Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.
Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.
Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.
Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Selera Sang Bule
Pagi pertama Retna di Bali dimulai jauh lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Ia terbangun sebelum matahari benar-benar muncul.
Untuk beberapa detik, Retna hanya menatap langit-langit kamar kecil yang kini menjadi tempat tidurnya.
Kemudian semuanya kembali teringat.
Perceraian.
Arman.
Rumah mertuanya.
Koper kecil.
Kepergiannya dari rumah orang tua.
Dan sekarang Bali.
Retna menghela napas panjang.
Ada rasa lega karena akhirnya ia berhasil pergi dari rumah yang penuh kenangan buruk itu. Namun di balik kelegaan tersebut, terselip rasa bersalah karena meninggalkan rumah orang tuanya tanpa berpamitan dengan baik.
Ia bangkit dari tempat tidur dan merapikan rambutnya sebelum keluar kamar.
Rumah masih sangat tenang.
Nathan belum terlihat.
Retna memutuskan memulai pekerjaannya.
Ia mengambil sapu, kemudian mulai membersihkan bagian dalam rumah.
Awalnya ia sedikit bingung dengan luasnya rumah tersebut.
Di kampung halamannya, ia terbiasa membersihkan rumah yang jauh lebih kecil.
Namun pekerjaan rumah tangga bukan sesuatu yang asing baginya.
Satu per satu ruangan ia bersihkan.
Ruang tamu.
Ruang makan.
Dapur.
Kemudian teras dan halaman.
Setelah hampir dua jam, keringat mulai membasahi dahinya.
Retna berhenti sebentar untuk mengusap wajah.
“Lumayan juga,” gumamnya.
Ia kemudian teringat pesan Lilis.
Selain membersihkan rumah, ia juga diminta membantu menyiapkan makanan.
Masalahnya, Retna tidak tahu makanan seperti apa yang disukai Nathan sang majikan.
Ia membuka lemari dapur.
Berbagai bahan makanan tersusun rapi.
Ada sayuran, telur, daging, buah-buahan, serta beberapa bahan makanan yang bahkan tidak begitu dikenalnya.
Retna mengerutkan kening.
“Ini dimasak bagaimana?”
Ia akhirnya memutuskan memasak makanan yang paling ia kuasai.
Nasi.
Telur dadar.
Tumis sayur.
Dan ayam goreng sederhana.
Menurutnya, makanan tersebut aman.
Setidaknya ia bisa memasaknya dengan baik.
Ketika sedang menggoreng ayam, terdengar suara langkah dari belakang.
Retna menoleh.
Nathan berdiri di ambang pintu dapur.
Pria itu masih mengenakan pakaian santai.
Rambutnya sedikit berantakan.
“Morning.”
Retna langsung berdiri tegak.
“Good morning, Mister Nathan.”
Nathan melihat meja makan.
“Kamu sudah masak?”
Retna mengangguk.
“Iya.”
Nathan mendekat.
Ia melihat beberapa hidangan yang sudah tersaji.
“Apa ini?”
“Masakan Indonesia.”
Nathan mengangguk.
“Kelihatannya enak.”
Retna tersenyum lega.
“Tapi saya tidak tahu Mister suka atau tidak.”
Nathan mengambil sedikit telur dadar dengan garpu.
Ia mencicipinya.
Retna menunggu reaksinya.
Nathan mengangguk.
“Enak.”
Retna tersenyum.
“Benarkah?”
“Iya.”
Namun Nathan kemudian bertanya,
“Kamu bisa masak makanan lain?”
Retna mengangguk.
“Bisa.”
“Apa saja?”
Retna mulai menghitung dengan jarinya.
“Sayur, ayam, ikan, sop, nasi goreng, mie...”
Nathan tertawa kecil.
“Banyak.”
Retna ikut tersenyum.
“Tapi saya tidak tahu makanan yang biasa Mister makan.”
Nathan mengangguk.
“Nah, itu masalahnya.”
Retna mengambil buku kecil yang tadi ia gunakan untuk mencatat pekerjaan.
“Kalau begitu, Mister kasih tahu.”
Nathan menyebutkan beberapa makanan yang biasa ia makan.
Retna menulis semuanya.
Kemudian ia berhenti.
“Pasta?”
Nathan mengangguk.
“Ya.”
Retna menulis.
“Salad?”
“Iya.”
Retna kembali menulis.
“Steak?”
“Iya.”
Retna menatap Nathan.
“Saya tidak terlalu bisa.”
“Tidak apa-apa.”
Nathan kemudian tersenyum.
“Saya juga suka makanan Indonesia.”
Retna terlihat lega.
“Berarti saya tidak perlu belajar banyak.”
Nathan tertawa.
“Kalau mau, saya bisa ajari kamu.”
Retna menggeleng cepat.
“Tidak usah, Mister.”
“Kenapa?”
“Takut nanti malah saya yang bikin Mister sakit perut.”
Nathan tertawa.
Retna ikut tersenyum malu.
Percakapan singkat itu terus terbayang di benaknya saat ia kembali membereskan dapur. Ia juga memikirkan rumah yang ditinggalkannya dan orang tua yang mungkin sedang menunggu kabar darinya.
Pagi itu Bu Sari masuk ke kamar putrinya.
Tempat tidur masih rapi.
Tidak ada Retna.
Ia sudah tahu putrinya pergi.
Namun kepergian itu tetap membuat hatinya sesak.
“Pak...”
Pak Hadi yang sedang duduk di ruang tengah menoleh.
“Kenapa?”
“Retna benar-benar pergi.”
Pak Hadi terdiam.
“Lilis tadi menghubungi Ibu.”
“Apa katanya?”
“Retna pergi ke Bali.”
Pak Hadi menghela napas panjang.
“Kenapa dia tidak bilang kepada kita?”
“Ibu juga tidak tahu.”
Bu Sari duduk.
Wajahnya terlihat sedih.
“Memang Ibu sedikit kesal karena dia pergi diam-diam.”
Pak Hadi mengangguk.
“Ayah juga.”
“Tapi...”
Suara Bu Sari melemah.
“Ibu khawatir.”
Pak Hadi menatap pintu rumah.
Putrinya memang sudah dewasa, tetapi kepergian itu tetap membuat mereka cemas.
“Dia bilang punya pekerjaan,” ujar Bu Sari.
“Semoga benar-benar baik.”
“Kalau ternyata tidak bagaimana?”
Pak Hadi mengusap wajah.
“Kita telepon dia.”
Bu Sari menggeleng.
“Jangan terus-terusan. Nanti dia merasa kita tidak percaya.”
Beberapa saat kemudian Pak Hadi berkata pelan,
“Mungkin kita terlalu keras kepadanya.”
Bu Sari menunduk.
Mereka memang tidak pernah merestui pernikahan Retna dengan Arman. Namun setelah semuanya berakhir, mereka justru membuat putrinya merasa semakin bersalah.
“Seharusnya waktu dia pulang kemarin, Ibu peluk dia lebih lama.”
Air mata Bu Sari mulai menggenang.
Pak Hadi menggenggam tangan istrinya.
Di tempat lain, orang yang menjadi sumber luka putri mereka justru sedang menata masa depan seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Sementara itu, kehidupan Arman bergerak ke arah yang berlawanan.
Di sebuah restoran mewah, Arman duduk bersama Claudia.
Di atas meja terdapat beberapa brosur gedung pernikahan.
Claudia membukanya satu per satu.
“Bagaimana kalau yang ini?”
Arman melihatnya.
“Bagus.”
“Cuma bagus?”
“Bagus sekali.”
Claudia tersenyum puas.
“Kalau begitu kita pilih yang ini.”
Arman mengangguk.
Tidak ada sedikit pun keraguan dalam dirinya.
Pernikahan dengan Claudia terasa seperti jalan yang mudah.
Claudia berasal dari keluarga berada.
Keluarganya memiliki koneksi bisnis.
Bahkan orang tua Arman sudah berkali-kali membicarakan keuntungan yang bisa mereka dapatkan setelah kedua keluarga bersatu.
Malam sebelumnya, ayah Arman bahkan sudah menekannya.
“Kamu jangan terlalu lama.”
“Aku tahu, Yah.”
“Segera menikah dengan Claudia.”
“Iya.”
“Bisnis kita membutuhkan suntikan modal dari keluarganya.”
Arman terdiam.
Ibunya kemudian ikut bicara.
“Kalau kamu menikah dengannya, hubungan kedua keluarga akan semakin dekat. Bisnis kita bisa berkembang.”
Arman hanya mengangguk.
Baginya, pernikahan kali ini bukan sekadar urusan perasaan.
Ada keuntungan besar yang menunggu.
Dan Claudia adalah bagian dari jalan menuju semua itu.
Setelah percakapan itu berakhir, Arman kembali memusatkan perhatian pada brosur di hadapannya. Ia tidak tahu bahwa pada waktu yang hampir bersamaan, di Bali, Retna sedang menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya.
Kembali ke Bali, Retna sedang berdiri di depan meja makan.
Nathan baru saja selesai sarapan.
Retna membereskan piring.
“Masakannya enak,” kata Nathan.
“Terima kasih,mister.”
Nathan berdiri.
“Besok kamu tidak perlu membuat terlalu banyak.”
Retna menoleh.
“Kenapa?”
“Saya biasanya sarapan sedikit.”
Retna mengangguk.
Kemudian Nathan menunjuk makanan yang tersisa.
“Kalau bisa, buat yang kamu tahu saja.”
Retna mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Masak makanan yang kamu biasa masak.”
Retna terlihat bingung.
“Tapi saya pikir Mister mau makanan luar negeri.”
Nathan tersenyum.
“Saya tinggal di Bali cukup lama.”
“Oh.”
“Saya justru sering makan makanan Indonesia.”
Retna mengangguk.
Kemudian Nathan berkata,
“Kalau kamu bingung, masak yang kamu tahu.”
Retna tersenyum.
“Baik.”
Nathan berjalan meninggalkan dapur.
Namun baru beberapa langkah, ia berhenti.
“Retna.”
“Iya?”
“Jangan panggil saya Mister terus.”
"Lalu saya harus panggil Mister apa?"
“Panggil Nathan saja.”
Retna terlihat ragu.
“Maaf mister,tapi 'kan tidak sopan kalau saya panggil anda dengan sebutan nama.”
Nathan tersenyum.
“Saya bukan bos yang galak.”
Retna ikut tersenyum kecil.
“Baik... Nathan.”
Entah kenapa, menyebut nama pria itu membuat Retna kembali merasa canggung.
Nathan hanya mengangguk lalu melanjutkan langkahnya.
Retna memperhatikannya sebentar.
Kemudian ia menggeleng sendiri.
“Kenapa aku jadi gugup begini?”
Ia kembali membereskan meja.
Dalam hati, Retna berjanji satu hal.
Ia akan bekerja sebaik mungkin.
Tidak ingin mengecewakan Lilis.
Tidak ingin menjadi beban.
Dan tidak ingin kembali bergantung kepada laki-laki mana pun.
Namun janji itu terasa lebih seperti benteng daripada keyakinan. Tinggal di rumah Nathan membuatnya sadar bahwa ia bukan hanya sedang memulai pekerjaan baru, tetapi juga belajar hidup sebagai dirinya sendiri setelah bertahun-tahun menjadi istri seseorang.
Namun Retna belum tahu bahwa tinggal serumah dengan Nathan akan membuat batas yang selama ini ia bangun perlahan mulai goyah.
Bukan karena Nathan memaksanya.
Melainkan karena pria itu ternyata jauh berbeda dari Arman.
Dan perbedaan itu akan mulai terlihat sejak hari-hari pertama mereka tinggal bersama.