NovelToon NovelToon
Zero Hunter

Zero Hunter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: LetterFromJusticia

Ervan Noir seorang yang bermimpi menjadi Hunter akan tetapi impianya tidak sesuai kenyataan ketika peluang menjadi Hunter di Depan Mata, kejadian diluar prediksi dimana saat proses pemasanagn CORE progres instalationya 0℅ sejak itu Ervan menjadi bahan olokan sering di bully , hingga suatu Insiden menimpa Ervan dimana ketika Ervan berada di Ambang kematian Instalation yang awalnya 0℅ mulai aktif, hingga akhirnya Takdir Ervan sebagsi seorang Hunter dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LetterFromJusticia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Nol Persen

Dari dasar gang, langit malam hanya tersisa segaris.

Ervan Noir menatap garis itu sambil menekan perutnya. Sesuatu yang hangat terus merembes di sela jarinya. Kata orang, hidup seseorang akan terputar ulang pada saat-saat terakhir. Anehnya, yang pertama muncul di kepalanya justru malam yang tidak pernah ia alami sendiri.

Malam ketika langit itu retak.

---

Bu Rosaline selalu menceritakannya dengan urutan yang sama: kembang api dulu, baru retakan.

Malam terakhir tahun 1999. Seluruh dunia turun ke jalan menyambut milenium baru. Hitungan mundur selesai, langit penuh warna, orang-orang berpelukan dengan siapa pun yang berdiri di sebelah mereka. Lalu, tidak lama setelah tahun berganti, langit yang gelap itu terbelah.

Mula-mula orang mengira itu kembang api jenis baru. Sorak-sorai malah bertambah keras. Baru ketika sesuatu jatuh dari celah itu dan mulai bergerak, sorak-sorai berubah menjadi jeritan.

Dari retakan raksasa itu keluar makhluk-makhluk dengan bentuk dan ukuran yang tidak dikenal buku mana pun. Mereka menyerang tanpa peringatan dan tanpa belas kasihan. Manusia menamai mereka BETA, Being Extraterrestrial Anomaly, seolah-olah sebuah nama bisa membuat mereka lebih mudah dilawan.

Ternyata tidak. Lima tahun lamanya tank, pesawat tempur, dan rudal dikerahkan, dan selama lima tahun itu pula kota demi kota berubah menjadi kota mati. Separuh umat manusia lenyap.

Baru pada 2006 negara-negara mengesampingkan perselisihan mereka. Para ilmuwan terbaik dunia bersatu dan melahirkan CORE, *Chipset Overdrive Resonance Enhancer*, dari teknologi manusia dan material inti BETA itu sendiri. Mereka yang tubuhnya mampu beresonansi dengan CORE menjadi lebih kuat, lebih cepat, dan sanggup melakukan hal-hal yang kemudian disebut Magic. Dunia menyebut mereka Hunter.

Tahun 2010, umat manusia melancarkan Ragnarok I, operasi militer terbesar sepanjang sejarah, dengan Indonesia memimpin komando Asia Tenggara dan Oceania. Ribuan Hunter gugur. Dua tahun kemudian, sembilan puluh persen wilayah yang dikuasai BETA berhasil direbut kembali.

Ervan tumbuh besar di dunia sesudah perang itu. Jakarta sudah berdiri lagi, retakan masih sesekali muncul, dan Hunter bukan lagi sekadar tentara. Mereka pahlawan, aset negara, keluarga-keluarga besar dengan kedudukan yang mirip bangsawan zaman dulu. Semua orang hidup dengan satu aturan tak tertulis: yang kuat berdiri di atas, yang lemah diinjak.

---

Ia tidak pernah tahu siapa orang tuanya. Yang ia kenal hanya panti asuhan sederhana milik Bu Rosaline, kasur tipis, dan adik-adik yang jumlahnya selalu lebih banyak daripada lauk di meja.

Ia juga tahu kepalanya bekerja dengan cara berbeda. Buku pelajaran setahun habis ia pahami dalam seminggu. Seorang gurunya pernah menyebutnya Albert Einstein dari era modern, setengah kagum dan setengah kasihan, sebab kecerdasan tidak ikut membayar tagihan listrik panti. Maka pada usia delapan belas, Ervan menjaga kasir minimarket sampai malam.

Mimpinya cuma satu: menjadi Hunter. Bukan supaya terkenal. Hunter bisa melindungi orang. Hunter bisa mengubah hidup anak-anak di panti itu.

Pada hari pemasangan CORE, bertahun-tahun lalu, ia hampir percaya mimpi itu sudah ada di tangannya.

> CORE RESONANCE COMPATIBILITY: 99%

Teknisi di balik kaca sampai berdiri dari kursinya. *"Sembilan puluh sembilan? Tolong periksa ulang alatnya, aku belum pernah melihat angka setinggi ini keluar dari ruangan ini."* Angkanya tidak berubah. Seseorang menepuk bahu Ervan dan berkata ia akan menjadi nama besar.

CORE dipasang. Instalasi dimulai. Ervan menunggu sesuatu berubah di dalam tubuhnya.

Tidak ada yang berubah.

Mereka memeriksa ulang. Lalu pemeriksaan kedua. Ketiga. Keempat. Semua perangkat menjawab sama.

> CORE INSTALLATION PROGRESS: 0%

*"Secara teori ini tidak mungkin,"* kata teknisi yang sama, kali ini tanpa berani menatapnya. Jarinya mengetuk-ngetuk tepi tablet. *"CORE-nya terpasang, resonansimu nyaris sempurna, tapi sistemnya... diam. Kami bahkan tidak punya kategori untuk kasus seperti ini. Di berkasmu akan kami tulis sebagai Bug. Maaf, Nak. Aku sungguh tidak tahu harus bilang apa lagi."*

Bug. Terpasang, tetapi tidak pernah aktif.

Kabar itu menyebar lebih cepat daripada laporan laboratoriumnya. Tidak butuh waktu lama sampai ia punya nama baru.

---

*"Kembaliannya ambil saja, Zero."*

Pemuda di depan kasir membiarkan kartu Hunter-nya tergeletak di meja lebih lama dari yang perlu, supaya chip-nya terlihat. Temannya menahan tawa di dekat pintu. *"Anggap saja sumbangan. Kasihan, kompatibilitas sembilan puluh sembilan, tapi kerjanya tetap menghitung permen karet."*

Ervan menghitung uang kembalian sampai pecahan terkecil, lalu menggesernya ke seberang meja.

*"Tiga ratus lima puluh Sen. Struknya mau dicetak, atau cukup kuucapkan terima kasih saja?"*

Mereka pergi. Tawa mereka masih terdengar sampai pintu menutup.

*"Kamu tahu, kan, kaleng kopi ini tadi sudah kuangkat buat kulempar ke kepalanya?"*

Sebastian Greyad muncul dari lorong minuman dengan wajah orang yang baru saja ditahan dari berkelahi. Ia meletakkan dua kaleng kopi di meja kasir seperti menyerahkan barang bukti.

*"Lalu besok keluargamu menerima surat keberatan dari keluarga anak itu."* Ervan memindai kedua kaleng tanpa mengangkat wajah. *"Siswa SGA menyerang Hunter lain dengan kopi kalengan. Ayahmu pasti bangga sekali."*

*"Ayahku malah bakal tanya kenapa lemparanku bisa meleset."* Sebastian mendengus, tetapi bahunya turun. Ia menatap Ervan cukup lama. *"Serius, Van. Kamu itu terlalu tenang. Di anime mana pun, tokoh yang diinjak-injak di episode satu justru yang nantinya bikin semua orang melongo. Aku cuma minta kamu kesal sedikit, supaya aku yakin kamu masih percaya episode berikutnya ada."*

Ervan tersenyum tipis dan menyelipkan struk ke bawah kaleng.

*"Ini bukan anime, Bas. Di sini nol ya tetap nol."* Tangannya berhenti sebentar di atas mesin kasir. *"Tapi kalau kamu memang mau tahu, aku masih membaca jurnal CORE setiap jam istirahat. Jadi mungkin aku lebih bodoh daripada yang kamu kira."*

*"Nah, itu baru sahabatku."* Sebastian mendorong satu kaleng ke arahnya. *"Yang ini buat kamu. Aku tunggu sampai kamu tutup, ya? Kita pulang bareng."*

*"Kamu ada latihan pagi, dan aku masih harus menghitung stok. Pulang sana. Jalan itu sudah kulewati ribuan kali."*

Sebastian sudah membuka mulut untuk membantah, lalu melirik jam dinding dan mengumpat pelan pada jadwal akademinya. Di pintu ia berbalik sekali lagi, menunjuk Ervan dengan kaleng kopinya.

*"Episode berikutnya, Van. Aku tagih."*

---

Jalan pulang sudah kosong ketika Ervan mengunci minimarket.

Di saku jaketnya ada dompet berisi upah bulan ini. Di kepalanya, upah itu sudah habis dibagi: beras, susu, uang buku adik-adiknya.

Laki-laki itu keluar dari bayangan halte dengan pisau lipat dan tangan yang gemetar.

*"Dompet. Ponsel. Cepat, jangan bikin aku mengulang!"*

Ervan mengangkat kedua tangan. Otaknya menghitung seperti biasa: jarak dua langkah, pisau di tangan kanan, orang ini lebih takut daripada dirinya. Ponsel bisa diganti. Ia menyerahkannya.

Dompet tidak.

*"Ponselnya ambil saja. Tapi dompet ini bukan untukku, Pak, ini uang makan anak-anak panti sebulan. Tolong—"*

Laki-laki itu tidak menunggu kalimatnya selesai. Ia menerjang. Ervan menangkap pergelangan tangannya, dan selama tiga detik ia benar-benar sanggup menahan. Hanya tiga detik. Lalu tubuh yang tidak pernah disentuh kekuatan CORE itu kalah tenaga, dan sesuatu yang dingin masuk ke perutnya.

Perampok itu menatap pisaunya sendiri, mundur, lalu lari.

Ervan tetap berjalan. Gang kecil di samping deretan ruko adalah jalan pintas menuju panti, dan kakinya memilih jalan itu tanpa bertanya. Sepuluh langkah. Dua puluh. Darahnya menetes mengikuti, dan tembok di kiri-kanannya mulai bergoyang. Entah di langkah keberapa, lututnya menyerah.

---

Maka di sinilah ia sekarang, di tanah yang dingin, menatap segaris langit.

Panti. Orang tua yang tidak pernah ia kenal. Kasur tipis. Bu Rosaline, yang pasti belum tidur karena satu anaknya belum pulang. Angka sembilan puluh sembilan. Angka nol. *Zero.* Sebastian yang menagih episode berikutnya.

*Maaf, Bas. Sepertinya memang tidak ada.*

Dompet itu masih ada di genggamannya. Ia ingin tertawa, tetapi yang keluar hanya napas pendek. Suara kota menjauh. Garis langit itu mengabur, lalu padam.

Dan di dalam gelap, dari suatu tempat di dalam tubuhnya sendiri—

> BIP.

>

> **CORE INSTALLATION PROCESS STARTING...**

>

> 1%

>

> 2%

>

> 3%

Angka yang bertahun-tahun tidak pernah bergerak itu akhirnya bergerak.

> 25%

>

> 48%

>

> 71%

>

> 93%

>

> 100%

>

> CORE INSTALLATION COMPLETE

---

Cahaya yang membangunkannya.

Matahari pagi jatuh miring ke dalam gang, hangat di wajahnya. Ervan membuka mata dan untuk beberapa saat hanya berbaring, menunggu rasa sakit itu kembali.

Rasa sakit itu tidak kembali. Kausnya kaku oleh darah kering, tetapi luka yang semalam merobeknya kini hanya menyisakan denyut tumpul.

Lalu ia sadar ia bisa mendengar tetesan air dari pipa di ujung gang. Langkah seseorang di jalan besar. Minyak yang mendesis di wajan pedagang, entah berapa rumah dari situ. Retakan sehalus rambut di tembok seberang terlihat begitu jelas, seolah ia berdiri sejengkal di depannya.

Ia duduk. Gerakan sesederhana itu terasa keliru: terlalu ringan, terlalu cepat, seperti tubuh ini milik orang lain.

Dompet itu masih di tangannya.

Dan di dalam dirinya, sesuatu yang selama bertahun-tahun diam kini berdengung pelan.

---

1
Renjana
keren👍
mangat nulisnya
mampir juga di karyaku yah😊
ラマSkuy
nice 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!