Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.
Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Jiang Chen sama sekali tidak terlihat panik, dia justru menguap lebar seolah bosan melihat adegan klise di depannya.
"Kalau iya kenapa? Apa kalian adalah klub penggemar rahasiaku yang mau minta tanda tangan tengah malam begini?" goda Jiang Chen santai.
Cuih.
Pria botak itu meludah ke aspal dengan raut wajah yang sangat merendahkan.
"Tanda tangan kepalamu! Kami datang untuk menjemput nyawamu atas perintah Tuan Zhao," jawab preman botak itu kasar.
"Keluarga Zhao? Ah, maksudmu ayah dari pria cengeng yang giginya kurontokkan siang tadi ya?" tebak Jiang Chen tepat sasaran.
"Mulutmu benar-benar besar untuk ukuran orang mati," geram pria botak itu sambil mengangkat pipa besinya.
"Tuan Zhao berpesan agar kami mematahkan kedua kakimu dan membawa tubuh cacatmu kepadanya malam ini juga."
Para preman di belakangnya langsung tertawa mengejek dengan suara yang sangat sumbang dan berisik.
"Bos, sepertinya satu pukulan saja sudah cukup untuk menghancurkan tulang rusuk bocah kurus ini," celetuk salah satu preman berambut gondrong.
"Iya Bos, biarkan aku yang memukul wajahnya sampai rata dengan aspal," tambah preman lainnya dengan tawa meremehkan.
Mereka menganggap pemuda kurus di hadapan mereka ini hanyalah mangsa empuk yang bisa diselesaikan dalam hitungan detik.
Jiang Chen menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan mendesah panjang.
'Aku hanya ingin membeli dua buah roti daging dan susu hangat, kenapa selalu saja ada lalat pengganggu yang menghalangi,' batin Jiang Chen jengkel.
"Dengar ya paman-paman preman yang terhormat," panggil Jiang Chen memecah tawa mereka.
"Aku sedang sangat kelaparan dan suasana hatiku sedang tidak bagus untuk bermain-main."
"Jadi kalau kalian menyingkir dari jalanku sekarang, aku berjanji tidak akan mengirim kalian ke ruang gawat darurat malam ini."
Keheningan yang sangat canggung sempat menyelimuti jalanan sepi itu selama beberapa detik.
Belasan preman itu saling berpandangan seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Seorang pemuda kurus sendirian berani mengancam belasan pria bersenjata yang sudah terbiasa membunuh orang.
"Hahaha! Bocah ini pasti sudah gila karena ketakutan!" tawa pria botak itu meledak semakin keras.
"Kau pikir kau ini jagoan film aksi yang bisa mengalahkan kami semua, hah?!"
"Habisi dia sekarang juga! Jangan buang-buang waktu kita lagi!" perintahnya kepada anak buahnya.
Tiga orang preman bertubuh paling besar langsung menerjang ke arah Jiang Chen dari sisi kanan dan kiri.
Wusss.
Tongkat bisbol kayu diayunkan dengan kekuatan penuh mengincar lutut dan kepala Jiang Chen.
Jika pukulan itu mengenai sasaran, tulang manusia biasa dipastikan akan hancur berkeping-keping saat itu juga.
Namun Jiang Chen bahkan tidak repot-repot mengeluarkan tangannya dari dalam saku celananya.
Matanya memancarkan sedikit cahaya hangat yang tidak kasat mata.
Dalam pandangan Jiang Chen, gerakan ayunan tongkat para preman itu terlihat sangat lambat seperti video gerakan lambat.
Dia hanya memiringkan lehernya sedikit ke kiri, membiarkan tongkat bisbol pertama lewat hanya satu sentimeter dari telinganya.
Wusss.
Di saat yang bersamaan, kaki kanan Jiang Chen melesat ke depan seperti cambuk besi yang membelah udara.
Brak.
Tendangan itu mendarat telak tepat di titik meridian perut preman pertama.
Preman itu langsung memuntahkan air liurnya ke udara dan tubuhnya terpelanting ke belakang sejauh tiga meter.
Duk duk duk.
Tubuh besarnya berguling-guling di atas aspal dan dia langsung pingsan seketika tanpa sempat mengeluarkan suara rintihan.
Preman kedua dan ketiga membelalakkan mata melihat teman mereka terbang seperti boneka kapas yang ringan.
"Mustahil! Tenaga monster macam apa itu?!" teriak preman kedua dengan nada panik.
Namun momentum serangan mereka sudah tidak bisa dihentikan lagi.
Jiang Chen memutar tubuhnya menggunakan tumit kaki kirinya sebagai poros.
Kaki kanannya yang tadi menendang kembali berayun menyapu udara membentuk putaran mematikan.
Brak brak.
Dua tendangan beruntun menghantam tepat di rahang preman kedua dan dada preman ketiga.
Krak.
Suara tulang rahang yang bergeser dari tempatnya terdengar sangat mengerikan di tengah malam.
Kedua preman itu ambruk secara bersamaan dan mencium aspal jalanan dengan sangat keras.
Seluruh kejadian itu berlangsung kurang dari tiga detik.
Sisa preman yang bersiap untuk ikut menyerang langsung mematung di tempat mereka berdiri.
Mulut mereka terbuka lebar hingga lalat bisa masuk ke dalamnya.
Pria botak yang menjadi pemimpin mereka bahkan sampai menjatuhkan tongkat pipa besinya ke aspal.
Trang.
"Apa, apa yang baru saja terjadi? Siapa bocah ini sebenarnya?!" gumam pria botak itu dengan suara bergetar ketakutan.
Jiang Chen akhirnya menarik kedua tangannya dari dalam saku celana dan merenggangkan jari-jarinya perlahan.
"Sudah kubilang kan, aku ini sedang lapar dan sangat mudah marah," ucap Jiang Chen dengan senyuman iblis yang terukir di wajahnya.
"Karena kalian sudah berani membuang waktuku, aku akan memungut biaya ganti rugi keterlambatan makanku dari dompet kalian semua."
Jiang Chen melangkah maju mendekati barisan preman yang kini justru melangkah mundur dengan penuh ketakutan.
"Maju semuanya! Serang dia secara bersamaan! Dia hanya sendirian!" teriak bos botak itu memaksakan keberaniannya.
Predator yang sesungguhnya di jalanan malam ini bukanlah belasan preman bersenjata itu.
Melainkan pemuda kurus bermulut tajam yang sedang kelaparan dan butuh uang tambahan untuk beli camilan.
Pertarungan berat sebelah di jalanan sepi itu akhirnya benar-benar dimulai tanpa belas kasihan sedikit pun.