Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
"Kalian tidak terlalu lama menungguku ... Kan?' sebuah pertanyaan yang membuat seluruh ruangan mendadak senyap dan mencekam.
Mata kelabu milik Alex memindai wajah Gorgio dan Lotta yang pucat, tetapi saat ia beralih pada sosok kurus yang duduk di sisi lain.
Wajah Charoen tampak segar tanpa riasan berlebihan. Baju hijaunya yang melekat kontras dengan warna kulitnya yang putih tanpa cela. Tulang selangka yang indah tercetak jelas dan ...
"Sumpalan tisu?" suara Alex yang bingung membuat semua menoleh pada Char yang duduk tenang di sana.
"Char ...," bisik Lotta, lalu buru-buru menyelipkan lembaran tisu yang keluar dari sela-sela baju kemben itu.
"Eh ...," Char tersadar, ia sedikit menunduk dan mengempit cepat-cepat lengannya.
Wajahnya memerah karena malu, kesan pertama bukan terlihat dirinya yang elegan. Melainkan tisu yang belum sepenuhnya dimasukkan ke dalam rongga baju.
'Menarik,' gumam Alex dalam hati.
"Siapkan makanan!"
Kembali suaranya membuat siapapun ketakutan. Ia duduk layaknya raja. Semua pelayan melayaninya terlebih dahulu, nyaris semua tangan maid sibuk mengisi piring pria itu.
"Tuan Muda ... Ini adalah daging domba yang diambil dari peternakan di Desa Coatland!"
"Tuan Muda ... Sayur ini dari perumahan kaca milik keluarga di desa yang sama!
"Tuan muda ... Omelet ini dari telur peternakan keluarga ...."
Semua pelayan menyebut seluruh aset milik tuannya dengan nada sombong. Mereka ingin merendahkan tamu sang tuan rumah.
Alex mengeraskan rahangnya, jika tadi ia bisa mempermalukan tamunya. Kini malah dirinya yang dibuat malu oleh pekerjanya sendiri.
Alexander tahu persis apa yang sedang dilakukan para pelayannya. Budaya kepatuhan yang berlebihan di Kastil Romanov kerap berubah menjadi kesombongan terselubung saat ada tamu luar yang dianggap "rendahan" bertandang.
Tak!
Suara pisau makan yang dihentakkan di meja oleh sang empunya, membuat seluruh gerakan tangan maid berhenti.
Alexander melirik Raph dengan ekor mata yang dingin. Padahal telah acap kali para maid dilatih agar lebih terhormat melayani tuan mereka ketika ada tamu datang.
Para pelayan yang semuanya wanita itu langsung gemetaran. Wajah mereka pucat, sadar jika telah melakukan kesalahan besar.
Lalu melihat piring tuannya yang penuh dengan semua hidangan, tambah pucat lah mereka.
"Tu ... Tuan ...."
Kepala maid langsung mengambil alih situasi, mengganti piring tuannya dengan gerakan cepat dan anggun. Lalu memberi arahan agar yang lain melayani tamunya melalui gerakan kepalanya saja.
Hanya sepersekian detik, semua makan tanpa suara. Hanya terdengar denting garpu dan pisau di piring mereka.
Selesai makan, Alexander berdiri dengan anggun dan meletakkan serbet di atas piringnya yang kosong. Semua pun melakukan hal sama, Alex melihat piring tamunya yang masih ada sisa makanan.
"Apa makanannya tak enak?" tanyanya.
Gorgio pucat, piringnya masih ada sisa potongan bawang bombai. Ia alergi, walau telah memakan obat anti alergi di rumah, ia tak berani makan banyak bawang itu.
"Tu ...."
"Sudah cukup!" potong Alexander tak peduli.
Ia pun pergi meninggalkan ruang makan dan diikuti Raphael, asistennya begitu juga Gorgio, istri dan Char.
Char masih sedikit lapar, ia tadi hanya makan roti lapis strawberry dari perusahaan tempat ia bekerja. Tangannya menjulur ke piring ayahnya, ingin mengambil potongan bawang bombay yang sangat enak itu. Lalu dengan cepat memasukkan potongan itu ke dalam mulutnya dan mengunyah cepat dan buru-buru menelannya.
Ketika sampai di ruangan, semua berhenti karena Alexander sudah berhenti berjalan.
"Jika kau masih lapar. Aku bisa menyuruh maid membawamu kembali ke meja makan dan kau bisa puas makan sampai perutmu besar!"
Lagi-lagi suara Alexander menggema di ruangan itu. Lotta memelototi putrinya, gegas ia menghapus jejak saus mentega yang menempel di sela-sela bibir Char.
Alexander menaikkan sedikit sudut bibirnya, ia kembali mengimbangi skor mempermalukan Char.
Wajah Charoen merona merah untuk kedua kalinya malam ini. Namun, alih-alih merunduk ketakutan seperti kedua orang tuanya, gadis itu mengusap sudut bibirnya sendiri dengan punggung tangan lalu tegak berdiri. Manik mata jernihnya menatap langsung ke arah Alexander yang sedang memperhatikannya dengan sudut bibir terangkat tipis.
"Terima kasih atas tawarannya, Tuan Romanov," balas Charoen tenang, suara merdunya tak bergetar sedikit pun. "Tapi saya tidak terbiasa menyia-nyiakan makanan. Bawang bombai karamel itu terlalu sayang untuk dibuang begitu saja."
Gorgio hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar keberanian putrinya, sementara Lotta meremas gaunnya dengan kepalan tangan memutih. Mereka takut kata-kata Charoen akan memicu kemarahan sang mafia.
Alis Alexander naik, jawaban cukup berani dari mulut seorang gadis kurus.
"Duduklah!" suruhnya dengan suara tenang ... dan datar.
Mereka duduk, Alexander kembali menggerakkan jarinya, dengan sigap Raph berbalik ke meja dan mengambil dokumen serta menyerahkannya ke arah Gorgio.
Dengan tangan gemetar, Gorgio menerima dan membuka dokumen itu. Matanya membaca setiap ketikkan huruf yang ada di surat perjanjian 'Jaminan'.
"Satu tahun pernikahan. Tanpa hubungan fisik, perasaan dan menjaga privasi masing-masing. Berlaku mesra jika di publik dan pertemuan keluarga. Kontrak berakhir satu minggu setelah masa pernikahan satu tahun. Kompensasi untuk Char setelah pernikahan, villa di bukit Denhills yang bernilai puluhan juta dolar, asuransi jiwa senilai ribuan dolar dan satu perusahaan dengan saham seratus persen untuknya," Gorgio menelan saliva.
Gorgio meremas pinggiran dokumen itu, tangannya gemetar hebat. Bukan hanya karena nominal fantastis yang tertera di sana, tetapi juga karena rasa malu terselubung. Pria itu menyadari bahwa pria asing di depannya justru memberikan nilai yang jauh lebih tinggi untuk Charoen ketimbang dirinya yang merupakan ayah kandungnya sendiri.
Lotta yang mencuri pandang ke lembaran kertas tersebut ikut terperangah. Matanya membelalak membaca kompensasi yang akan diterima putri tunggalnya: sebuah vila mewah, asuransi kelas atas, hingga kepemilikan penuh satu perusahaan.
"Ada satu hal yang harus ditekankan dan tidak dicantumkan di sana, Torrer!" suara Alexander kembali menghantam ruangan.
Gorgio menatap pria dengan kekuasaan tanpa batas itu dengan pandangan kusut, resah dan takut. Ia yakin, semua pemberian ini tanpa ada efek apapun.
"Jika jaminan ...," Alexander memutus ucapannya sambil menatap Charoen. "Jika putrimu melanggar pantanganku, dia keluar tanpa membawa apapun!" ralatnya menyambung.
"Melanggar ... Apa pantangannya?" tanya Lotta dengan suara bergetar.
"Jika dia jatuh cinta dan merasa aku miliknya!" jawaban Alexander membuat semua orang menatap Char.
Wajah rupawan, harta melimpah, kekuasaan dan jaminan sosial. Siapa yang tidak mau Alexander berada di sisinya seumur hidup.
"Apa lagi kalau sampai menggunakan cara licik ... Seperti hamil anakku ...."
Char tentu gelisah ditatap sedemikian rupa oleh Alexander. Sungguh pria itu merendahkannya sebagai perempuan.
"Saya bisa menjanjikan satu hal padamu ... Tuan Romanov!" suara Char keluar tanpa gentar sedikit pun, malah bisa dibilang ada nada marah di sana.
"Aku pastikan ... Kau bukan pria idamanku sama sekali!"
Bersambung.
Hahahaha ...
Got you Alexander!
next?
dikh
begitu doang,sebut juga dunk si Grace itu biang dari semua fitnahan tersebut
semakin seru nh,gak sabar nunggu reaksi keluar char terutama ayahnya n si grace
si Grace carmuk.banget
gengsi Segede gunung