Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4—Shue Hao Dan Provokasinya
Di sisi lain, Pei Chanqing masih berdiri tegak, menatap penuh keraguan ke arah Shen Yueli. Gadis di hadapannya itu tampak begitu berbeda dari hari-hari biasanya; sosok yang dulu dikenal pendiam, penurut, dan tak pernah menuntut sedikit pun. Bahkan, saat perjodohan di antara mereka ditetapkan beberapa bulan lalu, gadis itu sama sekali tidak melayangkan penolakan meski harus dipersunting oleh pria bermasa lalu kelam seperti dirinya.
Tatapan mata Pei Chanqing beralih sejenak ke arah Shen Xuer. Gadis itu menoleh dan menyapanya dengan senyuman ramah. Pei Ge, bibir gadis itu bergerak membentuk sapaan penuh keakraban.
Para tamu akhirnya kembali duduk, dan pesta dilanjutkan di tengah suasana canggung serta wajah sang putra mahkota dan Putri Bangsawan Cheng yang masih memerah menahan malu. Sementara itu, Shen Yueli menikmati hidangan dengan penuh suka cita. Kendati dadanya sesekali berdesir tidak nyaman akibat tatapan tajam Shue Hao yang beberapa kali menghujahnya, Nyonya Besar Pei justru merangkulnya hangat, berbisik bahwa persiapan pernikahan mereka tengah berjalan lancar. Wanita paruh baya itu kemudian memperkenalkan seorang gadis muda yang diajak serta hari itu—sepupu jauh Pei Chanqing bernama Xiao Lu, gadis manis berusia belasan tahun dengan senyum yang polos.
Seolah ada lembaran gulungan sejarah yang terbentang di depan matanya, ingatan Alya di dalam tubuh Yueli langsung berputar kencang, menggali memori tentang sosok Xiao Lu. Di dalam alur cerita aslinya, gadis inilah yang kelak diangkat menjadi selir pertama sang jenderal. Pernikahan itu bukan terjadi karena kemenangan di medan perang, melainkan akibat tragedi pilu: Nyonya Besar Pei tewas dalam perjalanan pulang saat mengunjungi kampung halamannya.
"Shen Yueli, dia adalah sepupu jauhku. Saat ini ia membantu mengurus salah satu toko milik keluarga kami," ujar wanita paruh baya itu memperkenalkan, membuat Xiao Lu segera membungkuk hormat sambil melempar senyuman manis.
Sementara itu, Pei Chanqing memilih pamit dan melangkah pergi, meninggalkan paviliun yang mulai terasa sesak oleh deretan gadis bangsawan yang masih mencuri pandang ke arahnya.
Jamuan kian larut, dan suara tawa para bangsawan perlahan meredam menjadi bisikan-bisikan tertahan. Satu per satu para undangan mulai bangkit, membungkuk untuk berpamitan, mengucapkan salam serta doa-doa yang di mata Shen Yueli tak lebih dari sekadar tumpukan kemunafikan yang dibungkus rapi.
Ia sengaja berpamitan paling akhir, langkah kakinya yang anggun perlahan meninggalkan area utama jamuan hingga ia menyadari ada seseorang yang membuntutinya. Shue Hao. Pria itu berjalan mendekat dengan langkah berat, suaranya yang menggema terasa mengganggu di tengah keheningan lorong paviliun malam itu.
"Nona Shen Yueli, bukankah dulu kau begitu menyukaiku?" Shue Hao membuka percakapan, melontarkan kalimat provokatif yang langsung diacuhkan begitu saja oleh Yueli.
Langkah kaki sang gadis terus berlanjut tanpa sudi menoleh. Namun, ketika Shue Hao kembali bersuara dengan nada yang lebih tinggi, langkah Yueli terpaksa terhenti seketika.
"Bukankah dulu kau begitu rajin mengirim surat cinta padaku?"
Kalimat itu bagai petir di siang bolong. Yueli langsung mengerutkan kening, memutar otak dan menyelami kembali arsip ingatan si pemilik tubuh asli. Di dalam memori itu, ia memang pernah berinteraksi lewat surat, tetapi statusnya murni hanya membalas surat-surat dari sang putra mahkota—tidak pernah sekalipun ia berinisiatif mengirim surat lebih dulu, apalagi dengan muatan asmara.
Gadis itu akhirnya berbalik, berdiri dengan postur tegap dan ekspresi wajah yang sedingin es. "Yang Mulia, apa sebenarnya maksud Anda?"
Shue Hao mendengus sinis, melipat tangan di dada. "Kau begitu rajin menulis surat. Bahkan meski awalnya tidak kuhiraukan, kau tetap saja mengirimnya tanpa henti."
Shen Yueli menggelengkan kepalanya tegas. "Anda salah besar. Hamba tidak pernah mengirim surat, kecuali untuk membalas surat-surat yang datang dari Anda."
Di dalam lubuk hatinya, jiwa Alya bergejolak hebat, mendadak teringat pada tumpukan surat yang rutin diantar ke paviliunnya setiap minggu. Surat-surat yang diterima pemilik tubuh asli itu sebenarnya berisi penolakan halus, pernyataan batasan pertemanan, dan sikap acuh tak acuh—bukan surat cinta seperti yang dituduhkan. Mengapa kini sang pangeran mahkota memutarbalikkan fakta sekeji itu?
"Yueli, saat kau dijodohkan dulu, bukankah kau berjanji akan mati-matian menolaknya? Ternyata kau benar-benar wanita munafik bermuka dua. Di hadapanku kau mengemis cinta, tetapi di belakang..." Shue Hao terkekeh remeh, membuat Putri Bangsawan Cheng yang mengekor di sampingnya semakin erat merapatkan pelukan di lengan sang pangeran. "...kau justru dengan senang hati melompat menjilat Tuan Pei."
Dada Shen Yueli bergemuruh menahan amarah yang membakar ubun-ubun. "Yang Mulia, jika Anda menuduh sembarangan, apakah Anda memiliki bukti fisik berupa surat-surat yang hamba tulis?"
Sebelum Shue Hao sempat melontarkan jawaban, bayangan angin malam membawa langkah Shen Xuer mendekat. Adiknya itu sigap menarik lengan sang kakak, mencoba meredakan situasi. "Kakak, sudahlah. Hari sudah hampir larut, kita harus segera pulang."
Namun, Shue Hao telanjur tersulut. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum meremehkan. "Jika aku membacakan bahkan hanya satu surat saja di hadapan publik, apakah kau masih berani mengelak? Jangan-jangan benturan di kolam tadi telah merusak kewarasan otakmu, hingga kau lupa pada perbuatanmu sendiri!"
Kesabaran Shen Yueli seketika menguap habis; topeng kesopanannya runtuh tak bersisa. Ia mendecak kesal, menatap lurus mata sang pangeran tanpa secercah rasa takut. "Jika Anda benar-benar dapat membuktikannya, maka hamba akan menerima segala cemoohan itu. Tapi jika tidak..." Yueli melangkah maju selangkah, memberikan tekanan balik yang telak, "...siap-siaplah menanggung malu karena telah memfitnah seorang calon istri dari jenderal kekaisaran."
Shue Hao langsung menyuruh seorang pelayan pribadinya untuk mengambil gulungan surat dari kamarnya. Di sisi lain, Shen Xuer masih sibuk menarik-narik ujung jubah Yueli, membujuk dengan suara bergetar. "Kakak, ayo kita pergi saja. Tempat ini tidak aman."
"Tidak, Adik," ucap Yueli lembut sambil mengelus punggung tangan adiknya yang menggayut di lengannya. "Ini menyangkut harga diriku."
"Tapi... Kakak, bukankah dulu Kakak memang sering menerima dan mengirim surat?" cicit Xuer ragu.
Yueli menggeleng pelan. Jika pemilik tubuh aslinya dahulu adalah gadis penurut yang hanya bisa pasrah saat difitnah, maka kini dengan jiwa Alya di dalam raga tersebut, ia bersumpah tidak akan sudi diinjak-injak—terutama oleh pria bajingan seperti Shue Hao, yang di masa depan digambarkan sebagai tiran kejam sebelum akhirnya digulingkan.
"Dengar, Adik kecilku, aku hanya pernah membalas surat-suratnya yang membahas urusan pertemanan, tidak lebih. Sama sekali tidak ada muatan percintaan," tegas Yueli. "Jika hari ini ia begitu bersikeras memfitnahku nekat menceburkan diri karena cemburu buta, aku harus membongkar kebohongannya di sini."
Tak berselang lama, pelayan yang disuruh tadi kembali dengan tergopoh-gopoh, menyerahkan sebuah gulungan kertas kepada sang putra mahkota. Shue Hao menerimanya dengan senyum miring yang penuh kemenangan. Melihat itu, Putri Bangsawan Cheng melepaskan cengkeramannya dari lengan sang pangeran, lalu mengangkat dagunya tinggi-tinggi, berusaha menampakkan keangkuhan.
"Apakah aku harus membacakannya dengan suara keras di sini, atau kau ingin melihatnya sendiri?" tantang Shue Hao.
"Silakan bacakan, Yang Mulia," jawab Yueli tanpa gentar.
"Baiklah..." Shue Hao membentangkan gulungan kertas itu. Dengan nada mengejek, ia mulai melantunkan bait-bait kalimat dari surat tersebut. "Hao Ge... Apakah kabarmu? Apakah di perbatasan timur terasa begitu mencekam hingga kau tak kunjung pulang? Aku merindukanmu. — Shen Yueli, yang mencintaimu."
Yueli terdiam seketika, keningnya berkerut dalam. Ia membatin di dalam hati, mempertanyakan apakah benar pemilik tubuh asli ini pernah menulis surat segamblang dan semesra itu kepada pria narsistik di hadapannya.
Tanpa pikir panjang, ia maju satu langkah dan merampas gulungan surat itu dari tangan Shue Hao. "Yang Mulia, apakah Anda bersedia memberiku waktu untuk membuktikan bahwa tulisan tangan ini bukan milikku?"
Alih-alih menjawab, Shue Hao justru meledakkan tawa sumbang. "Bagaimana bisa mengelak? Kau sendiri yang mengirimnya! Pelayan keluarga Shen yang membawanya kemari. Apakah kau lupa mengapa ayahmu akhirnya buru-buru menjodohkanmu dengan Jenderal Pei? Itu karena surat-surat murahan ini membuat keluarga Shen menanggung malu besar!"
Tangan Yueli terkepal begitu erat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan. "Besok pagi, aku akan membuktikan bahwa surat itu palsu."
Shue Hao menyipitkan mata, senyum meremehkan kembali tersungging di bibirnya. "Baiklah, kuberi waktu sampai besok pagi. Tunjukkan buktinya jika kau tidak ingin seluruh ibu kota menertawakanmu."
Tekad Yueli telah membaja. Meskipun ia belum sepenuhnya memahami apa yang terjadi pada pemilik tubuh asli di masa lalu, bermodalkan logika tajam dan keberaniannya, Alya bersumpah akan membalikkan keadaan.
"Baik," jawab Yueli penuh keyakinan.
...----------------...
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu