NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Nadira Prameswari punya tiga aturan sederhana dalam hidup.

Pertama, jangan pernah percaya pada laki-laki yang terlalu sadar dirinya tampan.

Kedua, jangan memulai hari tanpa kopi.

Ketiga, jangan pernah membuang waktu untuk orang yang merasa dirinya tidak bisa dikritik.

Sayangnya, pagi itu, ketiga aturan tersebut akan diuji oleh satu orang yang sama.

Raka Adhitama.

Atau, sebagaimana dunia esports mengenalnya, Vex—kapten tim ASTRAL, pemain profesional yang wajahnya terpampang di berbagai iklan, langganan juara turnamen, dan pemilik ego yang menurut Nadira mungkin lebih besar daripada stadion tempat timnya bertanding.

Setidaknya, itulah kesan yang ia dapatkan dari semua wawancara Raka yang pernah ditontonnya.

"Dir, lo yakin mau wawancara Vex sendirian?"

Nadira menoleh kepada Dimas, editor media tempatnya bekerja. Pria itu berdiri di depan mejanya sambil membawa tablet dan ekspresi seseorang yang baru saja menyerahkan bom dengan sumbu menyala.

"Kenapa? Dia makan wartawan?"

"Enggak."

"Berarti aman."

"Dia pernah bikin tiga jurnalis pulang sebelum wawancara selesai."

Nadira mengangkat alis. "Karena pertanyaan mereka jelek?"

"Karena mereka mempertanyakan performanya."

"Bagus, dong. Berarti mereka melakukan pekerjaan mereka."

Dimas memejamkan mata sejenak, seperti sedang meminta kesabaran kepada seluruh penghuni langit.

"Nadira, tolong. Ini wawancara eksklusif. Sponsor besar, pembaca banyak, dan reputasi media kita dipertaruhkan. Jangan bikin masalah."

Nadira meraih gelas kopinya.

"Gue enggak pernah bikin masalah."

Dimas menatapnya datar.

"Lo pernah debat sama narasumber selama dua puluh menit karena dia bilang perempuan enggak paham esports."

"Itu bukan masalah. Itu edukasi publik."

"Lo juga pernah bikin direktur perusahaan kabur dari konferensi pers."

"Dia enggak bisa jawab pertanyaan sederhana."

"Dan lo pernah—"

"Oke, cukup." Nadira berdiri, memasukkan perekam suara ke tasnya. "Intinya, gue profesional."

Dimas menatapnya dengan tatapan yang jelas-jelas mengatakan bahwa ia tidak percaya satu kata pun.

Namun, mobil yang akan membawanya ke markas ASTRAL sudah menunggu.

Nadira tersenyum tipis.

Hari yang menarik, rupanya.

Markas ASTRAL terletak di sebuah gedung modern di kawasan Jakarta Selatan. Dinding kaca, logo tim berwarna biru, dan deretan layar besar membuat tempat itu lebih mirip pusat kendali pesawat daripada kantor biasa.

Nadira baru saja melewati meja resepsionis ketika seorang staf mengantarnya menuju ruang latihan.

Suara keyboard terdengar bertubi-tubi dari balik pintu.

Di dalam, lima pemain mengenakan jersey hitam bertuliskan ASTRAL. Tiga orang sedang berdiskusi di depan monitor, satu sibuk mengunyah camilan, sementara seorang laki-laki duduk paling ujung dengan headset menutupi telinganya.

Raka Adhitama.

Rambut hitamnya sedikit berantakan. Tatapannya terpaku pada layar, sementara jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. Wajahnya tenang, hampir tanpa ekspresi, seolah dunia di sekelilingnya tidak cukup penting untuk menarik perhatiannya.

Nadira berhenti sejenak.

Sial.

Laki-laki itu memang tampan.

Bukan berarti Nadira akan mengakuinya dengan suara keras.

"Mas Raka," panggil staf yang mengantarnya. "Wartawannya sudah datang."

Tidak ada jawaban.

"Mas?"

Raka mengangkat satu jari, meminta waktu.

Nadira melirik jam tangannya.

Satu menit.

Dua menit.

Tiga menit.

Dia mengembuskan napas, lalu berjalan mendekati meja Raka.

"Permisi. Saya Nadira Prameswari dari Level Up Media. Kita punya jadwal wawancara pukul sembilan tiga puluh."

Raka tetap menatap layar.

"Sebentar."

Nadira memiringkan kepala. "Sebentar versi manusia atau sebentar versi gamer?"

Salah satu pemain di sebelah Raka tersedak minumannya.

Raka akhirnya menoleh.

Mata mereka bertemu.

Dari jarak sedekat itu, Nadira bisa melihat sepasang mata gelap yang tajam dan ekspresi dingin yang seolah sudah terlatih menghadapi segala bentuk gangguan.

Raka melepas headset dari satu telinga.

"Apa?"

"Wawancara. Jadwal. Pukul sembilan tiga puluh." Nadira menunjuk jam tangannya. "Sekarang sembilan tiga puluh empat."

Raka melirik jam di monitor, lalu kembali menatapnya.

"Saya sedang menyelesaikan pertandingan."

"Dan saya sedang menunggu narasumber."

"Kalau begitu, kita sama-sama sibuk."

Nadira tersenyum.

Senyum yang biasanya membuat Dimas merasa harus segera menghubungi bagian hukum.

"Menarik. Saya kira pemain profesional punya manajer yang mengajarkan cara menghargai waktu orang lain."

Suasana ruangan mendadak sunyi.

Pemain yang tadi tersedak kini menunduk, pura-pura sibuk dengan ponselnya.

Raka menatap Nadira selama beberapa detik. Kemudian, perlahan, ia melepas headset dan berdiri.

Tingginya membuat Nadira harus sedikit mendongak.

"Nama Anda siapa tadi?"

"Nadira Prameswari."

"Baik, Nadira." Raka menekankan namanya seolah sedang menghafal sesuatu yang akan ia gunakan nanti. "Lain kali, tunggu sampai saya selesai."

"Lain kali, datang tepat waktu."

Sudut bibir Raka terangkat tipis.

Bukan senyum ramah.

Lebih seperti seseorang yang baru saja menemukan lawan menarik.

"Anda selalu bicara seperti ini kepada semua narasumber?"

"Hanya yang membuat saya menunggu."

"Berarti saya istimewa."

"Jangan terlalu bangga. Anda istimewa dalam kategori yang salah."

Seseorang di belakang mereka tertawa kecil, lalu buru-buru berpura-pura batuk.

Raka menyilangkan tangan di depan dada.

"Oke. Kita wawancara sekarang."

"Bagus."

"Tapi saya yang menentukan kapan selesai."

"Selama Anda menjawab pertanyaan, saya yang menentukan kapan wawancara selesai."

Raka mengangkat alis.

Nadira membalas tatapannya tanpa berkedip.

Untuk pertama kalinya pagi itu, Raka tampak benar-benar terjaga.

Lima belas menit kemudian, mereka duduk berhadapan di ruang media.

Perekam suara menyala. Kamera terpasang. Seorang staf ASTRAL berdiri di dekat pintu, siap mengawasi jalannya wawancara.

Nadira membuka catatannya.

"Pertanyaan pertama. ASTRAL baru saja memenangkan tiga turnamen besar berturut-turut. Banyak orang menganggap tim ini tidak punya kelemahan. Menurut Anda, apa kelemahan terbesar ASTRAL saat ini?"

Raka menyandarkan punggungnya.

"Tidak ada tim yang sempurna."

"Jadi?"

"Jadi, kami terus berlatih."

Nadira menunggu.

Raka menatapnya.

"Ada lagi?"

"Itu jawaban Anda?"

"Ya."

Nadira menurunkan pulpen.

"Menarik."

Raka tampak puas. "Terima kasih."

"Sama-sama. Saya cuma enggak menyangka kapten tim juara tiga turnamen berturut-turut bisa memberikan jawaban yang terdengar seperti slogan motivasi di kalender."

Staf di dekat pintu mendadak terbatuk.

Raka tidak tertawa.

Namun, tatapannya berubah.

"Anda ingin jawaban yang lebih menarik?"

"Saya ingin jawaban yang jujur."

"Kalau begitu, tanyakan sesuatu yang layak dijawab."

Nadira menyandarkan tubuh ke kursinya.

"Baik. Apakah kemenangan ASTRAL selama ini murni hasil kerja keras tim, atau karena Anda terlalu dominan sampai anggota lain tidak punya ruang untuk berkembang?"

Kali ini, Raka tidak langsung menjawab.

Senyum tipis di wajahnya menghilang.

"Anda pikir saya tidak memberi ruang kepada tim saya?"

"Saya pikir statistik Anda jauh lebih menonjol daripada statistik pemain lain. Saya juga melihat beberapa pertandingan ketika Anda mengambil keputusan sendiri tanpa mengikuti strategi tim."

"Itu keputusan yang memenangkan pertandingan."

"Atau keputusan yang kebetulan berhasil?"

Raka mencondongkan tubuh ke depan.

"Anda bahkan tidak pernah bermain di level profesional."

"Benar. Saya jurnalis, bukan pemain."

"Jadi, Anda tidak tahu bagaimana rasanya mengambil keputusan dalam hitungan detik."

"Dan Anda bukan jurnalis, jadi Anda mungkin tidak tahu bagaimana rasanya membedakan fakta dari pencitraan."

Keheningan jatuh di antara mereka.

Nadira tahu ia sedang menguji batas.

Namun, ia juga tahu pertanyaan itu penting.

Orang-orang menyebut Raka raja esports. Mereka memuja refleksnya, memuja kemenangannya, bahkan memuja ekspresi datarnya yang dianggap misterius.

Tapi tak seorang pun benar-benar bertanya apakah cara Raka memimpin timnya memang sebaik yang terlihat.

Raka menatapnya lama, lalu mengembuskan napas.

"Kadang-kadang, saya memang mengambil keputusan sendiri," katanya akhirnya. "Karena dalam pertandingan, kalau saya menunggu semua orang setuju, kami bisa kalah."

Nadira mengangkat pulpen.

"Jadi, Anda mengakui bahwa Anda sulit bekerja sama?"

"Saya mengakui bahwa kemenangan membutuhkan keputusan, bukan rapat."

Nadira hampir tersenyum.

Hampir.

"Jawaban yang jauh lebih baik."

"Senang bisa memenuhi standar Anda."

"Jangan khawatir. Standar saya masih bisa ditingkatkan."

Raka menggeleng kecil, tetapi kali ini ada sesuatu di matanya yang menyerupai geli.

Wawancara berlanjut selama dua puluh menit. Mereka berdebat tentang strategi, tekanan publik, dan tanggung jawab seorang kapten. Raka tetap menyebalkan, sementara Nadira tetap keras kepala.

Anehnya, semakin lama mereka berbicara, semakin sulit bagi Nadira untuk menganggap Raka sekadar pemain sombong.

Di balik jawabannya yang tajam, laki-laki itu memahami permainan dengan kedalaman yang tidak bisa dipalsukan.

Dan di balik sikap dinginnya, Raka ternyata mendengarkan setiap pertanyaan Nadira dengan saksama.

Hal itu justru lebih mengganggu daripada kesombongannya.

Wawancara selesai pukul sepuluh lewat lima belas.

Nadira membereskan barang-barangnya, lalu berdiri.

"Terima kasih atas waktunya, Mas Raka."

Raka ikut berdiri.

"Sama-sama, Mbak Nadira."

Nada suaranya terdengar terlalu sopan untuk seseorang yang baru saja berdebat dengannya selama hampir setengah jam.

Nadira mengulurkan tangan.

Raka menyambutnya.

Jabat tangan singkat.

Namun, sebelum Nadira menarik tangannya, Raka berkata, "Artikel Anda nanti pasti menarik."

"Tentu."

"Semoga tidak terlalu banyak opini."

Nadira tersenyum manis.

"Semoga performa Anda berikutnya cukup bagus untuk dibahas selain kehidupan pribadi Anda."

Tatapan Raka berubah.

Sangat singkat, tetapi cukup untuk membuat Nadira menyadarinya.

Ada sesuatu yang tidak ia sukai dari kalimat itu.

Sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar keberatan seorang atlet terhadap kritik.

Namun, sebelum Nadira sempat memikirkannya, Raka sudah melepaskan tangannya.

"Sampai jumpa di wawancara berikutnya."

"Kalau Anda datang tepat waktu."

Nadira berbalik dan berjalan keluar tanpa menunggu jawaban.

Di belakangnya, salah satu rekan setim Raka langsung berseru, "Gila, Vex. Baru kali ini ada orang yang berani ngomong begitu ke lo."

Raka mengambil headset dari meja.

"Dia berisik."

"Tapi lo senyum-senyum."

"Gue enggak senyum."

"Barusan jelas—"

"Main sana."

Tawa pecah di ruang latihan.

Raka kembali duduk di depan monitornya. Namun, ketika layar permainan menyala, pikirannya justru kembali pada perempuan yang baru saja meninggalkan ruangan itu.

Nadira Prameswari.

Jurnalis dengan pertanyaan tajam, keberanian berlebihan, dan senyum yang terasa seperti tantangan.

Raka tidak menyukai orang yang mencoba mengusiknya.

Terlebih lagi, ia tidak menyukai orang yang bisa membaca celah di balik pertahanannya.

Dan perempuan itu baru saja membuktikan bahwa ia bisa melakukan keduanya.

Raka mengetuk meja pelan.

"Nyebelin," gumamnya.

Anehnya, ia sudah menantikan pertemuan berikutnya.

Sementara itu, di dalam lift, Nadira membuka ponselnya dan mengetik pesan untuk Dimas.

Wawancara selesai. Narasumbernya menyebalkan, jawabannya lumayan, egonya perlu renovasi.

Ia menekan tombol kirim.

Lalu tersenyum sendiri.

Hari yang menarik, memang.

Nadira hanya belum tahu bahwa laki-laki yang baru saja ia kritik itu bukan sekadar pemain esports terkenal.

Raka Adhitama menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada kemenangan di arena.

Dan suatu hari nanti, rahasia itu akan menyeret Nadira tepat ke tengah kehidupannya.

Permainan mereka baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!