NovelToon NovelToon
KETIKA AKU HARUS MEMILIH

KETIKA AKU HARUS MEMILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Balas Dendam
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Five Vee

Serafina Olivia mencintai Ravin Haryaka Arthadipa sejak ia berusia 17 tahun. Pria yang setahun lebih tua darinya itu, merupakan anak dari rekan bisnis sang papa. Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, membuat Sera semakin menyukai Ravin. Hingga suatu hari, rencana perjodohan dua keluarga pun terdengar. Tanpa berpikir dua kali, Sera pun menerima perjodohan itu demi bisa hidup bersama pria pujaan hatinya. Bahagia hanya terasa di awal cerita. Semuanya berubah, saat rahasia hati Ravin terungkap. Pria itu tidak pernah mencintai Sera. Hatinya hanya untuk wanita lain. Di tengah lelah menanti cinta Ravin yang tak kunjung berlabuh padanya. Sera pun di hadapkan pada dua pilihan. Bertahan dalam ketidakpastian dan sakit hati. Atau pergi untuk membebaskan hati dengan cinta yang baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Kecurigaan Mama Safina.

Mama Safina mengamati gerak gerik sang putri. Sejak kedatangannya tadi, Sera seolah memaksakan diri untuk terlihat baik - baik saja.

Gadis itu tersenyum kaku dan lebih banyak melamun.

“Kamu kenapa, Ra?” Tanya mama Safina.

Sera gelagapan. “Tidak apa - apa, ma. Aku hanya sedikit lelah.” Dusta gadis itu.

“Sedikit lelah? Memangnya kamu melakukan apa? Begadang menunggu suami kamu kembali?” Tanya sang mama.

Sera mengerutkan keningnya. Namun sedetik kemudian ia kembali menetralkan raut wajahnya.

“Apa maksud mama? Siapa yang menunggu suami pulang?”

Mama Safina mencebik pelan. “Mama melihat Ravin keluar dari kamar hotel dengan terburu - buru malam itu.”

Deg!!

Sera pun menoleh ke arah sang mama yang tengah membantunya membereskan pakaian.

“Mama lihat dimana? Salah orang mungkin.”

“Salah orang, ya? Padahal mama sudah mengenal Ravin sejak umur lima tahun. Tidak mungkin salah orang.” Ucap wanita paruh baya itu sembari mengedikan bahu.

Sera terbungkam. Ia lupa jika keluarga Mahendra dan Arthadipa sudah bertetangga sejak lama.

“Mama sengaja tidak membahas ini kemarin. Karena ada mertua kamu, mereka pasti membela putranya. Sekarang, jujur sama mama, kemana Ravin pergi malam itu?” Tanya mama Safina lagi.

“Kak Ravin ada urusan penting, ma.” Ucap Sera pelan. Ia memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari sang mama.

Mama Safina yang sedang melipat gaun Sera, pun menoleh ke arah gadis itu.

“Urusan penting apa sampai meninggalkan kamu sendiri di malam pernikahan? Apa gedung Artha Mandiri terbakar?” Sindir mama Safina.

Sebenarnya ia ingin mengetuk pintu kamar sang putri malam itu, tetapi hal itu hanya akan mengundang amarah sang suami.

Mama Safina akan mencari tau dan mengumpulkan bukti agar bisa melepaskan Sera dari Ravin. Sebelum semuanya semakin terlambat.

“Jangan bicara seperti itu, ma. Kak Ravin pasti pergi untuk urusan pekerjaan.” Ucap Sera.

Mama Safina berdecak pelan. Sang putri begitu di butakan oleh cintanya pada pria itu. Sampai beberapa kali diingatkan pun, Sera tidak mau mendengarkan.

“Baik. Urusan pekerjaan. Jika memang karena itu, apa perlu Ravin yang harus pergi, dan di malam pernikahannya pula? Apa tidak boleh di gantikan dengan orang lain? Jika memang urusan pekerjaan, seharusnya Ravin mengatakan dengan jujur di meja makan kemarin, Sera. Bukannya berbohong dengan mengatakan kalau kalian kelelahan. Atau, jangan - jangan kamu juga tidak tau. Kemana suami kamu pergi?” Mama Safina menatap sang putri dengan lekat.

“Pria seperti itu, pasti merahasiakan sesuatu. Mungkin saja dia menyembunyikan wanita —

“Ma. Tolong jangan bicara seperti ini. Aku baru saja merasakan kebahagiaan karena bisa menikah dengan pria yang aku cintai. Kak Ravin sekarang sudah menjadi menantu mama. Hargai dan hormati dia. Bagaimana jika tuduhan mama salah? Apa mama tidak malu?” Sera ikut menatap sang mama dengan tajam.

“Jika kecurigaan mama salah, mama akan menjadikan suami kamu itu menantu yang paling mama banggakan dan mama sanjung dimana - mana. Tetapi, jika kecurigaan mama benar tentang dia, kamu harus menurut apa kata mama.” Tegas mama Safina.

“Seorang istri itu di prioritaskan, Sera. Bukan ditelantarkan di malam pertama pernikahan. Jangan katakan sama mama, kalau kalian bahkan belum melakukan — Mama Safina menatap Sera dengan lekat.

Sera tak menjawab ucapan sang mama, sehingga membuat mama Safina tersenyum mengejek.

Wanita paruh baya itu tidak mau melihat putrinya direndahkan oleh Ravin dengan mengemis cinta pria itu.

Anak yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang, tak seharusnya mengemis cinta pada pria yang tak pernah mencintainya.

.

.

.

Setelah makan siang dan melupakan perdebatannya dengan sang mama, Sera meminta bantuan salah satu asisten rumah tangga sang mama untuk membawa koper - kopernya ke rumah keluarga Arthadipa.

Gadis itu hanya membawa setengah dari pakaian dan barang - barang miliknya. Akan ia ambil secara perlahan dan akan disisakan, karena sewaktu - waktu pasti menginap di rumah orang tuanya.

Saat tiba di kediaman Arthadipa, sang nyonya rumah tengah duduk di ruang tamu, rumah mewah bergaya Eropa klasik itu sembari menunggu kedatangan Sera.

Sang putra sudah mengirim pesan, mengatakan kalau Sera sedang berada di rumah orang tua gadis itu untuk membereskan pakaiannya.

“Selamat datang di rumah Arthadipa, sayang.” Mama Irene menyambut kedatangan sang menantu. Dengan memeluk gadis itu.

“Terima kasih, ma.” Sera membalas pelukannya.

Mama Irene kemudian meminta salah satu asisten rumah tangga untuk membawa koper Sera naik ke kamar Ravin.

“Kamu sudah makan siang?” Tanya mana Irene sembari mengajak Sera duduk di atas sofa.

“Sudah, ma. Tadi mama membuatkan makanan kesukaan aku.” Jelas Sera.

“Papa dimana, ma?” Tanya Sera mengedarkan pandangannya.

Di ruang tamu yang cukup luas dan berinterior mahal itu, mama Irene hanya sendiri.

“Papa pergi ke kantor. Semenjak keadaannya membaik, papa kembali ke kantor untuk membantu Ravin. Anak itu belum sepenuhnya bisa memimpin perusahaan.” Jelas mama Irene.

Sera mengerutkan keningnya, itu artinya Ravin tidak bekerja sendiri. Masih ada papa Rajendra yang membantunya. Bukankah, seharusnya pria itu bisa lebih santai dan tidak terburu - buru pergi ke kantor?

“Lalu bagaimana dengan kamu, Sera? Kapan mulai bekerja lagi?” Tanya sang mama mertua.

Sera tersenyum tipis. “Besok, ma.” Ucap gadis itu.

“Loh, kenapa cepat sekali? Kalian baru menikah. Apa tidak ingin di rumah lebih lama melayani suami? Hubungan kalian pasti sedang hangat - hangatnya.”

Sera kembali menipiskan bibirnya dengan terpaksa.

“Untuk apa aku di rumah, ma? Kak Ravin juga pergi ke kantor. Jadi, sebaiknya aku juga ke kantor.” Ucapnya.

“Seharusnya kamu memaksa Ravin agar dia mau pergi bulan madu, Sera. Mama tau, kalian masih canggung sebagai pasangan suami istri. Tetapi ‘kan kalian itu sudah saling mengenal sejak kecil.” Ucap mama Irene.

‘Kami memang sudah saling mengenal sejak kecil, ma. Tetapi, hati Kak Ravin tidak pernah untuk aku.’

Sera jadi teringat dengan ucapan sang mama tadi pagi.

Ravin seharusnya memprioritaskan dirinya sebagai seorang istri. Apalagi mereka baru menikah.

Tidak.

Sera menggelengkan kepala. Ia tidak boleh egois. Ravin merupakan pimpinan perusahaan yang memiliki tanggung jawab besar pada ratusan bawahannya.

Hubungan mereka baru di mulai, dan akan berkembang seiring berjalannya waktu.

Sera hanya perlu menunjukkan rasa cintanya kepada sang suami. Agar Ravin menyadari betapa ia mencintai pria itu.

Seiring berjalannya waktu, hubungan Sera dan Ravin pasti akan membaik. Dan cinta akan meliputi rumah tangga mereka.

“Nanti saja kami pergi liburan berdua, ma. Waktu masih panjang. Biarkan kak Ravin belajar menjadi pemimpin perusahaan yang baik dulu.” Tukas Sera.

Mama Irene sepertinya tidak mengetahui kesibukan sang putra. Sehingga wanita paruh baya itu bisa berkata seperti itu.

“Mama ingin cepat menimang cucu, Sera.” Ucap mama Irene dan Sera pun hanya mampu tersenyum getir.

1
Naufal Affiq
bagus sera,selidiki terus suami mu yang tukang bohong itu,jadi jangan percaya lagi sama omongannya,ikuti aja alur cerita suami mu itu
sunaryati jarum
Bagus Serta, jangan lemah Wira sepertinya saudara Ravin, ibunya Ravin pelakor.
Naufal Affiq
bagus sera,jangan diam aja seperti orang bodoh,ikutin aja permainan si ravin itu,
dyah EkaPratiwi
bagus sera
Noviie 🍃🍃
Fix nih Wira itu kakaknya Ravin.. tp kenapa namanya bisa ganti y??
Noviie 🍃🍃
Tuh kan.. ini Wira pasti mirip papanya waktu muda.. makanya pada ga asing sama wajahnya..
Noviie 🍃🍃
Kayaknya Wira ini kakaknya Ravin deh…
Noviie 🍃🍃
Siapakah Wira ini???
Noviie 🍃🍃
Ooo kamu ketahuan Ravin….
Noviie 🍃🍃
Recommended ❤️❤️
Naufal Affiq
harus tegas ra,biar tau suami laknat mu itu,
Naufal Affiq
harus tegas ra,biar tau suami laknat mu itu,
dyah EkaPratiwi
nah gitu Ra harus tegas
dyah EkaPratiwi
ravin bener2 kurang ajar
dyah EkaPratiwi
wah Wira berarti raditya
dyah EkaPratiwi
gemes banget sama Sera aja coba selidiki ra
dyah EkaPratiwi
betul mama mu Sera cinta boleh bodoh jangan
dyah EkaPratiwi
sera please jangan bodoh😭
dyah EkaPratiwi
jahat banget ravin
Agus Tina
Apakah Wira itu Raditya?
Author Amatir🍒: Nanti akan ada jawaban lengkapnya kak..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!