NovelToon NovelToon
Lord Of The Gods

Lord Of The Gods

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Tamat
Popularitas:52.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.

Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.

Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Angin Perubahan

Bayangan kapal kayu raksasa yang melayang di atas langit Ibukota Kerajaan Chen menutupi cahaya matahari, melemparkan teror yang belum pernah dirasakan oleh jutaan rakyat fana. Di alun-alun istana, Raja Chen berdiri dengan pedang terhunus, dikelilingi oleh ribuan pasukan elit kerajaan yang gemetar. Meskipun mereka adalah prajurit paling berani di dunia fana, menghadapi entitas yang bisa terbang menentang gravitasi membuat lutut mereka lemas.

Dari atas geladak kapal, tiga sosok berjubah putih melayang turun. Aura mereka memancarkan dominasi ranah Foundation Establishment (Pembangunan Fondasi), sementara seorang tetua berjanggut panjang yang berdiri di belakang mereka memiliki fluktuasi Golden Core (Inti Emas). Bagi Lin Chen yang pernah membunuh entitas Soul Transformation dengan tebasan petir, aura mereka lebih rapuh daripada selembar daun kering. Namun bagi dunia ini, mereka adalah dewa.

"Sekte Angin Gugur kita benar-benar sudah jatuh ke titik terendah," gumam tetua Golden Core itu, suaranya mengandung kekecewaan yang tidak ditutup-tutupi. Ia memegang sebuah kompas giok yang jarumnya diam tak bergerak. "Terpaksa mencari murid di planet fana tandus yang bahkan tidak memiliki setetes pun Qi."

Tetua itu menatap Raja Chen dan ribuan pasukannya dengan pandangan meremehkan, seolah menatap sekumpulan semut yang berbaris rapi.

"Tidak ada akar spiritual tingkat bumi. Bahkan tingkat fana pun sangat langka dan kotor," tetua itu menghela napas panjang, mengabaikan Raja Chen yang bersiap untuk bernegosiasi. "Planet ini murni tempat pembuangan. Ayo kembali, jangan buang umur spiritual kita di tempat yang tidak memiliki masa depan ini."

Tanpa meminta upeti, tanpa menebas satu pedang pun, para kultivator itu berbalik. Mereka kembali ke kapal mereka dengan angkuh. Formasi kapal bergemuruh, merobek awan, dan melesat menghilang ke balik cakrawala, meninggalkan rakyat Kerajaan Chen yang jatuh terduduk karena lega yang luar biasa.

Bagi mereka, itu adalah keajaiban. Namun bagi Lin Chen yang mengamati dari balik pilar istana, itu adalah sebuah lonceng peringatan.

Sore harinya, suasana istana berangsur normal meski ketegangan masih tersisa. Di dalam paviliun taman yang hangat, Permaisuri Lin Yue duduk di atas dipan sutra. Di pangkuannya, Lin Chen berbaring menyamping, memeluk pinggang ibunya dengan sangat erat. Wajah kecilnya dibenamkan ke perut sang Permaisuri, mencari kehangatan yang tidak pernah ia lepaskan.

Di kehidupan pertamanya, ia tidak memiliki siapa pun. Ia lahir dari ketiadaan, dibesarkan oleh darah, dan hidup hanya untuk membalas dendam pada surga. Setiap kali ia lelah, ia hanya bisa bersandar pada gagang Tombak Naga Petir yang dingin. Namun kini, belaian lembut tangan Lin Yue di rambutnya membuatnya merasa seperti embun yang dihangatkan oleh matahari pagi.

Lin Chen memejamkan matanya, namun pikirannya melayang ke masa lalu.

Siapa orang tuaku yang sebenarnya di kehidupan pertamaku? batin Lin Chen. Keluarga fana macam apa yang membuang bayi dengan garis keturunan kutukan naga di tengah lautan mayat? Apakah mereka membenciku? Atau mereka mati untuk melindungiku?

Tiba-tiba, belaian di kepalanya berhenti. Lin Yue menunduk, melihat sepasang mata keemasan putranya yang memancarkan kesedihan kuno, sebuah tatapan yang terlalu berat untuk anak berusia empat tahun.

Seolah mengerti bahwa putranya sedang bergulat dengan pertanyaan yang tidak bisa diucapkan, Lin Yue membungkuk. Ia memeluk tubuh mungil Lin Chen dengan erat, mencium tanda api di kening bayi yang dulu ia temukan di dalam kepompong batu tersebut.

"Chen'er," suara Lin Yue mengalun selembut sutra. "Ibu tidak tahu dari mana asalnya burung kecil yang jatuh ke pangkuan Ibu empat tahun lalu. Tapi kau harus tahu... sebuah pohon tidak pernah menangisi dari tanah mana benihnya berasal. Ia hanya peduli seberapa kuat akarnya mencengkeram bumi tempatnya tumbuh sekarang, dan seberapa rimbun daunnya melindungi tempatnya bernaung."

Mata Lin Chen sedikit melebar. Ia menatap wajah cantik ibunya.

Lin Yue tersenyum, mengusap pipi Lin Chen. "Ayahmu, Kakakmu, dan Ibu... kami adalah akarmu sekarang. Dunia ini sangat luas, Chen'er. Di luar Kerajaan Chen kita, masih ada Kekaisaran Yan yang mengendarai gajah besi, Kadipaten Salju di utara, dan kerajaan-kerajaan lain yang membentang di ujung benua. Tapi ke mana pun kakimu melangkah nanti, pelukan Ibu akan selalu menjadi rumahmu."

Rasa dingin di relung jiwa Lin Chen mencair sepenuhnya. Ia mengeratkan pelukannya pada sang ibu, menyandarkan kepalanya kembali. "Chen'er sayang Ibu," bisiknya tulus.

Malam harinya, saat istana telah terlelap dalam keheningan, bayangan kecil melesat keluar dari jendela kamar Pangeran Ketiga.

Lin Chen duduk bersila di atas atap genteng tertinggi paviliun istana. Angin malam berhembus, menerbangkan ujung jubah tidurnya. Tidak ada yang tahu bahwa balita mungil ini sedang memindai hukum alam semesta dengan insting seorang monster kuno.

Lin Chen mengangkat tangannya, memejamkan mata.

Ada sesuatu yang berubah.

Kedatangan kapal kultivator dari Sekte Angin Gugur siang tadi telah meninggalkan bekas yang tidak disadari oleh manusia fana. Kapal itu merobek batas dimensi planet fana secara paksa. Dan karena planet fana tidak memiliki kesadaran alam yang kuat untuk menyembuhkan robekan itu dengan cepat, sebuah kebocoran terjadi.

"Bocoran Qi," gumam Lin Chen, mata keemasannya terbuka.

Ia bisa merasakannya. Sangat tipis, bagaikan satu tetes tinta yang jatuh ke samudra luas, namun murni. Energi spiritual dari alam yang lebih tinggi sedang merembes masuk ke udara Kerajaan Chen. Dunia fana ini... perlahan-lahan sedang terbangun. Dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, mutasi akan terjadi. Manusia fana yang memiliki bakat terpendam akan mulai merasakan Qi. Binatang hutan akan berevolusi menjadi monster spiritual.

Dan bagi Lin Chen, ini adalah anugerah dari surga yang tidak terduga.

Dengan adanya Qi, aku bisa mulai berkultivasi lagi, batin Lin Chen. Fisik Naga, Kekacauan, dan Phoenix-ku sudah terlalu kuat, namun tanpa Qi untuk menjadi jembatan, aku tidak bisa menggunakan teknik atau memanggil ingatanku akan hukum Domain Keheningan.

Pemuda di dalam tubuh anak kecil itu mengepalkan tinjunya. Ia menatap ke arah perkampungan kumuh di luar dinding istana ibukota, tempat di mana kegelapan menyembunyikan tangisan anak-anak kelaparan.

Ia tidak bisa melindungi keluarganya sendirian dari bayang-bayang jika era kultivasi benar-benar turun ke dunia ini. Ia membutuhkan pion. Ia membutuhkan pasukan.

Saat aku sedikit lebih besar, aku akan keluar dari dinding ini, Lin Chen menyusun rencana di dalam kepalanya. Anak-anak jalanan, yatim piatu yang dilupakan dunia... mereka adalah kanvas putih. Aku akan mengumpulkan mereka. Aku akan membangun sekte bayanganku sendiri di dunia fana ini sebelum badai perubahan menyapu Kerajaan Chen.

Lin Chen menutup matanya, mulai menarik untaian Qi pertama yang bocor ke dunia ini ke dalam Dantian-nya yang kosong.

Saat helai Qi yang lebih tipis dari rambut itu menyentuh Dantian Lin Chen, sebuah resonansi terjadi. Tanda api di keningnya bersinar terang, dan Darah Naga Primordial di nadinya berdesir seolah menyambut kepulangan sang raja.

Namun, Lin Chen tidak menyadari satu hal.

Di saat Dantian-nya menghisap Qi pertama itu, sebuah gelombang riak kosmik yang sangat halus menyebar dari tubuhnya, menembus tanah, dan masuk ke kedalaman Hutan Perburuan. Di dasar jurang hutan tempat kepompongnya dulu menetas, sepasang mata merah menyala pudar perlahan terbuka di dalam kegelapan, merespons kebangkitan aura sang penantang langit.

1
Indah Hidayat
kaisar naga beladirinya kok tiba2 dihapus ?
Raden
luar biasa mantap thor
Raden
mantap💪 lanjut kan 💪
Raden
mantap ratu💪
Raden
hajar bro, mulut kok ga dijaga💪
Raden
seru lagi, mantap💪
Rhaka Kelana
Dan akhirnya, yang diinginkan oleh seorang pria adalah rumah yang penuh dengan kehangatan....😍
Budi Wahyono
kaisar naga nya kok gak ada thor ?
Sang_Imajinasi: ada mas bud, ngulang lgi, karena hilang semua bab
total 1 replies
ㅤㅤ ㅤㅤ ㅤㅤ
keren
Puragabaya
KOPLAK
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
DIFAN2: Novel 'SULUNG' hadir dengan keseruan kisah petualangannya, yuk kak merapat.
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lanjut
Edy Amran. MM
Lanjut.. ceritanya bagus
Rinaldi Sigar
lanjut
EKO BUDI PRASETYO: lha bukannya qingyue di alam abadi SM Lincen, kok BS di alam fana
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Boo Ceng Li
🔥🔥🔥💪💪💪👌👌👌
Tosari Agung
sangat keren imajinasi thor🌹🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!