Ani Almira mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa Fardan suaminya mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ketika kecelakaan itu terjadi Fardan tidak sendirian. Ani terkejut ketika polisi mengatakan penyebab kecelakaan suaminya. Ani tidak menyangka Fardan begitu tega kepadanya.
Ardi Akram seorang perwira menengah di kepolisian. Ia merasa kecewa dengan apa dilakukan oleh Nadira istrinya. Ia mengajak Ani untuk balas dendam atas perbuatan Fardan dan Nadira. Ani menolak untuk melakukan balas dendam. Namun, berkat bantuan Ardi rahasia masa lalu Fardan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Ani.
Dua hari kemudian Ani dipanggil oleh dokter bedah syaraf. “Suami ibu harus segera di operasi. Suami ibu mengalami pendarahan di otak,” ucap dokfer Dedi ahli bedah syaraf yang menangani Fardan.
Ani terkejut mendengar ucapan dokter Dedi. Ia tidak menyangka kondisi suaminya sekritis ini. Namun, dalam keadaan seperti ini Ani harus tenang agar pikirannya tetap jernih dan ia tidak membuat keputusan yang salah. “Apa setelah suami saya dioperasi ia akan sembuh dan sadar, Dok?” Ani menatap wajah dokter Dedi dengan penuh pengharapan.
Dokter Dedy menarik napas panjang. “Bisa ya atau bisa juga tidak. Saya tidak bisa menjamin Pak Fardan akan membaik dan sadar setelah selesai dioperasi. Operasi dilakukan hanya untuk menghentikan pendarahan di otak,” jawab dokter Dedi.Ia tidak ingin memberikan harapan palsu kepada Ani.
Ani menghela napas mendengar jawaban dokter Dedi. Ternyata operasi tidak bisa menjadi jaminan Fardan pulih kembali. “Bagaimana jika suami saya tidak dioperasi?” tanya Ani.
“Kondisi Pak Fardan akan semakin buruk karena pendarahan di otak.” Dokter Dedi mengeluarkan hasil CT scan Fardan dari dalam amplop coklat. Ia menaruh hasil CT scan di X-Ray Viewer. Terlihat dengan jelas tengkorak kepala Fardan lalu ia menerangkan apa yang terjadi di dalam tengkorak Fardan. Ani memperhatikan semua yang dikatakan oleh dokter Dedi. Ani menghela napas setelah mendengarkan apa yang dikatakan oleh dokter Dedi. Ia harus mengambil keputusan yang amat sulit.
“Jadi bagaimana, Bu?” Dokter Dedi menyandar pada kursi dan menunggu jawaban Ani dengan sabar.
Ani menarik napas panjang. “Baiklah, Dok. Saya ijinkan suami saya dioperasi,” jawab Ani. Ia mengambil keputusan ini dengan harapan kondisi suaminya membaik dan suaminya bisa sadar dari koma.
Dokter Dedi tersenyum mendengar jawaban Ani. Sepertinya itu keputusan terbaik untuk Fardan. “Nanti ada beberapa dokumen yang harus Ibu tandatangani. Bagian administrasi akan menghubungi Ibu.”
“Baik, Dok. Terima kasih.” Ani beranjak dari tempat duduk lalu meninggalkan ruang kerja dokter bedah saraf.
Keesokan hari pukul empat pagi para perawat mulai mempersiapkan Fardan untuk tindakan operasi. Ketika mendekati azan subuh para perawat membawa Fardan ke ruang operasi. Setelah sholat subuh operasi pun dimulai. Ani menunggu di ruang tunggu. Dokter mengatakan proses operasi Fardan akan memakan waktu lama yaitu lima sampai tujuh jam. Namun, Ani memutuskan untuk menunggu di ruang tunggu hingga operasi Fardan selesai.
Pukul delapan orang tua Fardan datang. Ani beranjak dari kursi dan menghampiri orang tua Fardan. Ia mencium tangan kedua mertuanya. “Kamu sudah makan belum?” Nita menatap wajah Ani yang terlihat pucat.
“Belum, Ma.” Ani tidak selera untuk makan. Ia hanya ingin menunggu proses operasi Fardan hingga selesai.
“Makan dulu! Biar Mama dan Papa yang menunggu di sini. Nanti kamu sakit kalau belum makan,” ujar Nita.
“Baik, Ma.” Dengan berat hati Ani meninggalkan ruang tunggu kamar operasi. Ia melangkah dengan lunglai menuju ke kantin yang berada di teras rumah sakit.
Makanan yang dipajang di estalase kantin rumah sakit sangat beraneka ragam dan semuanya terlihat sangat lezat. Namun, Ani tidak tertarik dengan melihat makanan-makanan itu. Ia sedang tidak nafsu makan, tetapi dia harus makan agar tidak sakit. Kalau ia sampai jatuh sakit siapa yang akan menunggui suaminya? Kedua mertuanya sudah tua, mereka tidak mungkin berlama-lama di rumah sakit. Itulah yang ada di pikiran Ani.
Setelah lama memilih makanan akhirnya pilihannya jatuh pada soto ayam. Makanan berkuah yang bisa disantap dengan cepat tanpa harus mengunyah lama. Ani memesan seporsi soto ayam beserta setengah porsi nasi. Minumnya ia memilih teh manis hangat.
Setelah membayar pesanannya Ani mencari tempat duduk. Ia memilih tempat duduk yang menempel pada tembok agar ia bisa menempelkan kepalanya ke tembok. Ani mengeluarkan telepon seluler dari dalam tas. Banyak pesan yang masuk ke pesan telepon seluler. Ani lebih dulu membuka dari pesan orang tuanya. Mereka menanyakan tentang operasi Fardan. Ani membalas pesan orang tuanya sambil menunggu makanan datang.
Beberapa menit kemudian seorang pegawai kantin menghampiri meja Ani. Ia membawa makanan yang dipesan Ani. Pegawai kantin menyajikan makanan di atas meja. “Terima kasih,” ucap Ani usai pegawai kantin menyajikan makanan. Pegawai kantin menjawab dengan mengangguk lalu meninggalkan meja Ani.
Ani mulai menyantap soto ayam. Ani mengunyah makanannya, ternyata rasanya sangat enak. Ani jadi semangat untuk menyantap soto ayam. Ani menyantap makan sambil memperhatikan di sekelilingnya. Tanpa sengaja ia melihat sesosok orang yang pernah bertemu dengannya. Orang itu adalah polisi yang pernah menatapnya dengan tajam. Ia adalah Ardi.
‘Waduh, mengapa dia ada di sini?’ keluh Ani di dalam hati. ‘Mudah-mudahan dia tidak melihatku.’ Ani takut menjadi bulan-bulanan Ardi. Padahal ia tidak tahu apa salahnya kepada Ardi sehingga Ardi terlihat sangat marah kepadanya. Namun, kali ini Ardi tidak menggunakan seragam polisi. Ia menggunakan kaus berwarna biru gelap. Ia seperti sedang melamun. Entah apa yang sedang dipikirkan Ardi.
Ani memutuskan untuk melanjutkan menyantap makanan. Ia menikmati makanannya karena rasanya sangat enak dan segar. Ditambah rasa sambal yang pedas. Betul-betul perpaduan yang sangat enak. Hingga akhirnya makanan itu habis disantap oleh Ani. Ani meminum teh manis hangat hingga rambut, pelipis dan tubuhnya berkeringat.
Ani mengambil tisu dari dalam tas lalu mengelap wajahnya dengan tisu sambil memperhatikan Ardi. Sekarang Ardi tidak duduk sendiri. Ia ditemani oleh seseorang yang mengenakan seragam polisi. Ani merasa lega karena ada orang yang akan mencegah Ardi jika Ardi hendak menerkamnya.
Ani memutuskan untuk kembali ke ruang tunggu kamar operasi. Ia menyelempangkan tali tas di bahu lalu beranjak dari tempat duduk. Ia berjalan menuju pintu keluar. Namun, tanpa Ani sadari Ardi melihatnya ketika ia hendak keluar dari kantin. Seperti biasa Ardi menatap Ani dengan tajam.