mereda sebelum mengamati sekelilingnya.
Sebuah ranjang besar dengan tiang berukir berdiri di tengah kamar. Seprai putihnya tampak rapi, sedangkan selimut tebal berwarna merah tua terlipat di bagian kaki ranjang.
Namun, perhatian Lily segera tertuju pada sofa panjang di samping tempat tidur.
Seorang lelaki duduk di sana.
Rambutnya hitam pekat, disisir rapi ke belakang. Wajahnya memiliki garis rahang tegas dengan hidung mancung dan bibir tipis. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan berotot dengan beberapa bekas luka lama.
Akan tetapi, bukan penampilan lelaki itu yang membuat Lily terpaku.
Melainkan matanya.
Ungu.
Sepasang mata berwarna ungu yang menatapnya tajam tanpa sedikit pun keramahan.
Lily merasakan jantungnya berdegup lebih cepat. Warna mata itu begitu asing sekaligus familier. Ia pernah melihat warna serupa dalam hidupnya, bukan pada orang asing, melainkan pada seseorang yang masih tersimpan dalam ingatan masa kecilnya.
Ibunya.
Mata Siumei Suga berwarna ungu lavender, lembut seperti kelopak bunga yang terkena cahaya pagi.
Untuk sesaat, Lily bahkan lupa bahwa dirinya sedang berada di tempat yang tidak dikenalnya.
“Ibu ...?” bisiknya tanpa sadar.
Lelaki itu mengangkat sebelah alis.
Lily segera tersadar. Ia menegakkan tubuh, menarik selimut hingga menutupi pangkuannya, kemudian menatap lelaki tersebut dengan waspada.
“Siapa Anda?”
Alih-alih menjawab, lelaki itu justru tertawa kecil. Suaranya rendah, tetapi terdengar penuh ejekan.
“Setelah sekian lama, akhirnya kita bertemu juga, Yahiko.”
Tubuh Lily menegang mendengar nama aslinya.
Hanya sedikit orang yang mengetahui nama tersebut. Mahito Katagiri adalah salah satunya. Keluarga Katagiri telah menyembunyikan identitasnya selama bertahun-tahun demi melindunginya dari orang-orang yang membantai keluarganya.
Lily menatap lelaki di hadapannya dengan semakin curiga.
“Dari mana Anda mengetahui nama itu?”
Lelaki tersebut bangkit dari sofa. Langkahnya perlahan, tetapi setiap gerakannya membuat Lily semakin waspada. Ia berusaha turun dari ranjang, namun tubuhnya belum cukup kuat untuk berdiri.
Lelaki itu berhenti tepat di hadapannya.
“Seharusnya bukan itu yang kau tanyakan.”
Ia membungkuk, kemudian mencengkeram rahang Lily dengan satu tangan. Cengkeramannya membuat Lily terpaksa mengangkat wajah.
“Seharusnya kau bertanya tentang ayahmu yang sedang kusiksa.”
Mata Lily membelalak.
“Apa ...?”
Senyum sinis terukir di bibir lelaki itu.
“Ya. Ayahmu masih hidup.”
Dunia Lily seolah berhenti berputar.
Selama bertahun-tahun, ia hidup dengan keyakinan bahwa keluarganya telah musnah. Ia masih mengingat rumah yang dipenuhi darah, tubuh para pelayan yang tergeletak, serta keheningan mengerikan yang menyambutnya ketika pulang dari tempat les pada hari itu.
Ia masih kecil ketika kehilangan ibunya.
Ia bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal.
Sejak saat itu, ia tidak pernah mengetahui dengan pasti apa yang terjadi pada ayahnya. Mahito hanya mengatakan bahwa keadaan keluarga mereka sangat berbahaya dan bahwa Lily harus meninggalkan identitas lamanya demi keselamatan.
Namun, jauh di dalam hatinya, Lily selalu menyimpan satu harapan kecil.
Mungkin ayahnya masih hidup.
Mungkin suatu hari nanti ia dapat bertemu kembali dengannya.
Kini, harapan itu muncul di hadapannya dalam bentuk kabar yang menyakitkan.
“Ayah ... masih hidup?” Suaranya bergetar. “Di mana dia? Apa yang Anda lakukan kepadanya?”
Lelaki itu melepaskan rahangnya dengan kasar. Lily segera mengangkat tangan untuk menyentuh bagian wajahnya yang terasa nyeri.
“Jangan terburu-buru. Kau akan mengetahui semuanya.”
“Lepaskan ayah saya!” Lily berusaha turun dari ranjang.
Lelaki itu tertawa lagi.
“Kau pikir dunia akan selalu menuruti keinginanmu.”
“Saya tidak mengenal Anda!”
“Benarkah?”
Ia mengambil sebuah kursi kecil dari dekat sofa, lalu meletakkannya di hadapan Lily. Setelah duduk, ia menyilangkan kaki dan menatap perempuan itu seolah sedang menikmati sebuah pertunjukan.
“Kalau begitu, dengarkan baik-baik. Aku akan memperkenalkan diriku kepadamu.”
Lelaki itu terdiam sejenak. Sorot matanya berubah dingin.
“Namaku Gento kabura.”
Lily mengernyit.
Gento Kabura.
Nama itu tidak pernah terdengar dalam ingatannya, tetapi ada sesuatu dalam cara lelaki itu menyebut namanya sendiri yang membuat suasana kamar terasa semakin menekan.
“Ibumu juga ibuku,” lanjut Gento.
Lily membeku.
Gento memperhatikan perubahan wajahnya dengan senyum pahit.
“Terkejut? Tentu saja. Selama ini, kau hanya mengetahui satu sisi cerita keluarga Yahiko. Kau dibesarkan dengan identitas baru, dilindungi keluarga Katagiri, dan dibiarkan percaya bahwa seluruh masa lalumu telah berakhir pada hari pembantaian itu.”
Ia mencondongkan tubuh ke depan.
“Padahal, ada bagian dari masa lalu itu yang sengaja disembunyikan darimu.”
Lily menggeleng perlahan.
“Tidak mungkin. Ibu saya hanya memiliki saya sebagai anaknya.”
“Menurut ayahmu, mungkin begitu.”
Gento tertawa hambar.
“Delapan tahun lalu, ayahmu merebut ibuku dari ayahku.”
Lily tidak segera memahami maksud perkataan itu. Ia menatap Gento, berusaha mencari kebohongan pada wajah lelaki tersebut.
“Perebutan seperti apa yang Anda maksud?”
“Apakah kau ingin aku mengatakannya dengan lebih jelas?”
Suara Gento meninggi.
“Ayahmu menghancurkan keluarga kami! Saat itu, keluargaku sedang berada dalam keadaan yang sangat buruk. Ayahku kehilangan pengaruh, para pengikutnya mulai meninggalkan kami, dan berbagai musuh memanfaatkan kelemahan tersebut untuk merebut wilayah kekuasaannya.”
Ia berdiri dan berjalan menuju jendela.
“Ibuku seharusnya tetap berada di sisi ayahku. Namun, ayahmu datang membawa kekayaan, kekuasaan, dan janji-janji yang membuatnya memilih meninggalkan kami.”
Gento menoleh. Matanya yang ungu tampak semakin gelap di bawah cahaya lampu.
“Dia pergi bersama ayahmu. Aku masih terlalu muda untuk memahami seluruh persoalan orang dewasa, tetapi aku cukup mengerti satu hal: keluargaku telah hancur.”
Lily menelan ludah.
Ia tidak pernah mengetahui bahwa ibunya memiliki hubungan dengan keluarga lain. Dalam kenangannya, Siumei adalah perempuan yang lembut dan penuh perhatian. Ibunya selalu menyisir rambutnya sebelum tidur, menyanyikan lagu-lagu lama, serta memeluknya setiap kali ia mengalami mimpi buruk.
Sulit bagi Lily untuk membayangkan perempuan itu meninggalkan seorang anak lain.
Namun, ia juga tidak bisa memastikan bahwa Gento sedang mengatakan kebenaran.
“Kalau memang ibu saya pernah meninggalkan Anda,” ujar Lily dengan suara pelan, “mengapa Anda menyalahkan saya? Saya bahkan tidak mengetahui keberadaan Anda.”
Wajah Gento berubah muram.
“Karena kau tetap mendapatkan semuanya.”
“Apa?”
“Kau mendapatkan ibu yang seharusnya masih berada di sisiku. Kau mendapatkan ayah yang membesarkanmu dengan perlindungan dan kekayaan. Bahkan setelah keluargamu dibantai, kau masih diselamatkan oleh keluarga Katagiri.”
Ia mendekat kembali.
“Sedangkan aku?”
Gento menunjuk dadanya sendiri.
“Aku kehilangan semuanya.”
Lily terdiam.
Gento mengembuskan napas panjang, tetapi ketenangan itu hanya bertahan sesaat sebelum amarahnya kembali terlihat.
“Setahun setelah ibuku pergi, ayahku meninggal. Sejak saat itu, aku tidak memiliki siapa pun yang dapat kuandalkan. Orang-orang yang dahulu tunduk kepadanya mulai meremehkanku. Mereka menganggapku terlalu muda, terlalu lemah, dan tidak akan pernah mampu mengambil alih kekuasaan keluarga.”
Ia mengepalkan tangan.
“Aku harus menghadapi semuanya seorang diri. Aku belajar bagaimana memegang kendali, bagaimana membaca pengkhianatan, dan bagaimana membuat orang-orang yang lebih kuat dariku berlutut.”
Lily menatapnya tanpa berkedip.
“Bertahun-tahun aku membangun kekuatanku sendiri. Aku mengumpulkan orang-orang yang tidak memiliki tempat untuk kembali, merebut wilayah dari kelompok-kelompok yang meremehkanku, dan membentuk organisasi yang kini tidak berani disentuh oleh siapa pun.”
Gento tersenyum tipis.
“Yakuza terkuat yang kubangun dengan tanganku sendiri.”
Lily merasakan tengkuknya meremang.
Ia tidak mengetahui seberapa besar kekuasaan lelaki itu, tetapi dari penjagaan ketat dan kemewahan ruangan tersebut, ia dapat menyimpulkan bahwa Gento bukan orang biasa.
“Ketika pembantaian keluarga Yahiko terjadi,” lanjut Gento, “awalnya aku tidak memedulikanmu. Bagiku, kau hanyalah anak kecil yang tidak ada hubungannya dengan kehidupanku. Aku bahkan sempat melupakan keberadaanmu.”
Ia berhenti tepat di depan ranjang.
“Namun, ketika aku memutuskan kembali untuk mencarimu, kau sudah menghilang.”
Lily teringat Mahito.
Rumah persembunyian. Identitas baru. Perjalanan panjang meninggalkan Jepang. Semua itu bukan kebetulan. Mahito telah mengatur setiap langkah agar dirinya tidak ditemukan oleh orang-orang yang memburu keluarga Yahiko.
Gento seakan dapat membaca pikirannya.
“Keluarga Katagiri ternyata jauh lebih sulit dilacak daripada yang kuduga. Mereka menghapus jejakmu, menutup jalur informasi, dan membuat semua orang percaya bahwa Yahiko Nariku sudah tidak ada lagi.”
Ia tertawa pendek.
“Untuk sementara, aku tidak dapat melakukan apa-apa. Jadi, aku menunggu.”
“Menunggu apa?” tanya Lily.
“Menunggumu keluar dari persembunyian.”
Gento menatapnya tajam.
“Selama bertahun-tahun, aku memperluas pengaruhku. Aku memastikan orang-orangku menguasai jalur perdagangan, memperoleh sekutu, dan menyingkirkan siapa pun yang berpotensi menghalangi rencanaku. Aku tidak ingin mengejarmu dengan kekuatan yang belum cukup besar. Aku ingin memastikan bahwa ketika akhirnya kita bertemu, tidak ada seorang pun yang dapat merebutmu dariku.”
Lily menggeleng.
“Jadi, Anda yang mengirim pesan-pesan itu? Anda yang membuat saya meninggalkan tempat persembunyian?”
“Tidak semuanya berjalan persis seperti yang kurencanakan,” jawab Gento. “Namun, kepulanganmu ke Jepang memang kesempatan yang telah lama kutunggu.”
Lily teringat rumah kecil di desa yang dibelinya dengan susah payah. Tempat yang ia impikan sebagai awal kehidupan baru, jauh dari Satoshi dan keluarga Katagiri. Ia tidak pernah membayangkan bahwa rumah itu justru akan menjadi salah satu jalan yang membuatnya ditemukan.
“Dan sekarang?” tanyanya. “Apa yang Anda inginkan dari saya?”
Gento menatapnya lama.
“Aku ingin kau merasakan apa yang kurasakan dahulu dan lihatlah banyak sekali bekas cupangan dilehermu, JALANG." Gento tertawa pelan dan mengejek.
Lily berusaha menutupi lehernya dengan kedua tangannya.
“Aku ingin kau kehilangan ketenanganmu. Aku ingin kau mengetahui bagaimana rasanya hidup dengan ketakutan, tidak mengetahui apakah orang yang kau cintai masih hidup, dan menyadari bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman.”
“Tidak apa, saya sudah terbiasa dengan apa yang anda katakan itu, ambil saja semua harta yang anda maksud!”
Lily mengangkat wajahnya. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Gento terdiam sesaat, lalu senyum sinis kembali muncul.
“Kau pikir ini hanya tentang uang dan kekayaan keluarga Yahiko?”
Ia menggeleng.
“Tidak, Yahiko. Ada dendam pribadi di balik semua ini. Dendam yang tidak akan selesai hanya dengan mengambil harta keluargamu.”
“Kalau begitu, mengapa Anda mengatakan ayah saya masih hidup?” Lily bertanya dengan suara gemetar. “Apa yang Anda inginkan darinya?”
Gento memalingkan wajah.
“Karena aku ingin dia melihat akibat dari semua yang telah dilakukannya.”
Lily tidak mampu lagi menahan air matanya.
“Ayah ...”
Nama itu keluar seperti rintihan. Selama bertahun-tahun, ia tidak pernah berani membayangkan bagaimana rasanya bertemu kembali dengan ayahnya. Ia hanya ingin mengetahui apakah lelaki itu masih hidup, apakah ia juga memikirkan Lily, dan apakah ada kemungkinan mereka dapat kembali menjadi keluarga.
Namun, jika perkataan Gento benar, ayahnya sedang disiksa di suatu tempat.
Lily menggenggam seprai dengan kedua tangan.
“Tolong, jangan sakiti dia. Apa pun yang terjadi di antara kalian, saya mohon, jangan sakiti ayah saya.”
Gento menatapnya tanpa belas kasihan.
“Sekarang kau mulai memohon?”
Ia mendekat dan berjongkok di depan ranjang agar wajah mereka sejajar.
“Delapan tahun lalu, tidak ada seorang pun yang memohon untukku. Ketika ibuku pergi, tidak ada yang peduli apakah aku sanggup menghadapinya. Ketika ayahku meninggal, tidak ada yang bertanya bagaimana aku akan bertahan hidup.”
Gento menatap lurus ke mata Lily.
“Jadi, jangan memintaku untuk berbelas kasihan kepada keluargamu.”
Lily menangis tanpa suara. Ia ingin membenci Gento, tetapi sebagian dirinya justru merasa ngeri membayangkan seorang anak yang tumbuh dalam kehilangan dan kebencian hingga berubah menjadi lelaki seperti ini.
Namun, penderitaan masa lalu tidak memberinya hak untuk menghancurkan kehidupan orang lain.
“Jika Anda benar-benar kehilangan ibu karena ayah saya,” kata Lily setelah beberapa saat, “saya turut berduka atas apa yang terjadi kepada Anda. Namun, saya tidak pernah mengambil ibu Anda. Saya bahkan tidak mengetahui bahwa Anda ada.”
Rahang Gento mengeras.
“Jangan berpura-pura memahami perasaanku.”
“Saya tidak berpura-pura.”
Lily menghapus air matanya dengan punggung tangan.
“Saya hanya mengatakan bahwa saya tidak bersalah atas keputusan orang dewasa. Saya tidak memilih dilahirkan dalam keluarga ini. Saya juga tidak pernah meminta semua kekayaan yang Anda benci itu.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Gento kehilangan senyum sinisnya.
Lily melanjutkan, meskipun suaranya masih bergetar.
“Jika Anda menyakiti ayah saya, Anda tidak akan mengubah masa lalu. Anda hanya akan menciptakan penderitaan yang sama untuk orang lain.”
Keheningan memenuhi kamar.
Gento berdiri perlahan. Ia menatap Lily dengan sorot mata yang sulit dibaca, seolah kata-kata perempuan itu telah menyentuh bagian dirinya yang selama ini berusaha ia kubur.
Namun, sesaat kemudian, wajahnya kembali dingin.
“Kau akan tetap berada di sini sampai aku memutuskan apa yang harus kulakukan terhadapmu.”
Lily menatapnya tajam.
“Saya bukan tahanan yang bisa Anda simpan sesuka hati.”
“Di rumah ini, kaulah yang tidak memiliki kuasa.”
Gento berjalan menuju pintu. Dua orang penjaga yang berdiri di luar segera menegakkan tubuh ketika melihatnya keluar.
Sebelum pintu tertutup, ia menoleh sekali lagi.
“Oh, satu hal lagi, Yahiko.”
Lily menatapnya.
“Jangan berharap keluarga Katagiri akan datang menyelamatkanmu. Aku tidak takut kepada mereka. Jika Mahito Katagiri berani menginjakkan kaki di wilayahku, aku akan menganggapnya sebagai musuh.”
Pintu tertutup keras.
Lily terdiam di atas ranjang besar itu. Air matanya belum berhenti mengalir, tetapi pikirannya mulai bekerja di tengah rasa takut yang menyelimutinya.
Ayahnya masih hidup.
Gento memiliki dendam terhadap keluarga mereka.
Dan jika lelaki itu benar-benar memiliki kekuasaan sebesar yang dikatakannya, maka Satoshi, Mahito, serta siapa pun yang berusaha mencarinya bisa berada dalam bahaya.
Lily menoleh ke arah jendela. Di balik tirai beludru, langit Jepang tampak kelabu. Ia tidak tahu di mana dirinya berada, berapa banyak penjaga yang mengawasi bangunan itu, ataupun bagaimana cara melarikan diri.
Namun, ada satu hal yang kini jauh lebih penting daripada kebebasannya sendiri.
Ia harus menemukan ayahnya.
Apa pun rahasia yang disembunyikan lelaki itu, Lily tidak akan membiarkan Gento menjadikannya alasan untuk membalas dendam tanpa akhir.
Sementara itu, jauh di bawah bangunan megah tersebut, di sebuah ruangan berdinding batu yang hanya diterangi lampu redup, seorang pria duduk dengan kedua tangan terikat pada kursi besi.
Wajahnya pucat. Darah mengering di sudut bibirnya, dan napasnya terdengar berat.
Seorang penjaga masuk membawa sebuah tablet. Ia meletakkannya di atas meja kecil di hadapan tahanan itu, kemudian memutar layar agar pria tersebut dapat melihatnya.
Di layar tampak foto Lily yang sedang duduk di atas ranjang.
Mata pria itu membelalak.
“Nari ...”
Suara seraknya nyaris tidak terdengar.
Ia berusaha bangkit, tetapi ikatan di pergelangan tangannya menahannya.
“Jangan sentuh putriku!” serunya dengan sisa tenaga. “Kalau kau ingin membalas dendam kepadaku, lakukan saja kepadaku! Jangan libatkan dia!”
Dari balik pintu, terdengar suara tawa pelan.
Gento memasuki ruangan dengan langkah tenang. Ia berdiri di hadapan tahanan itu, lalu mengambil tablet dari meja.
“Menarik sekali,” katanya dingin. “Bahkan setelah semua yang terjadi, kau masih bisa memikirkan keselamatannya.”
Pria yang terikat itu menatapnya penuh kebencian.
“Gento, dengarkan aku. Nariku tidak mengetahui apa pun tentang masa lalu kita. Dia tidak bersalah.”
Gento mendekat hingga jarak mereka hanya beberapa langkah.
“Begitulah yang selalu kau katakan tentang orang-orang yang ingin kau lindungi.”
Ia meletakkan tablet, kemudian membungkuk sedikit.
“Sekarang, kita lihat apakah kau masih sanggup mempertahankan keyakinan itu ketika putrimu sendiri mulai mengetahui kebenarannya.”
Pria itu terdiam. Wajahnya berubah ketika mendengar kata kebenaran.
Gento memperhatikan perubahan tersebut dengan saksama.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Ah, jadi kau masih mengingatnya.”
Ia berbalik menuju pintu, meninggalkan pria itu dalam keheningan yang menyesakkan.
Sebelum keluar, Amara memberikan satu perintah kepada penjaga.
“Pastikan tidak ada seorang pun yang menemui Yahiko tanpa izinku. Dan tingkatkan penjagaan di ruang bawah tanah. Aku tidak ingin tahanan itu mati sebelum kita menyelesaikan urusan keluarga ini.”
Pintu kembali tertutup.
Di dalam kamar megah, Lily belum mengetahui bahwa ayahnya berada hanya beberapa lantai di bawah tempatnya terbaring.
Ia juga belum mengetahui bahwa dendam Gento bukan satu-satunya rahasia yang terkubur dalam sejarah keluarga mereka.
Sebab di balik kemarahan lelaki bermata ungu itu, ada sebuah kebenaran yang bahkan mungkin belum sepenuhnya diketahui oleh orang yang paling ingin membalas dendam.
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁