NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kubuat Janda

Wanita Yang Kubuat Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Angst / Amnesia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Keputusasaan dan Dosa Besar

Aroma antiseptik yang tajam menusuk hidung saat roda-roda tandu ambulans bergerak cepat menyusuri lorong Rumah Sakit Medika Utama. Cahaya lampu neon di langit-langit terpantul redup pada lantai marmer yang dingin, menciptakan suasana mencekam di tengah malam yang larut.

"Pasien wanita mengalami trauma kepala berat, pendarahan intrakranial, serta fraktur pada tulang rusuk! Tekanan darah terus menurun!" teriak salah seorang petugas medis seraya mendorong kuat tandu Raya menuju ruang perawatan intensif (ICU).

Di sebelahnya, seorang perawat lain berlari kecil sambil memangku Cyla. Balita mungil itu sudah berhenti menangis histeris karena kelelahan, tetapi terisak pelan dengan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya. Baju merah mudanya ternoda serpihan kaca dan bercak darah tipis.

Sementara, Aris berjalan terhuyung-huyung di belakang mereka. Perban putih melingkar di kepalanya, menutupi luka robek akibat benturan keras saat kecelakaan. Wajahnya yang biasa tegas dan penuh percaya diri kini pucat pasi bagai mayat.

Pakaian jas mewahnya kotor oleh lumpur, air hujan, dan noda darah. Setiap kali melangkah, rasa pening dari efek sisa alkohol dan trauma benturan masih membayangi kepalanya, tetapi rasa takut serta penyesalan yang membakar dadanya jauh lebih menyiksa.

"Bapak Aris, Anda juga harus mendapat perawatan lanjutan untuk luka di kepala Anda," ujar seorang perawat pria yang menahan bahu Aris di depan pintu ICU.

"Saya tidak apa-apa!" bentak Aris dengan suara parau dan bergetar. "Selamatkan dia... Tolong selamatkan wanita itu dulu!"

Pintu ruang ICU tertutup rapat, menyisakan Aris berdiri sendirian di lorong yang sunyi. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding dingin, lalu perlahan merosot hingga terduduk di lantai. Tangannya yang gemetar menutupi wajahnya yang basah oleh keringat dingin.

Bayangan kejadian di persimpangan jalan itu terus berputar secara berulang di kepalanya. Suara hantaman besi yang memekakkan telinga, sosok Ardi yang terkulai tak bernyawa di balik kemudi, dan tatapan sayu Raya sebelum kehilangan kesadaran.

"Aku membunuhnya... Aku sudah merenggut nyawa pria itu dan merusak hidup mereka," batin Aris histeris. Seluruh ego dan kekuasaannya sebagai pengusaha kaya mendadak tak berarti apa-apa di hadapan dosa sebesar ini.

Tap tap tap tap tap!

Langkah kaki tergesa-gesa memecah kesunyian lorong. Hendra, sekretaris pribadi Aris, datang berlari dengan raut wajah yang penuh kecemasan. Di belakangnya, dua orang pengacara berjas rapi mengikutinya dengan cermat.

"Pak Aris!" panggil Hendra panik saat melihat atasannya terduduk lemas di lantai. "Ya Tuhan... Pak Aris, Anda tidak apa-apa? Kami baru mendapat kabar dari pihak kepolisian!"

Aris perlahan mendongak dan menatap Hendra dengan mata merah yang menyiratkan keputusasaan mendalam. "Hendra... Pria itu mati di tempat. Aku yang menabrak mereka..."

Hendra berlutut di samping Aris, dan memberikan isyarat kepada kedua pengacara untuk menjaga jarak. "Pak, dengarkan saya baik-baik. Pihak polisi saat ini sedang mengamankan lokasi kejadian. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan kendaraan Anda hilang kendali di jalanan licin."

"Aku mabuk, Hendra," bisik Aris dengan penyesalan yang tertahan. "Aku mengemudi dalam keadaan mabuk. Jika berita ini tersebar, perusahaanku, nama keluargaku... semuanya akan hancur. Tapi yang lebih buruk, aku sudah menghancurkan keluarga kecil yang tidak bersalah!"

Hendra menghela napas panjang, dan mencoba berpikir dingin di tengah situasi kritis ini. Sebagai orang yang telah bertahun-tahun melayani Aris, ia tahu betul risiko besar yang mempertaruhkan seluruh masa depan Aris dan kerajaan bisnisnya.

"Pak Aris, dengarkan saya," bisik Hendra dengan nada rendah dan tegas. "Keluarga korban... pengemudi yang meninggal itu bernama Ardi. Setelah saya minta tim melakukan pemeriksaan cepat, Ardi dan istrinya tidak memiliki kerabat dekat di kota ini. Mereka merantau dan hidup sebatang kara bersama anak mereka yang masih balita."

Aris menatap Hendra dengan raut bingung. "Maksudmu?"

"Polisi belum merilis laporan resmi mengenai tes kadar alkohol Anda karena proses evakuasi yang kacau di tengah hujan deras," lanjut Hendra cermat. "Jika kita menggunakan seluruh pengaruh dan dana yang kita miliki, kita bisa menyelesaikan masalah hukum ini secara tertutup tanpa menyebutkan kondisi alkohol Anda dalam laporan akhir. Namun... yang menjadi masalah utama adalah wanita dan anak itu."

Aris mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Anak itu selamat hanya dengan luka ringan. Tapi ibunya... wanita itu sedang berjuang antara hidup dan mati di dalam sana."

"Serahkan ini padaku, Pak"

Keesokan harinya...

Di tengah guyuran gerimis yang dingin di Pemakaman Umum Taman Asri, Aris berdiri mematung di bawah payung hitam. Di depannya, tanah merah baru saja ditutup rapat di atas liang lahat Ardi.

Tak ada Isak tangis sanak keluarga atau deretan karangan bunga besar, hanya ada Aris, Hendra, dan beberapa petugas pemakaman.

Sebelum Raya siuman dari koma panjangnya di rumah sakit, Aris bersama Hendra telah bergerak cepat menggunakan segala pengaruh dan keuangannya untuk mengurus seluruh proses pemakaman Ardi.

Mengingat Ardi tak memiliki kerabat dekat di kota merantau ini, Aris mengambil alih seluruh administrasi dan menanggung seluruh biayanya secara tertutup.

Ia memandangi nisan kayu sederhana bertuliskan nama Ardiansyah bin Pratama. Rasa bersalah yang teramat sangat makin menghimpit dada Aris. Ia telah mengubur nyawa seorang pria yang tak berdosa, sekaligus mengubur kebenaran pahit itu dalam-dalam di bawah tanah.

"Pak Aris, seluruh dokumen dan berkas kepolisian mengenai kecelakaan ini sudah diselesaikan secara internal," bisik Hendra pelan di sampingnya. "Laporan resmi mencatat kejadian ini sebagai musibah murni akibat cuaca buruk. Dan untuk jenazah Pak Ardi... semua sudah ditangani secara layak."

Aris mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Aku yang membunuhnya, Hendra. Tapi aku tidak bisa membiarkan anak dan istrinya terlantar... Aku harus bertanggung jawab dengan caraku sendiri."

Bersambung...

1
YuWie
aris jg menderita..klo mental raya sdh kuat..jujur saja pak aris.. drpada broken semuanya
YuWie
masih di kota yg sama mana bisa sembunyi terus menerus pak aris..pindah gih ke luar negri
YuWie
lhaa gimn.. katanya semua sdh dijauhkan..kok malah terbaca tuh berita
YuWie
Luar biasa
YuWie
dang nikahi raya nya pak aris.
YuWie
klo ingatan raya kembali, apa jadinya pak aris
Aurora: kita cari tau jawaban di next episode-episode berikutnya...😃🤗
total 1 replies
YuWie
kebetulan ya ris..cintamu kau dptkan 😁
Aurora: Xixixi... hanya terbalut banyak boong 😅😅
total 1 replies
YuWie
pandangan pertama langsung jatuh cinta, suami nya pas is death..mmg jodohmu si raya ini pak arus..tapi sayang nya..jalannya tragis.
Aurora: yup, cinta pada pandangan pertama tak jarang terjadi 🤗
total 1 replies
YuWie
mabuk kok nyopir sendiri pak aris...
YuWie
secantik apa wanita itu aris..sehingga membuatmu falling inlove in first moment
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!