NovelToon NovelToon
Dark Chocolate

Dark Chocolate

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Perjodohan / Romantis / Cintamanis / Patahhati
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chayahuda

Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.

#cintabutuhperjuangan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DIBALIK PERCAKAPAN

Restoran hotel itu cukup ramai ketika Elma tiba, ia baru saja menyelesaikan rapat singkat di kantor ketika menerima pesan dari Evelyn, kakak perempuannya, yang mengajaknya makan siang bersama. Sebenarnya Elma tidak terlalu bersemangat, hubungannya dengan Evelyn belakangan ini tidak bisa dikatakan baik. Terlalu banyak persoalan yang melibatkan mereka, dan sebagian besar selalu berakhir dengan Elma yang harus menghadapi akibat dari keputusan kakaknya. Namun, karena Evelyn mengatakan ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan, Elma akhirnya menyempatkan diri.

Dari kejauhan, Evelyn sudah duduk di meja dekat jendela. Perempuan itu tampak sibuk memainkan ponselnya sebelum akhirnya mengangkat wajah ketika melihat kedatangan Elma.

"Akhirnya datang juga."

Elma menarik kursi di hadapannya. "Aku hanya punya waktu satu jam. Setelah ini masih ada pekerjaan."

Evelyn menghela napas kecil. "Kau bahkan tidak bisa meluangkan waktu lebih banyak untuk kakakmu sendiri?"

"Aku datang karena kau bilang ada sesuatu yang penting."

Evelyn terdiam sejenak, kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanan. Sepanjang beberapa menit berikutnya, percakapan mereka hanya berkisar pada hal-hal ringan. Namun, Elma tahu betul bahwa Evelyn bukan tipe orang yang mengajaknya makan siang tanpa maksud tertentu.

"Aku sedang mengalami masalah dengan agensi," ujar Evelyn akhirnya.

Elma meletakkan gelas air mineralnya. "Masalah apa lagi?"

Nada suaranya terdengar datar. Bukan karena terkejut, melainkan karena ia sudah terlalu sering mendengar keluhan serupa.

Evelyn mengerutkan kening. "Kau bisa tidak mendengarkanku tanpa memasang wajah seperti itu?"

"Aku sedang mendengarkan."

"Agensi itu benar-benar membuat karierku berantakan. Mereka membatasi beberapa pekerjaanku, menunda kontrak yang seharusnya sudah berjalan, bahkan mulai memberikan proyek kepada orang lain. Aku merasa mereka sengaja menyingkirkanku."

"Kalau begitu, bicarakan dengan manajermu."

"Aku sudah melakukannya!"

"Kalau begitu, bicarakan dengan pihak agensi."

"Evelyn Laurent sedang tidak membutuhkan saran seperti itu, Elma."

Elma mengangkat alis. "Lalu apa yang kau butuhkan?"

Evelyn menatap adiknya beberapa saat sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. "Aku sedang kesulitan keuangan."

Elma tidak langsung menjawab.

Evelyn melanjutkan, "Beberapa pembayaran tertunda. Aku juga punya sejumlah kewajiban yang harus diselesaikan. Keadaannya cukup buruk belakangan ini."

"Berapa banyak?"

Evelyn menyebutkan sejumlah angka. Elma hampir tidak menunjukkan reaksi. Ia hanya mengambil serbet dan meletakkannya di pangkuan.

"Aku ingin meminjam kartu kreditmu untuk sementara," kata Evelyn kemudian.

Kali ini Elma benar-benar menatap kakaknya. "Apa?"

"Kartu kreditmu. Aku hanya akan menggunakannya sampai keadaan membaik."

"Tidak." Jawaban itu keluar begitu cepat hingga Evelyn sempat terdiam.

"Elma, dengarkan aku dulu."

"Aku sudah mendengarkanmu sejak tadi."

"Aku tidak meminta uang tunai. Aku hanya membutuhkan bantuan sementara."

"Dan aku sudah memberikan jawabannya."

Wajah Evelyn berubah masam. "Kau sekarang hidup berkecukupan, Elma. Suamimu bahkan bisa membeli apa pun yang dia inginkan tanpa perlu memikirkan harganya. Apa salahnya membantu kakakmu sendiri?"

Elma meletakkan sendoknya. "Jangan membawa Maxime ke dalam pembicaraan ini. Kartu kredit itu milikku, dan aku tidak akan memberikannya kepadamu."

"Kau sungguh tidak mau membantuku?"

"Kalau kau membutuhkan bantuan keuangan, bicarakan dengan Ayah dan Ibu. Mereka orang tua kita."

Evelyn tertawa hambar. "Kau pikir aku belum mencobanya? Keuangan keluarga juga sedang goyah. Ayah sedang menghadapi beberapa persoalan bisnis. Ibu bahkan sudah mulai membatasi pengeluaran rumah tangga."

Elma menatap kakaknya tanpa ekspresi, ia bukannya tidak memahami kesulitan yang sedang dihadapi keluarga Laurent. Namun, ia juga tidak bisa terus-menerus menjadi tempat Evelyn mencari pertolongan setiap kali kakaknya itu berada dalam masalah.

"Kalau begitu, kau harus mulai mengatur keuanganmu sendiri, Evelyn."

"Kau mudah sekali mengatakan itu."

"Karena memang itu yang harus kau lakukan."

Evelyn menyandarkan punggungnya dengan wajah tidak senang. "Kau berubah sejak menikah dengan Maxime."

Elma mengernyit. "Jangan mulai."

"Dulu kau tidak pernah sekaku ini. Sekarang kau seolah-olah merasa tidak membutuhkan siapa pun."

"Aku tidak berubah. Aku hanya tidak lagi bersedia menyelesaikan semua masalahmu."

Kalimat itu membuat Evelyn terdiam, sepertinya ia gagal membujuk adiknya tersebut.

Elma kembali menyantap makanannya, ia tidak ingin menghabiskan waktu makan siangnya dengan perdebatan yang tidak akan menghasilkan apa-apa. Namun tidak lama kemudian Evelyn kembali membuka pembicaraan. Ia mengatakan jika bos agensinya sedang menuju kearah mereka.

"Elma. Lihat itu. Itu bos agensiku".

Elma mengangkat wajah dan pandangannya langsung menangkap seorang pria paruh baya yanh sedang berjalan kearah mejanya.

"Selamat siang, Miss Laurent".

"Selamat siang, Mr. Collins." Elma menjawab sapaan tanpa bergerak sedikitpun.

Bos agensi itu memandangi Elma secara bergantian kemudian tanpa ragu langsung menarik sebuah kursi dan duduk bersama mereka.

"Saya tidak menduga bisa bertemu nona- nona Laurent hari ini".

"Saya pikir kita tidak akan bertemu lagi setelah malam itu, nyonya Sinclair" Ucapnya seraya melirik Elma.

Elma tidak tahu maksud lirikan itu, tapi perasaannya menyatakan jika pria itu ingin mengatakan sesuatu padanya.

"Ya. Saya juga tidak menduga kita akan bertemu disini, Mr. Collins." Elma diam sesaat. "Padahal saya berharap kita akan bertemu di pengadilan".

Mr. Collins. Tersenyum tipis namun terkesan sinis. "Ya. Seharusnya begitu. Namun apa boleh buat, takdir ternyata tidak sejalan dengan rencana kita".

"Anda beruntung memiliki suami yang siap menjadi tameng di setiap masalah".

Elma menangkap hal lain dari ucapan itu. "Maksudnya?".

"Tidak ada. Saya hanya merasa kedepannya harus lebih berhati- hati saat berhubungan dengan keluarga Laurent karena ada keluarga Sinclair di belakangnya".

"Hm, keluarga kami tidak kuat itu". Elma mengelak.

"Anda salah nona Laurent. Keluarga kuat, sangat kuat hingga saya merasa sedikit takut".

"Maksudnya" Elma kembali merasa bingung.

"Keluarga Laurent kuat karena Sinclair berada di belakangnya". Mr. Collins terdiam sejenak.

"Andai saja Sinclair tidak ikut campur, tentu saat ini kita sudah bertemu di pengadilan".

Sepertinya kali ini Elma paham arah pembicaraan pria itu, dia ingin mengatakan jika keluarga Sinclair telah ikut campur dalam konflik yang terjadi diantara mereka. Dan ia yakin Maxime ikut terlibat di dalamnya.

"Tolong jelaskan pada saya apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa anda membatalkan tuntutan itu?".

"Sepertinya kejujuran suami anda perlu di pertanyakan, nyonya Sinclair. Bagimana bisa beliau menyembunyikan hal ini dari anda".

"Tidak perlu mempertanyakan kejujuran suami saya. Saat ini saya hanya ingin mengetahui kebenarannya". Elma berusaha menahan diri agar tidak tersulut emosi.

Mr. Collins. Diam sesaat sebelum akhirnya kembali berucap : "Sejujurnya, penyelesaian itu terjadi karena adanya komunikasi dari pihak Sinclair Group."

Gerakan tangan Elma yang hendak mengambil gelas terhenti. "Sinclair Group?"

"Benar." Mr. Collins melanjutkan dengan santai.

"Beberapa waktu lalu, salah satu direktur mereka menghubungi kami untuk membicarakan persoalan Evelyn. Awalnya kami cukup terkejut karena pihak Sinclair bersedia turun tangan secara langsung."

Evelyn segera menoleh. "Sinclair Group?"

Mr. Collins mengangguk. "Ya. Mereka meminta agar persoalan ini tidak berkembang menjadi sengketa hukum yang lebih besar. Ada beberapa pembicaraan mengenai penyelesaian kontrak dan kompensasi yang kemudian disepakati oleh kedua pihak."

Elma mulai memperhatikan setiap perkataan pria itu "Siapa yang menghubungi Anda?"

"Perwakilan dari kantor pusat Sinclair Group. Namun, berdasarkan komunikasi yang kami terima, keputusan tersebut berasal dari Mr. Maxime Sinclair."

Untuk beberapa detik, Elma tidak memberikan tanggapan. Nama suaminya baru saja disebutkan dalam percakapan yang sama sekali tidak pernah ia duga.

"Maxime?" Evelyn bertanya dengan nada terkejut.

"Ya. Saya kira Anda sudah mengetahuinya, Miss Laurent."

Evelyn menatap Elma. Namun, Elma masih mempertahankan ekspresi tenangnya.

"Apakah Anda mengatakan bahwa Mr. Sinclair secara pribadi meminta agensi menyelesaikan persoalan Evelyn?" Tanya Elma.

"Kurang lebih demikian. Beliau memang tidak hadir dalam pertemuan langsung, tetapi instruksinya cukup jelas. Kami diminta mencari penyelesaian yang tidak merugikan kedua belah pihak."

Mr. Collins berhenti sejenak. "Dan tentu saja, mempertimbangkan hubungan bisnis dengan Sinclair Group, kami merasa penyelesaian damai merupakan keputusan yang paling masuk akal."

Elma meletakkan gelasnya, kini ia memahami mengapa agensi yang sebelumnya begitu keras mempertahankan tuntutannya tiba-tiba berubah sikap. Mengapa proses yang semula diperkirakan akan berlangsung panjang justru berakhir begitu cepat. Ternyata ada tangan Maxime di balik semuanya.

1
Heni Utami
bagus , sayangnya ngegantung belum selesai,
Chayahuda: Makasi,,,
Ceritanya masih berlanjut kok,,,
Sabar ya,,,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!