Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Luka di Pipi dan Perhatian yang Tak Disangka
Mobil melaju pelan membelah jalanan malam yang mulai sepi. Di dalam kabin nggak ada suara apa-apa, cuma suara mesin halus dan napas pelan Dika yang sesekali meringis dikit tiap mobil melewati jalan bergelombang. Pipi kiri memar, bibir bawah robek dikit — rasanya perih banget, tapi Dika nggak peduli. Yang penting Vanesha aman, dokumennya utuh, dan nyawa keduanya masih ada — itu udah menang telak.
Vanesha duduk di sebelah, matanya nggak pernah lepas dari wajah Dika. Tatapannya campur aduk — khawatir, bersalah, dan ada rasa hangat yang nggak bisa disembunyikan. Tangan kecilnya sesekali bergerak seolah mau menyentuh luka di pipi Dika, tapi selalu tertahan di udara sebelum akhirnya ditarik kembali ke pangkuan.
"Nyeri?" tanya Vanesha pelan, suaranya lembut banget, seakan takut kalau bicara agak keras lukanya makin perih.
"Nggak kok! Cuma kesentuh sedikit saja, kayak digigit semut! Badan ini keras lho, kulit tebal — biasa kena pukul, jatuh, nggak apa-apa!" jawab Dika semangat, sambil menepuk dada sendiri pelan-pelan biar nggak kelihatan bohong.
"Kamu ini... selalu saja begitu. Sok kuat, sok berani. Padahal kalau sakit, bilang saja," ucap Vanesha pelan, nada bicaranya sedikit kecewa — bukan marah, tapi khawatir.
"Itu karena Nona Bos belum lihat yang beneran sakit," sahut Dika santai sambil senyum miring. "Kalau Nona Bos nggak percaya, coba tanya sama lutut ini — dulu pernah jatuh dari pohon mangga setinggi tiga meter, bangun langsung lari main lagi! Kuat luar biasa!"
"Kamu memang aneh. Orang lain kalau kena pukul langsung marah atau ketakutan, kamu malah bercanda," ucap Vanesha sambil menggeleng-geleng kepala pelan.
"Itu karena kalau takut, kalah duluan. Dan kalah itu — nggak boleh, apalagi di depan Nona Bos," jawab Dika tulus, menatap mata Vanesha dalam-dalam.
Mobil berbelok masuk ke sebuah perumahan elit yang tenang dan rapi. Pohon-pohon besar berjejer di pinggir jalan, lampu jalan temaram menyinari aspal. Tak lama kemudian mobil berhenti di depan rumah besar berlantai dua, dindingnya putih bersih, pagar tinggi dari besi tempa rapi — tempat tinggal Vanesha.
"Turunlah," ucap Vanesha sambil membuka pintu sendiri.
"Nona Bos masuk dulu ya, dokumennya aman di sini. Besok pagi antar pakai mobil kantor seperti rencana," jawab Dika sambil memberi hormat asal-asalan.
"Kamu mau ke mana?" tanya Vanesha, alisnya sedikit berkerut.
"Pulanglah ke kontrakan. Istirahat, biar lukanya cepat kering," jawab Dika santai sambil senyum.
"Di sini dulu," ucap Vanesha tegas tapi lembut.
"Loh... di sini? Tidur di teras? Atau di ruang tamu? Nanti kalau orang lewat kira saya maling yang ketangkep!" jawab Dika panik dikit.
"Di dalam rumah. Saya punya kotak obat di kamar atas. Bersihkan lukanya dulu baru boleh pulang. Atau kamu mau jalan-jalan ke rumah sakit dan bikin orang lain khawatir?" tanya Vanesha sambil melipat tangan di dada — sikap bos galaknya mulai keluar sedikit.
"Tapi... nanti dibilang apa? Penjaga masuk ke rumah bosnya? Nanti ada yang lihat malah fitnah!" jawab Dika ragu.
"Siapa yang berani fitnah, bicara sama saya. Masuk," ucap Vanesha tegas, lalu berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh lagi — seakan yakin Dika pasti ikut.
Dika menghela napas panjang, lalu senyum sendiri. "Ya sudah... kalau perintah bos nggak boleh ditolak. Apalagi bos cantik galak yang lagi baik hati," gumamnya pelan sambil melangkah masuk.
Rumah di dalamnya sejuk, rapi, dan wangi lembut — persis seperti pemiliknya. Perabotan sederhana tapi mewah, nggak berlebihan, nyaman banget. Vanesha menunjuk kursi di ruang tengah.
"Duduk di sini. Jangan kemana-mana," ucap Vanesha, lalu naik ke lantai atas.
Dika duduk pelan-pelan, matanya melirik ke kiri dan kanan — nggak berani sentuh apa-apa, takut jatuh atau rusak nanti gajinya dipotong lagi. "Dua belas juta belum lunas, nambah lagi hutang bisa sampai tua belum bayar," bisiknya sendiri sambil geleng-geleng kepala.
Tak lama Vanesha turun membawa kotak obat berwarna putih biru di tangan. Dia duduk di kursi di depan Dika, menaruh kotak obat di meja, lalu membukanya pelan-pelan.
"Jangan bergerak," ucap Vanesha pelan sambil mengambil kapas dan cairan obat.
"Siap, nggak gerak sedikit pun! Kayak tiang listrik yang tertanam kuat!" jawab Dika lirih.
"Perih ya?" tanya Vanesha pelan, tangannya berhenti sebentar.
"Enggak kok! Cuma kesentuh angin sepoi-sepoi! Lanjut saja!" jawab Dika berusaha tenang walau matanya sedikit memejam.
"Kamu ini... kenapa harus berani begitu? Tiga orang sekaligus, sendirian," omel Vanesha pelan, matanya tetap fokus ke luka di pipi Dika.
"Karena di dalam mobil itu ada Nona Bos," jawab Dika tulus, tanpa bercanda kali ini. "Dan kalau bukan saya, siapa lagi? Sopirnya udah tua, nggak boleh dilawan. Saya yang muda, kuat — tugas saya jaga."
"Kamu terlalu baik, Dika," ucap Vanesha pelan sekali, hampir berbisik. "Padahal saya cuma bos yang suka galak dan potong gaji kamu."
"Galak itu cuma kulit luarnya. Dalamnya lembut, peduli, dan nggak pernah jahat tanpa alasan. Saya tahu itu," jawab Dika pelan.
"Selesai. Istirahat yang cukup. Jangan kena air lukanya," ucap Vanesha sambil menutup kotak obat, tapi matanya nggak langsung menoleh ke tempat lain.
"Siap, Nona Bos! Nggak kena air, nggak kena debu, dijaga kayak harta karun!" jawab Dika sambil menepuk paha sendiri semangat.
"Pergilah pulang. Hati-hati di jalan," ucap Vanesha sambil berdiri dan mengantar Dika sampai ke pintu depan.
"Terima kasih, Nona Bos. Bukan cuma obatnya — tapi semuanya," jawab Dika pelan, senyum tulus di bibirnya.
"Hati-hati, Dika. Kabari saya kalau sudah sampai," ucap Vanesha pelan.
"Siap!" jawab Dika mantap, lalu melangkah pergi menuju pintu pagar.
Sesampainya di luar, Dika menoleh sekali lagi — Vanesha masih berdiri di sana, menatap sampai Dika benar-benar pergi. Dan di antara malam yang tenang itu, keduanya tahu — hubungan mereka sudah berubah, menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar bos dan penjaga.
Langkah kaki Dika perlahan menjauh dari rumah besar itu, namun hatinya masih tertinggal di sana. Udara malam yang sejuk menyapa wajahnya, membuat rasa perih di pipi terasa sedikit berkurang. Sesampainya di jalan raya, ia menoleh sekali lagi — bayangan Vanesha masih terlihat samar di balik pintu depan, seakan takut ia belum pergi sepenuhnya.
Dika tersenyum tipis, lalu melanjutkan langkah. Baru beberapa langkah berjalan, ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang ia hafal di luar kepala.
Sudah sampai di mana? Jalan pelan-pelan, jangan lari.
Dika tertawa kecil sambil mengetik balasan. "Belum jauh, tapi aman. Nona Bos sudah masuk ke dalam?" jawabnya.
Tak lama pesan balasan datang.
Belum. Pastikan kamu naik kendaraan yang aman. Jangan jalan kaki terlalu lama.
Dika menggeleng-geleng kepala sambil tersenyum hangat. "Siap! Sebentar lagi dapat ojek. Nanti kalau sudah sampai langsung kabari, janji!" jawabnya.
Baik. Jaga diri, Dika.
Pesan itu sederhana, tapi rasanya lebih hangat dari selimut tebal di malam hari. Dika memasukkan kembali ponsel ke saku, dadanya terasa penuh. Ternyata di balik sikap tegas dan galaknya, Vanesha benar-benar peduli — bukan sekadar sebagai bos, tapi sebagai seseorang yang melihat Dika lebih dari sekadar penjaga kantor.
Tak lama sebuah ojek berhenti di depannya. Dika naik, dan sepanjang perjalanan pulang, senyumnya tak pernah lepas dari wajah. Sesampainya di kontrakan kecilnya, hal pertama yang ia lakukan adalah mengirim pesan: Sudah aman sampai. Terima kasih untuk semuanya, Nona Bos.
Balasannya datang cepat: Selamat istirahat. Semoga lukanya cepat kering. — V.
Dika meletakkan ponsel di samping bantal, lalu berbaring menatap langit-langit kamar. Hatinya berdebar pelan namun pasti. Perjalanan ini baru saja dimulai, dan ia sudah tak sabar melihat apa yang akan terjadi besok.