NOVEL INI ADALAH FIKSI (Alternate Universe) DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT
Haruma dan Harumi, dua kakak beradik yang kini sudah kuliah semester 5 di salah satu universitas yang cukup ternama di Indonesia, tak lama lagi akan mengikuti sebuah lomba seni drama yang bertempat di Candi Prambanan.
Lomba itu mengangkat tema tentang kisah cinta Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang.
Akan tetapi, momen perlombaan yang diikuti oleh Haruma-Harumi justru akan menjadi sebuah pertunjukan yang MENUMPAHKAN DARAH MANUSIA ATAS NAMA DENDAM.
Seolah, kutukan Bandung Bondowoso kepada Roro Jonggrang, menimbulkan kutukan mengerikan.
Apa yang akan terjadi dengan Harumi saat tampil di atas panggung sakral di depan Candi Prambanan itu?
Dan apa yang akan dilakukan oleh Haruma?
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Jika ada unsur sejarah, latar tempat, seni, budaya, nama tokoh, ritual, kepercayaan, dan mitos yang sama dengan kehidupan nyata, itu semua murni hanya untuk dijadikan bagian dalam cerita saja.
SELAMAT MEMBACA... ☺
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 KEANEHAN YANG MUNCUL
"TIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTT...!!!"
Suara melengking panjang dari monitor elektrokardiogram itu menorehkan kengerian yang sangat kuat di udara lorong IGD.
Garis hijau yang tadinya melompat-lompat lemah, kini berubah menjadi satu garis lurus yang tak terputus.
GARIS KEMATIAN.
"Haruma!!" Yuda meraung histeris.
Tenaganya mendadak berlipat ganda, meronta sejadi-jadinya dari cengkeraman petugas keamanan dan Dion yang berusaha menahan tubuhnya agar tidak mendobrak pintu kaca ruang tersebut.
Di balik kaca buram itu, kepanikan pecah.
Seorang dokter pria berteriak memberikan instruksi cepat kepada tiga perawat di sekeliling kasur brankar.
"Pasien henti jantung! Siapkan defibrilator! Charge 200 joule!" seru sang dokter.
Kedua tangannya memegang pad alat pacu jantung yang telah diolesi gel, menempelkannya tepat di dada Haruma yang kostumnya sudah digunting terbuka.
"Semua mundur! Clear!" ucap sang dokter keras.
CIIIIIIT... BAMMM!!!
Tubuh pucat Haruma tersentak hebat ke atas kasur brankar akibat sengatan listrik bertenaga tinggi. Namun, monitor itu masih tidak bergeming.
"TIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTT..."
"Belum ada respons! Charge 250 joule! Clear!"
CIIIIIIT... BAMMM!!!
Air mata Yuda tumpah membanjiri wajahnya. Pertahanannya hancur lebur.
Pemuda itu akhirnya jatuh bertumpu pada kedua lututnya di lantai lorong rumah sakit yang dingin. Ia memukul lantai dengan kepalan tangannya yang masih beraroma darah Haruma, tak memedulikan rasa sakit yang menjalar di jari-jarinya.
"Tuhan, kumohon... Jangan ambil dia... Kumohon!" isak Yuda, suaranya pecah dan tenggelam dalam deru napasnya yang memburu.
Dion ikut berjongkok, memeluk erat pundak sahabatnya itu sambil merapalkan doa-doa dengan bibir gemetar.
"Charge 300 joule! Clear!"
CIIIIIIT... BAMMM!!!
Untuk satu detik yang terasa seperti keabadian, ruangan itu dicekam keheningan.
Bahkan suara hiruk-pikuk dari lobi rumah sakit seolah tersedot ke dalam ruang hampa.
Dan tepat pada detik itu pula, sebuah anomali terjadi. Lampu neon di sepanjang lorong IGD dan di dalam ruang resusitasi tiba-tiba berkedip liar.
Bzzzttt... Bzzzttt... Trik-trik-trik!!!
Suhu udara merosot drastis hingga napas Yuda dan Dion membentuk kepulan uap putih tipis di udara.
Udara dingin itu bukan berasal dari AC pendingin, melainkan hawa pekat yang berbau seperti...
Perpaduan antara bunga melati yang layu dan kemenyan yang terbakar.
Lalu...
Tiba-tiba...
.....
.....
Tit... Tit... Tit... Tit... Tit...
.....
.....
Garis lurus di monitor itu tiba-tiba melompat, membentuk kurva detak jantung yang meski lambat dan tidak beraturan, namun menandakan kembalinya sebuah nyawa.
HARUMA...
SEOLAH BERHASIL MELAWAN KEMATIAN.
"Nadi teraba! Kita dapatkan denyutnya kembali! Cepat, pasang ventilator dan siapkan transfusi darah darurat. Kita harus segera memindahkannya ke ruang operasi untuk menutup pendarahan di organ dalamnya!" seru dokter, menyeka keringat dingin di dahinya.
Mendengar suara ritmis dari monitor tersebut, Yuda menyandarkan punggungnya ke dinding, mengembuskan napas panjang yang sarat akan kelegaan yang luar biasa.
Haruma masih hidup.
Iya, Haruma...
Kakak dari perempuan yang dicintainya itu masih melawan maut dengan sekuat tenaga.
Inspektur Bayu, yang sejak tadi berdiri dalam diam menyaksikan garis batas antara hidup dan mati tersebut, perlahan menghela napas.
Sebagai polisi yang sering melihat korban kekerasan atau tindak kejahatan, ia tahu persis betapa tipisnya harapan pasien dengan luka tusuk sedalam itu.
Tiba-tiba, ponsel pintar di saku Inspektur Bayu bergetar. Ia sedikit menjauh dari Yuda dan Dion untuk mengangkat panggilan tersebut.
Wajahnya yang tegas dan dingin perlahan berubah. Alis tebalnya bertaut rapat. Ada gurat kebingungan yang sangat jelas tercetak di wajah sang penegak hukum.
Beberapa menit lamanya ia menerima telepon itu, ia menutupnya dan kembali menghampiri Yuda dan Dion.
"Mas Yuda, Mas Dion, mari duduk dulu," ucap Inspektur Bayu, nadanya kini jauh lebih melunak dan tidak sedingin saat interogasi pertama tadi.
Yuda dibantu berdiri oleh Dion. Keduanya duduk berdampingan, menatap sang polisi dengan sisa-sisa tenaga yang ada.
"Syukurlah... Kondisi Haruma perlahan stabil, meski masa kritisnya belum lewat. Itu kabar baiknya," Inspektur Bayu memulai pembicaraan, memasukkan kembali ponselnya.
"Tapi saya baru saja mendapat laporan langsung dari kepala laboratorium forensik Inafis yang memeriksa senjata tajam sitaan dari lokasi kejadian. Dan apa yang mereka temukan... sangat sulit dicerna oleh logika kepolisian." tambahnya.
"Maksud Bapak bagaimana?" tanya Dion, keningnya berkerut.
Inspektur Bayu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
"Kami menyita properti pisau itu langsung dari atas panggung. Benda itu langsung dimasukkan ke dalam kantong barang bukti steril. Tim forensik sudah melakukan dusting dan memindai gagang serta bilah pisaunya di bawah sinar ultraviolet untuk mencari sidik jari, jejak DNA, atau residu apa pun."
Sang polisi terdiam sejenak, seolah ragu untuk mengucapkan kalimat selanjutnya.
"Hasilnya, di seluruh permukaan pisau pusaka itu... tim kami hanya menemukan satu cetakan sidik jari. Sidik jari yang sangat bersih, utuh, dan jelas. Sidik jari itu milik saudari Harumi."
Yuda membelalak lebar kedua matanya seketika.
"Ha-Harumi?! Hanya Harumi, Pak?! Tidak mungkin, Pak! Pisau itu pasti ada yang membawa ke sana! Seseorang pasti menaruhnya di ruang ganti, atau memberikannya kepada Harumi tanpa dia sadari! Bagaimana mungkin tidak ada sidik jari orang lain?!" cecar Yuda dengan penuh tanda tanya dalam pikirannya.
"Itu yang membuat kami kebingungan, Mas Yuda," jawab Inspektur Bayu dengan nada berat.
"Benda kuno, apalagi yang tingkat korosi logamnya menunjukkan usia ratusan tahun, setidaknya memiliki residu tanah, jamur pelapukan, serpihan kulit mati, atau jejak minyak dari tangan orang yang menyimpannya, merawatnya, atau membawanya ke lokasi." kata Inspektur Bayu sambil menatap lekat-lekat mata Yuda.
"Pisau itu sangat bersih dari jejak manusia. Satu-satunya jejak manusia yang ada di benda itu hanyalah sidik jari Harumi. Cetakannya begitu sempurna menempel pada gagang kayu hitam tersebut, seolah-olah..." ucapannya kembali tertahan.
"Seolah-olah apa, Pak?" desak Dion.
"Seolah-olah pisau yang berkarat itu tercipta dari udara kosong, dan langsung bermanifestasi di dalam genggaman tangan Harumi malam ini," lanjut Inspektur Bayu.
Kalimat itu terdengar sangat-sangat...
Sangat konyol!
Dan diucapkan oleh seorang aparat, namun mimik wajahnya menunjukkan keseriusan yang mutlak.
Bulu kuduk Yuda kembali meremang hebat. Perutnya terasa mual.
Fakta ini menghancurkan sisa-sisa harapan Yuda bahwa ini adalah ulah orang iseng atau lawan dari tim seni drama mereka.
"Bukan hanya itu keanehannya," Inspektur Bayu kembali bersuara, kali ini suaranya lebih pelan, setengah berbisik.
"Tim laboratorium juga melaporkan anomali pada darah korban yang menempel di bilah pisau. Darah segar, jika terpapar udara, seharusnya mengalami proses koagulasi atau penggumpalan dalam hitungan menit. Tapi darah di pisau itu..." kembali tertahan ucapan sang polisi.
"Kenapa dengan darahnya, Pak?" tanya Yuda dengan suara bergetar.
"Darah itu tidak mengering. Logam hitam berkarat pada bilah pisau itu... bereaksi aneh. Menurut tim forensik, logam berukir aksara Jawa itu terlihat seperti pori-pori yang hidup. Benda mati itu... perlahan-lahan menyerap darah korban."
Yuda dan Dion langsung tercekat.
Jantung mereka berdua seakan berhenti berdetak sesaat.
Menyerap darah??
Bagaimana mungkin sebuah pisau bisa meminum darah??
.....
.....
Ingatan Yuda seketika melayang pada mitos kutukan yang sering dibicarakan oleh para sesepuh di sekitar Prambanan.
Tentang pusaka-pusaka gaib yang menuntut tumbal, yang haus akan darah keturunan tertentu untuk membebaskan dendam ribuan tahun yang terpenjara di dalam batu candi.
Harumi tidak sedang mengayunkan pisau itu; tangan gadis itulah yang dikendalikan secara paksa oleh entitas yang bersemayam di dalam pusaka haus darah tersebut.
.....
.....
"Pak... Bapak harus percaya sama saya," Yuda memohon dengan suara sedikit putus asa.
"Harumi tidak sadar. Sesuatu merasukinya. Sesuatu dari candi itu mengincar nyawa mereka!" tambah Yuda.
Inspektur Bayu menghela napas panjang, merapikan kerah seragamnya.
"Mas Yuda, saya adalah abdi hukum. Saya bekerja berdasarkan pasal, bukti fisik, dan motif logis. Di mata hukum, fakta bahwa hanya ada sidik jari Harumi di bilah pisau berkarat itu justru menjadi bukti yang sangat memberatkan. Ini menyingkirkan dugaan adanya orang ketiga yang menaruh senjata itu secara diam-diam. Untuk saat ini, saudari Harumi resmi berstatus sebagai tersangka utama percobaan pembunuhan terencana."
Sontak, ucapan Inspektur Bayu tersebut terasa bagaikan sebuah bom yang meledak dengan sangat keras. Menghancurkan sisa-sisa kekuatan hati Yuda.
"Tidak! Bapak nggak bisa menahannya! Dia korban di sini, Pak!" Yuda nyaris berteriak, hendak berdiri namun ditahan oleh tangan Dion.
"Hukum tidak mengenal istilah kerasukan, Mas Yuda," potong Inspektur Bayu tegas.
"Dia akan tetap berada dalam tahanan kami untuk pemeriksaan lebih lanjut. Saya sarankan, persiapkan pengacara terbaik untuknya." tambah sang petugas itu.
Belum sempat Yuda melontarkan bantahan atau memohon untuk bisa menemui Harumi di kantor polisi...
Sayup-sayup dari ujung lorong IGD terdengar suara derap langkah kaki tergesa-gesa yang diiringi oleh tangisan histeris yang menyayat hati.
Perhatian Yuda, Dion, dan kedua polisi itu langsung tertuju pada pintu kaca otomatis IGD yang baru saja terbuka.
Seorang wanita dengan menggunakan baju gamis panjang dan jilbab panjang, dan air mata yang membanjiri wajahnya berlari gontai ke arah mereka.
Di sebelahnya, seorang pria yang wajahnya pucat pasi berusaha menopang tubuh istrinya agar tidak jatuh ke lantai.
Dada Yuda terasa dihantam godam raksasa. Napasnya terhenti seketika.
Itu adalah...
.....
.....
NISA DAN ZAKI.
Kedua orang tua angkat Haruma dan Harumi.
Mereka telah tiba. Karena Nisa dan Zaki menginap di hotel dekat lokasi perlombaan tadi.
.....
.....
Mata sembap Nisa, sang ibu angkat dari Haruma dan Harumi itu, langsung menangkap sosok Yuda yang pakaiannya berlumuran darah.
Nisa melepaskan rangkulan suaminya, kini berjalan ke arah Yuda dengan tatapan yang memancarkan penderitaan dan amarah yang tak terbendung.
Malam panjang penuh kutukan ini...
Rupanya baru saja memasuki babak penderitaan yang baru bagi Yuda.
kira kira ntar ada plot Twitter nya nggak ya, kek pov lain bwt bantu mereka. selain yuda