Aisyah menjual kecantikannya sebagai 'Nayla' demi membayar utang judi ayahnya senilai miliaran rupiah. Tapi satu kesalahan kamar di hotel bintang lima mengubah segalanya.
Ia tertangkap basah di atas tubuh Habib Ammarullah seorang Habib muda tampan nan taat oleh Abahnya sendiri yang merupakan seorang Syech terpandang.
Demi menanggung akibat fitnah tersebut, Habib Ammar mengambil keputusan nekad: Menikahi sang kupu-kupu malam malam itu juga. Mampukah seorang Habib muda membimbing wanita keras hati yang telah membenci Tuhan, atau justru masa lalu kelam Aisyah yang akan menghancurkan nama besar keluarganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BATAS DINGIN DI MALAM PERTAMA
Mobil sedan hitam bernomor polisi khusus itu melaju membelah lengangnya jalanan Jakarta menjelang pukul empat subuh. Di dalam kabin yang dingin dan hening, tidak ada satu pun kata yang terucap.
Aku duduk bersedekap di kursi belakang, menyandarkan kepala pada kaca jendela yang dingin. Di sampingku, Habib Ammarullah enggan menoleh sedikit pun. Pria itu terus menatap lurus ke depan dengan rahang mengeras, sementara jemarinya tak henti-hentinya memutar bulir-bulir tasbih kayu di pangkuannya. Sekilas, ia tampak khusyuk. Namun dari embusan napasnya yang berat, aku tahu ada badai emosi yang berusaha ia tahan mati-matian.
Pernikahan kilat yang tertutup rapat di hotel itu telah usai. Surat-surat pernyataan, dokumen pelunasan utang Ayah sebesar Rp 2,4 Miliar oleh keluarga Abah, serta sertifikat kepemilikan rumah di Jakarta Selatan atas namaku telah ditandatangani. Semua terjadi begitu cepat, bagaikan mimpi buruk yang terbungkus rapi.
Hingga akhirnya, mobil berhenti di halaman sebuah rumah modern bernuansa minimalis-elegan di kawasan perumahan elite Jakarta Selatan. Rumah mahar yang dijanjikan Ammar.
"Turun," ucap Ammar singkat tanpa menatapku. Suaranya dingin, tak berekspresi.
Aku melangkah keluar dari mobil, menyapu pandangan ke sekeliling. Rumah dua lantai itu berdiri megah, dikelilingi pagar tinggi dan taman kecil yang asri. Sangat kontras dengan rumah sewaan sederhana di pinggiran gang sempit yang kubeli dari hasil keringat dan kehormatanku selama menjadi kupu-kupu malam—tempat Ibu dan Awan kini menumpang hidup dengan aman. Rasa lega sedikit mengikis beban berat di dadaku. Setidaknya, Ibu tidak perlu cemas memikirkan uang kontrakan bulan ini.
Ammar membuka pintu utama rumah menggunakan kode sandi digital. "Masuk," perintahnya seraya berjalan mendahuluiku.
Langkah kaki kami menggema di dalam ruang tamu yang sepi. Rumah ini sangat bersih, lengkap dengan perabotan mewah bernuansa krem dan abu-abu, namun terasa begitu dingin dan tanpa nyawa. Ammar melangkah naik menuju lantai dua, dan secara refleks aku mengikutinya dari belakang. Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu jati berwarna cokelat gelap, lalu membukanya.
"Ini kamar utama. Malam ini kita tidur di sini," kata Ammar datar. "Besok pagi Abah dan pengawal akan datang membawakan barang-barangmu serta menjemput ibumu dan adikmu dari rumah sewaanmu untuk pindah ke rumah ini."
Aku tidak membalas. Tanpa membuang waktu, aku melangkah masuk ke dalam kamar bernuansa abu-abu maskulin tersebut. Gaun merah ketat milik Club Velvet yang kupakai sejak semalam terasa sangat menyiksa dan beraroma parfum kelab malam yang membuatku mual.
"Aku mau mandi," cetusku seraya berjalan menuju kamar mandi.
Ammar yang sedang melepaskan peci dan jas koko putihnya hanya mengangguk dingin. "Gunakan kamar mandi itu. Saya akan mandi di kamar mandi luar."
Tanpa membalas ucapannya, aku masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya rapat-rapat. Air hangat yang mengucur dari shower membilas seluruh lelah dan noda pekerjaan haramku. Di bawah siraman air hangat, aku memejamkan mata. Aku bukan lagi Nayla sang kupu-kupu malam. Aku adalah istri rahasia seorang Habib.
Usai mandi, aku menyadari satu hal: aku tidak membawa baju ganti karena tas bajuku masih tertinggal di rumah sewaan. Untungnya, di dalam lemari kecil kamar mandi, terdapat sebuah kaos tanktop katun berwarna hitam tanpa lengan dan sepotong celana pendek santai berwarna abu-abu yang jauh di atas paha.
Tanpa prasangka apa pun, aku mengenakan pakaian santai itu. Mengeringkan rambut panjangku yang basah dengan handuk, aku membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar menuju area ranjang. Di saat yang bersamaan, pintu kamar utama mendadak terbuka dari luar. Ammar melangkah masuk seraya menyapu rambut hitamnya yang basah dengan handuk kecil usai mandi.
Namun, tepat saat matanya mendongak dan menangkap sosokku yang berdiri di tepi ranjang... langkah kaki Ammar mendadak terhenti seketika.
Deg!
Ammar membeku di ambang pintu. Pemandangan di hadapannya menghantam pertahanan dirinya sebagai pria dewasa. Kulit bahuku yang mulus terpampang jelas di balik tali tanktop tipis, dipadu celana pendek yang mengekspos kakiku. Rona merah padam merebak cepat dari leher hingga ke ujung telinga Ammar. Jakunnya naik-turun menelan ludah secara refleks. Sebagai pria berusia 25 tahun yang menjaga pandangannya di pesantren, ini adalah ujian dahsyat.
"Astaghfirullahal'adzim!" Pekikan istighfar meluncur panik dari bibir Ammar. Ia memalingkan wajahnya 90 derajat ke arah dinding. "Kamu... kenapa pakai pakaian seperti itu?! Kamu sengaja, ya?! Mau menggoda saya?!"
Aku melipat kedua tanganku di depan dada, menatapnya sinis. "Ge-Er banget sih kamu! Siapa yang mau menggoda kamu? Aku biasa pakai baju kayak gini kalau tidur. Lagian tas bajuku masih tertinggal di rumah sewaan!"
"Tapi posisi kita sekarang berbeda!" tegas Ammar, mencoba menahan suaranya agar tetap berwibawa meski kepalanya serasa mau pecah. "Gunakan pakaian yang lebih tertutup atau tutupi tubuhmu dengan kain!"
Aku tertawa hambar, melangkah santai menuju ranjang lalu mendudukkan diriku di tepi kasur. "Hello, Habib Ammar yang terhormat... bukannya kita sudah resmi menikah? Secara hukum agama yang kamu agung-agungkan itu, bukannya tidak ada batasan aurat antara suami dan istri?"
Kata 'suami dan istri' membuat Ammar memejamkan mata makin erat. "Pernikahan kita terjadi karena terpaksa, Aisyah," bisik Ammar tajam dan dingin. "Saya tidak punya niat sedikit pun untuk menyentuhmu malam ini maupun malam-malam berikutnya."
"Bagus kalau begitu," balasku tak kalah dingin seraya menarik selimut tebal menutupi tubuhku. "Aku juga nggak sudi disentuh sama pria yang memandangku kayak kotoran."
Ammar mengambil sebuah bantal dari atas ranjang tanpa menyentuhku, lalu berjalan menuju sofa kulit panjang di sudut ruangan. "Kamu tidur di ranjang. Saya tidur di sofa."
Aku membalikkan badan membelakanginya. Namun, tepat saat kesadaranku mulai mengambang... rasa panik mendadak menghantam kepalaku.
Deg!
Ibu! Awan!
Aku baru menyadari bahwa sejak kemarin sore meninggalkan rumah sewaan tempat Ibu dan Awan tinggal, aku belum memberi kabar apa pun! Ponselku mati total karena habis baterai! Ibu yang memiliki penyakit jantung parah pasti cemas setengah mati menungguku pulang bekerja.
"Astaga..." bisikku panik. Aku melempar selimut dan langsung meloncat turun dari ranjang.
Ammar yang belum tertidur kaget melihat pergerakanku. "Aisyah! Kamu mau ke mana lagi?!" tegur Ammar kesal seraya menutup matanya kembali saat melihat paha tipisku terpampang lagi.
"HP-ku mati dari semalam! Aku belum kasih kabar sama Ibu dan Awan di rumah sewaan!" teriakku dengan mata memerah dan napas terengah-engah. Rasa percaya diriku runtuh total, berganti raut ketakutan seorang anak. "Ibu lagi sakit jantung parah, Ammar! Kalau Ibu mikir aku kenapa-kenapa di tempat kerja, jantungnya bisa kumat!"
Aku melangkah mendekati sofa Ammar, mencengkeram ujung kaos putihnya dengan tangan gemetar. "Tolong... tolong pinjami aku HP kamu. Aku harus hubungi Ibu sekarang."
Ammar menatap tanganku yang gemetar, lalu mengalihkan pandangan ke wajahku. Untuk pertama kalinya, Ammar tidak melihat sosok 'Nayla' si cewek kelab malam yang sinis, melainkan Aisyah—gadis sembilan belas tahun yang sangat mencintai keluarganya.
Sorot mata cokelat Ammar perlahan melunak. Ia merogoh saku celananya dan menyerahkan ponsel pintarnya padaku.
"Gunakan ponsel saya," ucap Ammar jauh lebih lembut. "Tapi katakan kamu ketiduran di rumah teman karena kemalaman. Jangan buat ibumu cemas."
"Iya... makasih," bisikku parau. Dengan jari gemetar, aku mengetikkan nomor telepon Ibu, menempelkan ponsel itu ke telingaku seraya berdoa dalam hati agar Ibu di rumah sewaan sana baik-baik saja.