Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Apa-Apa
Tidak lama kemudian, Lucian duduk di ruang makan bersama Adara dan Arsen. Beragam hidangan tersaji di atas meja, sementara para pembantu melayani mereka seperti biasanya.
Seolah tidak ada hal apa‑apa yang baru saja terjadi, mereka menikmati sarapan tanpa menyentuh pembahasan tentang hukuman yang telah diterima Annabella.
Adara melirik ke arah putranya.
"Lucian, kau akan berangkat ke kantor setelah sarapan?"
"Ya. Ada rapat penting pagi ini."
Arsen mengangguk.
"Bagus. Jangan sampai urusan pribadi mengganggu pekerjaanmu."
Lucian hanya menjawab dengan singkat sebelum kembali melanjutkan sarapannya.
Sementara itu, di halaman belakang, Ranti berdiri di hadapan Annabella sambil memegang sebatang rotan.
"Jangan salahkan aku kalau tanganmu terluka. Ini semua adalah akibat dari perbuatanmu sendiri."
Annabella menatap rotan itu dengan wajah yang pucat. Ia tidak pernah membayangkan akan menerima hukuman seperti ini di rumah suaminya sendiri.
Meski begitu, ia tidak berani menolak.
Ranti menunjuk ke sebuah kursi.
"Duduk!"
Annabella menuruti perintah itu.
"Ulurkan tanganmu!"
Dengan jemari yang gemetar, Annabella mengulurkan kedua tangannya. Ranti segera mengangkat rotan lalu mencambuk telapak tangannya.
"Ah!"
Annabella secara spontan menarik tangannya kembali.
"Siapa yang menyuruhmu menarik tangan?" bentak Ranti. "Ulurkan lagi!"
Annabella menggigit bibirnya, lalu kembali mengulurkan tangannya.
Cetasss!
Cambukan kedua menyusul, lalu cambukan‑cambukan berikutnya. Ranti terus melayangkan rotan tanpa rasa belas kasihan, sementara Annabella berusaha sekuat tenaga menahan jeritannya.
Air mata mengalir turun di pipinya. Kulit telapak tangannya memerah, bahkan robek hingga mengeluarkan darah.
Namun ia tetap bertahan.
Paman, maafkan Bella. Bella harus bertahan. Bella tidak boleh membiarkan Paman kehilangan perawatan.
Setelah cambukan terakhir selesai, Annabella hampir tidak sanggup menggerakkan jari‑jarinya.
"Selesai. Lain kali, pikirkan baik‑baik sebelum mencuri!" ucap Ranti sambil melemparkan rotan ke samping.
Tanpa menoleh sedikit pun, Ranti pergi meninggalkannya sendirian.
Annabella duduk di sana sambil menatap kedua telapak tangannya yang terluka. Ia ingin berteriak, menangis sekeras‑kerasnya, dan mempertanyakan ketidakadilan yang ia terima.
Tetapi semua perasaan itu hanya terpendam jauh di dalam hatinya.
Bahkan saat menjadi Luviana dulu, ia tidak pernah dihukum cambuk seperti ini.
"Annabella?"
Sebuah suara lembut membuatnya tersentak. Ia segera mengusap air matanya lalu mengangkat kepala.
Seorang pembantu berdiri tidak jauh darinya. Annabella langsung mengenal perempuan itu.
Minah, salah satu pembantu lama yang sudah bekerja di rumah Winston sejak dirinya masih menyamar menjadi Luviana.
Minah mendekat sambil membawa sepiring nasi goreng.
"Ini, makanlah dulu."
Annabella menatap piring itu dengan mata yang membesar.
"Untukku?"
Minah mengangguk.
"Saya dengar kamu belum makan sejak kemarin. Saya tidak tega melihatmu terus kelaparan."
Annabella menatap nasi goreng yang masih terasa hangat. Perutnya terasa melilit, namun ia tetap mengucapkan terima kasih terlebih dahulu.
"Terima kasih, Minah."
Minah meletakkan piring itu, lalu memperhatikan keadaan kedua tangan Annabella.
"Ya ampun, tanganmu…"
Ia hendak menyentuhnya, tetapi Annabella segera menarik tangannya karena rasa sakit.
"Maaf," ucap Minah dengan suara lirih. "Seharusnya saya juga membawakan obat."
"Tidak apa‑apa."
"Tidak, hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Saya akan mencari obat untukmu."
Annabella menggeleng.
"Jangan, Minah. Nanti kau pun ikut dimarahi."
Minah terdiam. Ia ingin menolong, tetapi takut perbuatannya diketahui oleh Lucian.
Annabella lalu menatapnya dengan mata yang berkaca‑kaca.
"Minah, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Tentu saja."
"Apakah kau membenciku?"
Minah terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
"Dulu, saya memang membenci Anda."
Annabella menggigit bibirnya lalu menundukkan kepala.
"Tetapi itu sudah berlalu. Saya tahu apa yang Anda lakukan terhadap Nona Luviana sangat menyakitkan. Hanya saja, saya juga mendengar Nona Luviana sudah memaafkan Anda."
Annabella mengangkat wajahnya kembali.
Minah menatapnya dengan tatapan yang tulus.
"Saya berharap Anda benar‑benar berubah seperti yang diharapkan Nona Luviana. Jangan kembali menjadi Annabella yang dulu. Jika Anda sungguh‑sungguh ingin memperbaiki kesalahan, lakukanlah dengan tulus."
Air mata kembali menggenang di mata Annabella.
"Aku akan berusaha, Minah. Aku benar‑benar ingin berubah."
Minah tersenyum tipis.
"Kalau begitu, mulailah dengan menjaga diri Anda sendiri. Anda juga butuh makan."
Annabella melirik ke arah piring yang ada di sampingnya.
"Terima kasih. Aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu dengan apa."
"Tidak perlu membalas apa‑apa. Makanlah sebelum nasi gorengnya dingin."
Minah kemudian pergi, membatalkan niatnya untuk mencari obat karena takut ketahuan oleh Lucian.
Annabella mengangkat piring itu dengan sangat hati‑hati. Kedua tangannya terasa sangat sakit, namun ia tetap memaksakan diri berjalan kembali ke gudang.
Yumna pasti sudah menunggunya.
Begitu pintu gudang terbuka, gadis kecil itu langsung berlari menghampirinya.
"Oooonty!"
Anak itu tersenyum lebar.
"Onty cudah pulang!"
Annabella berusaha membalas senyumnya.
"Iya, Sayang."
Namun saat melihat kedua telapak tangan Annabella, senyum Yumna seketika menghilang.
Matanya membesar melihat luka dan bekas darah di tangan perempuan yang ia sayangi.
"Onty…"
Annabella segera meletakkan piring di atas lantai.
"Kenapa, Sayang?"
Yumna meraih tangan Annabella dengan sangat hati‑hati, lalu segera melepaskannya karena takut menambah rasa sakit.
"Onty, napa tangannya beldalah?"
Annabella terdiam.
Melihat Yumna menangis karena dirinya, hatinya terasa semakin perih. Ia berjongkok perlahan, menahan rasa nyeri yang menjalar dari tangannya.
"Sayang, jangan menangis. Onty tidak apa‑apa."
Tetapi Yumna justru menangis semakin keras.
"Tangan Onty cakit! Yumna tiup, ya? Bial ndak cakit."
Yumna meniup telapak tangan Annabella dengan napas kecilnya.
Annabella tidak sanggup lagi menahan air matanya. Ia memeluk Yumna dengan hati‑hati agar gerakannya tidak menyakiti tangannya sendiri.
"Terima kasih, Sayang."
Yumna menggeleng sambil terus terisak.
"Onty jangan cakit. Yumna cedih…"
Annabella mengecup keningnya.
"Maafkan Onty."
Ia tidak mampu menjelaskan bahwa luka itu berasal dari hukuman yang diberikan di rumah suaminya sendiri. Ia juga tidak ingin membuat Yumna merasa takut. Karena itu, Annabella hanya memeluk anak itu lebih erat.
Setelah tangis Yumna sedikit mereda, Annabella mengusap pipinya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Kita makan bersama, ya?"
Yumna mengangguk kecil, namun tangannya tetap menggenggam ujung gaun Annabella seolah takut perempuan itu akan menghilang.
Annabella tersenyum lembut.
Di rumah ini, ia bahkan harus menanggung penghinaan hanya demi mendapatkan sesuap makanan. Namun ia tidak boleh menyerah.
Kini ada Yumna yang bergantung kepadanya. Selama gadis kecil itu masih berada di sisinya, Annabella akan terus berusaha bertahan, meskipun hidup terus memberinya penderitaan.
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???