NovelToon NovelToon
Saga Delapan Kristal

Saga Delapan Kristal

Status: tamat
Genre:Epik Petualangan / Action / Anime / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: AryaAulani

Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 WAJAH DIATAS WAJAHKU

Pagi di Sendira sunyi dan sejuk. Cahaya fajar jatuh pucat di lantai kamarku, dan di kejauhan lampu-lampu biru di menara kota padam satu per satu. Tak ada jeritan, tak ada dentang logam. Tapi aku tahu ketenangan ini hanya kulit tipis. Di luar gerbang, asap kemah-kemah kroco masih mengepul, dan lensa di menara timur terus berputar mengawasi mereka. Kota ini menahan napas, hanya saja ia pandai berpura-pura tidur.

Aku sendiri tidur nyenyak, untuk pertama kalinya sejak lembah batu hitam. Karena itu aku tidak sadar ada dua pasang mata mengamatiku dari ujung kasur.

Yang pertama kurasakan hawa hangat di wajahku, seperti napas seseorang. Lalu bau aneh, campuran asap dan kulit basah. Aku membuka mata perlahan.

Sebuah wajah kelabu menyeringai sejengkal dari hidungku. Kulit tebal berkerut, telinga lancip, mata kuning menyala, dan mulut penuh gigi bergerigi yang menganga lebar.

"GYAAAAAH!"

"GEDEBUG!!!"

Aku terjatuh dari kasur dengan bunyi gedebuk yang mengguncang lantai. Kepalaku membentur kaki meja. Jantungku berdentum seperti genderang perang, dan satu-satunya pikiranku: kroco di dalam kamarku, di mana pedangku.

Dari atas kasur terdengar tawa melengking.

"Hahahaha! Wajahmu tadi lucu sekali, Arka! Hahahaha"

Vivi terguling-guling di udara sambil memegangi perutnya. Sosok bertopeng itu mengangkat topengnya, dan di baliknya muncul wajah Iyan yang nyengir lebar, matanya berair karena tertawa.

"Ini udah kedua kalinya kau jatuh dari kasur ini!" Vivi menghitung dengan jarinya.

"Kalian..." Aku terengah, memegangi dada. "Kalian bercanda lagi?!"

"Hahahahaha." Iyan mengangkat topeng itu seperti piala. "kita udh etengah jam bangunin kamu tau. Aku guncang bahumu, Vivi menarik rambutmu, aku bahkan meneriakkan kata 'sarapan' di telingamu. Tapi Kamu malah tidur seperti batu."

"Jadinya kami sepakat," timpal Vivi sambil terkikik, "kalau cara baik tidak berhasil, kita pakai cara kreatif."

"Terua topengnya dapat dari mana?"

"Aku ambil di bawah gudang. Jadinya Aku simpan untuk kesempatan seperti ini."

Aku bangkit dengan wajah panas dan tangan yang masih gemetar. Ini bukan marah biasa. Telingaku berdenging dan napasku belum teratur. "Dengar. Aku sungguh kaget. Bukan pura-pura. Belum lama ini aku dihajar oleh makhluk yang sama menakutkannya dengan wajah itu, dan kalian memasangnya di depan mukaku saat aku baru bangun?"

Tawa mereka mereda. Vivi berhenti berputar. Senyum Iyan memudar perlahan.

"Maaf ya arka," katanya, kali ini tanpa nada bercanda. "Aku tidak berpikir bakal sejauh itu. Awalnya Kupikir lucu aja, tapi aku malah bikin kamu kaget."

"Maafin vivi juga ya," cicit Vivi, hinggap di tepi kasur dengan sayap terlipat. "Kami udah keterlaluan sama kamu."

Aku mengembuskan napas panjang, dan amarahku mengendur seperti api kehabisan kayu. " Ya sudahlah. Tapi topengnya balikin lagi ke tempatnya."

"Lah jangan!" Iyan memeluk topeng itu. "Aku sudah menyayanginya."

"Udah balikin, takutnya nanti dicariin."

"Ya udah, baiklah."

Cecilia menunggu kami di ruang depan, dikelilingi tumpukan buntalan. Ia sudah memegang peta batu akik yang terbuka di meja.

"Sekarang tujuan kalian berdua pergi ke lembah Embun," katanya tanpa basa-basi, menunjuk titik di sisi timur. "Menurut di peta kalian bisa sekitar lima hari berjalan kaki. Dua hari lebih lama dari Artheria. Kalian yakin mau berjalan?"

"Emangnya, anna tidak bisa membuka gerbang ke sana?" tanya Iyan.

"Gerbangnya itu hanya bisa menuju tempat yang pernah ia injak. Ia belum pernah ke Lembah Embun." Cecilia melipat tangan. "Aku bisa aja menyiapkan kereta cepat, tapi jalurnya melewati wilayah kemah kroco. Jalan kaki malah lebih aman."

"Aku tidak keberatan kok, kak cecil" kataku. Ketiganya menatapku. "Sebenarnya aku ingin berjalan aja. kakak bilang di sepanjang jalan pasti ada kemah kroco, nah aku berniat ingin mengasah kemampuan diri di sana."

Cecilia menatapku lama, lalu bibirnya melengkung tipis. "Jadi Kamu mau menjadikan kemah-kemah mereka tempat latihan."

"Ya, sekalian membersihkan jalan untuk orang yang lewat."

"Hhmmm....baiklah." Ia mengangguk. "Kalian berdua, dan Vivi, boleh berangkat. Tapi tolong dengar: aku tidak minta kemenangan, aku hanya minta kepulangan." Ia menunjuk meja. "Kristal merah sudah kusimpan di ruang besi istana, dijaga Robert dan Hana. Batu akiknya tetap kamu yang pegangl, Arka."

Lalu ia menyerahkan buntalan satu per satu: roti kering, daging asap, buah kering, kantong air, ramuan penyembuh buatan Hana, dan gulungan perban. Iyan menerima bagiannya dengan lutut sedikit menekuk.

"Ini... lebih berat dari beban latihan Robert."

"Gadamu sudah diperbaiki bengkel kota semalam kan?" kata Cecilia. "Nah, anggap itu bayarannya."

Diperjalanan mereka mengobrol dan sekalian Arka bertanya

"Iyan," kataku ketika Sendira sudah menjadi siluet logam di belakang kami. "Pilar yang berjaga di Lembah Embun itu, kau tahu siapa?"

"Oh dia itu pilar kelima. Dia itu selalu ditugaskan di luar, jadi jarang kelihatan di Sendira." Matanya berbinar. "Aku hanya pernah melihatnya sekali dari jauh, waktu upacara pengangkatan."

"Seperti apa dia?"

"Dia mempunyai insting tempur paling tajam di seluruh korps. Katanya dia bisa membaca gerak musuh sebelum musuh itu sendiri memutuskan bergerak. Cepat, nyaris tak terlihat, dan tangguh. Luka yang membuat orang biasa tumbang cuma membuatnya mendengus."

"Ah, paling Itu hanya gosip."

"Gosip katamu, asal kamu tau ya.. Konon dia sudah membunuh hampir lima ratus tujuh puluh kroco, dan satu entitas tingkat bawah."

Aku berhenti melangkah. "Entitas tingkat bawah. Sendirian?"

"Ya, begitu ceritanya."

Aku teringat kepala Froz yang berguling di rumput, dan betapa kami bertiga nyaris mati melawannya. Ada orang yang melakukannya sendirian. Dadaku bergetar oleh campuran kagum dan sedikit iri. "Kalau itu benar, aku ingin berguru padanya."

"Kamu? Tapi kan kamu si penumbang Froz"

"Aku menang karena kalian, bukan karena sudah hebat."

Iyan menatapku, lalu terkekeh. "Kamu keliatannya mulai terdengar rendah hati."

"Oh iya, Kamu tahu namanya?"

"Kalau tidak salah..." Ia memutar mata, mengingat-ingat. "Haris. Ya, Haris."

"Haris," ulangku, merasakan nama itu di lidahku.

Dua jam kemudian, jalan setapak melebar menjadi jalan batu, dan di depan kami menjulang sebuah distrik yang membuat Sendira tampak seperti desa.

Temboknya putih berkilau, tiga kali lebih tinggi dari tembok Sendira. Menara-menara kaca menembus awan, jembatan transparan menghubungkan gedung-gedung, dan kereta-kereta melayang meluncur di atas jalur cahaya. Pasarnya riuh. Pedagang berteriak menawarkan dagangan, anak-anak berlarian di antara kios, dan musik mengalun dari entah mana.

"Kok mereka tidak bersembunyi," gumamku.

"Iya ya, mereka tidak sepanik seperti Artheria," kata Iyan, menganga seperti anak desa. "Aku... belum pernah ke sini."

"Wow, aku bisa tinggal di sini," bisik Vivi, mengintip dari balik rambutku.

"Ayo cepat, Kita tidak punya waktu."

Kami menyusuri jalan utama tanpa berhenti, hanya Iyan yang sempat membeli sepotong sate. Di gerbang timur, para penjaga melambai santai pada lencana delapan sudut kami. Aku menoleh sekali ke belakang. Distrik yang megah itu bersinar di bawah matahari, dan entah kenapa aku merasa bersyukur ia tampak aman.

Menjelang sore, jalan melambung ke utara untuk menghindari rawa besar. Kami melewati tugu batu tua yang menandai perbatasan: satu sisinya terukir TENGU, sisi lainnya FOXAR. Tepat di balik tugu, tanah menurun menjadi lembah hijau yang luas.

Dan di dasarnya, tenda-tenda kulit berdiri berderet.

"Ada kemah kroco," bisik Iyan, menurunkan buntalannya.

Aku menghitung cepat. Dua puluh lebih kroco, berseliweran di sekitar api unggun. Di tengah mereka, satu sosok menjulang dua kali lipat lebih besar: kroco raksasa berkulit batu, memakai zirah dari roda gerobak dan panci besi curian, menyandang gada berduri sebesar tubuh Iyan.

"Ah itu dia pemimpinnya," kata Vivi.

Salah satu kroco menoleh. Hidungnya mengembang, lalu ia melolong.

"GRAAAAH!"

Seluruh kemah menyerbu ke arah kami.

"Kmau siap iyan?" tanyaku.

"Aku mah selalu siap." Kilat kecil menari di ujung gada Iyan.

Aku menarik pedang dan memejamkan mata sedetik. Angin di dalam dadaku berputar. Saat kubuka mata, dua puluh kroco sudah di depan kami, kapak terangkat.

WUUUUSSSHHH!

Satu tebasan mendatar. Gelombang angin hijau melesat sejauh dua puluh langkah dan menyapu barisan depan seperti ombak. Sepuluh kroco terangkat dari tanah, kapak mereka terlempar, tubuh mereka menghantam tenda dan tiang dengan bunyi BRAKK! DUAKK!

Iyan melompat maju dan menghantamkan gadanya ke tanah.

KRAAAK-ZZZZZTTTT!

Petir kuning merayap di rumput seperti ular, bercabang, dan menyambar sepuluh kroco sisanya. Mereka berkedut, mengejang, lalu roboh berasap.

Sunyi sesaat. Dua puluh kroco terkapar dalam sekali serangan, dan aku bahkan belum berkeringat.

"Ok, bagus," gumam Iyan. "Sekarang tinggal satu."

Raksasa itu belum bergerak. Ia menatap kami dengan mata kuning yang menyipit, lalu menyeret gada berdurinya di tanah. SREEEEK. Bunyinya membuat gigiku ngilu.

"MANUSIA..." geramnya dalam suara berat. "BERANI BERANINYA KALIAN......"

Ia melompat. Gada itu turun seperti runtuhan bukit.

DUUUAAARRR!

Kami melompat ke dua arah. Tanah retak membentuk lubang selebar kamar, serpihan batu beterbangan. Aku mendarat berguling dan langsung menebas dari samping.

TRANGGG!

Pedangku menggores zirah panci di pinggangnya, meninggalkan garis hijau tipis, tapi ia hanya mendengus. Iyan menyusul dengan gada, petir meledak di rusuknya. ZZAPP-BUUKK! Raksasa itu terhuyung selangkah, lalu menyeringai.

"Uh.. kulitnya tebal sekali!" teriak Iyan.

"Ayo serang lagi!"

Kami menyerang bergantian. Angin mengiris, petir menyetrum, tapi setiap tebasan hanya meninggalkan luka dangkal. Gadanya menyapu WUUUNG, dan aku nyaris tak sempat merunduk. Rambutku berkibar oleh angin dari ayunan itu.

Sendiri-sendiri tak cukup, pikirku.

Aku melompat mundur ke samping Iyan. "Iyan! Bisa kamu salurkan petirmu ke anginku?"

"Menyalurkan?" Napasnya terengah. "Aku belum pernah coba sepertinya!"

"Kalo gitu ayo coba saja. Kalau berhasil, kita habisi dia."

"Ok"

Aku berlari menjauh, memutar pedang di atas kepala. Angin menjerit mengikuti bilahku. Daun-daun tersedot ke udara, rumput terangkat, dan dari tanah di sekitar raksasa itu, pusaran mulai terbentuk.

WHUUUUUUUUUUMMMM!

Angin puyuh hijau menjulang setinggi pohon, berputar mengurung raksasa itu. Ia mengayunkan gada ke segala arah, tapi pusaran itu menahannya, mendorong tubuhnya, menyeret kakinya dari tanah.

"SEKARANG, IYAN!"

Iyan menarik napas dalam, memejamkan mata, lalu melempar gadanya ke dalam pusaran.

KRAAAAAAAAAK-ZZZZZZZZTTTTTT!

Petir kuning menyambar masuk ke dalam angin. Pusaran itu berubah. Cahaya listrik merambat di sepanjang arusnya, berputar, berkelok, dan setiap partikel debu menjadi percikan. Angin yang tadinya hijau kini menyala putih keemasan, mengeluarkan raungan yang membuat gendang telingaku sakit. Rambutku berdiri tegak, dan udara terasa berat oleh bau hangus.

"Berapa tekanan petirnya?!" teriakku.

"Kira-kira lima ratus volt!" balas Iyan, matanya terbelalak. "Menurut ukuran yang diajarkan Hana!"

Di dalam pusaran, raksasa itu menjerit. Tubuhnya mengejang, zirah panci memerah panas, gadanya jatuh dan hanyut dalam badai. Setiap putaran menyetrum dan memukulnya, tak memberi ruang untuk bernapas.

ZRRRRRRZZZZAAAAPPP!

Aku menarik pedangku turun perlahan, dan pusaran itu mereda. Angin mengendur menjadi semilir. Dari tengahnya, tubuh raksasa itu jatuh berlutut, berasap dan menghitam, matanya berputar. Ia tertahan sejenak seperti patung, lalu roboh dengan debuman yang mengguncang tanah.

Sunyi. Hanya api unggun yang berderak dan bau hangus tipis di udara.

"Kita... bisa melakukannya juga" gumam Iyan, terduduk di tanah dengan wajah penuh jelaga dan senyum lebar.

Vivi terbang turun dan memeluk pipiku. "Wah teknik itu paling keren yang pernah kulihat! Lebih keren dari Froz!"

Aku tertawa pelan. Dari kemah itu, kami menumpuk barang jarahan yang masih utuh, karung gandum, kain, dan peti-peti bercap pedagang Tengu, di dekat tugu perbatasan supaya pemiliknya bisa mengambilnya kembali. Iyan menulis catatan kecil di selembar kain: Aman. Silakan ambil. Korps Ranger Sendira.

Matahari mulai turun ketika kami kembali ke jalan. Langit di timur memerah, dan retakan di cakrawala berpendar samar.

"Ok ayo kita lanjut jalan masih ada empat hari lagi," kata Iyan sambil menghela ranselnya. Dan di ujung perjalanan itu, seorang pilar bernama Haris menunggu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!