NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 04

Pagi hari pasca badai dan listrik mati semalam menyapa dengan udara yang teramat sejuk. Cahaya matahari lembut menerobos masuk lewat celah gorden kamar Kirana. Saat Kirana perlahan membuka matanya, hal pertama yang menyapa inderanya bukanlah aroma kamarnya yang biasa, melainkan wangi mint dan woody yang sangat familier.

Kirana mengerjapkan matanya. Ia mendapati dirinya tertidur lelap dengan kepala bersandar di atas dada bidang Kenan. Satu tangan Kenan masih melingkar protektif di pinggangnya, sementara tangan cowok itu yang lain terlipat di bawah kepala sebagai bantal. 

Mereka tertidur di atas kasur Kirana dalam posisi berpelukan sepanjang malam.

Jantung Kirana mendadak berdegup kencang seperti maraton. Wajahnya panas seketika. Ia berusaha menggeser tubuhnya sepelan mungkin agar tidak membangunkan Kenan.

Namun, baru saja Kirana bergerak perlahan, cengkeraman tangan Kenan di pinggangnya justru makin mengencang.

"Mau ke mana lo?" suara bariton Kenan yang khas bangun tidur terdengar berat dan serak, tepat di atas kepala Kirana.

Kirana membeku. Ia mendongak canggung dan mendapati Kenan sedang menatapnya dengan mata yang setengah terbuka. Rambut cowok itu sedikit berantakan membuat pesonanya yang biasa kaku dan rapi mendadak turun drastis menjadi sangat manusiawi dan tampan.

"K-Kenan... lepas! Udah pagi! Jam berapa ini?!" seru Kirana terbata-bata sambil mencoba mendorong dada Kenan.

Kenan melirik jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 05.30 WIB. Perlahan, ia melepaskan pelukannya di pinggang Kirana dan meregangkan badannya.

"Semalam lo yang nangis-nangis meluk gue gak mau dilepas gara-gara takut petir," sindir Kenan tenang sambil duduk di tepi kasur.

"Hehe… itu kan keadaan darurat, Lagian lo kenapa gak balik ke kamar lo pas gue udah tidur?!" omel Kirana menutupi rasa canggung dan gengsi nya.

Kenan berdiri, merapikan kaos hitamnya yang sedikit kusut. Ia menatap Kirana datar. "Lo pegang kaos gue kenceng banget. Kalau gue paksa lepas, lo bakal bangun dan jerit-jerit lagi. Gue cuma gak mau dengar suara melengking lo malam-malam."

Setelah mengucapkan kalimat skakmat itu, Kenan melangkah keluar dari kamar Kirana menuju kamarnya sendiri untuk bersiap-siap. Kirana melemparkan bantalnya ke arah pintu yang sudah tertutup rapat dengan wajah memerah sempurna.

"Ck! Bilang aja lo juga betah meluk gue!" gumam Kirana menghentakkan kaki ke kasur sebelum berlari ke kamar mandi.

Setengah jam kemudian, area dapur rumah mereka kembali mengeluarkan aroma lezat. Seperti biasa, Kenan yang sudah rapi dengan seragam SMA Garuda dan celemek melingkar di pinggangnya sedang menyelesaikan dua porsi sarapan. Hari ini ia membuatkan roti panggang isi daging dan telur setengah matang.

Kirana menuruni tangga dengan tas sekolah yang sampir di bahunya. Ia duduk di kursi meja makan tanpa banyak bicara, masih agak canggung mengingat kejadian semalam dan tadi pagi.

"Nih," Kenan meletakkan piring di depan Kirana. Tapi tak berhenti di situ, Kenan juga meletakkan sebuah kotak bekal berwarna merah muda di sebelah piring Kirana.

Kirana memiringkan kepala, menatap kotak makan itu bingung. "Ini apa?"

"Bekal," jawab Kenan singkat sambil menuangkan susu hangat ke gelasnya sendiri.

"Buat siapa? Lo bikin bekal buat gue?!" Kirana melotot tidak percaya.

"Bukan buat lo, buat kucing tetangga," balas Kenan sarkas.

"Ya buat lo lah. Kemarin maag lo hampir kumat gara-gara telat makan pas kerja bakti. Gue males ngurusin lo kalau sakit di rumah."

Kirana menatap kotak bekal itu, lalu menatap Kenan. Ada perasaan hangat yang mendadak menyusup ke dadanya. Cowok ini memang mulutnya pedas kalau bicara, tapi tindakannya selalu memperlihatkan perhatian yang tersembunyi.

"B-beneran gak ada racunnya kan?" goda Kirana sambil tersenyum tipis, berusaha mencairkan suasana.

Kenan meliriknya tajam. "Kalau gak mau, balikin."

"Eh, mau! Enak aja, udah dibikin juga!" Kirana cepat-cepat menyambar kotak bekal itu dan memasukkannya ke dalam tas sekolahnya. "Makasih ya… pak  Ketos”

Sudut bibir Kenan terangkat sangat tipis, hampir tidak terlihat. "Makan roti lo cepat. Sepuluh menit lagi berangkat."

Sesuai ritual ketat mereka, Kenan menurunkan Kirana di dalam gang sepi samping minimarket dekat sekolah. Kirana celingukan memastikan tidak ada siswa lain yang melintas sebelum melompat turun dari jok motor sport hitam milik Kenan.

"Inget, pulangnya jangan telat jam delapan," ingatkan Kenan dari balik helm full face-nya.

"Iya, iya! Bawel banget sih lo!" sahut Kirana sambil membetulkan rok abu-abunya. 

"Udah sana jalan duluan!"

Kenan menghembuskan napas pendek, lalu menarik gas motornya menuju gerbang utama SMA Garuda. Kirana menunggu sebentar, lalu berjalan santai menyusuri trotoar menuju sekolah dengan perasaan santai dan sedikit ceria dibanding hari-hari sebelumnya.

…

Jam istirahat pertama  berbunyi beberapa menit yang lalu, suasana kelas XII IPA 2 mendadak riuh. Kirana yang telah kelaparan langsung saja mengeluarkan kotak bekal pemberian Kenan dari dalam tasnya.  Di sebelahnya, Maya baru saja kembali dari kantin membawa semangkuk bakso.

"Wah, bawa bekal lo hari ini, Kir?" tanya Maya kaget melihat tempat makan warna merah muda milik Kirana. "Tumben banget! Biasanya lo paling malas bawa bekal dari rumah."

"I-iya, nyokap gue kemarin sempat mampir... eh maksud gue, gue lagi pengen hemat aja," alih Kirana cepat sambil membuka tutup kotak makan.

Aroma roti panggang isi daging yang gurih langsung menyeruak. Di dalamnya tersusun rapi dua potong roti panggang yang dipotong diagonal, lengkap dengan hiasan selada dan potongan tomat.

Maya mengernyitkan dahi, memperhatikan kerapian bekal tersebut. "Bentar deh... potongan rotinya rapi banget. Terus tata letak seladanya... kok rapi banget ya? Kayak pernah lihat gaya begini."

"Gaya apa sih! Semua roti panggang ya bentuknya begini!" seru Kirana sedikit panik, cepat-cepat menyantap sepotong roti.

Saat mereka sedang mengobrol, tiba-tiba tiga orang pengurus OSIS masuk ke kelas XII IPA 2. Di depan mereka berdiri Clarissa, siswi cantik kelas XII IPS 1 yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS. Clarissa terkenal anggun, pintar, dan rumornya sudah lama menaruh hati pada Kenan Alister.

"Permisi semuanya, mau minta waktunya sebentar untuk pengumpulan berkas formulir ekskul ya," ucap Clarissa dengan suara lembutnya yang dipaksakan.

Seluruh murid kelas mulai mengumpulkan kertas ke depan meja. Clarissa berjalan mengitari barisan meja, hingga langkahnya terhenti tepat di samping meja Kirana dan Maya.

Mata Clarissa tertuju pada kotak bekal di atas meja Kirana. Dahi cewek berambut panjang itu berkerut dalam.

"Lho... kotak bekal itu..." gumam Clarissa pelan, namun cukup terdengar di tengah keheningan kelas.

Kirana mendongak, mulai merasakan firasat buruk. "Kenapa sih?"

Clarissa menunjuk tempat makan merah muda itu dengan telunjuk ber-nail-art rapi. "Itu kotak makan edisi terbatas dari brand perlengkapan dapur premium kan? Setahuku, kotak makan warna pastel edisi itu cuma diproduksi beberapa unit. Dan..." Clarissa menggantungkan kalimatnya, matanya menajam. "Aku pernah lihat Kenan bawa kotak makan yang persis sama persis waktu rapat OSIS bulan lalu."

DEG!

Jantung Kirana rasanya melompat keluar dari dadanya. Seluruh aliran darah di wajahnya serasa menyusut seketika.

Maya di sebelah Kirana langsung menoleh patah-patah menatap Kirana. "Tunggu... apa? Kenan? Ketos?!"

Beberapa murid di barisan depan yang mendengar ucapan Clarissa mulai berbisik-bisik. Suasana kelas yang tadinya bising perlahan berubah menjadi hening beraroma kecurigaan.

"M-masa sih? Salah lihat kali..." Kirana berusaha tertawa, namun suaranya terdengar sangat sumbang dan bergetar. "Kotak makan kayak gini kan banyak dijual di pasaran! Banyak yang kembar!"

"Nggak," potong Clarissa dingin, kini menatap Kirana dari atas ke bawah penuh selidik. "Kotak makan milik Kenan punya goresan kecil berbentuk bintang di pojok kanan bawah tutupnya gara-gara pernah jatuh di ruang OSIS. Dan gue lihat... di kotak makan lo itu ada goresan yang sama."

Kirana refleks melirik sudut kanan bawah tempat makannya. Benar saja! Ada bekas goresan tipis berbentuk mirip bintang di sana. Kenan sialan, kenapa harus ngasih tempat makan yang ada tanda khususnya sih?! jerit Kirana dalam hati.

Clarissa melangkah mendekati meja Kirana, menekan kedua telapak tangannya di atas meja. "Kirana, lo ada hubungan apa sama Kenan? Kenapa kotak makan pribadi milik Ketua OSIS bisa ada di tangan lo?"

"G-gue..." Kirana lidahnya mendadak kelu. Otaknya berputar keras mencari alasan paling masuk akal. Apakah rahasia pernikahan mereka akan terbongkar hari ini di depan seluruh kelas, nggak, itu nggak boleh terjadi.

Maya menatap Kirana dengan mata berbinar-binar penuh tuntutan. "Kirana... jangan bilang wangi woody-mint di baju lo kemarin... dan roti panggang rapi ini..."

Tepat saat situasi semakin menjepit dan Kirana hampir menangis karena bingung, pintu kelas XII IPA 2 mendadak terbuka lebar.

Brak!

Sosok jangkung Kenan Alister melangkah masuk dengan gaya tegap dan dinginnya yang biasa. Jas almamaternya terpasang rapi dan tatapannya menyapu seluruh ruangan.

"Clarissa," suara bariton Kenan memecah ketegangan di kelas. "Pengumpulan berkas OSIS harusnya selesai lima menit lalu di ruang sekre. Kenapa lo masih di sini?"

Clarissa langsung berbalik, mengubah raut wajah ketusnya menjadi tersenyum manis. "Eh, Kenan. Ini... aku cuma lagi nanya sesuatu sama Kirana."

Kenan berjalan mendekati meja Kirana tanpa keraguan. Pandangannya melirik singkat pada kotak bekal di meja Kirana, lalu beralih menatap Clarissa dengan wajah tanpa ekspresi.

"Soal kotak makan itu?" tanya Kenan santai.

Seluruh isi kelas menahan napas. Kirana memejamkan mata rapat-rapat, bersiap menghadapi skenario terburuk. Entah kenapa saat situasi seperti ini ia malah jadi penakut begini.

"Iya, Nan," kata Clarissa bersemangat. "Itu kan kotak makan kamu yang pernah hilang di ruang OSIS bulan lalu! Kok bisa ada di Kirana? Dia mencuri barang kamu ya?"

Kirana menyentak kepala mendongak. "Mencuri?! Enak aja nih cewek ngomong!" amuk Kirana dalam hati.

Namun Kenan tetap bersikap tenang. Ia melipat tangannya di dada.

"Kotak makan itu gak dicuri," ucap Kenan datar. "Ibu gue sama ibunya Kirana itu teman lama. Kemarin malam ibu gue mampir ke rumah Kirana buat ngasih hantaran makanan pakai kotak itu. Ibunya Kirana mungkin lupa balikin dan malah pakai tempat itu buat bekal Kirana hari ini."

Hening.

Satu kelas tertegun. Clarissa terperanjat, tidak menyangka jawaban se logis dan se tenang itu keluar dari mulut Kenan.

"I-ibu kamu... kenal sama ibunya Kirana?" tanya Clarissa masih ragu.

"Ya," jawab Kenan singkat tanpa berkedip sedikit pun. Kenan lalu melirik Kirana dengan tatapan paling kejamnya. "Dan buat Kirana, bilang ke ibu lo buat secepatnya kembalikan barang milik keluarga gue. Gue gak suka barang pribadi gue dipakai orang lain."

Kirana yang paham betul bahwa Kenan sedang bersandiwara demi menyelamatkan situasi, langsung memasang wajah bersalah yang dibuat-buat.

"I-iya, Pak Ketos! Maaf banget! Nanti sore gue suruh nyokap gue balikin!" seru Kirana berakting panik.

Kenan mengalihkan pandangannya kembali ke Clarissa. "Urusan disini selesai. Clarissa, bawa berkas-berkasnya ke ruang sekre sekarang. Kita ada rapat pleno sepulang sekolah."

Clarissa yang kehilangan bahan untuk menyudutkan Kirana akhirnya mengangguk pasrah. "O-oke, Kenan. Ayo..."

Sebelum melangkah keluar dari kelas XII IPA 2, Kenan sempat menghentikan langkahnya di ambang pintu. Tanpa ada yang menyadari, ia melirik Kirana sekilas dan memberikan kedipan mata singkat sebuah sinyal rahasia yang berhasil membuat jantung Kirana hampir meloncat dari tempatnya untuk kesekian kalinya hari itu.

Sepulang sekolah, atmosfer di rumah mereka terasa sangat berbeda. Kirana yang tiba lebih dulu langsung merebahkan diri di sofa, mengelus dadanya yang masih berdebar akibat kejadian jam istirahat tadi.

Suara pintu depan terbuka sekitar pukul lima sore. Kenan masuk sambil melepas dasinya dan melonggarkan kancing atas kemeja seragamnya.

"Kenan!" Kirana langsung bangkit berdiri dari sofa, menunjuk Kenan. "Lo gila ya?! Kenapa lo ngasih bekal pakai kotak makan yang ada tanda khususnya sih?! Tadi gue hampir mati berdiri diintimidasi sama si Clarissa itu!"

Kenan meletakkan tasnya di atas meja, lalu berjalan mendekati Kirana. "Tapi selamat kan?"

"Selamat sih selamat! Tapi akting lo tadi berisiko banget tahu gak!" protes Kirana berapi-api. "Ibu lo kenal ibu gue? Alasan macam apa itu!"

"Alasan yang masuk akal dan terbukti berhasil," balas Kenan santai. Ia berhenti tepat di depan Kirana, menatap cewek itu dengan lekat. "Lagian... lo kudunya makasih. Gue udah nyelamatin lo dari amukan fans club OSIS."

Kirana mengerucutkan bibirnya, memalingkan wajah gengsi. "Ya... makasih. Tapi tetep aja gue deg-degan tahu!"

"Lagian lo kenapa penakut banget sih?" pancing Kenan, sedikit menundukkan badannya hingga wajah mereka sejajar. "Di depan gue aja lo galak kayak macan. Tapi di depan Clarissa sama di depan petir semalam, lo mendadak kayak anak kucing."

"Kenan! Jangan bahas soal semalam!" seru Kirana dengan wajah kesal.

Kenan tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang amat jarang terdengar dari mulutnya. Suara tawa itu begitu merdu hingga membuat Kirana tertegun sejenak.

"Hari ini tugas lo nyuci piring dan nyapu," ingatkan Kenan kembali ke mode formalnya. "Gue mau mandi dulu. Nanti malam kita harus belajar buat ujian minggu depan."

"Apa?! Belajar?!" Kirana membelalakkan mata. "Gue capek, Kenan!"

"Gak ada alasan. Suami lo ini Ketua OSIS sekaligus juara umum sekolah. Gue gak bakal membiarkan nilai istri gue hancur. Jam delapan malam di meja belajar. Titik."

Kenan berbalik dan berjalan santai menaiki anak tangga menuju lantai dua.

Kirana menatap punggung tegap cowok itu. Walaupun mulut Kenan selalu dipenuhi perintah yang menyebalkan, Kirana tidak bisa memungkiri satu hal, ada rasa aman yang perlahan-lahan tumbuh di dalam hatinya setiap kali berada di dekat Kenan.

Kirana menyentuh dadanya yang berdetak tak karuan. Duh, Kirana... jangan sampai lo beneran jatuh cinta sama Es Batu ini! jeritnya dalam hati sambil mengetuk kepalanya pelan.

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!