Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Alasan untuk Pergi
Juki masuk ke ruangan Arvid dengan berkas di tangan. "Bos, saya sudah cek resort."
Arvid mengangkat wajah dari layar laptop. "Hasilnya?"
Juki menggeleng. "Nihil."
"Jelaskan."
Juki meletakkan berkas yang ia bawa di atas meja Arvid. "Malam itu jaringan internet resort bermasalah. CCTV yang terhubung ke server gak bisa diakses."
Alis Arvid naik sebelah. "CCTV gak punya penyimpanan lokal?"
"Ada beberapa," jawab Juki. "Tapi kamera yang mengarah ke pantai justru mengalami gangguan. Rekamannya gak kesimpen."
Arvid mengerutkan kening. "Lalu daftar tamu?"
Juki menghela napas panjang. "Lebih parah, Bos."
"Apa?"
Juki duduk di kursi di seberang meja Arvid. "Resort cuma punya data reservasi. Untuk tamu rombongan, mereka cuma nyatat nama koordinator dan jumlah peserta. Nama masing-masing orang gak ada."
Arvid menatapnya. "Berapa jumlah tamu malam itu?"
"Dua ratus tiga puluh enam orang yang tercatat menginap."
"Dua ratus tiga puluh enam?" ulang Arvid.
"Ya." Juki mengangguk.
"Dan gak ada daftar nama?"
"Nggak buat semua tamu, Bos." Juki menjelaskan, "Apalagi malam itu area pantainya ramai. Ada warga sekitar yang datang buat mancing, ada yang jualan, ada juga yang sekadar nongkrong. Mereka gak tercatat sebagai tamu resort."
Arvid mengetukkan ujung pena ke meja. "Rombongan kampus yang kamu cari?"
"Empat puluh dua orang."
"Empat puluh dua?" gumam Arvid pelan.
"Iya." Juki mengusap wajahnya sebelum melanjutkan. "Jadi sekarang saya punya dua ratus tiga puluh enam tamu yang tercatat, ditambah orang-orang dari luar resort yang jumlahnya gak diketahui. Dan dari semuanya, saya cuma tau satu hal soal perempuan yang Bos cari."
"Apa?" tanya Arvid.
"Dia cewek." Ekspresi Juki jelas terlihat frustrasi.
Arvid menatapnya datar. "Juki."
"Iya, Bos." Juki menghela napas. "Saya lagi ikhtiar biar gak nangis."
Arvid baru saja meraih berkas yang diletakkan Juki di meja ketika sebuah hal lain melintas di pikirannya. Ia mengangkat wajah.
"Juki."
Juki yang baru mengeluarkan tabletnya langsung menoleh. "Iya, Bos?"
"Sudah kamu telusuri siapa yang bikin aku keracunan malam itu?"
Juki mengernyit. Beberapa detik ia hanya menatap Arvid, seolah sedang memastikan dirinya tidak salah dengar. "Lah, Bos 'kan gak nyuruh."
Arvid mengangkat alis. "Masa iya?"
"Sumpah, Bos." Juki menurunkan tabletnya. "Bos cuma nyuruh saya nyari perempuan yang ada di pantai malam itu. Bukan nyari siapa yang bikin Bos keracunan."
Arvid terdiam.
Juki kemudian menunjuk tumpukan berkas yang baru dipindah Arvid. "Sejak beberapa hari saya udah jungkir balik cari data resort, daftar tamu, koordinator rombongan, CCTV, sampai orang-orang yang berkeliaran di sekitar pantai. Bos sendiri yang bilang perempuan itu harus ketemu."
"Aku memang bilang begitu," kata Arvid ringan.
"Nah."
"Tapi siapa yang bikin aku keracunan juga harus ketemu."
Juki menghela napas. "Sekarang baru bilang."
Tatapan Arvid menajam.
Juki buru-buru mengangkat kedua tangannya. "Bukan protes, Bos. Saya cuma ngingetin agar lain kali kasih daftar tugas sekalian. Biar saya gak perlu baca pikiran Bos. Saya 'kan bukan cenayang"
"Ya kamu inisiatif dong." Arvid tak mau kalah. "Masa harus aku ajarin lagi. Setiap kasus yang ada harus ditelusuri dari awal sampe akhir. Sebab dan akibatnya harus jelas."
Ia bersandar di kursi, wajahnya kembali serius. "Aku mau tau siapa yang masukkin sesuatu ke minumanku."
Juki ikut serius. Ia mengambil kembali tabletnya dan membuka catatan baru. "Oke. Berarti sekarang ada dua pencarian."
"Ada tiga." Arvid meralat.
Juki berhenti mengetik. "Tiga?"
"Cari perempuan itu. Cari orang yang bikin aku keracunan." Arvid mengambil pena di atas meja. "Dan cari tau kenapa aku bisa dapat zat itu tanpa menyadarinya."
Juki mengangguk pelan. "Oke, Bos." Ia mengetik beberapa catatan, lalu mendongak. "Tapi kalo boleh jujur…"
"Apa?" Arvid menatap Juki curiga.
"Yang kedua dan ketiga jauh lebih masuk akal untuk saya kerjain daripada nyari perempuan tanpa nama, wajah, umur, atau informasi apa pun."
Arvid menatapnya datar.
Juki langsung kembali menatap tabletnya. "Iya, Bos. Saya kerja."
***
Sementara itu, di tempat lain...
Pagi itu, Zinnia memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam tas. Ia juga membawa map berisi ijazah, fotokopi dokumen, dan beberapa surat lamaran yang sudah dicetak.
Cincin itu tersimpan aman di dalam dompet kecilnya.
Setelah memastikan semua keperluannya sudah masuk, Zinnia menarik resleting tas hingga tertutup.
Ia siap mencari kerja. Bekerja akan memberinya kegiatan. Membuatnya punya alasan untuk keluar rumah dan mulai menjalani hari-harinya kembali.
Dan yang paling penting, pekerjaan bisa menjadi alasan yang wajar untuk pergi ke kota tanpa harus menceritakan kepada ibunya bahwa ia sedang mencari seseorang.
Zinnia menyampirkan tas ke bahu, lalu turun ke lantai bawah.
Ibunya sedang menyiapkan sarapan ketika melihat Zinnia datang dengan membawa tas. "Mau ke mana?"
Zinnia mengangkat kedua tangannya dan mulai menggunakan bahasa isyarat.
Ke kota. Aku mau cari kerja.
Ibunya menghentikan aktivitasnya. "Cari kerja?"
Zinnia mengangguk kecil, lalu membuka map dan menunjukkan beberapa lembar surat lamaran yang sudah disiapkannya.
"Ibu kira kamu mau istirahat dulu setelah acara kampus."
Zinnia menggeleng pelan. Tangannya kembali bergerak.
Aku sudah cukup istirahat. Aku mau mulai cari pengalaman.
Ibunya menerima lembaran itu, membaca beberapa nama perusahaan yang tertera, kemudian mengembalikannya. "Kenapa harus ke kota? Di sini juga ada yang buka lowongan."
Gerakan tangan Zinnia terhenti. Pertanyaan itu membuatnya diam beberapa saat. Ia tidak mungkin mengatakan alasan sebenarnya.
Zinnia kemudian mengangkat tangannya lagi.
Peluangnya lebih banyak di kota. Aku bisa datang langsung ke beberapa tempat.
Ibunya mengernyit kecil. "Kenapa gak cari lewat online saja?"
Zinnia segera membuka ponselnya dan menunjukkan beberapa situs lowongan kerja yang sudah ia cari sejak malam sebelumnya. Setelah itu, ia kembali menggunakan bahasa isyarat.
Aku mau coba datang langsung. Sekalian lihat tempatnya. Kalo cuma kirim lamaran online, aku harus nunggu tanpa tau hasilnya.
Ibunya memerhatikan wajah Zinnia beberapa saat. Jawabannya masuk akal. Zinnia memang sudah cukup lama belum serius mencari pekerjaan. Mungkin sekarang putrinya hanya sedang berusaha memulai sesuatu yang baru.
"Terus kamu udah tau mau nglamar ke mana?"
Zinnia mengambil selembar kertas dari dalam map. Beberapa nama perusahaan beserta alamatnya sudah ia catat. Ia menyerahkannya kepada ibunya.
"Lumayan banyak." Ibunya mengembuskan napas pelan. "Kalo begitu, jangan asal nerima kerjaan. Lihat dulu tempatnya. Jangan sampai kamu malah dapat masalah."
Zinnia menarik kembali kertas itu dan memasukkannya ke dalam map.
Ibunya kemudian mengambil dompet dari atas meja dan menyelipkan sejumlah uang ke tangan Zinnia. "Buat ongkos."
Zinnia spontan menggeleng dan hendak mengembalikannya.
"Ambil." Ibunya mendorong tangan Zinnia kembali. "Buat jaga-jaga."
Zinnia akhirnya menyimpan uang itu.
Saat hendak beranjak, ibunya kembali memanggil. "Kalo udah nyampe, kabari Ibu."
Zinnia berhenti di dekat pintu. Ia mengangkat kedua tangan.
Iya, Bu.
Setelah itu, ia berbalik dan melangkah keluar. Tangannya sempat menyentuh dompet kecil di dalam tas. Cincin itu masih ada di sana.
Pekerjaan memang menjadi alasan yang ia berikan kepada ibunya. Dan alasan itu bukan kebohongan. Ia memang akan mencari pekerjaan. Tetapi ada satu alasan lain yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun.
Ia ingin menemukan Arvid.
Kali ini, Zinnia tidak akan hanya menunggu di rumah.
...🔸🔸🔸...
...“Tidak semua jawaban datang ketika kita menunggu. Ada saatnya kita harus berani melangkah, meski belum tahu ke mana jalan itu akan membawa kita.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
semoga Arvid bida menyelidiki dan mengetahui kebenarannya dan mengakuinya di depan ibunya...
Keburu kehamilanmu membesar