Masa lalu dari kedua orang tuanya membuat seorang pemuda berusia dua puluh tahun harus mengalami banyak kejadian buruk dalam hidupnya, dialah Kaivalya Rajasa Danendra yang merupakan putra dari Rajasa Danendra.
"Aku inginkan jadi putra Sagara Danendra"
"Kamu tepatlah putra Rajasa nak..."
"Aku tidak ingin darahnya, darahnya membuatku tak bisa menjadi keturunan murni Sagara, aku hanya terus di sebut sebagai keturunan darah mati!"
Keturunan darah mati, itulah julukan Kaivalya dari para mahluk halus yang dia temui. mampukah dia melepaskan bayangan Rajasa dari dalam darahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu Maghrib
Keesokan harinya, pukul tiga sore, Kaivalya, Diandra dan Altair bersama istrinya Nayana sudah sampai di villa Lucas, mereka langsung di sambut oleh Lucas yang sengaja mengajak Kaivalya melakukan pertemuan di villa nya karena dia akan melakukan pembangunan pabrik pengolahan teh di sana dan akan bekerja sama dengan perusahaan Danendra.
"Masya Allah pak, tempat ini luas dan asri sekali, saya suka" ungkap Diandra berbinar dan mencium tangan Lucas.
"Jangan nora Andra, kamu itu bekerja di sini dan jangan so kenal dengan Om Lucas" ketus Kaivalya menarik Diandra untuk mundur ke sampingnya.
"Apa hanya kalian? Sagara dan Safira tidak ikut?" tanya Lucas
"Tidak Om, semalam mereka kelelahan setelah dari acara pernikahan kak Rifki dn Grace" jawab Kaivalya
"Kalian pasti lapar, ayo masuk dan makan" ajak Lucas
"Bukannya villa ini juga di renovasi ya Om?" tanya Altair
"Iya, makanya kalian tinggal di rumah lain, ada rumah panggung di dekat pemandian air panas di ujung jalan setapak dekat pohon kelengkeng, Om akan tinggal di sini karena kamar bawah masih bisa di tempati" jawab Lucas
"Astagfirullah.. Kai lupa, harusnya kita langsung ke rumah itu, ini sudah masuk waktu ashar, ayo shalat dulu dan kita kesana, nanti makanan kita minta antar ke sana saja, besok baru kalian bisa masak" jawab Kaivalya segera bersiap shalat.
Selesai shalat, Kaivalya, Diandra, Altair dan istrinya langsung pamit menuju ke rumah yang akan mereka tempati, bukan tanpa alasan, itu karena Kaivalya melihat tempat itu hanya akan aman saat siang dan malam, tapi tidak saat petang menjelang Maghrib.
"Kenapa kamu buru buru Kai?" Tanya Nayana saat mereka sudah sampai di rumah itu pukul lima sore.
"Jangan buka semua jendela juga pintu sampai adzan isya berkumandang" hanya itu jawaban Kaivalya dan Altair mengerti.
"Tempat ini aman, tapi tidak saat petang menjelang Maghrib, Kai tadi lihat sosok perempuan merayap dari atas tebing yang ada di ujung jalan itu, tubuhnya telanjang makanya Kai malas lihatnya" ungkap Kaivalya
"Bapak bercanda ya" sinis Diandra tak percaya
"Kalau tidak percaya ya sudah tapi awas kalau kamu ke kamar saya dan tiba tiba peluk saya, saya akan minta kamu bertanggung jawab" jawab Kaivalya datar.
Mereka sudah memilih kamar dan membereskan pakaian mereka, hanya tinggal beberapa perlengkapan kerja saja yang mereka bereskan, Altair bahkan membereskan pakaian miliknya dan Nayana ke dalam lemari sambil di ledek Kaivalya.
"Untung kamar mandinya ada di dalam rumah, kalau di luar rumah aku takut" ungkap Nayana
"Tenang, ada Diandra kak" jawab Diandra
"Memangnya kamu tidak takut?" Tanya Altair
"Takut lah, tapi kan Diandra sekarang sudah lumayan sering lihat penampakan kalau sedang menemani pak Kai ke luar kota, di hotel hotel itu sering banyak hantu" jawab Diandra yang bicara lebih manis saat bersama orang lain tapi tidak saat dengan Kaivalya.
"Ih.. aku malah takut, nggak mau lihat ataupun dengar suaranya" ucap Nayana merinding
Tok. Tok. Tok.
Masih asik mengobrol, terdengar suara ketukan pintu mengganggu obrolan ke empat orang itu, Diandra berdiri dan hendak membuka pintu karena mengira mungkin itu adalah asisten rumah tangga yang mengantarkan makanan
Trak. Trak.
Kunci pintu itu mulai terbuka dan tangan Diandra hampir memegang gagang pintu, tapi tangan Kaivalya menahannya, dan kembali mengunci pintunya.
"Jangan di buka kalau yang di luar tidak mengucapkan salam, ingat itu! Apa lagi saat menjelang Maghrib seperti ini" ungkap Kaivalya serius
"Sini Dian, kamu jangan dekat pintu" panggil Altair dan Nayana langsung berlari ke arah Kaivalya.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pintu itu masih terdengar, terus menerus di ketuk, membuat para wanita ketakutan. Sampai Adzan isya berkumandang, barulah ketukan itu berhenti dan mereka merasa lega
"Assalamu'alaikum" panggil seseorang di luar rumah itu setengah jam setelah kejadian ketukan pintu berakhir
"Wa'alaikumussalam" jawab semuanya dan Kaivalya langsung membukakan pintu karena tempat itu sudah mulai aman.
Ceklek.
"Gue bawa makan malam, sekalian mau menginap karena ada kamar kosong satu lagi kan? Gue tahu kalian di sini dari Om Lucas tadi karena kami sedang liburan" Tanya Aariz tersenyum lebar sambil menuntun Arthayasa.
"Oh silahkan pak Aariz dan pak Arthayasa, kami sudah menunggu sejak tadi, menunggu makanannya maksudnya" jawab Kaivalya meledek.
"Untung kamu datang habis isya, kalau habis Maghrib mungkin kamu ketemu hantu Maghrib" ucap Altair
"Hantu Maghrib?"
"Iya tadi dari sejak Maghrib ada yang ketuk ketuk pintu sampai adzan isya berkumandang" jawab Diandra ketakutan dan masih memeluk Nayana.
"Kalian cuma nakut nakutin istri kalian kan, mana ada hantu, kami tadi kesini aman aman saja tuh" tuduh Aariz
"Ralat omongan Lo, Andra bukan istri gue ya!" gerutu Kaivalya
"Tunggu besok Maghrib kalau Lo nggak percaya, atau mau gue kunci Lo! supaya Lo di luar bisa lihat dia?" Tanya Kaivalya
"Ogah" sinis Aariz segera melihat kamarnya dan menyiapkan makan malam untuk teman teman dan Altair yang juga lebih suka di anggap teman di banding kakak oleh dua cicit Adrian itu.
••••••••••••
Pagi hari
Rumah panggung itu sekarang ramai oleh manusia yang lapar dan ingin makan masakan Diandra, bahkan Lucas juga ikut ke sana untuk sekalian menikmati mandi pagi di pemandian itu. Kaivalya tidak mengijinkan Diandra untuk masak di tempat itu dengan alasan takut meracuni semua orang.
"Bapak kan belum pernah coba masakan saya karena kita ke sini dadakan, kenapa bapak yakin masakan saya beracun?" tanya Diandra
"Justru karena saya belum coba makanya saya larang kamu, biarkan saya coba dulu masakan kamu baru setelah itu kamu lulus" jawab Kaivalya ketus
"Yang lain makan di teras saja ya, soalnya di dalam tidak muat" ucap Nayana yang di bantu Arthayasa.
"Iya kak tenang saja, di luar juga luas" jawab Aariz
"Om, kenapa batu itu ada di tengah kolam pemandian? Apa sengaja agar terlihat menarik?" Tanya Altair
"Bukan, batu itu tidak bisa di pindahkan karena kata warga disini, itu batu keramat, jadi Om biarkan saja" jawab Lucas
"Kenapa? Apa Abang lihat sesuatu?" Tanya Kaivalya
"Ada Kakek tua disana, di dalam batu itu sedang bersila dan janggutnya putih Semua" sahut Altair
"Mungkin penjaga hutan ini" jawab Kaivalya
"Iya, dia penjaga hutan ini dan hutan tempat siluman serigala tinggal" jawab Altair
"Ko bisa siluman itu tinggal disana?" Tanya Kaivalya