NovelToon NovelToon
Perang Tanpa Pahlawan

Perang Tanpa Pahlawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: areann._

PERANG TANPA PAHLAWAN

Ardan hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil yang tidak pernah membayangkan dirinya akan menginjakkan kaki di medan perang. Ia bukan bangsawan, bukan kesatria terpilih, dan tidak memiliki kekuatan istimewa. Baginya, kehidupan sederhana bersama keluarga sudah lebih dari cukup.

Namun semuanya berubah ketika perang pecah dan desanya menjadi salah satu korban pertama. Kehilangan rumah dan keluarganya membuat Ardan bergabung dengan militer, bukan demi kejayaan, melainkan hanya untuk bertahan hidup.

Di medan perang, ia menemukan kenyataan yang jauh lebih mengerikan daripada cerita tentang kepahlawanan. Ia menyaksikan sahabat-sahabatnya gugur, desa-desa terbakar, dan ribuan manusia saling membunuh tanpa benar-benar memahami alasan mereka berperang.

Seiring waktu, Ardan naik pangkat dari prajurit biasa hingga menjadi seorang komandan. Setiap kenaikan pangkat memberinya kekuasaan lebih besar, tetapi juga tanggung jawab yang semakin berat. Setiap perintah yang ia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20 — Ibu Kota Valdren

Sementara Ardan dan regunya melanjutkan tugas di garis depan, perkembangan yang jauh lebih mengkhawatirkan mulai terjadi di ibu kota Valdren, jauh dari jangkauan langsung mereka.

Surat dari Lord Varen Aldric, yang tiba melalui jalur rahasia yang telah mereka bangun, membawa kabar yang membuat Serena pucat ketika membacanya.

"Ayahku dipanggil menghadap dewan penasihat kerajaan," katanya, suaranya bergetar saat menjelaskan isi surat itu pada Ardan dan yang lain. "Seseorang telah melaporkan bahwa ia telah berbagi informasi sensitif dengan pihak luar—maksudnya kita."

"Apakah ia dalam bahaya?" tanya Ardan, kekhawatiran langsung muncul.

"Ia menulis bahwa untuk saat ini, posisinya masih aman karena pengaruh dan reputasinya yang telah lama ia bangun. Tapi ia memperingatkan bahwa seseorang di dalam dewan penasihat sendiri mungkin menjadi bagian dari jaringan Majelis Abu, memantau siapa saja yang mulai bertanya terlalu banyak."

Kabar ini mengonfirmasi ketakutan terbesar mereka—bahwa pengaruh Majelis Abu telah menyusup bukan hanya ke tingkat menengah pemerintahan, tapi mungkin hingga ke lingkaran dalam kerajaan sendiri.

---

Roderic, ketika diberi tahu tentang perkembangan ini, mengadakan pertemuan darurat dengan lingkaran kepercayaannya yang semakin luas.

"Ini mempersulit rencana kita untuk membawa bukti langsung kepada Raja," katanya, nada suaranya serius. "Jika ada pengkhianat di dalam dewan penasihat, kita tidak bisa yakin informasi apa pun yang kita sampaikan tidak akan bocor sebelum kita siap untuk bertindak."

"Bagaimana kita tahu siapa yang bisa dipercaya?" tanya Ardan.

"Itu pertanyaan yang telah membuatku terjaga sepanjang malam," Roderic mengakui, kelelahan yang jarang ia tunjukkan kini tampak jelas di wajahnya. "Aku memiliki beberapa nama yang kupercaya sepenuhnya, tapi bahkan mereka perlu diverifikasi dengan hati-hati sebelum kita melibatkan mereka lebih jauh."

Diskusi itu mengarah pada rencana yang lebih hati-hati—membangun kasus yang begitu kuat, dengan begitu banyak sumber independen yang saling menguatkan, sehingga bahkan jika sebagian informasi bocor, bukti kumulatifnya akan terlalu besar untuk diabaikan atau ditutup-tutupi.

"Kita butuh lebih banyak bukti," simpul Roderic. "Dan kita butuh cara untuk mengidentifikasi siapa di dalam istana yang benar-benar bisa dipercaya."

---

Beberapa hari kemudian, sebuah kesempatan tak terduga muncul. Seorang kurir dari ibu kota, membawa surat-surat resmi rutin, menyelipkan pesan tersembunyi dari Lord Varen—informasi tentang seorang anggota dewan penasihat bernama Lord Hallister yang telah lama dikenal karena integritasnya, namun juga seseorang yang mungkin bersedia mendengarkan jika didekati dengan hati-hati.

"Lord Varen menyarankan kita mendekati Hallister secara tidak langsung," jelas Serena, menerjemahkan kode tersembunyi dalam surat ayahnya. "Mungkin melalui seseorang yang tidak akan menimbulkan kecurigaan—seorang prajurit yang mencari audiensi untuk masalah yang tampak tidak terkait."

"Aku bisa melakukannya," tawar Ardan. "Sebagai Letnan dengan rekam jejak yang telah terbukti, permintaan audiensi tentang 'masalah kesejahteraan prajurit' atau semacamnya tidak akan menimbulkan kecurigaan berlebih."

Roderic mempertimbangkan usulan itu dengan hati-hati. "Berisiko, tapi mungkin perlu. Jika Hallister memang bisa dipercaya, ia bisa menjadi sekutu penting di dalam istana sendiri."

---

Rencana itu membutuhkan persiapan yang matang—Ardan akan melakukan perjalanan ke ibu kota dengan alasan resmi terkait evaluasi kesejahteraan prajurit, memberi kedok sempurna untuk mendekati Lord Hallister tanpa menimbulkan kecurigaan.

Malam sebelum keberangkatannya, Tobin dan Kael berkumpul dengannya untuk persiapan terakhir.

"Ibu kota akan menjadi medan yang sangat berbeda dari apa pun yang pernah kita hadapi," kata Kael, nada seriusnya menggantikan humor biasanya. "Di sini, kita tahu musuh kita—Ravharn, dengan seragam dan taktik yang bisa kita pelajari. Di sana, musuh bisa jadi siapa saja, tersembunyi di balik senyum sopan dan jabatan terhormat."

"Aku akan berhati-hati," janji Ardan.

"Kau selalu bilang begitu," gumam Tobin, kekhawatiran jelas terlihat di wajahnya. "Tapi perjalanan ini berbeda. Kami tidak bisa melindungimu secara langsung seperti biasanya."

"Aku tahu." Ardan menatap kedua sahabatnya, menyadari betapa jauh perjalanan mereka bersama sejak hari pertama di Elar yang terbakar. "Tapi inilah yang harus dilakukan jika kita ingin benar-benar mengubah sesuatu. Terkadang, perlindungan terbesar bukan dari pedang atau perisai, tapi dari kebenaran yang kita bawa dan keyakinan bahwa itu layak diperjuangkan."

Keesokan paginya, dengan restu Roderic dan harapan seluruh regu yang telah menjadi keluarganya, Ardan berangkat menuju ibu kota Valdren, membawa misi yang mungkin menjadi langkah paling berbahaya namun paling penting dalam perjalanan panjang mereka mengungkap Majelis Abu.

---

Ibu kota Valdren, yang belum pernah dikunjungi Ardan sebelumnya, menyambutnya dengan kemegahan yang kontras tajam dengan kehidupan sederhana yang ia kenal di Elar maupun kekerasan brutal medan perang.

Menara-menara istana menjulang tinggi di tengah kota, dikelilingi bangunan-bangunan batu yang menunjukkan kekayaan dan sejarah panjang kerajaan. Jalan-jalan dipenuhi pedagang, bangsawan dalam pakaian mewah, dan rakyat biasa yang menjalani kehidupan mereka tampaknya tanpa kesadaran penuh akan penderitaan yang terjadi di garis depan jauh dari sini.

Kontras itu membuat dada Ardan terasa berat. Di sini, jauh dari darah dan air mata Sungai Aldis atau Jembatan Aldenwood, perang terasa seperti konsep abstrak, bukan kenyataan yang merenggut nyawa setiap hari.

"Pertama kali ke ibu kota?" tanya seorang pejabat yang mengantarnya menuju tempat penginapan sementara untuk delegasi militer, menangkap ekspresi kagum campur tidak nyaman di wajah Ardan.

"Ya. Berbeda jauh dari apa yang biasa kulihat."

"Banyak prajurit merasakan hal yang sama," pejabat itu mengangguk pengertian. "Perang di garis depan dan kehidupan di sini terasa seperti dua dunia berbeda, meski terhubung oleh takdir yang sama."

---

Mendapatkan audiensi dengan Lord Hallister membutuhkan kesabaran dan perencanaan matang. Ardan mengikuti protokol resmi dengan teliti, mengajukan permintaan audiensi melalui saluran yang tepat, menggunakan kedok "masalah kesejahteraan prajurit garis depan" yang telah mereka siapkan.

Ketika pertemuan akhirnya terjadi, di sebuah ruangan kecil di sayap administratif istana, Lord Hallister ternyata adalah seorang lelaki paruh baya dengan penampilan yang jauh dari kesan berkuasa yang mungkin diharapkan dari seorang anggota dewan penasihat—sederhana, dengan mata yang menunjukkan kelelahan seseorang yang telah lama bergelut dengan beban tanggung jawab.

"Letnan Ardan," katanya, menatapnya dengan penilaian yang tajam meski nadanya tetap sopan. "Aku telah mendengar namamu, meski dalam konteks yang sedikit berbeda dari laporan resmi tentang kesejahteraan prajurit."

Jantung Ardan berdebar. "Apa maksud Anda, My Lord?"

"Jangan bermain-main denganku, Letnan. Aku telah menjadi bagian dari politik istana selama lebih dari dua puluh tahun. Aku tahu kapan seseorang datang dengan agenda yang lebih dalam daripada yang tertulis di permintaan audiensi resmi." Hallister menatapnya lurus. "Pertanyaannya adalah, apakah agenda itu sesuatu yang perlu kukhawatirkan, atau sesuatu yang mungkin kita berdua miliki kepentingan bersama di dalamnya."

---

Ardan mempertimbangkan risikonya sejenak, mengingat peringatan Kael tentang bahaya tersembunyi di balik senyum sopan istana. Tapi sesuatu dalam cara Hallister berbicara, ketulusan yang tersembunyi di balik kehati-hatian politiknya, membuat Ardan memutuskan untuk mengambil risiko.

"Saya mencari seseorang yang mungkin berbagi keprihatinan tentang pola-pola mencurigakan dalam pendanaan dan eskalasi perang ini, My Lord. Seseorang yang mungkin telah melihat hal-hal yang tidak sepenuhnya masuk akal, namun belum menemukan cara aman untuk menyuarakannya."

Keheningan yang panjang mengikuti kata-kata itu, Hallister menatapnya dengan intensitas yang membuat Ardan merasa seperti sedang diperiksa hingga ke dalam jiwanya.

"Lord Varen Aldric mengirimmu," katanya akhirnya, bukan pertanyaan.

"Saya tidak bisa mengonfirmasi atau menyangkal itu, My Lord."

Sebuah senyum tipis, hampir mengejutkan, muncul di wajah Hallister. "Kehati-hatianmu dihargai. Baiklah, Letnan. Aku akan jujur denganmu, dengan risiko yang kutanggung sendiri. Aku telah lama mencurigai bahwa ada kekuatan tersembunyi yang memanipulasi kebijakan kerajaan ini, mendorong keputusan-keputusan yang tidak masuk akal jika dilihat dari kepentingan rakyat Valdren yang sesungguhnya."

---

Selama jam berikutnya, dalam percakapan yang penuh kehati-hatian namun semakin terbuka, Hallister berbagi pengamatannya sendiri—pertemuan-pertemuan tertutup yang tidak tercatat dalam catatan resmi, keputusan-keputusan pendanaan yang mengalir ke arah yang tidak bisa dijelaskan, pergantian personel kunci yang selalu terjadi tepat sebelum kebijakan penting diambil.

"Aku tidak memiliki bukti konklusif," Hallister mengakui. "Hanya kecurigaan yang terkumpul selama bertahun-tahun, terlalu berbahaya untuk disuarakan tanpa dukungan yang kuat."

"Kami memiliki bukti, My Lord. Dari berbagai sumber, melintasi beberapa kerajaan dan bahkan Federasi Beastkin."

Mata Hallister melebar, campuran kekagetan dan harapan yang jarang ia tunjukkan. "Jika itu benar, Letnan, kalian mungkin memegang kunci untuk mengubah arah kerajaan ini, mungkin bahkan seluruh benua."

"Apakah Anda bersedia membantu kami membawa bukti ini ke hadapan Raja, ketika saatnya tepat?"

Hallister menatap ke luar jendela, ke arah menara istana yang menjulang di kejauhan, mempertimbangkan risiko dan tanggung jawab yang akan ia pikul jika setuju.

"Ya," katanya akhirnya, suaranya tegas meski berat dengan kesadaran akan bahaya yang menanti. "Aku akan membantu. Kerajaan ini, rakyatnya, pantas mendapat kebenaran, apa pun risikonya bagi kita yang mengungkapkannya."

Ardan merasakan sesuatu yang mendekati kemenangan untuk pertama kalinya dalam perjalanan panjang ini—sekutu baru di jantung kekuasaan itu sendiri, langkah penting menuju konfrontasi yang mungkin, pada akhirnya, akan mengubah nasib Elyndor selamanya.

1
Aisyah Suyuti
good
johanes ronald
dr awal negara itu cm bertahan dan bertahan tanpa ada upaya utk menyerang sm skali ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!