Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata Buaya di Balik Topeng pengampunan
Kegagalan cara-cara kasar dan ancaman terbuka membuat Kevin Aditama berada di ujung jurang kehancuran mutlak. Di dalam kamar tidurnya yang megah namun terasa menyesakkan, lembaran-lembaran surat peringatan dari sang ayah berserakan di lantai. Riko Aditama tidak lagi sekadar memarahi; tatapan dingin sang CEO menuntut hasil nyata. Jika Kevin tidak mampu meredam situasi atau menjatuhkan Juwita kembali sebelum investigasi hukum dari Pratama Corp menghancurkan keluarga mereka, maka Kevin akan dicoret dari daftar ahli waris dan diasingkan ke luar negeri tanpa sepeser pun uang.
Dalam keputusasaan yang mencengkeram kewarasannya, Kevin menyadari satu hal penting: menghadapi Juwita dengan arogansi dan kekuasaan tidak akan pernah berhasil. Gadis itu memiliki mental sekeras baja yang tidak bisa dibengkokkan oleh ancaman. Untuk merubuhkannya, ia memerlukan strategi yang jauh lebih kotor, lebih sabar, dan jauh lebih mematikan: sebuah kepura-puraan yang sempurna.
Sore itu, langit Jakarta kembali mendung kelam, menyisakan gerimis tipis yang membasahi halaman parkir SMA Pelita Bangsa. Sebagian besar siswa sudah meninggalkan sekolah, namun Juwita masih duduk sendirian di bangku taman belakang, merapikan catatan risetnya di bawah payung besar.
Tiba-tiba, bayangan seseorang jatuh menutupi meja belajarnya. Juwita mendongak, dan ia mendapati Kevin Aditama berdiri di hadapannya.
Tidak ada seringai arogan. Tidak ada tatapan merendahkan. Yang terlihat di wajah Kevin hari ini adalah pemandangan yang membuat Juwita tertegun: rambut pemuda itu sedikit berantakan, matanya merah basah, dan bahunya tampak turun lesu menahan beban yang teramat berat.
"Juwita... boleh aku duduk sebentar?" suara Kevin terdengar parau, bergetar, dan jauh berbeda dari nada suara yang biasa ia gunakan untuk merundungnya dulu.
Juwita menyipitkan matanya, merapatkan tasnya bersiaga penuh. "Mau apa lagi, Kevin? Belum cukup puas dengan semua drama hari-hari kemarin?"
Kevin menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar begitu sarat akan keputusasaan. Ia duduk perlahan di bangku taman, menundukkan kepalanya menatap kedua tangannya yang saling meremas di atas paha.
"Aku tahu... aku tahu kamu pasti tidak akan pernah percaya sepatah kata pun yang keluar dari mulutku," ucap Kevin pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin sore. "Setelah semua hal keji yang kulakukan padamu dan Ibumu... aku sadar aku adalah monster terburuk di sekolah ini."
Juwita terdiam. Alisnya terangkat sebelah, mengamati setiap gerak-gerik pemuda itu dengan penuh kecurigaan.
"Kamu tidak tahu bagaimana rasanya hidup di bawah bayang-bayang ayahku, Juwita," lanjut Kevin, dan kali ini, sebuah tetes air mata benar-benar meluncur jatuh dari sudut matanya, membasahi pipinya yang tirus. "Semua kebencianku, semua sifat burukku... itu bukan murni dari diriku sendiri. Sejak kecil, aku dididik untuk menjadi mesin penindas. Kalau aku tidak menyingkirkan orang lain, ayahku akan menghancurkan aku."
Kevin mendongak, menatap Juwita dengan tatapan penuh permohonan yang tampak begitu tulus—tatapan seorang anak muda yang hancur dan kehabisan tempat berlindung.
"Kemarin, setelah ayahku mengancam akan membuangku karena skandal ini... aku merenung semalaman di kamar gelap. Aku melihat diriku sendiri di cermin, dan aku jijik, Juwita. Aku sangat jijik," suara Kevin bergetar hebat, nyaris terisak. "Aku tidak minta kamu langsung memaafkanku. Aku tahu luka yang kubuat terlalu dalam. Tapi... kumohon, beri aku satu kesempatan saja untuk memperbaiki semuanya. Biar aku buktikan kalau aku bisa berubah."
Suasana di taman belakang mendadak sunyi. Hati Juwita bergolak hebat. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia adalah seorang gadis remaja yang telah terbiasa merasakan pahitnya penderitaan, seorang anak yang tahu persis betapa beratnya beban hidup di bawah tekanan keluarga. Melihat seorang pemuda berlutut secara emosional di hadapannya, tembok pertahanan Juwita mulai goyah.
Ia teringat akan pesan ibunya: Jangan biarkan kepahitan meracuni hatimu, Nduk. Manusia bisa salah, tapi memberi kesempatan adalah tanda bahwa jiwa kita jauh lebih besar dari kebencian mereka.
Juwita menatap Kevin lekat-lekat. Tidak ada kilatan licik di mata pemuda itu saat ini; yang ada hanyalah air mata dan kehampaan. Apakah mungkin... manusia seperti Kevin benar-benar bisa bertobat?
"Aku tidak butuh air matamu, Kevin," jawab Juwita akhirnya, suaranya melunak namun tetap tegas. "Dan aku tidak akan serta-merta melupakan apa yang sudah kamu lakukan pada Ibuku dan aku. Tapi... jika kamu benar-benar ingin membuktikan kalau kamu ingin berubah, tunjukkan lewat tindakan nyata. Jangan pernah ganggu aku lagi, dan berhentilah hidup di atas penderitaan orang lain."
Mendengar jawaban itu, secercah kilatan kemenangan yang sangat cepat dan dingin sempat melintas di balik mata Kevin, namun ia langsung menutupinya dengan senyuman penuh rasa syukur yang tampak begitu rapuh.
"Terima kasih, Juwita... terima kasih banyak. Kamu benar-benar malaikat," ucap Kevin berpura-pura tulus, berdiri perlahan dengan gestur penuh kelegaan. "Aku janji, kamu tidak akan pernah menyesal telah memberiku kesempatan kedua ini."
Hari-hari berikutnya di SMA Pelita Bangsa diwarnai oleh perubahan drastis yang membuat seluruh sekolah tercengang. Kevin Aditama benar-benar menepati kata-katanya—di permukaan.
Ia tidak lagi mengganggu Juwita. Bahkan, ketika beberapa siswa lain mencoba berbisik-bisik atau mencemooh Juwita di koridor, Kevin-lah orang pertama yang membentak dan mengusir mereka. Ia sering kali tampak berjalan di jalur yang sama dengan Juwita, menjaga jarak aman, memasang senyuman ramah setiap kali mata mereka berpapasan, dan beberapa kali secara sukarela menyerahkan catatan tugas penting kepada Juwita dengan alasan ingin membantu meringankan beban belajarnya.
Perubahan radikal dari musuh bebuyutan menjadi sosok yang tampak menyesal itu meluluhkan sisa-sisa kewaspadaan Juwita. Perlahan tapi pasti, tembok pertahanan yang dibangun Juwita runtuh. Dalam beberapa kesempatan diskusi kelompok, Juwita bahkan mulai membalas senyuman Kevin dan mengangguk sopan. Di mata Juwita, penebusan dosa itu nyata. Ia merasa bangga pada dirinya sendiri karena telah memilih jalan pengampunan daripada jalan kebencian.
Namun, di balik senyuman ramah dan sikap manis yang ditampilkan Kevin di hadapan Juwita, sebuah rencana iblis tengah dirajut dengan sangat rapi di dalam kegelapan.
Malam itu, di ruang kerja pribadi ayahnya, Kevin berdiri di depan meja besar dengan seringai kemenangan yang mengerikan menghiasi wajahnya. Riko Aditama menatap putranya dengan sebelah alis terangkat penuh minat.
"Jadi... gadis bodoh itu benar-benar termakan oleh air mata buayamu?" tanya Riko dingin, menyesap wiskinya.
"Sepenuhnya, Pa," jawab Kevin, tawanya berderai pelan penuh kepuasan. "Dia anak yang terlalu naif. Berhati lembut dan mudah iba pada orang yang mengaku menderita. Dia benar-benar mengira aku sudah bertobat dan menjadi anak baik."
Kevin melangkah mendekati meja ayahnya, membentangkan sebuah dokumen rancangan proyek sains nasional tahunan yang baru saja dicuri dari meja laboratorium utama tempat Juwita menyimpan data risetnya.
"Selama beberapa minggu terakhir, aku sengaja mendekatinya bukan untuk berteman, Pa. Aku memanfaatkan kepercayaannya untuk menyelami celah paling lemah dari sistem keamanan proyek barunya," bisik Kevin dengan mata menyala penuh ambisi keji. "Proyek kecerdasan buatan yang dia agung-agungkan di hadapan Baskoro Pratama itu memiliki satu titik buta pada algoritma enkripsi datanya. Dan aku sudah menyalin seluruh kodenya."
Riko Aditama tersenyum sinis, menepuk bahu putranya dengan bangga. "Bagus, Kevin. Inilah darah dagingku. Manfaatkan kebaikannya, buat dia percaya sepenuhnya sampai dia menyerahkan seluruh hasil risetnya ke tanganmu tanpa curiga."
"Tentu saja, Pa," ujar Kevin, seringainya semakin melebar membentuk lengkungan yang penuh ancaman. "Dan saat kompetisi puncak bulan depan tiba, tepat di hadapan Profesor Hendra dan seluruh petinggi negara... aku akan meledakkan sistem itu dari dalam. Aku akan membuat Juwita hancur bukan hanya sebagai siswa yang gagal, tapi sebagai seorang penipu ulung yang mencuri karyanya sendiri. Kali ini... tidak akan ada Baskoro Pratama yang bisa menyelamatkannya."