Sebagai putri kesayangan dari keluarga bangsawan Montclair, Lady Aurelia selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, watak keras kepalanya membawa petaka saat ia jatuh cinta pada sang Raja. Demi mewujudkan keinginannya, keluarga Montclair terpaksa merelakan putri tercinta mereka masuk ke istana—bukan sebagai ratu, melainkan hanya sebagai seorang selir.
Kehidupan istana ternyata tak seindah impian Aurelia. Dinginnya sikap Raja dan kekejaman kompetisi antar-selir menghentikan langkahnya secara tragis. Ia tewas terbunuh di tangan selir lain, sementara Raja yang dijunjungnya bahkan tidak sudi melirik jasadnya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua.
Aurelia terbangun kembali di hari keduanya sebagai selir. Terbangun dari kematian membawa rasa sakit yang membakar sekaligus dendam yang membara. Keras kepala yang dahulu membinasakannya, kini berganti menjadi ambisi yang mematikan. Aurelia bertekad: ia tidak akan mati sia-sia untuk kedua kalinya.
Satu per satu, para selir yang mengh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Klarina_za29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Malam Sang Raja
Malam kian merambat pekat melingkupi kawasan Istana Interior. Angin dingin dari pegunungan utara berembus menyapu dedaunan di pekarangan Pavilion Timur, menciptakan desir halus yang bersahutan dengan gema langkah patroli prajurit di kejauhan. Di dalam ruang pribadi Pavilion Timur, hanya ada satu kandelir kuningan yang menyala redup, memancarkan pendar keemasan yang menimpa dinding-dinding kayu cedar.
Aurelia duduk di dekat perapian yang menyala sedang. Ia mengenakan gaun tidur sutra berwarna krem berpotongan longgar yang dibalut jubah luar berwarna biru malam. Di pangkuannya terhampar sebuah buku tua mengenai sejarah diplomasi wilayah selatan, namun matanya yang jernih sama sekali tidak terfokus pada barisan kata di atas kertas tersebut.
Ia sedang mendengarkan. Mendengarkan detak waktu dan perubahan ritme di luar kediamannya.
Tiba-tiba, firasatnya terbukti. Tidak ada benturan pintu, tidak ada seruan nyaring dari kasim yang mengumumkan kedatangan penguasa, bahkan tidak ada gema langkah kaki zirah perak yang biasanya mengawal sang Raja. Yang ada hanyalah decit halus engsel pintu samping yang terdorong pelan, disusul oleh aura menekan yang mendadak memenuhi seluruh ruangan.
Aurelia tidak melompat kaget. Ia perlahan menutup bukunya, menegakkan punggung dengan keanggunan alami, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah pintu samping yang terbuka samar.
Di sana, di antara bayang-bayang remang ruangan, berdiri sosok Julian.
Sang Raja tampil tanpa jubah kebesaran maupun atribut mahkota kerajaannya. Pria itu hanya mengenakan kemeja linen hitam berkerah terbuka dengan celana penunggang kuda berwarna senada dan boot kulit yang bersih. Tanpa barisan pengawal zirah perak yang biasa mengekor, keberadaan Julian malam ini terasa jauh lebih intim, purba, dan berbahaya.
Julian melangkah masuk, menutup pintu kayu di belakangnya tanpa bersuara. Sepasang mata kelamnya yang bagaikan angin badai mengunci lurus pada sosok Aurelia yang duduk tenang di tepi perapian.
"Anda menyusup ke kediaman selir Anda sendiri di tengah malam tanpa pengawal, Yang Mulia?" sapa Aurelia halus, suaranya bagaikan denting porselen yang memecah hening. Ia tidak buru-buru bersujud; ia hanya berdiri perlahan dan membungkuk hormat secara anggun. "Tindakan ini sangat tidak biasa bagi seorang penguasa."
Julian tidak langsung menjawab. Langkah kakinya yang tegap dan berat memangkas jarak di antara mereka secara konstan. Setiap jengkal pergerakannya memancarkan dominasi alami seorang pria yang terbiasa memiliki segalanya. Ia berhenti tepat dua langkah di hadapan Aurelia, membuat aura hangat dari perapian bercampur dengan aroma kayu cendana dan angin malam yang melekat pada tubuh sang Raja.
"Kau menolak panggilanku malam ini, Aurelia," suara Julian terdengar sangat rendah, baritonnya bergema bagai bisikan berbahaya di dalam ruangan yang sunyi. Matanya meneliti wajah pualam Aurelia, menatap setiap inci lekuk bibir dan kedalaman mata cokelat wanita itu. "Sepanjang sejarah kerajaan ini, tidak pernah ada seorang pun selir yang berani mengirim kembali kasim pribadiku dengan tangan hampa."
Aurelia mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata kelam yang sanggup menggetarkan seluruh dewan kerajaan tersebut. Tidak ada riak ketakutan di wajah cantiknya.
"Hamba hanya menyampaikan kebenaran, Yang Mulia," sahut Aurelia lembut namun mantap. "Hamba merasa lelah usai menata alokasi logistik Pavilion Selatan. Menghadap Anda dalam kondisi fisik yang tidak sempurna adalah sebuah bentuk ketidak hormatan terhadap kedudukan Anda."
Julian terkekeh rendah—sebuah tawa dingin tanpa rasa humor yang membuat udara di sekitar mereka semakin memadat oleh ketegangan.
"Alasan yang sangat rapi," desis Julian, melangkah satu tapak lebih dekat hingga bayangan tubuhnya yang tinggi besar sepenuhnya menutupi Aurelia dari cahaya perapian. "Namun kita berdua tahu bahwa lelah bukanlah alasan utamamu. Kau sedang bermain-main denganku, Lady Montclair. Kau menarik diri tepat saat aku melangkah mendekat, membiarkan aku bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya ada di dalam benakmu."
Julian mengulurkan tangannya yang kekar. Jemari besarnya yang bertulang tegas menyentuh dagu mulus Aurelia, mengangkat wajah wanita itu agar pandangan mata mereka terkunci rapat. Sentuhan kulit mereka yang hangat memicu arus ketegangan tak kasat mata yang menyengat.
"Katakan padaku," bisik Julian, wajahnya menunduk mendekati telinga Aurelia hingga wanita itu bisa merasakan hembusan napas hangat sang Raja di lehernya. "Sikap dingin dan penolakanmu ini... apakah ini bagian dari permainan taktikmu untuk membuatku berlutut di hadapanmu?"
Aurelia tidak menarik diri dari cengkeraman halus jemari Julian pada dagunya. Ia justru memiringkan kepalanya sedikit, biarkan tatapan matanya yang penuh kalkulasi membalas intensitas gairah pemburu yang menyala di mata sang Raja.
"Jika Hamba mengatakan ya, Yang Mulia... apakah Anda akan marah dan menghukum hamba?" desis Aurelia halus, senyuman memikat yang sarat akan tantangan terselubung terkembang indah di bibirnya. "Ataukah Anda justru merasa semakin terpesona karena akhirnya menemukan seorang wanita yang tidak bisa Anda miliki hanya dengan satu jentikan jari?"
Julian membeku sejenak, terkesima oleh keberanian yang terpancar dari wanita di hadapannya. Pertukaran tatapan dingin dan penuh gairah di bawah remang pendar perapian malam itu menegaskan bahwa hubungan mereka tidak lagi sekadar hubungan antara Raja dan selir biasa, melainkan pertarungan dua jiwa berbahaya yang saling memburu.
Keheningan di dalam ruang pribadi Pavilion Timur terasa semakin pekat, bertransformasi menjadi sebuah medan ketegangan yang amat halus dan memikat. Sentuhan jemari Julian pada dagu Aurelia tidak terlepas, justru semakin hangat seiring dengan jarak tubuh mereka yang terangkas habis. Cahaya rembulan malam yang menerobos lewat celah jendela pualam menyatu dengan pendar merah perapian, mengukir bayangan elastis dua sosok yang saling mengunci dalam permainan dominasi.
"Kau sungguh wanita yang sangat lancang, Aurelia," bisik Julian rendah. Namun alih-alih kemarahan, ada binar ketertarikan yang begitu membara di balik sepasang mata kelamnya. "Kau berbicara tentang kepemilikan di hadapan pria yang memegang kekuasaan mutlak atas seluruh tanah dan nyawa di kerajaan ini."
"Kekuasaan atas tanah dan nyawa tidak pernah mampu membeli loyalitas pikiran dan kedalaman jiwa, Yang Mulia," balas Aurelia dengan nada melantun yang bagaikan alunan musik malam.
Dengan gerakan yang amat halus dan diperhitungkan, Aurelia mengangkat tangan luwesnya. Jemari lentiknya yang dingin menyentuh dada bidang Julian yang terbalut kemeja linen hitam, mendorongnya ke belakang secara perlahan namun pasti—sebuah penolakan fisik yang sangat lembut tetapi tidak bisa dibantah.
Julian menaikkan sebelah alisnya, tetapi secara ajaib ia mengikuti dorongan halus tersebut, melangkah mundur satu tapak tanpa melepaskan pandangan matanya dari wajah Aurelia.
Aurelia melangkah melewati sang Raja, gaun birunya menyapu lantai dengan gerakan meliuk yang indah bagaikan sebuah tarian lambat di bawah sinar rembulan. Ia berjalan menuju jendela besar yang terbuka sedikit, membiarkan angin malam membelai wajah dan menerbangkan beberapa helai rambut cokelat kemerahannya.
"Anda datang kemari sendirian di tengah malam untuk mencari jawaban atas sikap dingin hamba," ujar Aurelia seraya memutar tubuhnya, membelakangi pendar rembulan sehingga siluet tubuhnya tampak begitu memikat dan misterius. "Tetapi jawaban yang Anda cari tidak akan pernah Anda temukan di dalam kepatuhan yang murahan. Selir-selir di Faksi Vance akan bersujud dan menyerahkan segalanya saat Anda memanggil... namun apakah ada satu pun dari mereka yang berani berdiri di samping Anda sebagai sekutu yang sejajar saat badai pengkhianatan meletus?"
~ To Be Continue