Karena suami dari putrinya miskin, seorang ayah rela menjual putrinya kepada pria lain untuk membayar hutang judinya. Tapi ayah brengsek itu tidak tau jika pria yang membeli putrinya adalah putra menantunya sendiri. Semua rasa bersalah dari perbuatan ayahnya itu ia tanggung sendiri kepada sang suami. Tapi herannya, suaminya tidak marah saat mengetahui jika istrinya dijual dan dihamili oleh pria lain. Apakah Gina Penelope akan memaafkan sang suami karena telah mempermainkannya? Dan bagaimana kehidupan rumah tangga Gina dan suaminya setelah kejadian satu malam dengan pria lain? Baca novel ini dan dukung untuk jadi favorit ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SariRani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGAKUAN DOSA
Perawat dan dokter datang.
Gina direbahkan lalu kembali diperiksa.
"Lebih baik, pasien rawat inap saja hari ini sampai kondisinya membaik" ucap sang dokter.
"Baik dok, akan saya urus rawat inapnya" sahut Abraham.
"Pastikan perawatan yang terbaik untuk istri saya" lanjutnya.
Dokter mengangguk paham.
Abraham keluar bilik pemeriksaan dan memerintahkan Ben untuk mengurus rawat inap kelas super eksekutif terbaik dirumah sakit ini.
Lalu ia kembali lagi ke bilik pemeriksaan dan menemani Gina yang kembali tidak sadarkan diri.
"Jika pasien selalu mengeluarkan isi perutnya, saya khawatir untuk kondisi tubuh pasien serta janinnya, Pak" ungkap sang dokter.
"Terus bagaimana baiknya, Dok?" tanya Abraham terlihat menahan panik.
"Setelah sadar, segera beri asupan lagi untuk perutnya. Nutrisi dari infus saja tidak cukup cepat untuk memberikan tenaga. Jadi siapkan susu dan buah buahan atau makanan berat yang mudah dicerna seperti bubur. Menunggu pagi untuk mendapatkan sarapan dari rumah sakit, terlalu lama" jawab dokter.
"Baik, dok" sahut Abraham.
Dokter dan perawat memeriksa kembali. Lalu datang petugas rumah sakit bagian rawat inap datang untuk menginformasikan kepada dokter serta perawat jika pasien sudah bisa diletakkan di ruang rawat inap super eksekutif.
Jesica terbengong dengan jenis kamar yang akan ditempati Gina.
"Siapa pria ini? Sekaya apa sampai bisa memilih kamar super eksekutif?" batinnya.
Ben bisa melihat ekspresi kaget Jesica.
"Kamu heran ya dengan kamar pilihan bosku? Jangan salah, bosku adalah pria kaya yang mampu memenuhi kebutuhan Nyonya dan keluarganya tanpa bantuan darimu" sindirnya.
"Ck..percuma kaya tapi tidak bisa membuat istri bahagia. Jika bosmu kaya kenapa membiarkan Gina menderita seperti ini sampai kabur ke Seattle?" balas Jesica tak mau kalah.
"Itu urusan suami istri. Wanita liar sepertimu mana mengerti pasangan yang menikah karena cinta" ejek Ben.
"KAMUUU!!!" seru Jesica begitu kesal dengan omongan Ben yang selalu meremehkannya.
"Sudah, pulanglah. Kehadiran mu tidak berguna disini" usir Ben.
"Mulutmu ini memang tidak bisa dijaga ya. Sepertinya kamu masih dibawah umur berani sekali melawanku" balas Jesica.
"Bawah umur?! Apa kamu tidak bisa melihat ototku sebagai pria dewasa maskulin hah? Dasar wanita liar" serang Ben.
"Yang jelas dengan tingkah kekanak kanakanmu ini, usiamu tidak lebih tua dariku yang pantas mengomeliku" ujar Jesica.
"Hahahaa, apakah kamu mengakui dirimu jika sudah tua?" ejek Ben.
"Kamuuuu!!!" emosi Jesica.
Lalu keduanya diam saat mendengar peringatan dari Abraham.
"Jika kalian ingin bergelut adu mulut, pergi saja dari sini. Sungguh berisik dan mengganggu" ucap suami dari Gina itu.
Ben pun diam lalu berjalan keluar rumah sakit, menjauh dari bosnya daripada kena omel.
Jesica bingung. Ia tidak berani melawan Abraham lagi karena mengetahui pria itu bisa menyewa kamar super eksekutif berarti pria kaya.
Akhirnya Jesica mengikuti Ben keluar rumah sakit.
"Kenapa kamu mengikutiku hah? Udah jatuh cinta?" pancing Ben.
"Iuuuh!!! Gak sudi banget jatuh cinta ama pria bocil mulut lemes kayak cewek. Lagipula aku sudah punya pacar tampan dan perkasa" sahut Jesica.
"Ck..perkasa? Hahaha pasti masih perkasa aku jika kamu ingin mencoba" pancing Ben vulgar.
Jesica memutar mata jengah lalu mengambil arah yang berbeda dari Ben.
Ben masuk ke mobil sewaan bosnya melihat Jesica berjalan menjauh.
"Dasar wanita liar, bagaimana bisa Nyonya memiliki teman berpenampilan seperti itu" gumamnya.
Lalu tak ingin ambil pusing, ia memilih mengistirahatkan dirinya yang sudah lelah mengikuti bosnya sejak tadi.
Perutnya pun terasa nyeri karena pukulan Abraham tadi pagi.
"Lelah sekali tapi Bos Abraham adalah penyelamat ku dari kehidupan kelamku. Aku harus bertahan untuk menjadi orang kepercayaannya" gumam Ben.
Lalu tak lama kemudian, ia sudah berada di alam mimpi.
Di ruang rawat super eksekutif, Gina yang sudah berganti dengan pakaian pasien kini sudah istirahat di brankarnya.
Abraham terpaksa memakai baju pasien juga karena bajunya sudah terkena muntah sang istri. Tidak ada baju bersih lagi miliknya. Lagipula sepertinya Ben sedang beristirahat.
Ia memaklumi asistennya itu kelelahan apalagi tadi pagi sudah ia pukul. Abraham sebenarnya juga merasa bersalah bersikap kasar pada asistennya yang berumur 23 tahun.
Singkat cerita, Abraham menemukan Ben saat berada di club bersama teman temannya di London 3 tahun lalu. Ben yang baru berusia 20 tahun dikejar kejar oleh pengedar obat terlarang karena mengambil secuil obat terlarang untuk ia pakai sendiri coba coba.
Ben dipukuli di gang sebelah club hingga babak belur dan hampir tak bernyawa jika Abraham tidak datang menolongnya.
Abraham mendengarkan rintihan Ben yang memilukan hati mengingat kondisi dirinya yang pernah dihajar habis habisan saat tawuran waktu sekolah.
Ia rela mengganti secuil obat terlarang itu dengan membayar 100 Euro kepada pengedar.
Ben terselamatkan setelah Abraham dan teman temannya membawa anak muda itu ke rumah sakit.
Barulah ketika sadar, Ben berjanji akan mengikuti Abraham dan tidak terjerumus di kehidupan gelap.
Kembali ke Abraham yang sedang menemani Gina di ruangan rawat inap super eksekutif.
Saat tadi Gina diurus oleh perawat untuk berganti baju, Abraham membeli makanan di kantin rumah sakit yang buka 24 jam sesuai intruksi dokter.
Menunggu sang istri siuman, Abraham memainkan ponselnya untuk mengurus beberapa pekerjaan.
Jam 11 malam, setelah 1 jam lebih Gina tak sadarkan diri, akhirnya membuka matanya.
"Kamu sudah sadar. Please, jangan marah marah lagi, kondisimu cukup lemah sekarang" ucap Abraham langsung mengingatkan sang istri saat baru sadar.
Gina terlihat tidak suka melihat pria disampingnya ini yang sudah menipunya habis habisan selama 2 tahun.
"Ayo minum dulu, kata dokter kamu harus mengisi perutmu meskipun mual" ucap Abraham sambil memberikan botol minum dengan sedotan.
Gina malah memalingkan wajahnya kesamping menghindari sang suami.
"Sayaaang..." panggil lembut Abraham.
"Maafkan aku. Aku memang salah, aku rela kamu tampar, kamu pukul sampai babak belur, aku tidak melawan. Yang penting kamu mau mengisi perutmu" bujuknya.
"Aku ingin muntah lagi mendengar suaramu" sahut Gina sinis.
"Ya gapapa, muntah lah. Aku rela kamu muntahin untuk ketiga atau keempat kalinya atau sampai berapa kalipun aku rela" ujar Abraham pasrah.
"Cih...pria pembohong seperti mu tidak pantas mendapatkan cinta. Selama ini kamu udah bohongin aku, Abraham..sampai bersandiwara menjebakku untuk berselingkuh.." lirih Gina mengungkapkan isi hatinya dengan air mata di pipi.
Rasa sakit hatinya begitu dalam akibat perbuatan sang suami.
"Aku mengaku salah..sandiwaraku hanya ingin membuat kamu jujur kepadaku..ternyata kamu memilih menyimpannya sendiri" sahut Abraham masih mencoba membela diri.
"Jujur katamu? Diriku..sangat merasa hina setelah malam itu. Kamu mengerti gak sih, Ham? Kamu jahat asli sumpah! Kamu buat aku berselingkuh dan membenci calon anak kita sendiri? Jika aku sampai kehilangan anak ini, maka seumur hidup, aku tidak akan memaafkanmu" balas Gina.
"Mangkanya, aku minta maaf dan aku tidak akan membiarkanmu kehilangan anak kita ini. Aku mengakui aku salah, aku menyadari semua perbuatanku salah. Untuk melihat kesetiaanmu dan kejujuranmu, aku melakukan hal bodoh" ucap Abraham.
Gina terdengar menangis terisak.
Abraham tidak kuasa menahan diri lagi untuk tidak memeluk sang istri.
"Selama kita menikah 1 tahun, aku menyadari jika kamu adalah wanita hebat yang rela menikahi seorang supir yang gajinya dibawahmu. Kamu rela bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kita dan orang tuamu" ucap pria itu.
Gina diam saja dalam tangis tanpa menolak pelukan sang suami karena tubuhnya yang lemas dan lelah.
lanjut thor