NovelToon NovelToon
Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Terjebak Dalam Kiamat Zombie

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Hari Kiamat / Zombie
Popularitas:480
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?

Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.

Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 4

Halaman vila yang tadinya sunyi mendadak berubah menjadi neraka bagi pasukan Aegis.

Dari balik dinding palsu dan pot tanaman beton, empat pucuk senapan mesin otomatis *turret* muncul dan langsung memberondongkan peluru tanpa ampun. Dua prajurit Aegis yang berada paling dekat dengan truk langsung tumbang seketika sebelum sempat mengangkat senjata.

"Jebakan! Berlindung!" teriak Marcus, melompat ke balik bangkai truk taktisnya sementara peluru-peluru menghantam bodi logam truk dengan dentang keras.

Tiga prajurit sisanya berpencar, mencoba mencari perlindungan di balik pilar-pilar selasar vila. Namun, Hayden sudah memprediksi pergerakan mereka.

Jemari Hayden menekan tombol lain di panel kontrol. Permukaan lantai marmer selasar di area tertentu mendadak terbuka, melepaskan semburan uap nitrogen cair bersuhu ekstrem. Dua prajurit yang sedang berlari di area tersebut berteriak histeris saat kaki dan tubuh mereka membeku seketika dalam hitungan detik, mengubah mereka menjadi patung es sebelum akhirnya retak dan hancur berkeping-keping.

"Sialan kau, Hayden!" geram Marcus dari balik truk, matanya menyala penuh amarah melihat pasukannya tersisa satu orang.

Hayden mematikan sistem *turret* untuk menghemat amunisi dan berpindah ke mikrofon pengeras suara. Suaranya bergema dingin di seluruh halaman.

"Vaksin ini tidak akan jatuh ke tangan Aegis, Marcus. Pergi sekarang, atau kamu akan jadi koleksi patung es di sini."

Marcus tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melempar sebuah granat asap ke tengah halaman untuk menutupi pandangan *turret*, lalu memberi kode pada prajurit terakhirnya untuk bergerak menuju pintu samping vila dengan perlindungan asap.

"Kamu pikir jebakan mainan ini bisa menghentikanku?" suara Marcus terdengar penuh ancaman dari balik kabut asap."Kita mundur!" Hayden yang mendengar itu tersenyum miring. Mungkin pria itu telah mundur tapi dia akan kembali untuk merebut vaksin."

Hayden mengepalkan tangannya erat-erat di atas konsol kontrol. Layar monitor yang tadinya menunjukkan grafik sinyal pemancar kini hanya menampilkan garis datar bergelombang dengan tulisan merah berkedip: *SIGNAL CORRUPTED*. Pemancar jarak jauh vila telah hancur, kemungkinan akibat ledakan peledak plastik yang dipasang pasukan Marcus di gerbang tadi.

"Sial, kalau begini korban yang selamat tidak akan mendapatkan vaksinasi. Sementara untuk pergi ke Fasilitas Oase membutuhkan waktu beberapa hari karena jalan dipenuhi oleh zombie, dan Marcus tidak akan membiarkanku membawa vaksin ini ke Oase," umpat Hayden seraya memukul tepi meja panel.

Keadaan makin terdesak. Tanpa sinyal radio, ilmuwan di Fasilitas Oase tidak akan pernah tahu bahwa vaksin 'Genesis' masih utuh dan sedang bergerak menuju mereka. Mereka bisa saja menutup total pintu kedap udara fasilitas tersebut atau bahkan mengevakuasi diri, menganggap proyek penawar wabah ini telah gagal total.

Di sisi lain, melintasi jalan darat sepanjang ratusan kilometer dengan *Armored Rover* di tengah kepungan jutaan zombie agresif—ditambah kejaran pasukan Marcus yang mengintai dari balik bayangan—sama saja dengan menyerahkan diri ke dalam lubang kematian.

Hayden memejamkan mata sejenak, mengatur napasnya yang memburu demi menjernihkan pikiran. Ia menatap tiga tabung biru di dalam tas taktisnya. Vaksin ini adalah satu-satunya alasan dunia masih memiliki harapan, dan ia tidak boleh menyerah hanya karena satu pemancar yang rusak.

Pria itu kembali menatap layar peta topografi wilayah. Sinar matanya tertahan pada sebuah titik pemancar cadangan tua milik militer yang terletak di puncak bukit, sepuluh kilometer dari vilanya—jalur memotong menuju Oase.

"Kalau sinyal vila mati, aku harus memaksa sinyal militer itu hidup," bisik Hayden mantap. Hayden menatap bangunan vila yang kini sangat kacau. Dinding-dinding marmer yang dulunya megah kini dipenuhi bekas tembakan peluru, pecahan kaca, dan noda hitam sisa ledakan. Pelataran luar pun berantakan, menampung jejak pertarungan maut melawan pasukan Marcus dan serangan zombie.

"Tapi untuk malam ini, sebaiknya aku istirahat terlebih dahulu," bisik Hayden sambil menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan yang luluh lantak.

Tubuhnya sudah mencapai batas. Memaksa bergerak menuju pemancar militer dalam kondisi fisik yang lelah dan terluka hanya akan membawanya pada kematian konyol.

Hayden melangkah menuju lantai dasar bunker—area yang paling aman dan kedap suara dari erangan zombie di luar. Ia mengunci pintu baja tebal dari dalam, memastikan seluruh sistem keamanan internal aktif dalam mode senyap.

Ia merebahkan tubuhnya di atas selimut taktis di sudut ruangan, mendekap erat tas berisi tiga tabung vaksin 'Genesis' di samping dadanya. Sebelum memejamkan mata, Hayden menyetel alarm di jam tangannya untuk menyala tepat saat fajar tiba.

Di tengah kegelapan bunker yang dingin, Hayden akhirnya membiarkan matanya tertutup. Malam ini ia mengumpulkan sisa tenaganya, sebab besok, pertarungan yang jauh lebih berat telah menunggunya di luar sana.

……

Pagi menyapa, suara alarm yang berdering nyaring membuat pria itu membuka matanya secara perlahan. Kantuk masih menyelimuti, tetapi ada misi besar yang harus segera ia selesaikan. Hayden menegakkan tubuhnya, lalu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menyegarkan pikirannya sebelum melangkah keluar.

Setelah menyantap sarapan darurat, kini pria itu sudah tampil rapi mengenakan pakaian taktis lengkap dengan rompi pelindung antipeluru.

Ia memeriksa kembali senapan serbu, menyisipkan pisau karambit di pinggangnya, dan memastikan tiga tabung vaksin 'Genesis' aman di dalam tas taktis khusus. Hayden menarik napas dalam-dalam, menatap ruang bunker yang sunyi untuk terakhir kalinya, lalu berjalan mantap menuju garasi.

Mesin *Armored Rover* meraung hidup begitu tombol daya ditekan. Pintu gerbang garasi terbuka perlahan, menyambut cahaya matahari pagi yang menembus sisa-sisa kabut pegunungan.

Hayden menginjak pedal gas, meluncur keluar dari Vila Hilltop menuju bukit pemancar militer—siap menghadapi ancaman zombie maupun sergapan pasukan Marcus yang mungkin sudah menunggunya di sepanjang rute perjalanan.

Kerumunan zombie masih menyemut di luar gerbang vila, namun Hayden tak membuang waktu. Dari balik celah tembak *Armored Rover*, ia menembak mati satu per satu zombie yang menghalangi jalan hingga celah terbuka.

Mobil bajanya melaju kencang, membelah jalanan yang kini mulai diterangi sinar matahari pagi. Namun, saat kendaraan melintasi jalur luar kota yang lengang, mata Hayden menangkap bayangan siluet seseorang di kejauhan. Orang itu tampak terdesak, berjuang mati-matian melawan segerombolan zombie yang mengepungnya.

Didesak rasa kemanusiaan yang tersisa, Hayden memutar kemudi dan memacu mobilnya mendekat. Tanpa ragu, ia melompat turun membawa senapan serbunya, siap memberi bantuan dan meratakan kawanan mayat hidup tersebut.

Dua senapan serbu di tangan Hayden meraung bersamaan. Peluru kaliber 5.56 mm melesat membelah udara pagi, menghantam kepala tiga zombie terdepan hingga hancur berkeping-keping. Darah hitam dan cairan busuk menyembur, membasahi aspal jalanan.

"Merunduk!" teriak Hayden bergema.

Orang asing itu merunduk refleks di balik kap mobil yang ringsek. Hayden melangkah maju seperti mesin pembunuh yang dingin dan presisi. Setiap letusan senapannya membawa kematian seketika—*satu peluru, satu kepala*. Timah panas menembus tengkorak demi tengkorak, membuat tubuh-tubuh membusuk itu roboh menumpuk satu sama lain.

Saat tiga zombie melompat dari sisi kiri, Hayden tidak meringsek mundur. Ia menyarungkan senapannya secepat kilat, mencabut pisau karambit berbilah ganda di pinggangnya, lalu menerjang masuk ke tengah kerumunan.

*CRACK!*

Sabetan pertama memotong leher zombie terdekat hingga kepalanya terlempar ke udara. Tanpa menghentikan momentum, Hayden memutar tubuhnya, menghantamkan siku berkulit baja ke rahang zombie kedua hingga hancur, lalu menancapkan bilah karambitnya dalam-dalam menembus ubun-ubun zombie ketiga. Bau hanyir darah memenuhar udara pagi.

Langkah Hayden tak terhentikan. Sepatu taktisnya menginjak dada seekor zombie yang berusaha merayap, menghancurkan tulang rusuknya hingga terdengar derak patahan yang mengerikan. Ia menyambar kembali senapannya dan menghabiskan sisa sisa zombie yang mengepung dengan memberondong penuh dari jarak dekat.

Hanya dalam kurun waktu kurang dari dua menit, jalanan yang tadinya bising oleh erangan lapar mendadak hening. Belasan mayat hidup bergelimpangan dalam genangan darah pekat.

Sambil mengusap cipratan darah di pipinya, Hayden mengacungkan senapannya yang masih berasap ke arah sosok yang berhasil ia selamatkan, dadanya naik-turun mengatur napas yang tersengal.

1
Coco
🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!