Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.
Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.
Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.
Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.
Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.
Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Ada banyak cara bagi dua orang untuk bertemu.
Bisa melalui teman.
Bisa melalui sekolah.
Bisa melalui pekerjaan.
Atau mungkin hanya karena kebetulan berada di tempat yang sama.
Namun, terkadang sebuah hubungan justru dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.
Sesuatu yang tidak direncanakan.
Sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Seperti...
sebuah pesan yang salah kirim.
Malam itu, hujan turun cukup deras.
Suara air berulang kali menghantam kaca jendela kamar.
Di dalam sebuah kamar sederhana, seorang pemuda duduk di depan meja belajar sambil menatap layar laptop dengan wajah lelah.
Namanya Andrian Pratama.
Usianya dua puluh dua tahun.
Mahasiswa tingkat akhir Universitas Dharma Nusapraja.
Di atas meja terdapat beberapa buku kuliah, catatan, botol air mineral, dan laptop yang sudah menyala sejak satu jam lalu.
Masalahnya...
pekerjaan Andrian hampir tidak bergerak.
Satu baris kalimat.
Hanya satu.
Andrian menatap tulisan itu cukup lama.
Kemudian menghela napas.
"Gue baru nulis satu kalimat selama tiga puluh menit."
Dia menyandarkan tubuh ke kursi.
Tangannya meraih ponsel di samping laptop.
Layar menyala.
Beberapa notifikasi langsung muncul.
Grup kelas.
Grup tugas.
Grup organisasi.
Dan satu grup yang isinya hampir setiap malam hanya membahas hal-hal yang tidak penting.
Andrian membuka grup terakhir.
> Rendy: Besok ada kelas pagi?
Tidak lama kemudian, balasan masuk.
> Doni: Ada.
> Rendy: Jam berapa?
> Doni: Jam delapan.
Beberapa detik hening.
Kemudian muncul balasan dari Rendy.
> Rendy: Berarti gue tidur.
Andrian menahan tawa.
Jarinya langsung mengetik.
> Andrian: Nah, jangan masuk sekalian.
Balasan Rendy muncul hampir seketika.
> Rendy: Nah, ini baru teman.
Andrian tertawa kecil.
Setidaknya ada sesuatu yang lebih menyenangkan daripada tugas kuliah.
Dia keluar dari grup dan meletakkan ponselnya kembali di meja.
Pandangan kembali tertuju pada laptop.
Satu kalimat tadi masih ada di sana.
Andrian mengusap wajah.
"Kalau begini terus, kapan selesainya?"
Dia kembali mencoba mengerjakan tugas.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Kemudian—
Bzzzt!
Ponselnya bergetar.
Andrian melirik.
Kali ini bukan dari grup.
Pesan pribadi.
Dia mengambil ponselnya.
Sebuah nomor yang beberapa hari lalu dia simpan muncul di layar.
Nomor tersebut seharusnya milik pegawai percetakan yang biasa digunakan kelompoknya untuk mencetak dokumen.
Andrian membuka percakapan.
Sebuah file tugas sudah siap dikirim.
Dia mengetik.
> Andrian: Kak, ini file yang kemarin. Kalau sudah selesai kabarin saya, ya.
Dia memeriksa file tersebut sekali lagi.
Benar.
Tidak ada kesalahan.
Tanpa berpikir panjang, Andrian menekan tombol kirim.
Pesan terkirim.
Dia kembali meletakkan ponsel.
Selesai.
Setidaknya begitu pikirnya.
Beberapa detik kemudian—
Bzzzt!
Andrian mengambil ponselnya lagi.
Sebuah balasan muncul.
> Dina Printing: Selesai apa?
Andrian mengerutkan kening.
Dia membaca pesan itu sekali lagi.
Kemudian membuka profil kontak.
Diam.
Matanya berpindah dari layar ke daftar kontak.
Kemudian kembali ke layar.
"Lho?"
Andrian langsung duduk tegak.
Nomor itu bukan nomor percetakan.
Satu digit berbeda.
Satu digit yang berhasil membuat malamnya sedikit lebih panjang.
"Waduh."
Jarinya langsung mengetik.
> Andrian: Maaf, salah kirim.
Pesan terkirim.
Andrian menunggu.
Tidak lama kemudian, balasan masuk.
> Dina Printing: Saya tahu.
Andrian mengangkat alis.
"Terus?"
Dia mengetik lagi.
> Andrian: Maaf, tadi saya kira nomor orang lain.
Balasan masuk.
> Dina Printing: Tidak apa-apa.
Andrian menghela napas lega.
Selesai.
Harusnya selesai.
Namun beberapa detik kemudian, sebuah pesan baru muncul.
> Dina Printing: Tapi tadi kamu bilang "file yang kemarin". File apa?
Andrian menatap layar.
Orang ini kepo juga.
Dia sempat berpikir untuk mengabaikannya.
Namun entah kenapa, jarinya malah mengetik.
> Andrian: File tugas kuliah.
> Dina Printing: Kamu mahasiswa?
> Andrian: Iya.
> Dina Printing: Semester berapa?
Andrian mengerutkan kening.
"Ini kok jadi wawancara?"
Dia tetap membalas.
> Andrian: Tingkat akhir.
Beberapa detik tidak ada balasan.
Andrian kembali melihat laptop.
Baru saja tangannya hendak menyentuh keyboard—
Bzzzt!
> Dina Printing: Jurusan apa?
Andrian tertawa kecil.
Orang ini benar-benar penasaran.
> Andrian: Manajemen.
Balasan datang.
> Dina Printing: Menarik.
Andrian menatap satu kata itu.
Menarik apanya?
Dia bahkan tidak tahu siapa orang di balik nomor tersebut.
Andrian akhirnya mengetik.
> Andrian: Kamu sendiri siapa?
Beberapa detik.
Kemudian sebuah nama muncul.
> Dina Printing: Elena.
Andrian terdiam.
Elena.
Nama itu tersimpan begitu saja di dalam ponselnya.
Tanpa dia tahu, malam itu bukan sekadar kesalahan mengirim pesan.
Itu adalah awal dari sesuatu yang akan mengubah kehidupannya.
Beberapa kilometer dari tempat Andrian berada, seorang wanita duduk sendirian di sebuah ruangan luas.
Dinding kaca di belakangnya memperlihatkan pemandangan kota Jakarta yang dipenuhi cahaya.
Hujan masih turun.
Namun suaranya hanya terdengar samar dari balik kaca.
Wanita itu baru saja menyelesaikan rapat panjang.
Di atas meja terdapat laptop, beberapa dokumen, sebuah tablet, dan ponsel pribadi.
Tangannya mengambil ponsel tersebut.
Layar masih menampilkan percakapan dengan seseorang bernama Andrian.
Pesan terakhir terbaca jelas.
Kamu sendiri siapa?
Elena menatap layar beberapa detik.
Kemudian jarinya bergerak.
> Elena: Elena.
Pesan terkirim.
Tidak lama kemudian—
Bzzzt!
> Andrian: Saya Andrian.
Elena menahan tawa.
Jarinya kembali mengetik.
> Elena: Saya tahu.
> Andrian: Kok tahu?
Elena melirik foto profil kontak tersebut.
Kemudian membalas.
> Elena: Nama akunmu.
Beberapa detik kemudian.
> Andrian: Oh iya.
Elena meletakkan ponselnya.
Harusnya percakapan selesai sampai di situ.
Tapi ternyata tidak.
Malam semakin larut.
Dan mereka terus berbicara.
Awalnya hanya tentang tugas kuliah.
Kemudian tentang makanan.
Cuaca.
Kebiasaan sehari-hari.
Pekerjaan.
Hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
Andrian mengeluh karena tidak suka bangun pagi.
Elena mengatakan bahwa dia sudah terbiasa bangun pagi.
Andrian mengeluh tentang tugas.
Elena menertawakannya.
Sebaliknya, ketika Elena mengeluhkan pekerjaan yang tidak ada habisnya, Andrian justru membalas dengan candaan.
Tidak ada yang spesial.
Mereka bahkan belum pernah bertemu.
Namun malam itu, dua orang asing mulai merasa sedikit lebih dekat.
Hari-hari berikutnya berjalan tanpa terasa.
Satu pesan berubah menjadi beberapa pesan.
Beberapa pesan berubah menjadi percakapan setiap hari.
Sudah makan?
Hari ini kuliah?
Jangan tidur terlalu malam.
Semangat.
Pesan-pesan sederhana.
Tidak romantis.
Tidak berlebihan.
Namun selalu ada.
Andrian tidak pernah benar-benar bertanya terlalu jauh tentang Elena.
Dia hanya tahu bahwa wanita itu bekerja.
Sibuk.
Lebih tua darinya.
Dan entah kenapa, cukup menyenangkan untuk diajak berbicara.
Begitu pula Elena.
Dia tahu Andrian adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang mempersiapkan program magang.
Namun ada banyak hal tentang pemuda itu yang tidak pernah dibicarakan.
Keluarga.
Kehidupan pribadi.
Dan beberapa bagian kehidupannya yang memang sengaja tidak pernah Andrian ceritakan.
Untuk sementara, Elena tidak mempermasalahkannya.
Hubungan mereka juga belum memiliki nama.
Bukan pasangan.
Bukan sahabat.
Hanya dua orang asing yang kebetulan salah bertukar pesan.
Setidaknya...
untuk sekarang.
Suatu siang, Elena sedang berada di ruang kerjanya.
Beberapa dokumen tersusun rapi di atas meja.
Maya, sekretarisnya, berdiri di depan meja sambil membawa laporan.
"Bu Elena, laporan keuangan yang kemarin sudah diperbarui."
Elena menerima dokumen tersebut.
Dia membaca beberapa halaman.
"Bagian ini masih perlu diperiksa."
Maya mendekat.
"Yang halaman delapan?"
"Ya. Angkanya tidak sesuai dengan laporan sebelumnya."
"Baik. Saya minta bagian keuangan mengecek ulang."
Elena mengangguk.
"Terima kasih."
Maya hendak berbalik.
Namun ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar.
Elena melirik.
Nama yang muncul di layar membuat ekspresinya sedikit berubah.
Andrian.
Elena mengambil ponsel tersebut.
Maya sempat melihat perubahan kecil itu.
Bukan sesuatu yang besar.
Hanya perubahan ekspresi yang sangat jarang dia lihat dari atasannya.
"Sepertinya ada pesan penting," kata Maya.
Elena membuka pesan.
> Andrian: Besok gue mulai magang.
Elena mengetik.
> Elena: Serius?
> Andrian: Iya.
> Elena: Di mana?
Beberapa detik kemudian, jawaban masuk.
> Andrian: NSM Company.
Jari Elena berhenti di atas layar.
Untuk sesaat, matanya hanya terpaku pada nama perusahaan itu.
Kemudian sudut bibirnya terangkat tipis.
Maya memperhatikan.
"Kenapa, Bu?"
Elena menggeleng.
"Tidak apa-apa."
Dia kembali mengetik.
> Elena: Semoga hari pertamamu lancar.
Balasan Andrian datang.
> Andrian: Kamu kenapa kayak orang yang tahu perusahaan itu?
Elena hampir tertawa.
> Elena: Pernah dengar.
> Andrian: Oh.
Elena mematikan layar ponselnya.
Ada banyak hal yang belum perlu diketahui Andrian.
Setidaknya untuk sekarang.
Dia tidak tahu bahwa wanita yang selama ini dia ajak bercanda lewat pesan...
bukanlah wanita biasa.
Dan besok pagi, tanpa mereka sadari, dunia maya mereka akan mulai bertabrakan dengan dunia nyata.
Mungkin saat itu Andrian baru akan menyadari satu hal.
Kesalahan kecil malam itu ternyata membawa dirinya tepat ke tempat yang paling tidak dia duga.
NSM Company.
Dan di sanalah semuanya benar-benar dimulai.
Bersambung...
Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥
Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆
Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥
Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨