Bagi Lu Feng, cowok pindahan yang hobinya tidur di kelas dan telat masuk sekolah, aturan diciptakan untuk dilanggar. Tapi hari pertamanya di SMA Mingde mengubah segalanya. Ia bertemu dengan Lin Xiao, ketua kelas teladan yang super disiplin, dingin, namun diam-diam memiliki senyum termanis yang pernah Lu Feng lihat. Lin Xiao diberi tugas oleh wali kelas untuk "menjinakkan" Lu Feng agar tidak menjadi siswa bermasalah. Dari interaksi yang dipenuhi adu mulut, hukuman membersihkan papan tulis, hingga berbagi payung di bawah hujan deras, benih-benih cinta pertama mulai tumbuh. Namun, perbedaan sifat, tekanan ujian akhir (GaoKao), dan saingan dari masa lalu menguji apakah cinta masa muda ini bisa bertahan melewati rintangan yang ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Setya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serangan Balik Sang Ratu, Negosiasi Dingin, dan Tembok Es Lin Xiao
Pagi itu, cuaca Beijing sedang mendung gelap, seolah meramalkan ketegangan yang akan terjadi di lantai 18 gedung PT Campus Relay Logistics.
Ruang rapat utama sudah disiapkan. Lu Feng duduk di kursi presdir, mengenakan kemeja biru tua yang lengannya digulung rapi. Di sebelah kirinya, duduk Lin Xiao dengan setelan "blazer" hitam elegan, rambut disanggul rapi, dan tatapan mata yang bisa membekukan air mendidih. Kacamata anti-radiasinya bertengger manis, menyembunyikan kilat kewaspadaan di matanya.
Pintu terbuka. Song Jia masuk bersama dua pengacara dari perusahaannya, Chic-U. Hari ini Song Jia tidak memakai gaun sutra menggoda seperti di restoran malam itu. Ia memakai setelan celana putih tulang yang sangat "chic" namun profesional, bibirnya tetap dengan lip gloss pink andalannya. Wajahnya tersenyum manis, tapi matanya memancarkan aura permusuhan yang tak kasat mata saat menatap Lu Feng, lalu beralih ke Lin Xiao.
"Selamat pagi, Lu Feng," sapa Song Jia, suaranya renyah seperti biasa, mengabaikan Lin Xiao sepenuhnya. "Kuharap kau tidur nyenyak setelah pertemuan kita semalam."
Kalimat itu sengaja dilontarkan dengan ambigu. Dua pengacara Song Jia saling lirik, sementara staf Lu Feng di ruangan itu menahan napas.
Lu Feng bahkan tidak repot-repot tersenyum. Wajahnya sedatar tembok beton. "Tidur saya sangat nyenyak, Presiden Song. Terutama karena saya pulang ke apartemen tepat waktu. Mari kita mulai. Kepala Legal saya memiliki jadwal yang padat hari ini."
Song Jia mendengus pelan, sedikit kesal karena umpannya tidak dimakan. Ia duduk dan memberi isyarat pada pengacaranya untuk membagikan draf kontrak yang baru.
"Kami setuju dengan angka komisi yang kau minta, Lu Feng," ucap Song Jia, menopang dagu. "Namun, kami menambahkan satu klausul kecil di halaman dua belas. Karena kami membawa volume transaksi yang sangat besar, Chic-U berhak mendapatkan akses eksklusif ke data perilaku konsumen dari aplikasi Campus Relay di tiga universitas utama."
Lu Feng menyipitkan matanya. Meminta data konsumen? Itu sama saja dengan meminta kunci brankas perusahaannya. Baru saja Lu Feng akan membuka mulut untuk menolak mentah-mentah, sebuah suara yang sangat tenang namun dingin mendahuluinya.
"Pasal 12 ayat 4, tentang Pertukaran Data," suara Lin Xiao mengudara, membelah keheningan ruang rapat. Ia bahkan tidak melihat ke arah Song Jia, melainkan menatap lurus ke dokumen di tangannya. "Klausul ini cacat secara hukum, Presiden Song."
Song Jia mengalihkan pandangannya pada Lin Xiao, senyumnya menipis. "Cacat bagaimana, Pengacara Lin? Kami menyumbang tiga puluh persen dari pendapatan kalian bulan ini. Meminta data pengguna adalah hal yang wajar dalam kemitraan strategis."
Lin Xiao perlahan mengangkat wajahnya, menatap Song Jia langsung ke manik matanya. Tatapan Lin Xiao sangat tenang, sangat absolut, mengingatkan Lu Feng pada sosok ketua kelas yang dulu sering menghukumnya tanpa ampun.
"Sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Informasi Pribadi yang baru disahkan bulan lalu, memberikan akses data perilaku mahasiswa kepada pihak ketiga tanpa persetujuan eksplisit dari masing-masing individu adalah pelanggaran berat," jelas Lin Xiao, suaranya mengalun tajam seperti pisau bedah. "Jika klausul ini diteken, perusahaan kami akan berisiko menghadapi denda hingga lima puluh juta yuan atau pencabutan izin operasi. Anda mencoba menjebak klien saya, Presiden Song?"
Pengacara Song Jia mulai berkeringat dingin mendengar argumen hukum yang sangat presisi itu. Song Jia sendiri sedikit gelagapan, ia tidak menyangka Lin Xiao akan menyerang dari sudut regulasi pemerintah yang baru.
"Itu... tentu saja kami akan menyesuaikan dengan regulasi, Lin Xiao," kilah Song Jia, berusaha mempertahankan ketenangannya. Ia menoleh ke arah Lu Feng, mencoba mencari sekutu. "Lu Feng, kau tahu kan maksudku baik? Data itu bisa kita gunakan untuk kampanye pemasaran bersama. Ayolah, jangan kaku begini."
Lu Feng menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan tangan di depan dada. Ia menatap Song Jia dengan pandangan merendahkan yang sama seperti di restoran malam itu.
"Kepala Legal gue baru aja bilang kalau ide lo itu cacat hukum, Song Jia," ucap Lu Feng dingin. "Dan di perusahaan ini, kalau Lin Xiao bilang tidak, maka jawabannya adalah tidak. Keputusannya adalah keputusan gue."
Wajah Song Jia seketika memerah padam. Penolakan ini jauh lebih menyakitkan daripada penolakan romantis semalam. Di depan timnya sendiri, otoritasnya sebagai CEO diremehkan, dan Lu Feng dengan terang-terangan menunjukkan tunduknya ia pada Lin Xiao dalam urusan hukum perusahaan.
Lin Xiao tidak memberikan ruang bagi Song Jia untuk bernapas. Ia mengambil pulpen merahnya, mencoret klausul tersebut dengan garis panjang yang tegas.
"Kami hanya akan menandatangani kontrak jika klausul eksklusivitas data ini dihapus secara permanen, dan diganti dengan jaminan bahwa Chic-U tidak akan pernah merekrut mahasiswa kurir kami secara sepihak," ucap Lin Xiao mutlak. Ia menggeser dokumen itu kembali ke arah pengacara Song Jia. "Anda punya waktu sepuluh menit untuk merevisinya dan mencetaknya ulang. Jika tidak, pintu keluar ada di sebelah kanan Anda."
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Song Jia menatap Lin Xiao dengan napas memburu. Ia akhirnya menyadari, wanita di depannya ini bukanlah sekadar pacar kaku yang bisa ia singkirkan dengan pesona. Lin Xiao adalah benteng pertahanan terakhir Lu Feng, dan tidak ada satu pun celah yang bisa ia tembus.
"Revisi dokumennya sekarang," perintah Song Jia pada pengacaranya dengan suara bergetar menahan amarah dan kekalahan.
Sepuluh menit kemudian, kontrak baru tanpa klausul data itu selesai ditandatangani.
Song Jia berdiri, merapikan dokumennya tanpa menatap Lu Feng maupun Lin Xiao. "Semoga kerja sama kita berjalan lancar, Presiden Kang. Pengacara Lin."
Setelah tim Chic-U keluar dari ruangan, Lu Feng masih duduk di kursinya, sementara Lin Xiao sedang sibuk merapikan berkas-berkasnya.
Tiba-tiba, tawa Lu Feng pecah. Tawa yang sangat renyah dan menggema di ruang rapat yang kini hanya berisi mereka berdua.
Lin Xiao menoleh, menatap cowok itu dengan kening berkerut. "Kenapa kamu tertawa? Ada yang salah dengan revisi kontraknya?"
"Nggak ada yang salah, Yang," jawab Lu Feng, menghapus sedikit air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. "Gue cuma... kagum banget. Sumpah, ngeliat lo ngebantai Song Jia pakai pasal-pasal hukum tadi tuh... itu hal paling seksi yang pernah gue lihat seumur hidup gue."
Wajah Lin Xiao merona hebat. "Jaga ucapanmu, Lu Feng! Ini masih ruang rapat!"
Lu Feng berdiri, berjalan menghampiri kursi Lin Xiao, lalu menarik pinggang wanita itu agar berdiri berhadapan dengannya.
"Dia pikir dia bisa neken gue pakai iming-iming duit dan volume transaksi," bisik Lu Feng, mengecup singkat ujung hidung Lin Xiao. "Dia lupa kalau tameng gue itu mantan ketua kelas yang paling galak se-SMA Mingde. Tembok es lo beneran bikin dia kena mental tadi."
"Itu karena dia mencoba bermain kotor dengan datamu," dengus Lin Xiao, meski tangannya perlahan melingkar di pinggang Lu Feng. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun, apalagi wanita berbibir pink itu, menghancurkan perusahaan yang kamu bangun dengan susah payah."
Lu Feng tersenyum sangat lebar. Ia merengkuh tubuh Lin Xiao, memeluknya dengan rasa aman yang luar biasa.
Di dunia bisnis yang penuh serigala berbulu domba, Lu Feng tahu ia tidak perlu takut pada siapa pun. Karena di sisinya, ia memiliki seekor naga hukum yang siap membakar siapa saja yang berani menyentuh apa yang menjadi miliknya.