Update setiap hari!
Bianca, putus dengan pacarnya yang sudah bertahun-tahun bersama. Namun, setelah putus bukannya asing, mereka justru terus dipertemukan dalam kejadian yang tak terduga.
Entah ini kebetulan? atau memang sengaja di buat oleh Arsen.
"Bagaimana bisa, bos baruku ternyata adalah dia?! Arsenio sialan! Bagaimana caranya kami menjadi mantan jika terus seperti ini?!" geram Biancca yang sudah frustrasi.
"Aghh, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjadi mantan!" --Arsenio Kendrick
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04
Kayla pun mengangkat piring di depan nya dan mencium bau aroma dari cake strawberry yang harum.
"Aroma yang nikmat ini, ini lah kehidupan” Kayla hendak memakannya, saat pada akhir nya.
“YAKKKKK, INI TAK ADIL, BAGAIMANA DIA BISA SESANTAI ITU SEDANGKAN AKU DI SINI TERUS DI BUAT KEPIKIRAN." Teriak Bianca membuat Kayla spontan syok, cake itu hampir terjatuh, namun masih terselamatkan berkat keseimbangan tangannya.
“BRAKKKKKKK” Bianca menggebrak kan meja di depannya dengan keras. Cake yang Kayla pegang itu pun kini terjatuh, kali ini tak bisa ia selamatkan lagi.
Cake itu jatuh dan mengenai sepatunya yang mahal.
“Ini tak boleh terjadi, bagaimana bisa dia harus selalu muncul di mana pun. Ini sungguh membuat ku gila, dia tenang tapi aku yang pusing. Masa aku harus pindah dunia agar dia bisa sepenuhnya lepas. Otakkkkk kenapa kau terus memikirkan Arsen..." Kayla yang mendengar itu kini menunduk. Gadis itu menggenggam erat-erat garpu di tangannya.
“Kayla, berikan aku saran apa pun yang menurut mu baik!” Kayla hanya terdiam, ia pun lalu mendongak dan menatap Bianca dengan tajam.
“Kau kenapa?” Bisa-bisanya dia masih bertanya kepada Kayla.
Melihat Kayla yang seperti itu, Bianca pun sudah mengambil ancang-ancang, ia sudah terlebih dahulu mengambil tasnya.
“Kau tanya aku kenapa hah?” Rumi menggenggam garpu di tangannya dengan erat. Giginya menggertak, sorot mata yang tajam menatap Bianca dan membuat gadis itu kini tampak kikuk.
“Kau benar-benar ya Bianca”
“BIANCAAAAAAAAAA” Bianca pun langsung lari keluar cafe saat mendengar teriakan itu.
Saat baru membuka pintu cafe, rupanya ada pengunjung lain yang hendak masuk, Keduanya pun saling bertabrakan.
Bianca yang hendak terjatuh itu pun di tangkap oleh orang itu. Bianca sontak membeku seketika saat mata mereka saling bertemu, dan pria itu adalah…
“Arsen”
Mata mereka saling bertemu, memunculkan perasaan yang Deja vu bagi keduanya.
Setelah itu Bianca pun kembali membenarkan posisinya.
“Sumpah ya, apa dunia sesempit itu sampai kita harus bertemu lagi? Benar-benar heran." Ujar Arsen yang setelahnya berjalan masuk ke dalam cafe.
“Perasaan apa ini, sudahlah Bianca." Bianca menatap ke dalam cafe itu, terlihat Arsen yang tengah berada di sana menyapa klien-nya. Hatinya terasa cukup sakit untuk mengingatnya sebagai mantan. Walau ia tadi sempat bertemu dengannya, hal itu masih benar-benar membekas di hatinya.
"Ya, mantan terindah, dan akulah mantan terburuk." Bianca sadar akan hal itu, ia juga sadar bahwa Arsen sudah jauh lebih baik tanpanya.
Bianca menarik napasnya kasar, ia lalu tersenyum menatap Arsen dari jauh. “Perbedaan ini lah yang membuat kita harus berpisah Arsen, kamu dan aku hidup dalam dunia yang berbeda.” Bianca masih stay di tempatnya, memandangi Arsen dari kejauhan, hingga akhirnya senyumnya berubah menjadi kecut saat ia melihat Kayla yang telah keluar Cafe dengan wajah yang tertekuk.
“Mampus” Cetus Bianca yang langsung mengambil ancang-ancang lari, sebelum akhirnya Kayla datang menangkapnya.
"BIBIIIIII, BIANCAAAAAAAAA........" Teriak Kayla sebari mengejar gadis itu.
“Bibibi, bagaimana kabar kamu sekarang? Ingin sekali aku pergi menemuimu, namun apa yang bisa ku lakukan. Kamu hanya akan lari, lagi dan lagi, seolah aku benar-benar pria brengsek." Ujar Arsen dalam hati kecilnya yang masih sangat merindukan sosok Bianca.
Pria itu menatap dari dalam Cafe, menatap keluar jendela Cafe itu, terlihat Kayla yang tengah mengejar Bianca.
Hal itu membuat ingatannya kembali ke beberapa tahun sebelumnya, "Arsen, jangan kejar aku!" Bianca berlari menghindari Arsen, namun pria itu bisa menangkapnya.
Memeluknya dari belakang, "Kamu mau kabur kemana sayang?" Ucap Arsen tepat di telinga Bianca. Gadis itu akhirnya mengalah, ia kemudian berbalik badan dan memeluk Arsen.
"Ia kamu yang menang..., aku akan belikan kamu hadiah."
"Bagaimana jika hadiahnya aku yang tentukan?"
"Boleh" Bianca mengangguk.
"Memang apa Hadiahnya?"
"Kiss," Mendengar Arsen yang berkata seperti itu, sontak Bianca kembali lari.
"Sayang, bukannya aku yang menang." Arsen kembali mengejarnya.
"No Arsen, kamu harus kejar aku lagi..." Bianca berlari memutari taman, menghindari Arsen. Arsen lalu mengejarnya.
Semua kenangan itu terlintas di benak pria itu, kenangan yang membuatnya lagi dan lagi teringat akan sosok gadis yang pernah bersinggah di hatinya dan membuat harinya semakin berwarna.
"Sayang hari itu telah berakhir bagi kita Bianca." Arsen sedari tadi masih terus menatap Bianca dari dalam Cafe, tanpa ia sadari Kliennya sudah terus memanggilnya.
"Pak Arsen, Pak? Pak Arsen!" Ucapan itu langsung membuyarkan lamunannya.
"Maaf Nona Oliv," Ujar Arsen kepada gadis muda yang duduk di hadapannya.
"Tidak apa-apa Tuan Arsen. O iya, ini adalah proposal yang di berikan Tuan Derek, beliau minta maaf belum bisa datang secara langsung." Gadis muda itu adalah asisten kliennya.
"Tidak apa-apa Nona Oliv, saya paham keadaan Tuan Derek sekarang. Berikan ucapan selamatku kepada mereka, pasti senang baginya karena telah lahir anak pertama."
Olivia pun mengangguk, "Iya tentu, saya akan sampaikan, Tuan Derek memang sangat menanti kehadiran putrinya sejak lama. O iya Pak Arsen, Tuan Derek juga menyuruh saya, beliau menyuruh saya untuk memberikan bingkisan ini kepada Anda." Arsen menerima bingkisan itu.
Ia menaruh bingkisan itu di sampingnya dan mereka kini melanjutkan membahas proyek pekerjaan yang sebelumnya sempat tertunda.
***
Kayla masih mengejar Bianca, gadis itu kini mengambil tas selempangnya dan kemudian memutar tas itu 360 derajat.
Kayla mengarahkannya kepada Bianca yang masih lari-larian di sana.
"Terimalah pukulan tas ini, Bianca..." Kayla melemparkan tas miliknya, tas itu terbang meluncur dan tepat pada sasaran target.
"Brukkkkk" Bianca terjatuh, lantaran tas itu tepat mengenai punggungnya.
Gadis itu mendongak, mengambil napas setelah terjatuh di atas batako trotoar jalan. Orang-orang yang sempat melintas di sana hanya tertawa kecil.
Namun bagi Bianca, itu sangat memalukan. "Dasar Kayla, bagaimana jika hidungku sampai patah?"
"Tidak akan, yang ada hidungmu akan semakin panjang seperti pinokio." Rupanya Kayla mendengar hal itu.
Bianca yang penasaran, kini berdiri dan balik bertanya pada sahabatnya. "Pinokio? Kenapa jadi boneka kayu itu, tidak nyambung egeh."
Kayla bersedekap, ia lalu menggelengkan kepalanya dan mencibir sahabatnya. "Ckckckck, siapa ya yang bohong kepada dirinya sendiri bahwa dia masih sayang mantan. Teruskan kebohonganmu itu Bianca, sampai 1 tahun kemudian, saat kau kembali bertemu Arsen. Hidungmu sudah sepanjang ini nih." Kayla menunjukkan ukuran perumpamaan panjang hidung Bianca dengan tangannya.
"Dasar jomblo satu ini." Ketus Bianca, namun tampaknya Kayla juga sudah tak mempermasalahkan soal yang tadi. Kini ia merangkul Bianca.
"Ayo, kita pulang!" Ucap Kayla.
"Ya, ya, ya, jangan bosen dengan yapping ku mulai sekarang, karena mulai besok aku resmi pengangguran."
"Halah, paling kau tidak akan betah menganggur."
Keduanya berjalan menyusuri jalanan sore yang tenang dan teduh. Melintasi trotoar dengan gedung-gedung pencakar langit di kota. Siratan cahaya kuning orange yang mengenai gedung itu, semakin membuat suasana kota semakin indah.
BERSAMBUNG