NovelToon NovelToon
MATI RASA DI PELUKANMU

MATI RASA DI PELUKANMU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saga B.T.

Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.

Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.

Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Siapa orang di dalam foto itu?

Mata Ayden terpaku pada foto kusam di tangan Aisyah. Dalam Sepersekian detik yang menyiksa, kilat kejam dan kegelapan murni berkelebat cepat di dasar iris matanya—sebuah riak amarah yang begitu pekat hingga Aisyah menahan napasnya karena takut.

Ketegangan di antara mereka meruncing tajam, bagaikan benang tipis yang siap putus kapan saja.

Namun, sebelum Aisyah sempat melangkah mundur karena ketakutan, ekspresi beku dan mengerikan di wajah Ayden mendadak meleleh begitu cepat. Dalam sekejap mata, topeng kehangatan itu terpasang kembali dengan sempurna.

Bibir Ayden menyunggingkan sebuah senyuman manis—sebuah senyuman yang terlihat dipaksakan, namun tersaji begitu halus hingga nyaris tampak nyata.

"Ah, foto ini..." Ayden terkekeh pelan, tawa renyah yang terdengar janggal di telinga Aisyah. Ia mengambil foto tersebut dari jemari Aisyah dengan gerakan yang sangat lembut. "Kenapa benda sampah ini bisa terselip di bawah karpet? Harusnya sudah kubuang sejak lama."

"Ayden... siapa orang di dalam foto itu?" desak Aisyah, suaranya masih tersendat oleh sisa ketakutan.

Ayden membelai pipi Aisyah dengan punggung jari telunjuknya, menatap istrinya dengan pendar mata yang pura-pura mengayomi.

"Itu hanya foto masa lalu keluarga kami yang kelam, Aisyah," jawab Ayden dengan suara sehalus sutra. "Pria yang wajahnya dirobek itu adalah mantan mitra bisnis Ayahku. Dia orang jahat yang pernah mengkhianati dan menghancurkan usaha keluarga kami bertahun-tahun lalu. Ayahku sangat membencinya, sampai-sampai merobek wajahnya dari foto keluarga."

Aisyah mengernyitkan dahi. "Mengkhianati keluarga kalian? Siapa namanya?"

Ayden tersenyum makin lebar, sebuah senyuman paksa yang tak sampai ke matanya. Ia merogoh saku jasnya, mengambil sebuah kunci kecil, lalu membuka laci paling atas di meja kerjanya. Dengan santai, ia melempar foto tua itu ke dalam laci gelap tersebut dan menguncinya kembali dengan bunyi klik yang nyaring.

"Orang tak berguna dari masa lalu tidak perlu disebut namanya, Sayang," ujar Ayden pelan seraya membalikkan badan dan merengkuh kedua bahu Aisyah. "Masa lalu yang pahit itu sudah mati. Yang penting sekarang adalah masa depan kita berdua di rumah ini."

"Tapi, Ayden... raut wajah ayahmu di foto itu..."

"Sssttt..." Ayden meletakkan ibu jarinya di atas bibir Aisyah, menghentikan ucapan wanita itu. "Jangan memikirkan hal-hal aneh yang bisa membuatmu cemas lagi, Aisyah. Kamu ingat kan apa yang kubilang tadi pagi? Tugas utamamu di rumah ini hanyalah bahagia dan merasa aman bersamaku."

Aisyah menatap mata suaminya. Senyuman hangat itu ada di sana, bicaranya manis dan menenangkan, namun entah mengapa, Aisyah merasa seolah sedang berdiri di hadapan seorang asing yang mengenakan topeng indah.

"Maafkan aku kalau sudah membuatmu tersinggung karena mengorek mejamu," bisik Aisyah pasrah, menundukkan pandangannya.

"Aku tidak marah, Istriku," sahut Ayden lembut, mendongakkan dagu Aisyah agar mata mereka kembali bertemu. "Tapi, tolong... janji padaku. Jangan pernah sentuh area meja kerja ini lagi, ya? Ada banyak dokumen rahasia perusahaan yang bisa membahayakan jika terselip. Kamu mengerti, kan?"

"Iya, Ayden. Aku janji," jawab Aisyah pelan.

"Pintar," puji Ayden.

Ia memajukan wajahnya, mendaratkan ciuman singkat namun tegas di kening Aisyah. Kehangatan bibirnya kembali menyapa kulit kening Aisyah, namun kali ini, sentuhan itu menyisakan rasa dingin yang merambat hingga ke tulang belakangnya.

Saat Ayden melepaskan pelukannya dan berjalan menuju lemari pakaian untuk mengganti jasnya, Aisyah kembali berdiri sendirian di depan cermin besar kamar utama.

Di dalam pantulan cermin itu, Aisyah melihat bayangan dirinya sendiri yang tampak begitu pucat. Dan tepat di belakang bayangannya, berdiri sosok Ayden yang sedang membelakanginya, membisu dalam kegelapan sudut kamar dengan senyuman paksa yang perlahan-lahan luntur dari bibirnya.

***

​Gemuruh guntur menggelegar dahsyat membelah langit malam, disusul dentuman kilat yang memantul tajam pada dinding-dinding kaca tebal penthouse. Hujan deras tercurah bagai dicurahkan dari langit, menampar kaca luar dengan suara berisik yang bising. Di dalam kamar tidur utama, Aisyah meringkuk di tepi tempat tidur, kedua tangannya menutup rapat pasang telinganya setiap kali kilatan cahaya putih melintas.

​Sejak kecil, dentum petir selalu menjadi monster menakutkan bagi Aisyah—sebuah kenangan trauma saat ia ditinggal sendirian di rumah kontrakan sempit sewaktu keluarganya jatuh bangkrut.

​Cklek... Bzzzt!

​Tiba-tiba, seluruh pendar lampu kristal dan pendingin ruangan mati seketika. Suara deru angin dan hujan mendadak menjadi satu-satunya bunyi yang menguasai kegelapan pekat penthouse. Pasokan listrik terputus total.

​"Ayden?" panggil Aisyah, suaranya tercekat dan gemetar dalam kegelapan yang menyergap.

​Tidak ada jawaban. Rumah megah itu terasa teramat luas dan asing di tengah kegelapan total.

​"Ayden! Kamu di mana?" teriak Aisyah lagi, meraba-raba dinding koridor saat ia keluar dari kamar dengan langkah gemetar.

​Dengan bantuan kilatan cahaya petir yang sesekali menyinari lorong, Aisyah menyusuri koridor menuju ruang kerja pribadi Ayden di ujung lorong. Ia tahu Ayden belum masuk ke kamar sejak tadi malam.

​"Ayden... tolong, aku takut..." bisik Aisyah pelan, meraba gagang pintu ruang kerja yang sedikit terbuka.

​Ia mendorong pintu tersebut. Ruangan itu sama gelapnya, hanya disinari pendar rembulan pucat dan kilatan petir dari balik jendela kaca besar. Aisyah melangkah masuk dengan ragu-ragu, jemarinya meraba tepian meja kerja kayu mahoni untuk mencari keberadaan suaminya.

​"Ayden, apakah kamu di sini?" tanya Aisyah, suaranya nyaris tenggelam oleh deru hujan.

​DUARRR!

​Dentuman guntur yang teramat keras bergema tepat di atas gedung, mengejutkan Aisyah hingga ia terlonjak kaget. Kakinya tersandung sudut lemari arsip rendah di dekat meja.

​PRAAKK!

​Sebuah kotak arsip berbahan karton tebal tersenggol dari atas meja dan jatuh terbalik ke lantai marmer. Isinya meluncur deras, membuyarkan lembaran-lembaran kertas tebal, map dokumen cokelat, dan kliping koran tua hingga berserakan di sekitar kaki Aisyah.

​"Aduh..." ringis Aisyah, mengelus lututnya yang membentur sudut kayu.

​Aisyah segera berlutut di lantai yang dingin, berniat merapikan kembali kertas-kertas tersebut sebelum Ayden melihatnya. Namun, tepat ketika jemarinya menyentuh lembaran pertama, sebuah kilatan petir yang menyilaukan menyambar di luar jendela, menerangi seluruh ruangan selama beberapa detik.

​Mata Aisyah membelalak seketika saat membaca judul besar berhuruf tebal di lembaran paling atas:

​LAPORAN FORENSIK KEUANGAN: PT DINANTARA UTAMA - KELUARGA RAHARDJA

​Jantung Aisyah seolah berhenti berdetak saat itu juga. Napasnya tercekat di tenggorokan.

​"Dinantara Utama?" bisik Aisyah tak percaya. tangannya yang gemetar hebat meraih lembaran-lembaran lain di bawahnya.

Setiap kali kilat menyala, Aisyah membaca penggalan kalimat yang tertera di sana dengan mata berkaca-kaca. Ada skema alur kebangkrutan perusahaan ayahnya, riwayat utang piutang, daftar aset yang disita, hingga kliping koran tua bertuliskan berita pemakaman kedua orang tuanya. Lebih mengerikan lagi, di setiap margin kertas tersebut, ada catatan tangan tebal berhuruf tegas—tinta hitam yang sangat Aisyah kenal sebagai tulisan tangan Ayden.

’Semua aset Rahardja telah dilikuidasi. Kebangkrutan mutlak.’

’Tahap satu selesai.’

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!