Setelah menikah dengan Silas Crane, Nara Aeris mulai merasakan kebosanan. Hidupnya hanya dipenuhi dengan berbaring, makan, dan menghabiskan uang suaminya.
Tapi ternyata itu cuman bertahan beberapa hari.
Sejak sebuah sistem informasi harian yang bernama Lyra, tiba-tiba muncul di atas kepalanya dan memberikan satu informasi setiap hari. Hidupnya tidak jadi membosankan!
Hari-hari dipenuhi gosip menyenangkan.
【 Ketua Cabang Grup Ardent diam-diam memindahkan tiga puluh miliar sebelum menandatangani surat perceraian. 】
【 Pewaris keluarga Rothwell menikahi sekretarisnya secara diam-diam. 】
Mata Nara berbinar.
"Bukankah gosip seperti ini terlalu menyenangkan?"
Karena Nara Aeris suka berbagi, ia akan selalu melakukan siaran langsung untuk berbagi kepada para penggemarnya. Tentu saja! Gosip bagus harus dibagikan.
Internet mulai macet akibat tingkah laku Nara, dan dia dijuluki Ratu Gosip.
Let's Start The Story!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ly-Ra?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Main Game MOBA Bersama Suamiku.
Malam telah menyelimuti Astoria Hills. Lampu-lampu taman menyala di sepanjang jalan setapak, menerangi hamparan rumput yang terawat dan pepohonan di sekitar kediaman keluarga Crane. Udara malam terasa sejuk, sementara suasana di dalam rumah perlahan menjadi tenang setelah makan malam selesai.
Para pelayan membereskan meja makan sebelum menyelesaikan pekerjaan mereka. Seperti biasa, sebagian besar pelayan tidak menginap di kediaman keluarga Crane. Mereka memiliki jam kerja masing-masing dan akan pulang setelah tugas hari itu selesai.
Nara baru saja kembali ke kamar bersama Silas, ketika sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya.
Dia menoleh kepada suaminya yang sedang melepaskan jam tangan. Matanya berbinar penuh semangat.
"Sayang, malam ini kita main Glory Clash, yuk!"
Glory Clash adalah permainan MOBA yang paling populer di Lyrantara. Game dari Arvanthe Group itu memiliki jutaan pemain aktif, mulai dari kalangan pelajar hingga pekerja kantoran.
Permainan pertarungan antartim tersebut mengandalkan kerja sama, pemilihan karakter, dan strategi untuk mengalahkan lawan. Tak sedikit pula pemain yang menyiarkan pertandingan mereka secara langsung, menjadi Glory Clash sebagai salah satu hiburan favorit di kalangan anak muda.
Silas menghentikan gerakannya sejenak, kemudian menatap istrinya. "Sekarang?"
"Iya!" Nara mengangguk cepat. "Sudah lama aku tidak bermain dengan orang yang aku kenal secara langsung. Biasanya aku hanya bermain, dengan teman satu tim yang tidak kuketahui identitasnya."
Silas meletakkan jam tangannya di atas meja. "Baiklah."
Nara sempat terdiam, dia mengira harus membujuk suaminya beberapa kali sebelum mendapatkan jawaban. Tetapi Silas ternyata langsung menyetujuinya.
"Serius?" tanyanya untuk memastikan.
"Bukankah kamu sendiri yang mengajakku?"
Nara tertawa kecil, lalu meraih tangan Silas dan menariknya menuju tempat tidur. "Kalau begitu, ayo! Kita harus segera mulai sebelum terlalu malam."
Silas mengikuti langkah istrinya tanpa keberatan.
Sesampainya di tempat tidur, Silas duduk di bagian tengah dengan punggung bersandar pada kepala ranjang. Nara kemudian duduk di antara kedua kakinya, membiarkan punggungnya bersandar nyaman pada dada sang suami.
Silas meraih selimut dan membentangkannya di atas kaki mereka. Selimut itu hanya menutupi tubuh mereka sampai pinggang, sehingga tangan keduanya tetap bebas bergerak untuk bermain.
Nara menggeser tubuhnya sedikit agar mendapatkan posisi yang lebih nyaman. Setelah bersandar dengan puas, dia mengambil kedua ponselnya dari meja samping tempat tidur.
Salah satu ponsel akan digunakan untuk bermain, sedangkan ponsel lainnya dipakai untuk siaran langsung.
"Sebentar, aku atur siarannya dulu."
Nara menunjuk meja yang biasa digunakan di atas kasur. Silas segera meraihnya dan meletakkannya di atas tempat tidur, tepat di depan mereka. Dia kemudian mengambil penyangga ponsel dan memasangnya di atas meja kecil itu.
Nara memasang ponsel keduanya pada penyangga, lalu mengatur sudut kamera hingga bisa menangkap wajah mereka berdua dengan jelas. Setelah itu, dia membuka pengaturan siaran langsung dan memilih fitur berbagi layar agar penonton juga dapat melihat permainan mereka.
Dia memastikan tampilan kamera dan layar game bisa muncul bersamaan. Dengan begitu, penonton tidak hanya melihat wajah mereka, tetapi juga dapat mengikuti pertandingan Glory Clash yang sedang dimainkan.
Setelah memeriksa semuanya, Nara tersenyum puas.
"Sudah siap! Kita mulai siaran langsungnya!"
Dia menekan tombol mulai siaran.
Tak lama kemudian, beberapa penonton mulai masuk.
( Nara akhirnya live lagi! )
( Kak Nara, malam ini mau ngapain? )
( Eh, ada layar game juga! Mau main Glory Clash, ya? )
( Tunggu, kenapa ada orang di belakang kak Nara? )
( ASTAGA, ITU BUKANNYA TUAN SILAS CRANE?! )
Mendengar kabar kalau ada Silas Crane di siaran Nara, para pengguna internet mulai berbondong-bondong untuk menontonnya dan data penonton mulai meningkat.
Bagaimanapun, Silas Crane bukanlah sosok biasa. Selain dikenal sebagai CEO muda yang sukses, dia juga dianggap sebagai salah satu pemuda teladan di Lyrantara. Penampilannya yang tampan, sikapnya yang tenang, serta kemampuannya memimpin Crane Group. Membuat namanya selalu menarik perhatian publik.
Karena itulah, kemunculan Silas di siaran langsung Nara sontak membuat banyak orang penasaran.
Nara melirik komentar yang terus bermunculan, lalu tersenyum ke arah kamera.
"Halo, semuanya! Malam ini aku akan bermain Glory Clash bersama suamiku."
( APA! TUAN SILAS JUGA MAIN GAME?! )
( Aku tidak salah dengar, kan? )
( Kak Nara, suamimu benar-benar akan bermain bersamamu? )
( Cepat mulai! Aku ingin melihat kemampuan bermain Tuan Silas! )
Nara terkekeh membaca komentar tersebut.
"Jangan berharap terlalu tinggi. Suamiku belum pernah bermain Glory Clash sebelumnya."
Silas melirik istrinya. "Kamu meremehkan aku?"
"Bukan begitu." Nara buru-buru menggeleng sambil menahan senyum. "Aku hanya mengatakan fakta."
"Kalau begitu, nanti kamu bisa menilainya sendiri."
Nada suara Silas terdengar santai. Dia tidak terlihat gugup ataupun ragu, meskipun akan mencoba permainan yang sama sekali belum dikenalnya.
Nara mengangkat alis. "Wah, percaya diri sekali."
Dia kemudian membuka Glory Clash di ponsel utamanya. Akun yang biasa digunakannya sudah mencapai peringkat tinggi, sehingga tidak bisa langsung dipasangkan dengan akun baru milik Silas, yang masih berada di peringkat rendah.
Karena itu, Nara memutuskan menggunakan akun keduanya untuk bermain bersama Silas.
"Sayang, pinjam ponselmu sebentar."
Silas menyerahkan ponselnya tanpa bertanya.
Nara segera membuka Glory Clash di ponsel tersebut, lalu memasukkan informasi akun keduanya. Setelah berhasil masuk, memeriksa profil dan memastikan semuanya sudah siap digunakan.
"Sudah!" Nara mengembalikan ponsel itu kepada Silas. "Ini akun keduaku. Peringkatnya tidak jauh lebih rendah dari akun utamaku. Tapi kita masih bisa bermain bersama."
Silas menerima ponselnya dan memperhatikan layar beberapa saat. "Jadi, aku akan menggunakan akun ini?"
Nara mengangguk. "Benar. Kamu tinggal memilih karakter nanti, aku akan mengajarimu cara bermain."
"Baiklah."
Nara menunjuk beberapa karakter yang tersedia.
"Untuk pemula, sebaiknya pilih karakter yang mudah digunakan. Jangan langsung memilih yang terlalu sulit."
Silas Crane tidak terburu-buru menentukan pilihan. Dia membaca informasi kemampuan beberapa karakter, memperhatikan perbedaan peran mereka, lalu memilih salah satunya.
Nara langsung mengernyit ketika melihat pilihannya. "Kamu yakin? Karakter itu cukup sulit digunakan. Kamu harus pandai mengatur waktu penggunaan kemampuannya."
"Sepertinya menarik."
"Kalau nanti kesulitan, jangan malu bertanya kepadaku."
Silas hanya mengangguk.
Pertandingan dimulai.
Nara mengambil posisi sambil sesekali melirik layar ponsel suaminya untuk memastikan dia mengikuti petunjuk. Namun, beberapa detik kemudian, dia mendapati Silas bergerak menuju jalur yang berbeda.
"Sayang, kamu mau ke mana?"
"Mengambil posisi."
"Tapi jalur itu biasanya dijaga dua pemain lawan. Kamu baru pertama kali bermain, jadi jangan terlalu berani menyerang sendirian."
Silas tidak mengubah arah.
Nara hendak memperingatkannya lagi, tetapi dua karakter lawan muncul dari balik semak-semak. Mereka segera melancarkan serangan untuk mengepung karakter Silas.
Alih-alih panik, Silas mundur beberapa langkah, membuat serangan pertama mereka meleset. Ketika salah satu lawan menggunakan kemampuan utamanya, dia langsung berbalik menyerang.
Gerakannya begitu cepat dan tepat, hingga lawan kehilangan banyak darah sebelum sempat menjauh.
Nara mendekatkan wajah ke layar.
"Eh, kamu sengaja memancing mereka?"
"Mereka terlalu jauh dari posisi aman," jawab Silas. "Kalau menunggu lebih lama, mereka bisa kembali."
Sebelum Nara menangapi, karakter lawan pertama tumbang.
Silas segera mengalihkan perhatian kepada lawan kedua. Dia menjaga jarak, menunggu kesempatan, lalu melancarkan kombinasi serangan yang menghabiskan sisa darah lawannya.
Karakter kedua ikut tumbang.
Nara terdiam sesaat.
Strategi itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan hanya dengan menekan tombol secara acak. Pemain harus memahami jarak serangan, waktu pemulihan kemampuan, dan kebiasaan lawan. Kesalahan kecil bisa berakhir dengan kekalahan.
Namun, Silas melakukannya tanpa terlihat kesulitan.
Apakah ini masih pemula?!
...----------------...
tetap sehat dan semangat Thor