NovelToon NovelToon
Bayangan Sang Ratu Mafia

Bayangan Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Roman-Angst Mafia
Popularitas:520
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 - LUKA DI PUNGGUNG KAEL

"Val, awas!" teriak Kael kalap.

Waktu seolah melambat di mata Kael. Pria itu nggak mikir dua kali, instingnya langsung mengambil alih. Dengan kecepatan penuh, Kael melompat menerjang tubuh Valeria, memeluk wanita itu erat-erat dan memutar posisi mereka di udara.

*BAM!*

Suara tembakan dari senapan *sniper* kaliber besar itu meledak menggelegar, memecah keheningan yang baru sedetik tercipta. Suaranya beda jauh sama letusan pistol biasa. Terdengar berat, mematikan, dan membawa hawa kematian yang pekat.

Valeria terkesiap saat punggungnya menghantam lantai beton dengan cukup keras, tapi dia sama sekali nggak ngerasain sakit. Tubuh besar Kael menindihnya, menjadi tameng hidup yang melindunginya dari segala benturan.

Namun, sedetik kemudian, Valeria mendengar suara erangan tertahan tepat di atas telinganya.

Kael mendengus kasar. Tubuh tegapnya menegang kaku selama beberapa detik sebelum akhirnya sedikit melemas.

Valeria membelalakkan matanya. Hidungnya langsung menangkap bau amis darah segar yang sangat pekat, jauh lebih pekat dari bau mayat-mayat preman di sekeliling mereka. Perlahan, dia merasakan cairan hangat dan kental menetes mengenai bahu kemeja sutranya.

"Kael...?" bisik Valeria panik. Suaranya bergetar, pertahanan dinginnya runtuh seketika.

"Saya... nggak apa-apa, Val. Tetap tiarap," balas Kael dengan napas sedikit putus-putus.

Kael memaksakan diri mengangkat kepalanya. Matanya memicing menahan sakit yang luar biasa dari bagian belakang bahu kanannya. Peluru *sniper* itu berhasil merobek jas, kemeja, dan menembus daging punggungnya. Untungnya, peluru itu nggak mengenai tulang belakang atau organ vital, tapi pendarahannya cukup parah.

*BAM!*

Tembakan kedua meletus. Peluru besar itu menghantam lantai beton tepat beberapa sentimeter dari kepala Kael, memecahkan kerikil yang pecahannya mengenai pipi pria itu hingga tergores.

"Sialan," umpat Kael pelan.

Meski bahu kanannya terasa seperti dibakar hidup-hidup, Kael nggak peduli. Dia berguling cepat ke samping, melepaskan Valeria, lalu menarik pistol Glock-nya dari sarung. Dengan perhitungan matematis yang udah otomatis jalan di otaknya, Kael setengah berlutut dari balik perlindungan sisa-sisa peti kayu.

Dia melirik arah lubang peluru di lantai, mengukur sudut datangnya peluru, lalu menatap lurus ke arah atap gudang seberang melalui celah atap yang terbuka. Jaraknya sekitar dua ratus meter. Cukup jauh untuk ukuran pistol biasa, tapi bagi Kael, itu bukan hal mustahil.

Kael menstabilkan napasnya, mengabaikan darah yang terus mengalir deras membasahi punggung jasnya. Tangannya yang memegang pistol sangat kokoh, nggak bergetar sedikit pun.

*DOR! DOR! DOR!*

Kael menarik pelatuk tiga kali berturut-turut tanpa jeda.

Dari kejauhan, terdengar suara pekikan tertahan, disusul suara benda berat yang merosot jatuh dari atap seng gudang seberang. Sesosok tubuh berpakaian serba hitam terjungkal dan membentur tumpukan kontainer di bawahnya dengan suara berdebum. Ancaman *sniper* itu berhasil dilumpuhkan.

Melihat area sudah benar-benar bersih, napas Kael perlahan teratur kembali. Tapi begitu dia memutar tubuhnya untuk mengecek keadaan sang ratu, Kael langsung meringis pelan.

Valeria sudah berdiri. Wajah cantik wanita itu luar biasa pucat, matanya membelalak ngeri menatap punggung Kael. Jas abu-abu gelap yang dipakai pria itu kini basah kuyup oleh darah segar yang terus merembes mengubah warnanya jadi merah kehitaman.

"Astaga, Kael... Punggungmu..." ucap Valeria dengan suara gemetar. Dia berlari kecil mendekati Kael, tangannya terulur ingin menyentuh luka itu tapi takut malah bikin makin sakit.

"Hanya goresan, Nyonya. Pelurunya tembus, tidak bersarang di dalam. Saya masih bisa bertarung," jawab Kael berusaha terdengar senormal mungkin, meski keringat dingin mulai sebesar biji jagung menetes di pelipisnya.

"Goresan apanya, idiot?! Darahmu keluar banyak banget!" bentak Valeria marah. Bukan marah karena Kael, tapi marah karena panik melihat pria yang selalu jadi tamengnya ini terluka parah. Jantung Valeria berdetak nggak karuan.

Di tengah kepanikan itu, telinga tajam Valeria menangkap suara gesekan sepatu di lantai beton.

Igor, si bos botak yang dari tadi cuma bisa tiarap ketakutan, rupanya lagi berusaha ngesot pelan-pelan menjauh menuju pintu belakang gudang. Pria gendut itu memanfaatkan momen saat Kael terluka untuk kabur.

Mata Valeria langsung berkilat penuh amarah. Perasaan panik, khawatir, dan takut kehilangan Kael langsung berubah menjadi niat membunuh yang sangat pekat.

"Mau ke mana lo, babi sialan?!" jerit Valeria murka.

Dia memungut satu pistolnya yang tadi sempat terjatuh. Tanpa banyak bicara, Valeria berjalan cepat dengan langkah lebar mendekati Igor. *Heels* merahnya berdentang keras penuh ancaman.

"N-Nyonya! Ampun! Sumpah saya nggak tahu ada penembak jitu!" teriak Igor panik, mengangkat kedua tangannya menyerah sambil menangis sejadi-jadinya.

"Gara-gara pancingan murahan lo, orangku terluka," desis Valeria sedingin es.

Dia berdiri tepat di atas Igor. Nggak ada belas kasihan, nggak ada senyum sinis seperti sebelumnya. Yang ada cuma kemarahan seorang ratu yang anjing penjaga kesayangannya baru saja disakiti.

*DOR! DOR! DOR! DOR!*

Valeria mengosongkan seluruh sisa peluru di magasinnya langsung ke tubuh Igor. Pria botak itu kelojotan sebentar sebelum akhirnya mati mengenaskan dengan dada berlubang seperti saringan.

Napas Valeria memburu. Dia membuang pistolnya yang udah kosong ke lantai dengan kasar, lalu berbalik dan berlari kembali ke arah Kael.

Kael saat itu udah memaksakan diri buat berdiri. Tubuhnya agak sedikit oleng, tapi dia buru-buru berpegangan pada pilar beton di dekatnya. Wajahnya pucat, tapi matanya masih menyala awas.

"Kael, jangan banyak gerak dulu. Tekan lukamu pakai ini," perintah Valeria panik.

Wanita itu tanpa ragu merobek ujung bawah kemeja sutra merahnya yang mahal, lalu menekan kain itu kuat-kuat ke bahu belakang Kael untuk menghentikan pendarahan.

"Agh..." Kael meringis pelan, menggigit bibir bawahnya menahan perih yang menyengat saat Valeria menekan lukanya.

"Maaf, maaf, tahan sebentar," bisik Valeria. Tangannya yang biasanya stabil saat memegang pistol, kini sedikit gemetar saat menempel di tubuh Kael. "Kita ke rumah sakit sekarang. Pendarahanmu nggak mau berhenti."

"Jangan, Val," tolak Kael cepat, tangannya menahan pergelangan tangan Valeria. "Rumah sakit terlalu berisiko. Klan Viper pasti sudah menaruh mata-mata di setiap rumah sakit terdekat untuk memastikan apakah Anda mati atau tidak. Kita kembali ke markas. Bawa saya ke ruangan Anda."

"Tapi fasilitas di ruanganku cuma P3K darurat! Kamu butuh dokter bedah!" debat Valeria keras kepala.

"Saya hanya butuh dijahit, Val. Saya mohon, kembali ke markas. Keselamatan Anda lebih penting," bujuk Kael dengan tatapan memohon. Tubuhnya mulai terasa ringan karena kehabisan darah, tapi insting protektifnya masih jadi prioritas utama.

Valeria menatap mata Kael lekat-lekat. Melihat keras kepalanya pria itu, Valeria akhirnya mengalah. Dia tahu berdebat dengan Kael soal keselamatan adalah hal yang percuma.

"Oke, kita balik ke gedung utama. Sini, sandarkan badanmu ke aku," ucap Valeria pasrah.

Wanita itu melingkarkan tangan kiri Kael ke bahunya, sementara tangan kanannya melingkar di pinggang Kael, memapah tubuh besar dan berat itu perlahan-lahan.

Kael sebenarnya merasa sangat nggak enak membiarkan bosnya memapah dirinya seperti ini. Apalagi darahnya menodai baju bersih Valeria. "Maaf, Val. Saya mengotori baju Anda."

"Bisa diam nggak? Kalau kamu mati, aku bakal gali kuburanmu dan bunuh kamu dua kali," ancam Valeria judes, berusaha menutupi rasa khawatirnya dengan omelan.

Kael cuma tersenyum tipis mendengarnya.

Mereka berdua berjalan tertatih-tatih keluar dari gudang yang udah berubah jadi ladang pembantaian itu. Suasana pelabuhan di luar masih sepi. Kelihatannya para pekerja pelabuhan udah kabur duluan semenjak suara tembakan pertama meletus, sengaja nggak mau ikut campur urusan perang antar klan mafia.

Sampai di depan Range Rover hitam mereka, Kael refleks mengulurkan tangannya meminta kunci mobil di saku Valeria.

"Saya yang nyetir," ucap Kael pelan.

Valeria langsung menepis tangan Kael dengan kasar. "Kamu gila?! Tangan kananmu ngangkat pistol aja udah nggak sanggup, mau sok-sokan nyetir? Masuk ke kursi penumpang, sekarang. Berani kamu protes, aku tembak kaki sebelah kirimu."

Mendengar ancaman absolut itu, Kael akhirnya pasrah. Dia membuka pintu penumpang dan mendudukkan dirinya dengan hati-hati. Kepalanya bersandar lemas di jok kulit mobil. Napasnya makin berat.

Valeria berlari memutari kap mobil dan langsung melompat ke kursi kemudi. Dia menyalakan mesin, menginjak pedal gas dalam-dalam, dan SUV hitam itu langsung melesat kasar meninggalkan area pelabuhan dengan decitan ban yang nyaring.

Di dalam mobil, suasana sangat tegang. Valeria menyetir dengan kecepatan penuh, matanya fokus menatap jalanan, membelah lalu lintas kota dengan manuver yang bikin jantungan. Sesekali, matanya melirik cemas ke arah Kael lewat kaca spion samping.

Kael tampak memejamkan mata. Wajahnya makin pucat seperti kertas. Tangan kirinya memegangi kain sutra merah yang menempel di bahu kanannya, berusaha menekan lukanya sendiri.

"Kael, jangan tutup matamu. Tetap sadar, oke?" panggil Valeria agak keras, suaranya terdengar sedikit panik.

Kael membuka matanya perlahan. "Saya masih bangun, Val. Cuma numpang merem sebentar," balasnya dengan suara yang mulai serak.

"Jangan berani-beraninya kamu mati di mobilku, Kael. Beli mobil ini mahal, aku nggak mau ada aura hantu penasaran di sini," omel Valeria ngawur. Dia menginjak klakson panjang, memaksa sebuah sedan minggir dari jalurnya.

Kael terkekeh pelan, meski tawanya langsung berubah jadi batuk kecil. "Siap, Nyonya. Saya akan usahakan tetap hidup demi mobil mewah Anda."

"Bodoh," rutuk Valeria pelan.

Tiba-tiba, mata Valeria terasa panas. Dia menggigit bibir bawahnya keras-keras. Kilas balik kejadian beberapa menit lalu terus berputar di kepalanya. Cara Kael melompat menerjangnya, cara pria itu memeluknya untuk menamengkan tubuhnya dari peluru. Kael bener-bener menjadikan dirinya perisai daging tanpa ragu sedikit pun.

Selama sepuluh tahun memimpin klan, Valeria dikelilingi orang-orang yang pura-pura setia karena takut atau karena uang. Tapi Kael... Kael itu beda. Kesetiaan pria itu melampaui logika. Dan hari ini, Valeria melihat dengan mata kepalanya sendiri seberapa jauh Kael rela berkorban untuknya.

"Kenapa kamu ngelakuin itu, Kael?" tanya Valeria tiba-tiba. Suaranya nggak lagi judes, melainkan pelan dan rapuh.

"Melakukan apa?" tanya Kael balik, matanya setengah terpejam menahan kantuk karena darah yang terus berkurang.

"Pasang badan buatku. Kamu tahu itu peluru *sniper*. Kamu bisa mati hancur kalau peluru itu kena kepalamu atau jantungmu. Kenapa kamu nggak sekadar dorong badanku aja?" lirih Valeria menatap jalanan yang memburam karena air matanya mulai menggenang.

Kael diam sejenak. Dia menoleh, menatap profil samping wajah Valeria yang cantik namun terlihat begitu stres. Ada dorongan gila di dalam hatinya untuk mengatakan yang sebenarnya. Untuk bilang bahwa dia nggak akan pernah bisa hidup kalau Valeria terluka. Untuk bilang bahwa dia rela mati seribu kali asalkan wanita itu tetap bernapas.

Tapi Kael menelan semua kata-kata itu kembali. Batas antara bos dan bawahan masih terlalu kokoh untuk dia hancurkan sekarang.

"Sudah tugas saya sebagai pelindung Anda, Val. Bayangan harus selalu memastikan tuannya aman," jawab Kael akhirnya, memilih jawaban yang paling aman dan profesional.

Valeria mendecak sebal mendengar jawaban itu. Kecewa sedikit menyelinap di hatinya, entah kenapa.

"Alasan klise," sungut Valeria. Dia mengusap kasar ujung matanya dengan punggung tangan, lalu kembali menginjak pedal gas lebih dalam. Gedung markas klan mereka udah mulai kelihatan di ujung jalan.

"Bertahan sebentar lagi, Kael. Kita hampir sampai," ucap Valeria tegas.

"Ya, Val," gumam Kael pelan. Kesadarannya mulai menipis, tapi pria itu terus memaksa matanya terbuka. Dia harus memastikan ratunya sampai di markas dengan selamat, barulah dia mengizinkan dirinya sendiri untuk tumbang.

1
Putra kembar
sangat menegangkan, ceritanya bagus 🤙🏻
Putra kembar
ceritanya bagus, bikin greget dan menegangkan 😍👍
Nexora Verion
🔥
Fery Oktavian
🤙🏻
Jajal Anyar
semakin seru dan seniga mnjadi pasangan yg bisa saling mmbantu
Cukstaw: pantengin terus bang, sehari upload 5 bab.. 🤭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!