NovelToon NovelToon
EMBER

EMBER

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.

Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.

Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.

Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.

Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1

Rintik hujan musim gugur membasahi kaca jendela besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit di ruang keluarga Mansion Huntington.

Kediaman megah yang berdiri kokoh di salah satu kawasan elit California itu biasanya memancarkan kemewahan yang tenang dan berkelas.

Namun siang ini, atmosfer di dalam ruangan berlantai marmer putih tersebut terasa amat mencekik, pekat oleh ketegangan yang merayap dingin.

Aroma lilin aromaterapi sandalwood yang mahal tak mampu menutupi bau pengkhianatan yang mendadak menyeruak di udara.

Di tengah ruangan, berdiri seorang wanita muda berambut panjang bergelombang dengan paras menawan.

Cinderella Huntington.

Namanya bak dongeng, namun garis hidupnya sama sekali jauh dari keajaiban.

Tatapan matanya yang biasanya memancarkan kecerdasan dan ketegasan sebagai pimpinan eksekutif Huntington Group, kini diselimuti kabut kekecewaan yang sangat dalam.

Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh.

Gaun kerja berpotongan elegan yang dikenakannya terasa mendadak terlalu sempit, menyiksa dadanya yang berhembus naik-turun menahan gejolak emosi.

"Sampai kapan?"

Suara itu keluar begitu saja dari bibir tipis Cinderella.

Lirih, namun sanggup membelah kesunyian yang mencekam.

Cinderella menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa kekuatan sebelum tatapannya yang tajam terkunci pada sosok pria paruh baya yang duduk di sofa kulit utama—pria yang dipanggilnya Ayah.

"Sampai kapan aku harus terus mengalah padanya, Dad?" tanyanya lagi, kali ini dengan intonasi yang lebih bergetar.

Belum sempat pria bernama Samuel Huntington itu membuka mulutnya, sebuah suara bergelombang penuh penekanan memotong dari sudut lain.

Suara yang sangat familiar, suara wanita yang telah melahirkannya ke dunia.

"Kenapa kau tidak bisa mengerti, Cinde?!" potong Eleanor, sang mommy, yang melangkah mendekat dengan wajah mengeras.

"Siena hamil! Dan itu anak Jonah!"

Cinderella menatap nyalang ke arah ayahnya.

Ia mengabaikan bentakan ibunya untuk sejenak, berharap ada setitik pembelaan atau setidaknya tatapan penyesalan dari pria yang selama ini ia hormati.

Namun, Samuel hanya diam.

Pria itu menunduk, menghindari kontak mata, mengusap wajahnya yang tampak lelah tanpa mengutarakan sepatah kata pun.

Cinde terkekeh sinis.

Kekehannya terdengar hampa dan menyayat hati. Ia paham betul arti dari diamnya sang ayah.

Kali ini, untuk kesekian kalinya, ia harus mengalah lagi.

Matanya beralih menatap dua sosok yang berdiri tak jauh dari tempatnya.

Di sana, Siena—adik kandungnya yang selalu tampil kekanak-kanakan dan mengasihan—sedang memeluk lengan seorang pria tinggi berbalut jas rapi.

Pria itu adalah Jonah.

Tunangan Cinderella.

Pria yang dalam kurun waktu kurang dari 48 jam seharusnya berdiri bersamanya di depan altar pernikahan.

Siena bersandar manja di bahu Jonah, jemarinya memegang perutnya yang masih rata dengan raut wajah yang berpura-pura bersalah, meski kilat kemenangan terpancar jelas dari manik matanya.

"Sejak kapan?" desis Cinderella.

Suaranya dingin, mampu membekukan siapapun yang mendengarnya.

"Sejak kapan kalian berdua mengkhianatiku?"

Siena maju satu langkah, menarik napas dramatis seolah dirinya adalah korban di sini.

"Jonah tidak pernah mencintaimu, Cinde," ucap Siena tanpa beban.

Suaranya terdengar lembut namun meracuni.

"Dia mendekatimu dari awal hanya karena ingin dekat denganku. Dia mencintaiku, Cinde. Bukan kau."

"Omong kosong," bisik Cinderella pelan, lalu tertawa kecil dalam kepahitan yang membakar dada.

Omong kosong untuk kesekian kalinya.

Cinderella Huntington.

Orang-orang di luar sana iri padanya.

Mereka mengira Cinderella lahir dengan sendok emas di mulutnya, memiliki nama indah seperti putri raja, cantik, kaya, dan cerdas.

Namun tak ada satupun dari mereka yang tahu realita di dalam Mansion Huntington ini.

Nama itu hanyalah lelucon kejam. Ia tidak pernah diperlakukan dengan adil oleh keluarganya sendiri.

Dua puluh tujuh tahun hidupnya di dunia ini, Cinderella seolah ditakdirkan hanya untuk satu hal: mengalah dan terus mengalah.

Saat mereka masih kecil, gaun terbaik, mainan favorit, hingga kamar paling luas selalu berhak didapatkan oleh Siena.

Saat remaja, nilai-nilai sempurna yang diukir Cinderella tak pernah mendapat pujian, sementara Siena yang sekadar lulus sekolah disanjung bagai pahlawan.

Dan kini, saat usianya menginjak 27 tahun, pernikahan yang tinggal dua hari lagi harus ia ikhlaskan begitu saja untuk adiknya?

Undangan berlapis emas sudah tersebar ke seluruh relasi bisnis di Amerika Serikat dan Eropa.

Dekorasi bunga mawar impor sudah dipesan.

Gaun pengantin yang dirancang khusus oleh desainer ternama Paris sudah menggantung rapi di kamarnya.

Namun, semua itu harus hilang begitu saja hanya karena adiknya mengaku hamil anak calon suaminya.

Kenapa takdir selalu setidak adil ini padanya?

Cinderella memejamkan mata sejenak, merasakan ingatan masa lalunya berputar bak kaset rusak.

Semua pria yang pernah mendekatinya selama ini selalu berakhir sama.

Pria-pria brengsek itu datang mendekatinya hanya untuk satu hal: memanfaatkan posisinya, lalu mengkhianatinya, menyelingkuhinya—dan lucunya, seringkali berujung di pelukan Siena.

Dan kini, Jonah, pria yang ia kira berbeda, pria yang ia percaya akan menjadi pelindungnya, ternyata tak lebih dari bedebah sialan yang sama.

Jonah melangkah maju, memutus pegangan tangan Siena.

Pria itu menatap Cinderella dengan wajah yang dibuat seolah penuh penyesalan.

"Cinde... Tolong, maafkan aku—"

"Shut up, kau sialan!" potong Cinderella cepat dengan nada menajam.

Suaranya menggema di ruangan luas itu, membuat Jonah serta merta bungkam.

"Kau tidak ditakdirkan untuk bicara di depanku lagi. Ambil kata-kata manismu dan buang ke tong sampah!"

Jonah tertegun, melangkah mundur satu tapak. Ia belum pernah melihat Cinderella semurka ini.

Cinderella yang ia kenal biasanya selalu tenang, terkontrol, dan mengalah demi menjaga nama baik keluarga.

Cinderella membalikkan badan, kembali menatap kedua orang tuanya.

Rasa sakit di dadanya kini menjalar menjadi kemarahan yang membakar seluruh kesabarannya yang telah habis.

"Aku bekerja siang dan malam untuk keluarga ini!" seru Cinderella, menunjuk dadanya sendiri dengan jari gemetar.

"Aku mengorbankan waktu mudaku, tidur hanya dua atau tiga jam sehari, mengatur segala kerumitan bisnis, memimpin Huntington Group hingga saham melonjak tiga kali lipat! Aku yang mempertahankan kekayaan mansion sialan ini!"

Pandangannya tertuju lurus pada Samuel yang masih membisu.

"Dan Daddy? Daddy tetap membelanya? Anak yang bahkan tidak tahu bagaimana cara membaca laporan keuangan?!"

"Cinderella!" bentak Samuel, akhirnya bersuara meski nadanya terdengar lemah.

"Aku bahkan ragu kalau aku ini anakmu, Dad," kata Cinderella pelan.

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, membawa luka lama yang selama ini ia kubur dalam-dalam.

Deg.

Suasana ruangan mendadak menjadi sangat senyap.

Samuel mendongak seketika, matanya melebar menatap putri sulungnya dengan riak emosi yang sulit diartikan.

Ada keterkejutan mendalam yang terpancar di sana.

"Tutup mulutmu, Cinde!" pekik Eleanor hysteris. Wajah ibunya memerah padam, tangannya mengepal erat di dada.

"Kenapa, Mom? Kenapa harus tutup mulut?" tantang Cinderella.

Air mata akhirnya menetes membasahi pipinya, namun ia segera menyapunya kasar. Ia menolak terlihat lemah di depan monster-monster ini.

"Itu kenyataannya, kan? Kenapa kalian selalu memperlakukan aku seperti orang asing di rumah ini?"

Cinderella melangkah mendekati Eleanor, menatap matanya dalam-dalam.

"Apa aku hanya anak yang diarsir dari jalanan? Anak yang diadopsi? Sejak kecil kalian tidak pernah memperlakukan aku dengan adil! Apapun yang aku lakukan selalu salah, dan apapun yang Siena lakukan selalu benar!"

"Lihat!"

Cinderella menunjuk Siena yang kini bersandar ketakutan di belakang Jonah.

"Anak manja yang selalu kalian banggakan itu baru saja menghancurkan pernikahan kakaknya sendiri! Dia merebut tunanganku!"

"Dia putriku!" potong Eleanor dengan teriak membahana, memotong kalimat Cinderella dengan penuh ketegasan yang menyakitkan.

"Siena adalah putriku! Jangan berani-berani kau menyebutnya seperti itu!"

Cinderella terkekeh pahit, menganggukkan kepalanya perlahan.

"Hm... Dia memang putrimu, Mom. Hanya dia putrimu. Lalu aku ini apa?"

Pertanyaan itu melayang di udara tanpa jawaban.

Eleanor memalingkan wajahnya, menghindari pandangan Cinderella, sementara Samuel kembali terdiam membisu, seolah mengonfirmasi kebenaran pahit yang selama ini menjadi rahasia besar di balik dinding-dinding kokoh Mansion Huntington.

Cinderella memejamkan mata rapat-rapat.

Cukuplah sudah.

Dua puluh tujuh tahun hidup dalam kepalsuan, pengabaian, dan rasa sakit.

Hari ini, rantai kemalangan itu harus ia putus sendiri.

Saat ia membuka matanya kembali, tak ada lagi kesedihan di sana.

Yang tersisa hanyalah tatapan dingin seluas samudra benua Antartika. Ia telah selesai mengalah.

...----------------...

Happy reading 🌷

Sequel Novel OVERRATED.

1
Agus Tina
Bagus sekali ceritanya thor, sukaaaaa 🤍🤍🤍🤍
Agus Tina
Setepah kematian Cinderela aku berharap perusahaan ayahnya gulung tikar, kebenaran bahwa Cinderelalah itak dibalik kesuksesan perusahaan mereka terkuak ke publik ...
Yusry Ajay
semangat berkarya Thor 🤗🤗
Yusry Ajay
mkasih uda up Thor 🤗🤗
Rosdianah 🌷: terimakasih kak readers 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
hu.... menegangkan thor...
Asriani Rini
Bagus banget ceritan aku suka sekali
Yusry Ajay
lanjut Thor kurang up nya...
Asriani Rini
Lanjut Thor
Heni Utami
sangat best
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Anonim
kereen abis
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Si penny end,, ember nya crazy up please,, 🤭
Rosdianah 🌷: besok mulai double bab kak🙏🏻
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
cerita keluarga ashford emang gak pernahh gagal,di tunggu cerita nya Dominic thor🤭
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
masih nyimak Thor 🤔🤔🤔
Yusry Ajay
pkoknya semangat selalu Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: sehat selalu ya kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
lanjut Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪
Yusry Ajay
kyknya ada yg mulai jatuh cinta nih🤗🤗
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat menata hidup kembali ember💪💪
Debu Nakal
typo kah thor
Debu Nakal
typo kah thor
Rosdianah 🌷: tidak kak.. First time Author buat novel Transmigrasi 🙏🏻
Cinderella Dan Ember itu satu🙏🏻🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!