Dikhianati istri sendiri, Kai kehilangan segalanya. Yang tersisa hanyalah putrinya, Aurelia — satu-satunya cahaya yang perlahan padam karena penyakit mematikan. Di titik terendah, darah yang tertidur ribuan tahun akhirnya bangkit.
Ia bukan lagi orang yang bisa diinjak. Garis keturunan Naga Tertinggi kini mengalir di uratnya. Ia bersumpah:
Yang mengkhianati akan berlutut. Kota yang membuang akan tunduk. Aurelia akan hidup — walau harus melawan surga sekalipun.
Namun kekuatan naga membuka gerbang dunia lain. Pengkhianatan itu bukanlah akhir, melainkan awal rencana gelap yang melintasi waktu. Kai kini harus melintasi dimensi, menguasai bela diri kuno, dan memimpin tim ke tempat yang tak pernah manusia jangkau. Dan di tengah badai pembalasan, ia paham: kekuatan terbesar bukanlah kemampuan menghancurkan, tapi alasan untuk melindungi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 29 — Bayangan yang Memanggil Nama
Pilar api gelap melesat ke langit-langit istana, menyinari wajah-wajah yang tegang. Sosok yang menyamar sebagai Kairus berdiri di tengah kobaran itu, bayangannya memanjang menelan cahaya, seakan seluruh ruangan tunduk pada kehendaknya.
"Kalian datang untuk menghentikanku?" suaranya menggelegar, bergema dari dinding ke dinding. "Kalian datang untuk membela dunia yang membiarkan ayahmu hancur sendirian di kegelapan?"
Kai melangkah maju, tidak mengangkat senjata, tidak memancarkan kekuatan apa pun. "Dunia tidak tahu, itu bukan alasan untuk menyakiti mereka yang tidak bersalah. Dan kau… kau bukan ayahku. Kau rasa sakit yang ia tinggalkan, kau kesepian yang ia pendam — tapi kau bukan dia."
Sosok itu meraung, dan gelombang tenaga menghantam mereka. Dagan dan Ren membentengi barisan, namun dorongan itu begitu kuat hingga mereka terdorong mundur beberapa langkah, kakinya tergelincir di lantai batu yang mulai meleleh.
"Jangan panggil aku bayangan!" bentaknya. "Aku lebih nyata daripada dia! Aku hidup karena ia terluka! Dan aku akan menjadikan semua dunia merasakan apa yang ia rasakan — ditinggalkan, dikhianati, dilupakan!"
Ia melancarkan serangan berikutnya — bukan ke arah Kai, melainkan ke arah Elowen. "Dan kau… kau yang membiarkannya pergi! Kau yang memilih keseimbangan di atas keluargamu!"
Elowen berdiri tegak, menerima hantaman itu tanpa menghindar. Tubuhnya dilindungi cahaya perak tipis, namun kakinya tertekuk di bawah tekanan yang luar biasa. "Aku tidak memilih. Aku dipaksa. Mereka mengancam akan membunuh kalian berdua jika aku tidak pergi." Suaranya bergetar namun teguh. "Setiap detik yang berlalu, aku menyesalinya. Setiap malam aku memanggil namanya… memohon agar ia tahu aku tidak pernah berhenti mencintainya."
Sosok itu terhenti sejenak. Tangan yang terulur untuk menyerang gemetar. Wajahnya yang persis seperti Kairus tampak berkedut, seakan ada sesuatu yang berjuang keluar dari balik bayangan yang melilitnya.
"Kau… mencarinya?" suaranya pecah, bukan lagi satu nada, melainkan dua — satu dingin dan penuh amarah, satu lemah dan rindu. "Selama ini…?"
"Selama ini," jawab Elowen, air mata jatuh di pipinya. "Aku tidak pernah berhenti mencari."
Kai menyadari momen itu. Ia melangkah maju lagi, perlahan, seakan mendekati sesuatu yang rapuh. "Kau bukan sekadar bayangan, kan? Kau bagian dari dirinya yang tertinggal di sini. Kau ingat bagaimana ia tertawa saat kami masih kecil? Kau ingat ia pernah berkata — kekuatan terbesar bukan untuk memerintah, tapi untuk melindungi?"
"Berhenti!" teriak sosok itu, menutup telinganya. "Itu bohong! Ia ditinggalkan! Ia dikhianati! Ia sendirian!"
"Ia tidak sendirian!" Kaelan melangkah ke sisi kakaknya, suaranya lantang dan jernih. "Kami ada di sini! Ibu ada di sini! Kami datang untuk membawanya pulang!"
Cahaya di sekeliling sosok itu bergejolak — merah menyala lalu memudar menjadi keemasan, gelap lalu terang. Tubuhnya bergetar hebat, seakan ada dua kekuatan yang saling bertarung di dalamnya.
"Pergilah…" suaranya lemah, nyaris bisikan. "Sebelum aku menghancurkan kalian juga… kekuatan ini menguasai… tidak bisa menahannya…"
"Kami tidak pergi," kata Kai mantap. Ia mengulurkan tangan, bukan untuk menyerang, melainkan untuk memeluk. "Kami tidak akan pergi lagi."
Ia melangkah masuk ke dalam kobaran api gelap itu. Panasnya membakar kulit, namun ia tidak berhenti. Kaelan mengikuti di sampingnya, Elowen di belakang — mereka bergerak bersama, menembus dinding kegelapan yang seakan tak tertembus.
Saat tangan Kai menyentuh bahu sosok itu, sesuatu berubah. Bayangan yang melilitnya mulai terurai perlahan, menampakkan wujud yang tersembunyi — pria yang wajahnya persis seperti ayah mereka, namun tubuhnya sebagian berubah menjadi kabur, memudar, seakan perlahan lenyap. Matanya yang dulu menyala merah kini kembali lembut, penuh air mata yang tak mampu jatuh.
"Kai… Kaelan…" suaranya pelan, nyaris tak terdengar. "Maafkan Ayah… tidak bisa menjaga kalian…"
"Ayah…" Kaelan berlutut di sampingnya, menahan tangan ayahnya yang terasa dingin. "Kami di sini. Kami tidak akan pergi."
Kairus tersenyum tipis, senyum yang penuh rindu sekaligus kesedihan. "Aku tahu… aku merasakannya. Setiap kali kalian berjuang… setiap kali kalian tidak menyerah… cahayanya menjangkauku." Ia menatap Elowen, matanya penuh kasih sayang yang tak pernah pudar. "Maafkan aku… tidak bisa pulang kepadamu."
"Kau sudah pulang," jawab Elowen lembut, memegang tangannya erat. "Kau ada di sini, bersama kami."
Kairus mengangguk pelan, lalu menatap Kai lekat-lekat. "Aurelia… ia tahu. Ia tahu sejak awal."
Kai menahan napas. "Apa maksudnya?"
"Kekuatannya bukan sekadar menyatukan cahaya dan kegelapan," kata ayahnya perlahan, seakan setiap kata berat diucapkan. "Ia membawa sesuatu yang hilang sejak awal penciptaan — keseimbangan sejati. Para Pengatur takut padanya bukan karena ia bisa mengalahkan mereka… tapi karena ia bisa mengubah cara dunia bekerja selamanya."
Ia mengangkat tangan yang gemetar, menunjuk ke arah langit-langit istana yang kini retak, menampakkan cahaya bintang yang tak dikenal.
"Ia tidak pergi ke tempat yang jauh… ia berada di tempat yang paling dekat, namun paling sulit dijangkau — di antara setiap detik waktu, di antara setiap hembusan napas. Ia sedang menyusun kembali apa yang hancur."
"Bagaimana cara menjemputnya?" tanya Kai cepat.
Kairus tersenyum samar. "Bukan dengan kekuatan. Bukan dengan pertarungan. Saat kalian benar-benar memahami — kalian tidak perlu memilikinya, cukup hidup seperti yang ia ajarkan… pintu itu akan terbuka."
Tubuhnya mulai bersinar perlahan, melebur menjadi butiran cahaya keemasan yang sama seperti milik Aurelia.
"Ayah…" Kaelan menahan tangannya, tak ingin melepaskan.
"Dengarkan aku," kata Kairus tegas namun lembut. "Para Pengatur belum kalah. Mereka hanya mundur. Mereka menunggu saat Aurelia menyelesaikan tugasnya — agar bisa mengambilnya saat ia paling lemah. Kalian harus menjaganya. Kalian harus menjadi benteng yang tak bisa diruntuhkan."
Ia menatap mereka satu per satu — putra-putranya, istrinya, teman-teman yang kini menjadi keluarga.
"Aku mencintai kalian. Selalu. Di mana pun aku berada."
Dengan itu, cahayanya menyebar ke seluruh ruangan, menembus dinding, naik ke permukaan, menyinari lembah yang dulu gelap. Kegelapan yang menguasai dunia ini perlahan surut, digantikan cahaya hangat yang lembut namun tak tergoyahkan.
Di kejauhan, di celah langit yang terbuka, satu bintang baru muncul — bersinar lembut, berkedip pelan seakan menyapa.
Kai menatap bintang itu, dadanya penuh rindu sekaligus harapan. "Aurelia…"
Namun keheningan itu terpecahkan oleh suara yang tajam dan dingin — bukan dari langit, melainkan dari bayangan yang tersisa di sudut ruangan.
"Mengharapkan keajaiban?" suara itu mengejek. "Kalian pikir satu pertemuan mengubah segalanya? Kami telah menunggu ribuan tahun. Dan kami tidak akan membiarkan anak itu mengakhiri kekuasaan kami."
Sosok itu tidak muncul — hanya suaranya yang bergema, namun setiap orang merasakan hawa dingin yang menusuk tulang.
"Langkah terakhir telah dimulai. Saat kalian bersedih, kami telah menemukan tempat persembunyiannya."
Jantung Kai berdebar kencang. "Di mana?"
Suara itu tertawa pelan sebelum menghilang.
"Di tempat yang kalian anggap paling aman — di dalam salah satu dari kalian."