Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama di Rumah Sakit
Kata **dirawat inap** menggantung di udara lebih lama daripada yang Alya inginkan.
Ia menatap dokter di hadapannya, lalu menoleh kepada Arga. Wajah suaminya tampak tenang, tetapi jemari yang menggenggam tangannya semakin erat. Seolah, tanpa sadar, ia takut melepaskan Alya bahkan hanya untuk beberapa detik.
“Dirawat?” ulang Alya pelan.
Dokter mengangguk. “Kami ingin memantau kondisi Ibu malam ini. Tekanan darah Ibu rendah, kadar hemoglobin juga turun. Selain itu, keluhan pusing, lemas, demam berulang, dan penurunan berat badan perlu kami periksa lebih lanjut.”
“Berarti saya sakit apa, Dok?” tanya Alya.
Dokter itu menarik napas sejenak.
“Kami belum bisa menyimpulkan sekarang. Beberapa pemeriksaan lanjutan masih diperlukan.” Suaranya tenang, tetapi hati-hati. “Yang paling penting, Ibu istirahat dan jangan memaksakan diri.”
Alya mengangguk perlahan.
Jawaban itu seharusnya menenangkan, tetapi justru membuat ketakutannya semakin besar. Ada sesuatu yang belum diketahui. Sesuatu di dalam tubuhnya yang terus melemahkan dirinya sedikit demi sedikit.
Ia benci tidak tahu.
Ia benci menunggu.
Selama ini, hidupnya sudah terlalu penuh dengan penantian—menunggu Arga pulang, menunggu pesan dibalas, menunggu suaminya berubah, menunggu dirinya dipilih.
Sekarang ia harus menunggu hasil pemeriksaan yang mungkin akan menentukan hidupnya.
“Apa saya boleh pulang besok?” tanyanya.
“Kalau kondisinya stabil, kita lihat besok pagi.” Dokter menoleh kepada Arga. “Bapak bisa mengurus administrasi rawat inap di bagian depan. Perawat akan memindahkan Ibu Alya ke kamar.”
Arga mengangguk. “Baik, Dok.”
Setelah dokter keluar, ruangan IGD kembali dipenuhi kesunyian. Mesin monitor di samping ranjang berbunyi pelan dan teratur. Infus mengalir perlahan ke punggung tangan Alya. Udara ruangan dingin, membuat tubuhnya semakin menggigil.
Arga berdiri di sisi ranjang.
“Aku urus administrasinya dulu,” katanya.
Alya menatapnya.
Dulu, setiap kali Arga berkata akan pergi sebentar, dada Alya selalu terasa sesak. Ia takut lelaki itu tidak kembali. Takut dirinya kembali ditinggalkan tanpa penjelasan.
Hari ini, rasa itu masih ada.
Namun Alya terlalu lelah untuk menunjukkannya.
“Iya,” jawabnya pelan.
Arga tidak langsung bergerak.
“Kamu butuh apa?”
Alya menggeleng.
“Air?”
“Nggak.”
“Mau panggil Mbok Sari?”
“Nggak usah.”
“Kamu yakin?”
Alya tersenyum tipis. “Mas cuma urus administrasi, kan?”
Pertanyaan itu membuat Arga diam.
Alya tidak bermaksud menyindir. Tetapi kata-kata itu terdengar seperti luka lama yang terbuka tanpa sengaja.
“Iya,” jawab Arga akhirnya. “Aku cuma urus administrasi.”
“Kalau begitu, aku tunggu.”
Arga memandangnya cukup lama. Lalu, perlahan, ia mengangkat tangan dan menyentuh dahi Alya. Sentuhannya hangat. Halus. Sangat berbeda dari sikapnya yang biasa.
“Kamu istirahat,” katanya.
Alya menutup mata ketika tangan itu masih berada di dahinya.
Sesaat, ia membiarkan dirinya membayangkan bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa Arga adalah suami yang pulang setiap malam. Bahwa mereka menikah karena saling mencintai. Bahwa tangan yang menyentuh dahinya itu selalu ada saat ia sakit, sedih, atau takut.
Namun bayangan indah itu cepat hancur oleh kenyataan.
Ketika Alya membuka mata lagi, Arga sudah berjalan menuju pintu.
***
Kamar rawat Alya berada di lantai tujuh.
Bukan kamar VIP terbesar yang biasa dipilih keluarga Mahendra ketika ada kerabat dirawat. Alya bahkan sempat bertanya mengapa mereka tidak memilih kamar yang lebih luas. Namun Arga hanya menjawab bahwa kamar ini lebih dekat dengan ruang perawat dan dokter jaga.
“Yang penting kamu mudah dipantau,” katanya.
Kamar itu cukup nyaman. Ada satu ranjang pasien, sofa kecil di dekat jendela, meja makan, lemari, serta televisi yang menyala tanpa suara. Dari jendela besar, Alya dapat melihat lampu-lampu kota mulai menyala di kejauhan.
Langit sudah gelap ketika perawat selesai memasang infus baru dan memeriksa suhu tubuhnya.
“Suaminya belum kembali?” tanya perawat muda itu sambil menulis sesuatu di papan catatan.
Alya menoleh ke arah pintu.
Belum ada Arga.
“Tadi beliau urus administrasi,” jawabnya.
Perawat tersenyum kecil. “Bapak Anda kelihatan sangat khawatir. Dari tadi beberapa kali tanya prosedur ini itu.”
Alya tidak tahu harus merespons apa.
Ia hanya tersenyum tipis.
*Khawatir.*
Kata itu terdengar manis ketika keluar dari mulut orang lain.
Namun Alya tidak berani memegangnya terlalu erat.
Setelah perawat keluar, ia meraih ponselnya yang terletak di meja samping ranjang. Ada beberapa pesan dari Dinda.
**Dinda:** *Ly, aku baru selesai kerja. Kamu di mana?*
**Dinda:** *Aku telepon, ya?*
Alya membaca pesan-pesan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia mengetik perlahan.
**Alya:** *Aku di rumah sakit. Tadi sempat pingsan.*
Balasan Dinda datang hampir seketika.
**Dinda:** *Apa? Rumah sakit mana? Aku ke sana sekarang.*
Alya tersenyum kecil. Ada seseorang yang tidak perlu ia minta untuk peduli. Seseorang yang langsung ingin datang tanpa menimbang apakah ia sedang sibuk atau tidak.
Namun ia tidak ingin Dinda melihatnya dalam keadaan seperti ini.
**Alya:** *Nggak usah. Aku dirawat cuma semalam. Besok aku kabari.*
**Dinda:** *Kamu sendirian?*
Jari Alya berhenti di atas layar.
Ia menoleh lagi ke arah pintu.
Koridor di luar masih kosong.
**Alya:** *Arga ada.*
Ia hampir menambahkan, *Tapi aku tidak tahu sampai kapan.*
Namun kalimat itu tidak jadi dikirim.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar terbuka.
Arga masuk sambil membawa kantong kertas dari apotek dan sebuah tas kecil. Di wajahnya terlihat kelelahan, tetapi tidak ada tanda bahwa ia pergi ke tempat lain. Alya menatapnya dalam diam.
“Kamu sudah dipindah,” kata Arga.
“Iya.”
“Dokter bilang kamu harus makan sedikit sebelum minum obat.”
“Aku nggak lapar.”
“Aku belikan bubur.”
Arga mengangkat kantong kertas itu sedikit.
Alya menatapnya, lalu menunduk. “Mas beli sendiri?”
“Ya.”
“Kenapa nggak suruh Pak Darto saja?”
“Kebetulan aku lewat.”
Jawaban itu terdengar biasa saja. Namun Alya tahu Arga bukan lelaki yang suka mengurus hal-hal kecil. Ia terbiasa memberi perintah dan orang lain akan melakukannya. Ia bukan tipe orang yang berdiri menunggu makanan di kantin rumah sakit, membawa kantong plastik, lalu bertanya apakah istrinya mau makan.
Hal kecil itu seharusnya tidak membuat Alya terharu.
Tetapi ia memang sudah terlalu lama lapar akan perhatian.
Arga menarik meja makan kecil ke dekat ranjang. Ia membuka wadah bubur, mengambil sendok, lalu duduk di kursi samping Alya.
“Makan,” katanya.
Alya memandangi sendok di tangan suaminya. “Aku bisa makan sendiri.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa Mas pegang sendoknya?”
Arga terlihat sedikit salah tingkah. “Karena tangan kamu dipasang infus.”
“Tangan kiriku masih bisa.”
“Alya.”
Nada suara itu membuat Alya diam.
Arga menyendok bubur perlahan, lalu mengarahkannya ke dekat bibir Alya. Perempuan itu ragu beberapa saat sebelum akhirnya membuka mulut.
Bubur itu hangat.
Rasanya sederhana. Tidak istimewa. Tetapi entah mengapa, saat suapan pertama masuk ke mulutnya, mata Alya tiba-tiba terasa panas.
Ia buru-buru menunduk.
Arga memperhatikannya. “Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kamu menangis?”
“Nggak.”
“Jangan bohong.”
Alya tertawa kecil, suaranya serak. “Mas lucu.”
“Apa yang lucu?”
“Mas yang bilang jangan bohong.”
Arga terdiam.
Suasana kembali hening.
Alya mengaduk bubur di mulutnya perlahan. Lalu ia berkata dengan suara sangat pelan, “Aku cuma nggak biasa.”
“Tidak biasa apa?”
“Diperhatikan.”
Kalimat itu membuat tangan Arga yang memegang sendok berhenti.
Alya tidak menatapnya. Ia takut jika melihat wajah suaminya, pertahanannya akan runtuh. Maka ia memilih memandangi selimut putih yang menutupi tubuhnya.
“Selama ini kalau aku sakit, aku urus sendiri,” lanjutnya. “Kalau demam, aku minum obat sendiri. Kalau pusing, aku tidur sendiri. Kalau nangis…” Ia berhenti sebentar. “Aku juga nangis sendiri.”
“Alya.”
“Mas nggak perlu merasa bersalah.” Alya buru-buru tersenyum tipis. “Aku cuma bilang.”
Namun justru itu yang membuat dada Arga terasa berat.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mendengar semuanya. Bukan sekadar kata-kata Alya yang selama ini terdengar seperti keluhan kecil. Ia mendengar kesepian yang disimpan perempuan itu terlalu lama. Kesepian yang ternyata tumbuh di rumahnya sendiri—di rumah yang seharusnya ia jadikan tempat paling aman untuk Alya.
Arga meletakkan sendok di wadah bubur.
“Aku minta maaf,” katanya.
Alya mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Lelaki itu tampak tidak nyaman mengucapkan dua kata tersebut. Seolah meminta maaf adalah sesuatu yang tidak biasa ia lakukan. Seolah egonya sudah terlalu lama mengajarinya bahwa ia tidak perlu menjelaskan dirinya kepada siapa pun.
Namun malam itu, di kamar rumah sakit yang dingin, Arga tetap mengatakannya.
“Aku minta maaf karena selama ini tidak benar-benar ada.”
Alya memandangi suaminya cukup lama.
Ada rasa hangat kecil yang berusaha masuk ke dalam dadanya. Namun di saat yang sama, luka-luka lama berdiri seperti dinding.
“Mas minta maaf karena aku sakit,” kata Alya, “atau karena Mas takut sesuatu terjadi sama aku?”
Arga tidak segera menjawab.
Pertanyaan itu terlalu jujur.
Terlalu tepat.
“Aku nggak tahu,” jawabnya akhirnya.
Alya tersenyum kecil. Senyum yang sedih.
“Setidaknya Mas jujur.”
***
Malam semakin larut.
Dokter jaga datang untuk memeriksa kondisi Alya, lalu memberi tahu bahwa beberapa hasil laboratorium baru akan keluar keesokan hari. Mereka masih perlu menentukan pemeriksaan lanjutan yang paling sesuai.
Arga mendengarkan penjelasan dokter dengan serius. Ia bahkan bertanya tentang kemungkinan penyebab anemia Alya, tentang demam berulang, tentang jadwal pemeriksaan berikutnya, serta apakah istrinya membutuhkan transfusi darah.
“Untuk sekarang belum,” jawab dokter. “Tapi kita pantau terus.”
Setelah dokter pergi, Alya menatap Arga yang masih berdiri di dekat pintu.
“Mas nggak jadi ke kantor?” tanyanya.
“Tidak.”
“Rapat Mas?”
“Aku sudah pindahkan.”
“Keisya?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Arga menoleh.
Wajah Alya langsung berubah menyesal. “Maaf. Aku nggak seharusnya—”
“Keisya bisa urus dirinya sendiri,” potong Arga.
Nada suaranya datar. Namun ada sesuatu yang berbeda di dalamnya. Tidak ada kelembutan yang biasanya muncul saat ia menyebut nama itu.
Alya tidak ingin berharap lagi, tetapi kata-kata tersebut tetap meninggalkan jejak kecil di hatinya.
“Mas nggak perlu memutuskan semua hal karena aku,” katanya.
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi Mas tinggal di sini.”
“Ya.”
“Kenapa?”
Arga tidak segera menjawab.
Ia berjalan ke arah sofa, mengambil selimut rumah sakit yang diberikan perawat, lalu meletakkannya di atas sofa kecil dekat jendela.
“Aku tidur di sini malam ini.”
Alya menatapnya. “Mas nggak perlu.”
“Aku tahu.”
“Kalau Mas tidak nyaman, pulang saja. Aku ada perawat.”
Arga menoleh lagi. Tatapannya kali ini jauh lebih serius.
“Alya,” katanya pelan, “tolong jangan terus menyuruh aku pergi.”
Perempuan itu terdiam.
Ada kepedihan dalam suara Arga yang tidak ia duga. Seolah kalimat sederhana tadi berhasil menyentuh sesuatu yang bahkan lelaki itu sendiri belum pahami.
Alya menggenggam ujung selimut.
“Aku bukan menyuruh Mas pergi,” katanya lirih. “Aku cuma sudah terbiasa Mas pergi.”
Arga tidak menjawab.
Ia berdiri diam cukup lama di samping sofa.
Kemudian, tanpa berkata apa-apa, ia mematikan lampu utama kamar. Hanya lampu kecil di dekat ranjang yang dibiarkan menyala, menciptakan cahaya temaram yang lembut.
Alya memejamkan mata.
Beberapa menit berlalu.
Ia mendengar suara Arga bergerak di sofa, lalu semuanya kembali hening. Mesin infus berdetak pelan. Suara roda troli perawat sesekali melintas di koridor. Hujan mulai turun di luar, memukul kaca jendela dengan irama yang pelan.
Dalam keadaan setengah sadar, Alya merasa ada tangan menyentuh ujung jarinya.
Hangat.
Hati-hati.
Ia membuka mata sedikit.
Arga duduk di kursi dekat ranjang, bukan di sofa. Selimutnya masih terlipat. Lelaki itu tampaknya belum tidur. Ia hanya duduk sambil menggenggam tangan Alya yang tidak terpasang infus.
“Mas belum tidur?” tanya Alya, suaranya serak.
Arga menoleh. “Kamu bangun?”
“Iya.”
“Kamu harus tidur.”
“Mas juga.”
Arga tersenyum tipis.
Itu bukan senyum lebar. Bukan senyum bahagia. Tetapi senyum kecil itu cukup membuat Alya terdiam.
Ia hampir lupa bahwa Arga bisa tersenyum seperti itu.
“Aku takut kamu kenapa-kenapa kalau aku tidur,” kata Arga.
Alya menatapnya.
Kalimat itu terasa terlalu jujur.
“Tadi Mas bilang Mas nggak tahu kenapa minta maaf,” ucap Alya pelan.
“Iya.”
“Sekarang Mas takut aku kenapa-kenapa?”
Arga mengalihkan pandangan ke tangan mereka yang saling bertaut.
“Iya.”
“Sampai segitunya?”
Lelaki itu tidak langsung menjawab.
Lalu, dengan suara rendah yang hampir tenggelam oleh hujan, Arga berkata, “Aku tidak tahu sejak kapan, tapi rumah tadi pagi terasa sangat sunyi waktu kamu pingsan.”
Alya tidak tahu harus mengatakan apa.
Dada yang sejak tadi terasa sakit justru semakin sesak. Bukan karena sedih sepenuhnya. Bukan karena bahagia juga. Ada sesuatu yang jauh lebih rumit—rasa ingin percaya, tetapi takut kembali terluka.
“Rumah itu memang selalu sunyi, Mas,” katanya akhirnya. “Aku cuma selama ini berusaha membuatnya terasa hidup.”
Arga menatapnya.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Kemudian Alya memejamkan mata lagi. Tangannya masih berada di dalam genggaman Arga. Ia tidak menariknya. Malam itu, ia membiarkan dirinya menerima kehangatan kecil tersebut.
Bukan karena semua luka mereka sudah sembuh.
Bukan karena Alya lupa pada Keisya.
Tetapi karena tubuhnya sedang terlalu lelah untuk terus berjuang sendiri.
Di sisi ranjang, Arga tetap duduk.
Ia tidak tahu bahwa di balik mata Alya yang tertutup, perempuan itu masih menyimpan ketakutan yang sama.
Ketakutan bahwa besok pagi, ketika cahaya kembali datang dan nama Keisya kembali muncul di layar ponselnya, semua perhatian malam ini akan hilang seperti hujan yang berhenti sebelum fajar.