Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.
Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.
Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 — Pria yang Mulai Menyesal
Malam itu, Alexander Wu duduk sendirian di ruang kerjanya, menatap surat tua yang tergeletak di atas meja.
Surat terakhir William Wang.
Selama bertahun-tahun, ia mengenal William hanya sebagai pengusaha yang pernah bekerja sama dengan ayahnya. Ia tidak pernah membayangkan bahwa lelaki itu mungkin menyimpan rahasia yang dapat menghancurkan dua keluarga sekaligus.
Namun, satu kalimat dalam surat tersebut membuat pikirannya terus berputar.
Victor, jika sesuatu terjadi kepadaku, pastikan Celine tidak pernah mengetahui siapa yang sebenarnya berada di dalam mobil malam itu. Dia tidak bersalah atas keputusan kita.
Alexander membaca kalimat tersebut berulang kali.
Siapa yang dimaksud William dengan keputusan kita?
Dan mengapa ayah Celine harus dilindungi dari kebenaran yang berkaitan dengan keluarganya sendiri?
Ia mengambil ponsel dan menghubungi Victor.
Tidak ada jawaban.
Alexander mencoba sekali lagi, tetapi panggilannya tetap tidak diangkat.
“Selalu seperti ini,” gumamnya kesal.
Ayahnya telah mengajarinya banyak hal tentang bisnis, kekuasaan, dan cara menjaga nama keluarga. Namun, setiap kali Alexander bertanya tentang masa lalu, Victor selalu menutup pembicaraan dengan alasan bahwa ada hal-hal yang lebih baik tidak diketahui.
Dulu, Alexander menerima jawaban itu tanpa banyak bertanya.
Sekarang, ia mulai menyadari bahwa kepatuhannya mungkin telah membuatnya menjadi bagian dari kebohongan besar.
Dan di tengah semua rahasia itu, ada satu orang yang terus muncul dalam pikirannya.
Celine.
Ia teringat wajah mantan istrinya ketika menolak permintaan maafnya. Tidak ada lagi tatapan penuh harap, tidak ada lagi senyum kecil yang dahulu selalu diberikan Celine setiap kali ia pulang terlambat.
Yang tersisa hanya ketegasan seorang perempuan yang telah belajar hidup tanpanya.
Alexander memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya, penyesalannya tidak hanya berkaitan dengan perceraian mereka.
Ia mulai menyesali semua tahun ketika Celine berada tepat di sampingnya, tetapi ia memilih untuk tidak benar-benar melihatnya.
Keesokan paginya, Alexander tiba di kantor lebih awal dari biasanya.
Ia meminta sekretarisnya membatalkan dua pertemuan dan menghubungi Daniel Zhou, pengacara yang kini mewakili Celine.
“Apakah Tuan Wu ingin membuat janji konsultasi?” tanya Daniel melalui telepon.
“Aku ingin menyerahkan dokumen yang mungkin berkaitan dengan kematian William Wang.”
Daniel terdiam sejenak.
“Dokumen apa?”
“Surat terakhir William kepada ayahku. Aku juga memiliki beberapa catatan dari arsip lama Wu Group.”
“Kalau dokumen itu relevan, kirimkan salinannya kepada tim hukum kami untuk diperiksa.”
“Aku ingin bertemu Celine dan menjelaskannya secara langsung.”
“Klien saya tidak berkewajiban menemui Anda.”
Jawaban itu membuat Alexander mengatupkan rahang.
“Aku tidak sedang membicarakan pernikahan kami. Ini tentang ayahnya.”
“Kalau begitu, Anda tidak perlu bertemu dengannya. Kirimkan bukti yang Anda miliki. Kami akan menanganinya sesuai prosedur.”
Alexander terdiam.
Bahkan Daniel tidak lagi memperlakukannya seperti seseorang yang berhak mendapatkan perhatian khusus hanya karena ia pernah menjadi suami Celine.
“Aku mengerti,” katanya akhirnya.
Setelah panggilan berakhir, Alexander menatap surat di tangannya.
Ia bisa saja menyimpan surat itu dan menunggu sampai menemukan jawaban sendiri. Itu yang biasanya ia lakukan ketika menghadapi masalah perusahaan.
Namun, kali ini, menyembunyikan informasi hanya akan membuat Celine semakin jauh dari kebenaran.
Ia memindai surat tersebut, lalu mengirimkannya kepada Daniel dengan pesan singkat.
Saya memiliki dokumen asli. Silakan periksa keasliannya dan beri tahu saya jika diperlukan keterangan tambahan.
Untuk pertama kalinya, Alexander memilih memberikan informasi tanpa meminta imbalan berupa kesempatan bertemu Celine.
Meski demikian, ia tahu satu tindakan benar tidak akan menghapus bertahun-tahun kesalahan.
Di Shen Capital, Celine sedang memeriksa dokumen ketika Daniel meneleponnya.
“Ada sesuatu yang perlu kau lihat,” kata Daniel. “Alexander mengirimkan surat terakhir ayahmu.”
Tangan Celine berhenti di atas kertas.
“Surat dari Ayah?”
“Benar. Aku belum bisa memastikan apakah ini satu-satunya surat atau apakah ada bagian lain yang belum diserahkan. Aku sedang memeriksa keasliannya.”
Celine meminta Daniel mengirimkan salinannya.
Ketika dokumen itu muncul di layar ponselnya, ia membaca setiap baris dengan napas tertahan.
Tulisan tangan ayahnya masih sama seperti yang diingatnya. Bentuk huruf, cara William menuliskan namanya, bahkan tekanan tinta di beberapa bagian terasa begitu akrab.
Namun, isi surat itu meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Pastikan Celine tidak pernah mengetahui siapa yang sebenarnya berada di dalam mobil malam itu.
Celine menutup mata.
Selama ini, ia mencari orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Ia membayangkan bahwa seseorang telah merencanakan kecelakaan itu, memalsukan dokumen, lalu menyembunyikan bukti untuk melindungi kepentingan keluarga Wu.
Sekarang, surat tersebut menunjukkan bahwa William mungkin mengenal orang yang berada di dalam mobil itu.
Bahkan mungkin telah membuat kesepakatan dengannya.
“Daniel, aku ingin melihat dokumen aslinya.”
“Kita akan mengaturnya. Tapi aku ingin kau berhati-hati. Surat ini belum membuktikan bahwa Alexander terlibat dalam kecelakaan itu.”
“Aku tahu.”
“Dan jangan biarkan penyesalannya membuatmu melupakan tujuanmu.”
Celine menatap layar.
“Aku tidak akan kembali kepadanya hanya karena dia akhirnya melakukan sesuatu yang benar.”
“Bagus. Kita akan mengikuti bukti, bukan perasaan.”
Setelah panggilan berakhir, Celine meletakkan ponselnya.
Ia tidak menyangkal bahwa menerima surat dari Alexander membuat hatinya terasa aneh. Ada bagian kecil dalam dirinya yang masih mengingat pria yang pernah dicintainya.
Namun, ia tidak lagi membiarkan kenangan menentukan keputusannya.
Jika Alexander ingin membantu, ia harus melakukannya karena kebenaran memang harus diungkapkan, bukan karena berharap Celine akan kembali.
Siang harinya, Alexander melihat Celine dari kejauhan ketika ia menghadiri pertemuan bisnis di gedung yang sama dengan kantor Shen Capital.
Celine baru keluar dari lift bersama Adrian. Keduanya sedang membahas dokumen, dan Adrian sesekali menunjuk halaman yang dipegangnya.
Ketika Celine mengangkat wajah, ia melihat Alexander berdiri di dekat lobi.
Langkahnya melambat sesaat.
Alexander berharap ia akan mendekat.
Ia berharap Celine akan bertanya tentang surat itu, mungkin bahkan mengucapkan terima kasih.
Namun, Celine hanya mengangguk singkat sebelum kembali berbicara kepada Adrian.
Sikap sederhana itu terasa lebih menyakitkan daripada kemarahan.
Alexander menghampiri mereka.
“Celine.”
Ia berhenti beberapa langkah di hadapan mantan istrinya.
“Aku sudah mengirimkan surat ayahmu kepada Daniel.”
“Aku sudah menerimanya. Pengacaraku akan menghubungimu jika membutuhkan dokumen tambahan.”
“Aku ingin menjelaskan isi surat itu.”
“Kalau ada informasi yang relevan, sampaikan kepada Daniel.”
“Aku tidak meminta apa pun darimu,” kata Alexander, suaranya mulai kehilangan ketenangan. “Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku sedang berusaha membantu.”
Celine menatapnya lama.
“Kalau begitu, teruslah membantu. Jangan mengharapkan sesuatu sebagai balasannya.”
Alexander terdiam.
Adrian tidak menyela. Ia berdiri di samping Celine, memberikan ruang bagi keduanya untuk menyelesaikan percakapan.
“Aku menyesal, Celine,” ujar Alexander akhirnya. “Bukan hanya karena kau pergi. Aku menyesal karena selama kita menikah, aku membuatmu merasa sendirian.”
Untuk pertama kalinya, Celine tidak langsung menjawab.
Pengakuan itu terdengar tulus. Mungkin Alexander benar-benar mulai memahami apa yang telah dilakukannya.
Tetapi penyesalan tidak dapat mengembalikan malam-malam ketika Celine menangis sendirian. Penyesalan tidak dapat menghapus penghinaan yang ia rasakan ketika surat cerai diletakkan di hadapannya.
“Aku percaya kau menyesal,” katanya pelan. “Tapi aku tidak bisa mengubah masa lalu hanya karena sekarang kau memahaminya.”
“Aku tidak meminta kita kembali seperti dulu.”
“Lalu apa yang kau inginkan?”
Alexander membuka mulut, tetapi tidak menemukan jawaban yang jujur.
Ia ingin Celine kembali. Ia ingin melihat perempuan itu tersenyum kepadanya lagi. Ia ingin menjadi orang pertama yang dicari Celine ketika menghadapi masalah.
Namun, ia tahu bahwa mengatakannya hanya akan membuktikan betapa egoisnya dirinya.
“Aku ingin melakukan hal yang benar,” jawabnya akhirnya.
“Kalau begitu, lakukanlah. Bahkan jika pada akhirnya aku tidak pernah memaafkanmu.”
Celine berbalik dan berjalan bersama Adrian menuju pintu keluar.
Alexander tidak mengejar.
Kali ini, ia membiarkan Celine pergi.
Namun, ketika melihat Adrian membukakan pintu mobil untuknya dan Celine mengucapkan terima kasih dengan senyum kecil, rasa cemburu kembali menusuk dadanya.
Ia segera menyadari bahwa penyesalan tidak otomatis membuatnya menjadi pria yang lebih baik.
Ia masih ingin memiliki sesuatu yang sudah dilepaskannya sendiri.
Dan ia harus belajar membedakan cinta dari keinginan untuk menguasai.
Malam itu, Alexander pulang ke kediaman keluarga Wu dan langsung menemui ayahnya.
Victor sedang duduk di ruang kerja ketika Alexander meletakkan salinan surat William di atas meja.
“Aku sudah menyerahkan surat ini kepada Daniel Zhou.”
Wajah Victor berubah.
“Kau melakukan apa?”
“Celine berhak mengetahui kebenaran tentang ayahnya.”
Victor berdiri dengan marah.
“Kau tidak mengerti apa yang sedang kau lakukan! Dokumen itu bisa menghancurkan keluarga kita!”
“Kalau keluarga kita harus hancur karena sebuah kebenaran, mungkin memang ada sesuatu yang salah sejak awal.”
Victor menatap putranya seakan tidak mengenalinya.
“Kau melakukan semua ini karena perempuan itu?”
“Tidak.” Alexander menahan tatapan ayahnya. “Aku melakukannya karena aku sudah terlalu lama memilih untuk tidak bertanya.”
Victor meraih surat tersebut, tetapi Alexander menahannya.
“Jangan sentuh.”
Keduanya saling menatap dalam keheningan yang menegangkan.
Lalu Victor berkata dengan suara rendah, “Kau akan menyesali keputusanmu.”
Alexander menatapnya tanpa gentar.
“Mungkin. Tapi setidaknya kali ini, aku akan tahu kesalahan apa yang kulakukan.”
Ia mengambil kembali surat itu dan meninggalkan ruangan.
Di lorong, ponselnya bergetar. Sebuah pesan anonim muncul di layar.
“Kau akhirnya mulai menyesal, Alexander. Tapi penyesalanmu datang terlambat. Tanyakan kepada ayahmu siapa yang memerintahkan mobil kedua mengikuti William malam itu.”
Alexander membaca pesan tersebut berulang kali.
Mobil kedua.
Ia teringat satu detail dalam arsip lama: sebuah kendaraan yang tercatat memasuki jalan menuju lokasi kecelakaan, tetapi tidak pernah muncul dalam laporan resmi.
Tangannya perlahan mengepal.
Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi hanya takut kehilangan Celine.
Ia takut mengetahui bahwa keluarganya mungkin telah melakukan sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia perbaiki.
Sementara itu, di apartemennya, Celine menyimpan salinan surat William di dalam map khusus. Ia menatap foto ayahnya yang diletakkan di meja, lalu berbisik lirih.
“Aku akan menemukan kebenarannya, Ayah. Siapa pun yang terlibat, aku tidak akan berhenti.”
Di dua tempat berbeda, mantan suami dan istri itu mulai bergerak menuju rahasia yang sama.
Alexander mulai menyesali masa lalunya.
Celine mulai membangun masa depannya.
Namun, ketika kebenaran tentang malam kematian William akhirnya terungkap, penyesalan Alexander mungkin tidak akan cukup untuk menyelamatkan hubungan mereka—atau bahkan menyelamatkan dirinya sendiri.