Berawal dari niat Baik yang berujung pada jatuhnya ia dari lantai dua puluh Gedung Dingfeng.
Jiang Chen, seorang pemuda yang putus asa mencari pekerjaan, secara tidak sengaja mewarisi jutaan pengetahuan rahasia medis dan kekuatan kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Dia hampir saja melompat kegirangan membayangkan tumpukan uang kertas di depan matanya.
Dengan uang satu juta, dia bisa melunasi utang ibu kos, makan daging sapi setiap hari, dan membeli kemeja baru yang lebih pantas.
"Tentu saja Nona cantik, kesepakatan yang sangat luar biasa! Kau memang orang baik!" puji Jiang Chen bertubi-tubi.
Su Yuhan mendengus pelan melihat perubahan drastis dari sikap pria di depannya ini.
"Tapi ada syaratnya," lanjut Su Yuhan dengan tatapan menyelidik.
"Syarat apa pun akan kuterima selama uangnya cair malam ini juga," balas Jiang Chen dengan mata berbinar-binar.
"Kau harus memberitahuku siapa namamu dan dari keluarga mana kau berasal," tuntut Su Yuhan.
Jiang Chen menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendengar pertanyaan tersebut.
"Namaku Jiang Chen, dan aku tidak berasal dari keluarga mana pun."
"Aku hanya seorang yatim piatu miskin yang baru lulus kuliah dan sedang mencari pekerjaan untuk menyambung hidup."
Su Yuhan menyipitkan matanya, jelas sekali dia tidak mempercayai satu kata pun dari ucapan Jiang Chen.
Bagaimana mungkin seorang yatim piatu miskin bisa memiliki ilmu meridian yang bisa melumpuhkan empat penjaga dalam sekejap mata?
"Kau pikir aku bodoh? Tidak mungkin orang biasa memiliki kemampuan seperti itu," desis Su Yuhan.
"Terserah kau mau percaya atau tidak, aku tidak peduli," balas Jiang Chen sambil mengangkat bahunya.
"Sekarang mana uangku? Jangan bilang kau mau kabur dari utang setelah diselamatkan."
Su Yuhan memalingkan wajahnya dengan kesal.
"Dompet dan ponselku masih ada di atap gedung, tas tanganku tertinggal di sana saat kejadian," jawabnya ketus.
Wajah bahagia Jiang Chen seketika runtuh bagaikan gedung pencakar langit yang diledakkan dengan dinamit.
"Jadi maksudmu kau tidak punya uang sepeser pun sekarang?!" jerit Jiang Chen dengan nada putus asa.
"Aku akan membayarnya besok setelah orang suruhanku mengambil tasku kembali!" balas Su Yuhan tidak kalah jengkel.
"Pembohong! Orang kaya selalu banyak alasan saat ditagih utang!" gerutu Jiang Chen sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Perdebatan konyol mereka terhenti saat terdengar suara keributan yang jauh lebih besar dari arah lorong luar ruangan.
Brak.
Pintu ganda ruang ICU kembali didobrak dari luar, kali ini dengan tenaga yang jauh lebih brutal.
Beberapa pria berjas hitam rapi menerobos masuk sambil mendorong seorang gadis yang duduk di kursi roda.
Gadis itu terlihat baru berusia belasan tahun, namun kondisinya sangat mengerikan.
Kulit wajahnya seputih salju murni, dan bibirnya membiru parah seperti mayat yang membeku.
Hal yang paling mengejutkan adalah adanya lapisan es tipis yang mulai terbentuk di ujung rambut dan alis mata gadis tersebut.
Seluruh ruangan ICU seketika terasa turun sepuluh derajat lebih dingin hanya karena kehadirannya.
"Dokter! Di mana Dokter Kepala rumah sakit ini?!" teriak salah satu pria berjas hitam dengan suara menggelegar.
Dokter kepala yang sedari tadi mematung di sudut ruangan langsung tersentak kaget mendengar teriakan itu.
Dia segera berlari menghampiri rombongan tersebut dengan wajah yang kembali berubah menjadi sangat ramah dan penuh hormat.
"Tuan Shen, saya di sini! Apa yang terjadi dengan Nona Muxue?!" tanya dokter kepala itu dengan panik.
"Penyakit dinginnya kumat lagi, dan kali ini serangannya jauh lebih parah dari sebelumnya!" jawab pria berjas hitam yang ternyata adalah pengawal keluarga Shen.
"Cepat lakukan sesuatu sebelum Tuan Besar Shen tiba di sini, atau kau akan tamat!"
Dokter kepala itu menelan ludah dengan susah payah sambil menatap kondisi gadis di kursi roda tersebut.
Keluarga Shen adalah salah satu dari tiga keluarga penguasa mutlak di kota ini, jauh di atas level keluarga Su.
Kalau sampai cucu kesayangan Tuan Besar Shen mati di rumah sakitnya, karirnya sebagai dokter akan hancur malam ini juga.
"Suster! Cepat siapkan injeksi diazepam dosis tinggi untuk menghentikan kejangnya!" teriak dokter kepala dengan suara panik.
Dua perawat yang tersisa segera berlarian menyiapkan jarum suntik dan obat penenang yang diminta.
Jiang Chen yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya menyipitkan matanya menatap gadis bernama Shen Muxue itu.
'Suhu tubuhnya tidak normal, ini bukan hipotermia biasa,' batin Jiang Chen curiga.
Mata Jiang Chen kembali memancarkan cahaya hangat yang tidak terlihat oleh orang lain.
Pandangannya langsung menembus kulit gadis itu dan menatap aliran meridian di dalam tubuhnya.
Mata Jiang Chen langsung terbelalak lebar melihat apa yang terjadi di dalam sana.
Ada sebuah pusaran energi berwarna biru es yang sangat buas sedang mengamuk di pusat jantung gadis itu.
Energi itu merobek pembuluh darahnya dan membekukan sirkulasi Qi di seluruh tubuhnya secara brutal.
"Suntikkan obatnya sekarang juga, tepat di pembuluh darah lengannya!" perintah dokter kepala sambil memegang lengan kurus gadis itu.
Seorang perawat sudah mengangkat jarum suntik dan bersiap menusukkannya ke kulit Muxue.
Srak.
Tangan Jiang Chen melesat dari samping dan langsung mencengkeram pergelangan tangan perawat itu dengan kuat.
"Kalau kau menyuntikkan cairan penenang itu ke tubuhnya sekarang, dia akan mati dalam waktu tiga menit," ucap Jiang Chen dengan nada yang sangat dingin dan menusuk.
Semua orang di ruangan itu langsung menoleh ke arah Jiang Chen dengan tatapan terkejut.
Dokter kepala yang masih menyimpan dendam langsung meledak amarahnya melihat campur tangan pemuda itu lagi.
"Lepaskan tanganmu, dasar dokter gadungan!" bentak dokter tua itu dengan mata merah.
"Kau pikir kau siapa berani mengatur pengobatan pasien dari keluarga Shen?!"
Pengawal keluarga Shen yang berbadan besar langsung melangkah maju dan menatap Jiang Chen dengan tatapan membunuh.
"Siapa gembel ini? Kenapa ada orang luar di dalam ruang penanganan VIP?!" tanya pengawal itu dengan suara berat yang mengancam.
"Dia hanya penipu yang sedang membuat keributan dari tadi, Tuan! Usir saja dia sebelum dia membunuh Nona Muxue!" hasut dokter kepala dengan cepat.
Pengawal itu tidak membuang waktu sama sekali.
Dia merogoh bagian balik jasnya dan menarik sebuah pistol hitam mengkilap, lalu menodongkannya tepat ke dahi Jiang Chen.
"Lepaskan perawat itu dan mundur tiga langkah, atau kepalamu akan berlubang sekarang juga," ancam pengawal itu dengan aura membunuh yang nyata.
Su Yuhan yang melihat senjata api ditarik keluar langsung menutupi mulutnya menahan jeritan ngeri.
Suasana di dalam ruang ICU benar-benar berada di titik puncak ketegangan yang bisa meledak kapan saja.
Namun di bawah todongan moncong pistol yang dingin itu, Jiang Chen tidak menunjukkan sedikit pun ekspresi ketakutan.
Dia melepaskan cengkeramannya dari tangan perawat itu dan perlahan mengangkat kedua tangannya ke udara.
Jiang Chen menatap lurus ke mata pengawal itu dan tersenyum sangat tipis.
"Baiklah, aku akan mundur," ucap Jiang Chen dengan nada santai yang terasa sangat kontras dengan situasi mematikan tersebut.
"Tapi jangan salahkan aku kalau Nona mudamu ini akan berhenti bernapas tepat dalam hitungan keenam puluh."
Jiang Chen mulai melangkah mundur perlahan sambil tetap menatap wajah pucat gadis di kursi roda tersebut.
"Satu, dua, tiga..." hitung Jiang Chen dengan suara yang terdengar menggema di ruangan yang sunyi itu.