Bukan tentang pengkhianatan ataupun perselingkuhan, tapi tentang obsesi cinta yang menjadi luka dan dosa.
Nisa harus menerima hatinya terluka saat suaminya, Rangga secara terang terangan pergi berkencan dengan kekasihnya, Tiwi. Tapi itu adalah harga yang harus diterimanya atas dosa yang dilakukannya sendiri.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya saat cahaya lain hadir dalam hidup Nisa. Akankah semuanya berakhir bahagia atau sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farhati fara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Impian
Kembali ke saat dimana kini Rangga kembali dengan dua cup es krim di tangannya.
"Hey, kenapa kamu menangis? Ini es krimnya!" ujaran Rangga mengejutkan Nisa yang tidak sadar kalau dia sedang melamun dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Eh mas Rangga sudah kembali. Woah!! Es krimnya kelihatan enak!" seru Nisa sambil mengambil salah satu cup es krim di tangan Rangga.
"Kau belum menjawab pertanyaanku! Kenapa menangis?" Rangga kembali mengulang pertanyaannya saat melihat Nisa tidak menggubris pertanyaannya sebelumnya. Pria itu juga bersegera duduk kembali disamping Nisa.
"Eh, ini karena aku sedang membayangkan orang tuaku yang telah tiada. Dulu ayah sering sekali membelikanku es krim saat aku sedang sedih." jawab Nisa yang jelas itu hanyalah sebuah kebohongan yang terselip fakta. Dia tidak menangis karena mengingat orang tuanya, tapi perihal ayahnya yang sering membelikannya es krim saat dia sedang sedih itu benar adanya.
Rangga menatap wajah Nisa tidak percaya. Dia seakan sudah mengenal Nisa, wanita itu tidak akan menangis se terluka itu kalau hanya mengingat mendiang kedua orang tuanya.
"Kamu tidak sedang berbohong padaku, kan? Ada hal lain yang sedang kamu tangisi, kan? Apa itu masalah kita?" tanya Rangga beruntun, penuh curiga namun juga tepat sasaran. Andai pria itu mau sedikit peka, maka mungkin dia tidak akan mencoba menebak-nebak seperti itu. Biarkan saja Nisa dengan tangisannya karena jelas wanita itu terluka, dan sumber lukanya yang utama adalah diri Rangga sendiri.
Nisa kini mengalihkan tatapannya yang sebelumnya dicoba untuk tidak terlihat di depan Rangga kalau dia habis menangis, tapi faktanya suaminya itu sudah lebih dulu menangkap basah air matanya. Dia menatap pada wajah sang suami,
"Mungkin iya, sedikit! Aku sedikit kepikiran tentang masalah kita" jawab Nisa akhirnya walau masih berbalut kebohongan. Apanya yang sedikit kepikiran, kepalanya kini ingin rasanya pecah dengan semua masalahnya dan Rangga.
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Ingat, Dokter berkata apa!? Jangan banyak pikiran!"
"Iya, aku akan berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya" jawab Nisa lagi yang berusaha untuk menampilkan senyumnya kembali.
"Baguslah, tapi aku masih penasaran! Masalah apa yang membuatmu menangis seperti itu. Coba ceritakan padaku dengan sejujurnya, awas! Jangan coba-coba bohong ya!" Rangga kembali berujar yang lebih terdengar seperti desakan agar Nisa mau bercerita.
Nisa menatap pada wajah sang suami yang terlihat penuh harap. Perlahan dia menghelakan nafasnya.
"Baiklah," sahut Nisa setelah memutuskan untuk bercerita walau dia tidak akan mengatakan kalau dia sedih akibat surat cerai yang Rangga layangkan padanya.
"Sebenarnya aku hanya memikirkan impianku yang tidak akan terwujud." lanjut Nisa sembari merenung.
"Impian? Memangnya apa impianmu?" tanya Rangga semakin di buat penasaran.
"Berdiri diatas balkon rumah saat bulan purnama sembari memandang keindahan langit yang dipenuhi bintang serta menyambut hari saat matahari terbit, menikmati keindahannya dengan pria yang kucintai berada di belakangku, memelukku dalam kehangatannya. Itulah impianku... Impian sederhana yang takkan terwujud." ungkap Nisa dengan mata yang kembali berair. Rangga mendadak menghentikan gerakan mulutnya yang sedang menikmati es krimnya. Pandangannya terpaku kearah sang istri. Dia membeku, jantungnya bahkan sudah berdetak dengan menggila dan... dan dia merasakan ada hal aneh yang terjadi dengan hatinya.
"Apa ini? Ada apa dengan hatiku?" batin Rangga bertanya saat dia merasakan hal yang tak pernah terjadi sebelumnya dengan hatinya. Rasa yang bahkan tidak pernah dia rasakan pada Tiwi, tapi kini hadir hanya karena ungkapan sang istri.
Kalimat ungkapan Nisa seakan menghantamnya dengan keras. Sudah begitu jelas apa maksud dari kalimat impian yang Nisa tuturkan. Siapa pria yang wanita itu cintai, Rangga jelas tahu itu lebih dari siapa pun. Pria itu adalah dirinya, dan Rangga jelas tidak mau melakukan apa yang Nisa harapkan itu kedepannya. Tapi sekarang, rasanya Rangga mulai tidak masalah jika itu harus terjadi di masa depan, namun lagi-lagi keraguan masih membalut diri Rangga.
"Kamu menyindirku, ya?" tanyanya spontan pada Nisa yang kini memandangnya.
"Tidak! Tapi kalau Mas Rangga merasa tersindir itu terserah Mas saja."
"Aku tahu, itu kamu tujukan untukku"
"Aku tidak bermaksud begitu," Nisa mencoba membantah pada apa yang memang bukan maksudnya.
"Tadi Mas bertanya tentang impianku. Kan aku sudah menjawabnya tapi malah dituduh menyindir," lanjut Nisa yang tidak bisa menerima dituduh walau kalimatnya sebelumnya jelas tertuju pada Rangga.
Rangga mengembangkan senyumnya. Jarang sekali dia melihat Nisa menunjukkan emosinya seperti sekarang ini.
"Baiklah, aku tidak menuduhmu. Kan, aku hanya bertanya" ujar Rangga yang melihat pergelangan tangannya dimana penunjuk waktu melingkar
"Ini sudah sore. Apa kamu sudah puas sekarang? Kalau sudah puas, kita harus segera pulang. Aku masih memiliki banyak pekerjaan yang belum ku selesaikan. Besok kan aku masih harus bekerja." jelas Rangga yang memang hari sudah menjelang sore dan mereka sudah cukup lama berkeliling taman itu. Kini sudah saatnya untuk mereka pulang.
"Iya, aku sudah puas, Mas! Ayo kita pulang!" jawab Nisa dengan senyuman sembari mengajak sang suami untuk kembali. Keduanya kemudian bangkit dari bangku taman itu dan berjalan kearah dimana mobil Rangga terparkir. Keduanya kembali ke rumah mereka yang sunyi.
🍀🍀🍀
Hari sudah menjelang siang, saat Rangga keluar sebentar di waktu istirahat kantornya. Pria itu sedang duduk sendiri di cafe langganannya yang tak jauh dari kantor tempatnya bekerja. Dia sedang merenung memikirkan keanehan dengan dirinya yang terjadi sejak dua minggu lalu, lebih tepatnya setelah dia pulang dari jalan-jalan di taman dengan istrinya.
"Sebenarnya ada apa dengan diriku?" batinnya kembali bertanya. Rangga benar-benar merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Sudah dua minggu juga dia jarang bertemu Tiwi yang biasanya selalu dia nantikan.
Tepat setelah dia dan istrinya kembali dari taman. Malamnya Rangga langsung janjian ketemuan sama Tiwi di Cafe ini. Malam itu, Tiwi langsung memeluknya spontan akibat terlalu senang karena wanita itu akan mendapatkan peran utama di teater bulan depan.
Rangga hanya bisa tersenyum sambil mengucapkan selamat pada kekasihnya itu. Dia juga memberi sebuah hadiah pada wanita itu berupa gelang berwarna putih yang ditaburi manik-manik layaknya berlian. Tiwi langsung kegirangan bahagia mendapat hadiah itu dari pria yang mencintainya.
Tapi, saat hadiah itu diterima oleh Tiwi. Rangga kembali merasakan hal aneh lagi dalam dirinya. Hatinya mencelos, dia tidak pernah memberikan hadiah apapun pada Nisa selain sebuah bros yang diberikannya pada saat ulang tahun Nisa yang ketiga belas, saat dirinya dan Nisa masih duduk di bangku SMP, dan Rangga tidak buta kalau istrinya itu masih menggunakan bros usang itu di jilbabnya sampai sekarang. Hanya itu pemberiannya pada sang istri setelah bertahun-tahun bersahabat dan kemudian menikah. Sedangkan pada Tiwi sudah tak terhitung jumlah hadiah yang dibelikannya pada wanita yang berstatus sebagai kekasihnya itu.
.
.
.
dasar Tiwi ulet bulu
ah couple baru dong😍
semangat kak fara💪lanjut LG yg byk ya😄
apakah Nita punya peran besar jg di novel ini JD penasaran
ngebayangin JD Nisa psti sakit bgt deh/Cry/
cerai aja GX sih klean