Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Mobil Rolls-Royce yang dipenuhi bekas tembakan dan goresan sengatan api melaju memasuki pelataran Mansion Vane. Raungan sirine internal mansion menggema halus, mengisyaratkan status *Red Alert* di seluruh perimeter area kediaman utama.
Begitu mobil berhenti di depan tangga utama, puluhan pengawal bersenjata lengkap berbaris membentuk barikade pelindung. Asisten pribadi Adrian, dengan wajah pucat memburu, membuka pintu kendaraan.
"Tuan Besar! Nyonya! Apakah Anda berdua terluka?!" serunya cemas saat melihat kondisi bagian luar mobil yang hancur di beberapa sisi.
Adrian melangkah keluar terlebih dahulu, merapikan lengan kemeja hitamnya yang sedikit terlipat. Aura dominasi yang memancar darinya begitu dingin, sanggup membekukan udara malam di sekitar pelataran mansion.
"Kami tidak apa-apa," ujar Adrian singkat, suaranya berat dan sarat akan ancaman membunuh. Ia berbalik, mengulurkan tangannya dengan lembut untuk membantu Aura turun dari mobil.
Aura menerima uluran tangan itu. Gaun malam zamrud mewahnya sedikit ternoda debu mesiu di bagian hem bawah, namun berdiri tegak dengan dagu terangkat tinggi. Tidak ada sedikit pun raut ketakutan atau syok di wajahnya. Mata elang milik mantan agen elit di dalam jiwanya justru memancarkan pendar semangat tempur yang menyala-nyala.
"Bawa seluruh rekaman manifes kendaraan musuh dan data amunisi kelompok *Black Viper* ke ruang komando bawah tanah," perintah Aura secepat senapan mesin kepada kepala tim intelijen yang berdiri di dekat tangga. Bicaranya meluncur tanpa jeda. "Periksa frekuensi radio taktis yang mereka gunakan! Pasukan bayaran sekelas mereka pasti menggunakan pemancar sinyal *encrypter* lokal dalam radius lima kilometer dari lokasi penyergapan tadi!"
Kepala tim intelijen menatap Aura dengan mata membelalak heran dan takjub. Dalam situasi di mana wanita biasa akan pingsan atau menangis histeris, Nyonya Muda Vane Group ini justru langsung mendiktekan langkah-langkah investigasi taktis tingkat tinggi secara presisi!
"B-baik, Nyonya Muda! Segera dilaksanakan!" jawab kepala intelijen sambil membungkuk dalam-dalam.
Adrian menatap istrinya dengan pandangan yang sarat akan rasa kagum dan cinta yang pekat. Ia merangkul pinggang Aura dari samping, menarik wanita itu mendekat.
"Lukas sudah melompati batas terakhirnya malam ini, Aura," bisik Adrian di dekat telinga Aura, kekehan dingin terlontar dari tenggorokannya. "Dia pikir dia bisa bersembunyi di balik nama baik Keluarga Utama Eropa setelah mengirim tentara bayaran untuk menghabisimu."
Aura melirik suaminya dengan senyum sinis yang sangat menantang. "Bersembunyi? Mas Sepupu konyol itu tidak bakal punya tempat bersembunyi malam ini, Adrian. Kalau dia berani bermain dengan cara kotor di jalanan... kita akan meratakan seluruh pilar finansial dan pengaruhnya di Eropa sebelum subuh tiba!"
Ruang Komando Taktis Bawah Tanah Mansion Vane.
Ruangan berteknologi tinggi itu dipenuhi oleh belasan monitor raksasa yang menampilkan grafik pergerakan saham, analisis jaringan siber global, serta peta satelit real-time. Beberapa analis data senior Vane Group bekerja dengan jemari menari cepat di atas papan ketik.
Adrian duduk di kursi komando utama, sementara Aura berdiri tepat di sampingnya, memegang *tablet* data yang terhubung langsung ke terminal akun rahasia *V-Core Investments*.
"Nyonya," puji kepala analis data Vane Group dengan nada gemetar kagum. "Sinyal radio *encrypter* musuh yang Anda lacak baru saja membawa kami ke lokasi markas sementara Lukas Vane. Dia berada di penthouse Hotel Grand Imperial, sedang bersiap melarikan diri menggunakan helikopter pribadi jam empat pagi nanti!"
"Melarikan diri?" Aura terkekeh dingin. Bicaranya langsung menyambar secepat senapan mesin, mendiktekan strategi pembalasan dendam yang melumpuhkan dari segala sisi!
"Jangan biarkan dia menginjakkan kaki di helipad!" cecar Aura secepat peluru tanpa jeda napas. "Pertama, bekukan seluruh akun penampung *L-Vane Holdings* di Zurich menggunakan data skandal judi yang aku dapatkan di meja makan tadi! Kedua, alihkan kepemilikan 15% saham cabang Eropa milik Lukas ke akun *V-Core* lewat transaksi pasar gelap London yang buka tiga puluh menit lagi! Dan ketiga... kirim bukti kepemilikan transaksi sewa kelompok *Black Viper* langsung ke meja Dewan Tetua di Eropa!"
Seluruh analis di ruang komando mematung sejenak, ternganga oleh deretan perintah taktis yang terintegrasi sempurna antara serangan finansial, hukum adat, dan isolasi fisik!
"T-tapi Nyonya..." potong salah satu analis ragu, "pembekuan akun Zurich butuh otorisasi dari tiga direktur utama—"
"Aku yang memberikan otorisasinya," potong Adrian dengan suara berat yang mutlak. Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi komando, menatap seluruh analisnya dengan pandangan membekukan. "Lakukan setiap kata yang diucapkan istriku. Sekarang."
"Baik, Tuan Besar!" para analis langsung bekerja dengan kecepatan penuh.
Aura melipat kedua tangannya di dada, menyaksikan layar-layar monitor raksasa di depannya berganti warna merah satu per satu saat pilar-pilar kekuasaan Lukas Vane dihancurkan secara sistematis dari jarak jauh.
Hanya dalam waktu dua puluh menit, imperium bisnis yang dibangun Lukas selama sepuluh tahun ambruk total tanpa tersisa!
"Lukas resmi bangkrut dan kehilangan seluruh hak warisnya di Keluarga Utama Eropa," ujar kepala analis dengan mata berbinar takjub. "Dewan Tetua Eropa baru saja mengeluarkan perintah penangkapan internal atas nama Lukas Vane atas tuduhan pengkhianatan dan pencucian uang!"
Aura tersenyum puas, sebuah kepuasan taktis yang membuat aura kecantikannya makin terpancar memukau di bawah pendar lampu monitor.
"Selesai sudah permainan Mas Sepupu," gumam Aura santai.
Adrian berdiri dari kursi komandonya, melangkah mendekati Aura. Pria itu mengulurkan tangannya, memutar tubuh Aura agar menghadapnya secara penuh. Mata gelap Adrian menatap lurus ke dalam mata bulat Aura, dipenuhi oleh campuran antara rasa cinta yang mendalam, rasa bangga, dan hasrat posesif yang membara.
"Kamu baru saja meratakan musuh terbesar keluargaku tanpa melepaskan satu peluru pun di ruangan ini, Aura," bisik Adrian dengan suara rendah yang seksi, jemarinya yang hangat mengusap lembut rahang halus istrinya.
Dada Aura berdesir hebat. Tatapan intens dari Raja Mafia di depannya ini selalu berhasil meruntuhkan pertahanan dingin dalam jiwanya.
"Aku kan cuma menyelesaikan apa yang mereka mulai," balas Aura, intonasinya sedikit melunak meski bicaranya tetap cepat. "Lagipula... mana mungkin aku biarkan orang konyol seperti dia merusak mansion dan mengganggu ketenanganku bersamamu?"
Adrian terkekeh renyah—sebuah suara rendah dari dalam dada yang terdengar sangat hangat. Pria itu mendekatkan wajahnya, mendaratkan ciuman dalam yang sarat akan rasa syukur dan kepemilikan di bibir Aura.
Aura memejamkan mata, menyandarkan kedua tangannya di dada bidang Adrian, membalas ciuman itu dengan kehangatan yang tak lagi ia sembunyikan.
Namun... di tengah momen romantis dan penuh kebanggaan di ruang komando taktis yang megah itu... sifat ceroboh bawaan jiwa Aura yang selalu kumat setiap kali ia merasa terlalu lega atau canggung kembali berulah di saat yang paling tidak terduga!
Saat Aura hendak melepaskan kecupan itu dan melangkah mundur untuk mengambil cangkir tehnya, ujung tumit sepatu *pumps*-nya tersangkut di jalur kabel serat optik yang terpasang di lantai!
"Waa! Sialan, kabel lagi—!"
Aura hilang keseimbangan total dan tubuhnya meluncur jatuh ke belakang!
*Greb!*
Tentu saja, refleks kelas dunia milik Adrian bergerak secepat kilat. Lengan kokoh sang CEO Mafia menyambar pinggang Aura dari belakang dalam pecahan detik, menarik tubuh wanita itu rapat-rapt kembali ke dalam dekapannya hingga dada mereka menempel tanpa celah!
Aura berkedip-kedip konyol di pelukan Adrian, matanya yang bulat menatap wajah suaminya dari jarak beberapa sentimeter.
Para analis data yang masih berada di ruangan itu pura-pura sibuk menatap layar monitor mereka, menahan senyum menyaksikan pemandangan yang sudah menjadi rahasia umum di antara para pengawal Vane Group.
Adrian menatap wajah merona Aura, lalu sebuah tawa bahagia dan hangat meluncur dari dada bidangnya.
"Setiap kali kamu baru saja menjadi strategi pertempuran yang paling menakutkan di dunia," bisik Adrian lembut di dekat earlobe Aura, kekehan renyahnya membuat dada Aura berdesir hebat, "kamu selalu menutupnya dengan jatuh kembali ke dalam pelukanku, Istriku."
Wajah Aura seketika membara merah panas sampai ke ujung telinga!
"I-itu kabel serat optiknya dipasang tidak rapi!" elak Aura secepat kilat, bicaranya yang serba cepat kembali keluar seperti peluru untuk menyelamatkan harga dirinya. "Lagipula teknisi ruang komandomu ini bagaimana sih?! Kenapa kabelnya menjuntai di mana-mana?! Bikin orang terpeleset saja!"
Adrian tidak melepas lingkar tangannya di pinggang Aura. Sebaliknya, pria itu justru mengangkat tubuh Aura dalam papahan hangat, membawanya keluar dari ruang komando menuju kamar utama mereka.
"Terserah apa katamu, Nyonya Vane," ujar Adrian lembut sambil mengecup pipi Aura yang merona. "Tapi malam ini... kamu tidak punya alasan lagi untuk kabur dari pelukanku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘