NovelToon NovelToon
TIRAKAT 7

TIRAKAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / TKP
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.

(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Sepuluh tahun berlalu.

Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.

​Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".

​Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.

Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 SECANGKIR KOPI HITAM PAHIT UNTUK NISA

Suasana di meja makan dapur perlahan-lahan mulai mereda.

Mangkuk besar tempat gulai ayam kampung yang tadinya penuh, kini hanya menyisakan kuah santan kekuningan dengan sedikit bumbu rempah di dasarnya. Piring-piring kecil bekas martabak manis keju-kacang pun sudah bersih. Perut semua orang telah terisi kenyang, memancarkan rasa puas dan kehangatan yang melapisi seluruh ruangan.

Zaki melipat serbet kainnya, menyangkutkannya di tepi meja, lalu menoleh ke arah anak bungsunya yang duduk di sebelah kirinya. Niza tampak sudah beberapa kali menguap lebar, matanya yang bulat mulai redup dan sayu oleh kantuk yang menumpuk.

"Ayo, Niza..." tegur Zaki dengan suara rendahnya yang penuh kelembutan, mengusap kepala anak laki-lakinya. "Lihat tuh matanya udah merah gitu. Jam berapa ini? Ayo cuci kaki, gosok gigi, terus tidur ke kamar."

Niza mengucek matanya dengan punggung tangan, mulutnya bermonyong kecil. "Yah... Niza masih mau ngobrol sama Kak Haruma dan Kak Harumi..."

Harumi yang duduk di seberangnya langsung tertawa renyah. Ia menjangkau pipi adiknya lalu mencubitnya gemas. "Halah, gaya banget mau ngobrol! Itu mata udah merem-melek gitu dari tadi! Ayo sana tidur, besok kan harus bangun Subuh terus berangkat sekolah."

"Iya, Niza sayang," timpal Haruma lembut, menyunggingkan senyuman bahagianya. "Kan besok sore Kakak sama Kak Rumi pulang dinas lagi. Nanti kita ngobrol lagi, ya?"

"Beneran ya, Kak?" tanya Niza memastikan, matanya menatap Haruma penuh harap.

"Iya, Niza ganteng. Beneran," janji Haruma manis.

Nisa berdiri dari kursinya, membawa beberapa piring kotor menuju wastafel dapur. "Ayo, disiapin bukunya buat besok sebelum merem, Nak. Biar besok pagi nggak grusa-grusu nyari tas sama buku sekolahnya."

"Iya, Bu..." jawab Niza pasrah. Anak 9 tahun itu akhirnya berdiri dari kursinya, lalu melangkah gontai menuju kamarnya di koridor tengah sambil menyeret langkahnya.

Zaki pun ikut berdiri dari meja makan, merapikan sarung woven-nya. Ia menatap Haruma dan Harumi yang sedang membantu Nisa membersihkan meja dapur.

"Haruma, Harumi..." panggil Zaki hangat. "Kalian berdua juga langsung mandi, bersihkan diri. Seharian kerja di ruang otopsi sama ruang interogasi pasti badannya lengket semua. Jangan tidur kemalaman juga loh..."

"Siap, Ayah... Ini Ruma sama Rumi mau langsung mandi kok," jawab Haruma sopan.

"Ayah mau istirahat duluan ya, badan Ayah agak pegal-pegal habis ngerjain berkas laporan kantor tadi sore," pamit Zaki seraya tersenyum pada kedua putrinya itu, lalu menatap pada istrinya. "Bu, Ayah ke kamar duluan ya."

"Iya, Mas... Langsung istirahat saja, nanti aku nyusul kalau dapur sudah bersih," balas Nisa lembut menatap suaminya dengan penuh rasa hormat.

Zaki melangkah meninggalkan area dapur, menuju kamar utama untuk beristirahat.

Sementara itu, Haruma dan Harumi bergantian masuk ke dalam kamar mandi. Suara gemericik air menyiram lantai keramik terdengar bergantian selama setengah jam berikutnya.

Setelah membasuh seluruh sisa kelelahan fisik, Haruma dan Harumi melangkah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar bugar, lalu mereka berdua masuk ke dalam kamar mereka.

Mereka berganti pakaian dan mengenakan pakaian rumah yang sangat santai—Haruma mengenakan gamis kaos longgar bernuansa abu-abu dengan kerudung instan yang lembut, sementara Harumi memakai celana training panjang dan kaos lengan panjang berwarna biru tua yang nyaman.

Di dapur, Nisa baru saja selesai mengelap permukaan meja makan dan mematikan kompor gas.

Rumah yang teduh itu perlahan-lahan mulai berangsur hening.

Nisa merapikan kerudung kainnya, lalu melangkah pelan menyeberangi ruang tengah.

Suasana rumah terasa begitu damai.

Dari balik pintu kamar Niza, terdengar suara dengkuran halus anak bungsunya yang sudah tertidur lelap.

Dari kamar utama, napas teratur Zaki menandakan suaminya pun sudah terbuai dalam lelapnya malam.

Nisa tersenyum tipis. Ia memutuskan untuk tidak langsung masuk ke kamar utama, belum berniat untuk merebahkan tubuhnya di samping Zaki.

Kakinya Nisa justru melangkah menuju pintu depan, membuka pintu kayu utama yang tidak terkunci, lalu keluar menyambut dinginnya udara malam di teras depan rumah.

Hembusan angin malam berhembus pelan, menggoyangkan ranting-ranting pohon melati dan mawar di pekarangan depan.

Udara Desa Mawih di pukul 10 malam ini terasa begitu bersih, dingin, dan menyejukkan dada.

Nisa melangkah mendekati tepi teras, lalu menjatuhkan dirinya dengan anggun di atas bangku kayu panjang berbahan jati ukir—bangku kayu yang sudah bertahun-tahun ke belakang bertengger di teras rumah mereka. Ia menyandarkan punggungnya, melipat kedua telapak tangannya di atas pangkuan, lalu menengadah menatap ke langit malam yang membentang luas.

Di atas sana, ribuan bintang kecil berkerlip indah di antara awan tipis, memancarkan pendaran cahaya perak yang meneduhkan jiwa.

Nisa menarik napas dalam-dalam, meresapi hawa dingin yang memenuhi paru-parunya, lalu menghembuskannya perlahan lewat mulut.

Di dalam keheningan malam yang sunyi itu...

Dada Nisa mendadak dihantam oleh sebuah gelombang rasa haru yang teramat sangat pekat.

Setiap kali ia duduk sendirian di teras ini saat malam hari...

Ingatan masa lalu itu selalu berputar kembali di dalam pikirannya bagaikan sebuah gulungan layar tancap tua.

10 tahun memang telah berlalu tanpa terasa memberatkan...

Namun...

Ingatan tentang malam-malam berdarah di rumah ini...

Sama sekali tidak pernah benar-benar terhapus dari benaknya.

Nisa memejamkan matanya rapat-rapat.

Bayangan 10 tahun lalu mendadak melintas begitu jelas.

.....

.....

Nisa kembali teringat saat rumah ini diteror oleh kejamnya Santet Pring Sedapur yang dikirimkan oleh Ki Sukmo dan Mbak Yuli atas dendam kesumatnya.

Nisa ingat betul...

Bagaimana malam-malam mencekam saat itu...

Malam-malam yang dipenuhi oleh suara lemparan ribuan batu kerikil dan pasir gaib di atas genteng rumah yang memekakkan telinga, bau amis darah yang menggenang di atas lantai dapur, serta jeritan-jeritan maut yang mengincar nyawa keluarga mereka.

Air mata hangat perlahan-lahan menetes melewati kulit pipi Nisa yang mulai menampakkan keriput akibat usianya yang kini sudah 41 tahun.

Di balik kelopak matanya yang terpejam...

Bayangan Harumi 10 tahun lalu yang terbaring pucat di atas kasur kamar belakang kembali menari-nari.

Saat itu, Harumi yang baru berusia 18 tahun menjadi korban dari keganasan Santet Parenggut Sukma.

Nisa ingat betul bagaimana tangannya sendiri bergetar hebat saat harus mengikat jemari Harumi dengan kain tambang di tiang ranjang, menangis terisak-isak menahan rasa tega demi mencegah anak angkat keduanya itu menggorok lehernya sendiri menggunakan mata pisau daging akibat bisikan iblis di dapur belakang.

"Ya Allah..." bisik Nisa lirih di dalam benaknya saat ingat kejadian Harumi itu, air matanya menetes makin deras.

Dan yang paling menyayat hatinya adalah ingatan tentang suaminya, Zaki.

Nisa teringat malam di mana Zaki harus melangkah pergi sendirian dari rumah ini, menempuh perjalanan jauh menuju Pesisir Utara Cirebon.

Zaki—seorang Imam dan suami yang teramat mencintainya—harus bertaruh nyawa di atas tanah rawa berlumpur, bersimbah darah dan peluh, berduel hidup dan mati melawan dukun sakti bernama Ki Sukmo demi memutus mata rantai santet iblis tersebut.

Selama 3 hari penuh Zaki berjuang di Cirebon, Nisa di rumah ini tidak pernah berhenti bersujud di atas sajadah, menangis meraung-raung memohon keselamatan suaminya kepada Sang Maha Pencipta.

Lalu...

Ingatan itu bergeser pada perjalanan panjang belasan jam mereka menembus rute Jawa Timur menuju ke kaki Gunung Lawu.

Nisa teringat momen sakral di mana mereka berempat berdiri di bawah rindangnya pohon kamboja tua, berlutut di atas tanah makam keluarga Mbak Yuli.

Di sana, di depan makam Pak Doyo, Si Mbok, dan Dek Wiwi, Zaki menangis meraung-raung memeluk nisan berlumut milik istri pertamanya, meluapkan seluruh trauma, rasa bersalah, dan penyesalan masa lalu.

Dan di tempat itu pula, Mbak Yuli yang tadinya dipenuhi dendam kesumat, akhirnya bersujud berlutut mencium punggung tangan Nisa, saling memeluk dalam derai air mata pemaafan murni yang membebaskan jiwa mereka dari cengkeraman iblis.

.....

.....

Nisa membuka matanya kembali. Ia mengusap air mata di pipinya menggunakan ujung kerudungnya.

Rasa haru, kepasrahan, dan rasa syukur yang tak terhingga membuncah penuh, memenuhi setiap sudut dada dan sukmanya.

Bagaimana mungkin Nisa tidak bersyukur malam ini?

Allah SWT telah membawa keluarganya melewati lembah neraka yang teramat gelap, membasuh seluruh luka darah dan air mata mereka, lalu menggantinya dengan sebuah kebahagiaan yang begitu sempurna dan melimpah di saat ini. Tepat 10 tahun berlalu itu.

Rumah yang dulunya pernah bersimbah darah dan gempuran santet mematikan itu, kini telah menjelma menjadi surga yang dipenuhi gelak tawa.

Harumi yang dulu hampir tewas digerogoti santet, kini telah tumbuh dan jauh berkembang menjadi seorang perwira polisi wanita yang gagah dan disegani.

Haruma juga tumbuh dan jauh berkembang menjadi seorang dokter spesialis forensik yang anggun dan berhati mulia.

Dan di tengah-tengah mereka...

Allah menganugerahkan Muhammad Niza—seorang anak laki-laki (darah daging) yang sehat, tampan, dan cerdas—sebagai pelita pelengkap di dalam kehidupan pernikahan antara Nisa dan Zaki.

"Terima kasih, Ya Allah..." rintih Nisa berbisik pada angin malam...

Nisa pun tersenyum dengan mata yang basah oleh air mata kebahagiaan...

"Engkau telah mengembalikan kedamaian di rumah ini... Engkau telah menjaga suami dan anak-anak hamba... Terima kasih, Ya Allah... Terima kasih..." ucapnya lagi sambil mengusap air matanya.

Di tengah-tengah rasa syukur dan haru yang sangat dalam itu...

Tiba-tiba...

Krieeet...

Suara engsel pintu yang dibuka pelan mendadak memecahkan lamunan khusyuk Nisa.

Nisa pun menoleh ke arah pintu.

Dari balik pintu yang terbuka, melangkah keluar Haruma dan Harumi secara berdampingan. Kedua anak gadisnya itu tampak sangat segar setelah mandi. Rambut Harumi yang basah terurai rapi di bahu kaos biru tuanya, sementara Haruma terlihat begitu anggun dalam balutan gamis kaos abu-abu yang nyaman.

Namun...

Yang membuat senyuman Nisa semakin mengembang hangat adalah benda yang sedang dipegang oleh Haruma di tangan kanannya.

Sebuah cangkir keramik berwarna cokelat tua yang masih mengepulkan uap panas tipis.

Dari dalam cangkir itu, menguar aroma tajam, pahit, dan khas dari kopi hitam murni tanpa gula—minuman favorit Nisa sejak puluhan tahun lalu yang selalu diseduhnya saat ingin menikmati ketenangan malam.

Haruma melangkah mendekati Ibunya dengan senyuman yang teramat lembut di wajah cantiknya.

"Ibu..." sapa Haruma dengan suara yang sangat halus. "Kok ngelamun sendirian di teras? Nanti masuk angin loh, Bu..."

Harumi ikut berjalan di samping kakaknya, menyunggingkan senyuman bahagianya. "Iya nih, Ibu... Dari tadi Rumi cariin di dapur, ternyata Ibu malah duduk manis di sini... Lagi ngapain sih, Bu?"

Nisa mengusap sisa air mata di sudut matanya dengan cepat, lalu menyambut kedatangan kedua putrinya dengan senyuman keibuan yang paling hangat.

"Nggak ngelamun kok, Nduk..." sahut Nisa lembut. "Ibu cuma lagi pengen menghirup udara malam sebentar. Udara malam ini sejuk banget."

Haruma berlutut sedikit di samping bangku kayu jati, lalu menyerahkan cangkir keramik cokelat itu ke atas telapak tangan Ibunya dengan sangat hati-hati.

"Ini, Bu... Ruma buatkan kopi hitam pahit panas kesukaan Ibu," ujar Haruma tersenyum manis. "Takutnya Ibu kehausan habis beres-beres dapur tadi."

Nisa menerima cangkir keramik yang terasa hangat sedikit panas di telapak tangannya. Aroma kopi hitam pahit yang mengepul menyuntikkan rasa tenang yang luar biasa di dadanya.

"Masya Allah... Ruma pinter banget," puji Nisa tulus, matanya menatap Haruma penuh dengan rasa kasih sayang. "Tau aja kalau Ibu memang lagi pengen minum kopi pahit malam ini. Terima kasih banyak ya, sayang..."

"Sama-sama, Ibu tercinta," jawab Haruma hangat, lalu ikut duduk di sisi kanan bangku kayu panjang tersebut.

Harumi tanpa ragu sedikit pun langsung menjatuhkan dirinya di sisi kiri Nisa. Polwan tegap itu merapatkan tubuhnya pada sang Ibu, lalu menyandarkan kepalanya yang basah di atas bahu kiri Nisa dengan sangat manja, melingkarkan lengan kirinya di perut pinggang Ibunya.

"Aduh, enaknya... Duduk di teras sambil peluk Ibu begini rasanya semua capek seharian hilang total," gumam Harumi memejamkan matanya nyaman di bahu Ibunya.

Nisa terkekeh pelan. Tangan kirinya yang bebas terulur mengusap-usap rambut Harumi yang basah dengan kelembutan seorang ibu yang tak terbatas. Sementara Haruma mengusap lembut lengan kanan Ibunya itu penuh kasih sayang.

Nisa mendekatkan cangkir keramik itu ke bibirnya, lalu menyesap cairan kopi hitam pahit hangat tersebut perlahan-lahan.

Slruuup...

Rasa pahit murni biji kopi yang khas menyapa lidahnya, mengalir hangat menuruni tenggorokan, memberikan rasa rileks yang luar biasa pada seluruh saraf tubuhnya.

"Gimana, Bu? Pas gak rasa kopinya?" tanya Haruma penasaran. "Tadi Haruma cuma pakai dua sendok bubuk kopi murni tanpa gula sama sekali, persis kaya racikan yang biasa Ibu buat."

Nisa menurunkan cangkirnya, menyunggingkan senyuman cantik di wajahnya yang mulai menua. "Pas banget, Haruma sayang... Rasanya mantap, bikin dada hangat."

Harumi mendongakkan kepalanya sedikit dari bahu Ibunya, menatap wajah Nisa dari samping. "Tapi... Ibu tadi beneran gak lagi ngelamun kan pas kita keluar? Rumi barusan sempat ngelihat mata Ibu agak basah gitu... Ibu habis nangis ya?"

Nisa tertegun sejenak, lalu tertawa kecil mengusap pipi Harumi dengan punggung jari-jarinya. "Gak nangis sedih kok, Rumi... Ibu cuma lagi... bersyukur banget sama Allah..."

Haruma membetulkan posisi duduknya, menatap wajah Ibunya dengan rasa ingin tahu yang lembut. "Bersyukur soal apa, Bu?"

Nisa menarik napas panjang, menatap lurus ke arah pekarangan rumah yang diterangi pendaran cahaya lampu teras dan kerlip bintang di langit.

"Ibu cuma lagi mengingat-ingat masa lalu, kok..." bisik Nisa dengan suara yang sangat bergetar oleh keharuan. "Ibu ingat 10 tahun yang lalu... pas rumah ini diteror santet, pas kalian berdua masih remaja waktu itu. Dan... Ibu juga ingat pas Ayah kalian harus bertaruh nyawa sendirian di pantai pesisir utara Cirebon..."

Haruma dan Harumi terdiam seketika.

Suasana di teras malam itu mendadak hening dan khusyuk.

"Dulu... Ibu pikir rumah ini gak bakal punya masa depan lagi, Ruma, Rumi," lanjut Nisa, air mata keharuan kembali menggenang di sudut matanya. "Ibu takut banget bakal kehilangan Ayahmu... Ibu takut kehilangan Ruma dan Rumi... Tapi lihatlah kita hari ini..."

Nisa menoleh menatap Haruma, lalu beralih menatap Harumi yang berada di dekapannya.

"Allah mengembalikan semuanya pada kita dalam bentuk yang jauh lebih indah," tutur Nisa dengan suara pecah menahan tangis bahagia.

"Harumi sudah jadi polisi hebat yang membela orang kecil... Haruma sudah jadi dokter cantik yang dipercaya banyak orang... Niza tumbuh sehat dan pinter... Dan Ayah kalian sehat wal afiat memimpin rumah ini. Bagaimana mungkin Ibu gak nangis bersyukur...?"

Mendengar kata-kata tulus dari lubuk hati Ibunya, dada Haruma dan Harumi terasa bagaikan tersiram air sejuk yang amat dalam. Air mata haru ikut menetes di pipi Harumi. Ia makin mempererat pelukannya di pinggang Bu Nisa.

"Ibu..." bisik Harumi parau, menatap wajah Ibunya. "Rumi yang harusnya paling bersyukur punya Ibu sama Ayah. Kalau 10 tahun lalu Ibu sama Ayah gak merawat Rumi pakai doa sama ketulusan... Rumi gak bakal pernah ada di sini hari ini, Bu... Rumi pasti udah mati dari dulu, Bu..."

"Sssttt... Gak boleh ngomong gitu, Sayang," potong Nisa cepat, mencium kening Harumi dengan penuh kasih sayang. "Kalian berdua ini adalah perhiasan dan anugerah terbesar dari Allah buat Ibu... Kalian berdua adalah anak pertama dan kedua yang datang dalam hidup Ibu, sebelum Ayah kalian menikahi Ibu..."

Haruma ikut mengusap air mata di pipinya, tersenyum hangat menatap Ibu dan adiknya. "Haruma juga bersyukur banget bisa jadi anak Ibu sama Ayah. Kasih sayang Ibu sama Ayah gak pernah membedakan kita berdua sama Niza sedikit pun... Walau Ruma sama Rumi cuma anak angkat buat Ibu dan Ayah, tapi semua rasa cinta kalian berdua terasa nyata banget setiap hari."

"Eeeh... Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu, Ruma... Buat Ibu, Ruma dan Rumi bukan anak angkat... Tapi benar-benar sudah jadi anak kandung buat Ibu... Dan jadi anak kandung buat Ayah... Nggak ada perbedaan antara kalian sama Niza. Jangan ngomong gitu lagi ya, Ruma..." jawab Nisa dengan rasa cinta seorang Ibu yang sangat tulus.

Nisa merangkul kedua putri angkatnya itu erat-erat di atas bangku kayu teras.

Ketiga wanita itu tenggelam dalam dekap kehangatan yang amat murni di bawah hembusan angin malam.

Setelah beberapa saat suasana haru itu terlewati...

Haruma mengusap lengannya sendiri, lalu menatap sudut teras dekat pintu.

Mata Haruma menatap ke arah sebuah kursi kayu ukir yang kosong di sudut teras itu.

"Bu..." panggil Haruma pelan dengan nada suara yang terasa mengenang seseorang.

"Iya, Nduk?" sahut Nisa.

"Haruma mendadak jadi kangen sama Kakek..." bisik Haruma dengan senyuman melankolis.

Mendengar kata 'Kakek', yang maksudnya adalah Pak Rusdi, Harumi ikut mendongakkan kepalanya. "Iya ya, Kak... Rumi juga tiba-tiba ingat Kakek..."

Nisa pun menatap kursi kayu kosong di sudut teras itu.

Tatapan Nisa menerawang jauh ke masa 5 tahun yang lalu.

Pak Rusdi, Bapak mertua bagi Zaki, Ayah kandungnya Nisa...

Sekaligus Kakek tercinta bagi Haruma, Harumi, dan Niza...

Telah berpulang ke Rahmatullah dengan tenang 5 tahun yang lalu akibat usia tua yang sudah sepuh.

Beliau wafat dalam keadaan tersenyum di atas kasurnya, dikelilingi oleh Zaki, Nisa, serta ketiga cucu-cucunya.

"Kakek kalian..." gumam Nisa dengan nada rindu yang teramat dalam. "Dulu... pas Kakek masih ada, bangku kosong dekat pintu itu adalah tempat favorit Kakek kalau malam hari. Sambil minum kopi hitam pahit, sama seperti Ibu sekarang."

"Iya, Bu!" sela Harumi teringat. "Kakek kalau malam-malam paling senang duduk di sini sambil minta dibuatkan kopi hitam pahit persis kaya yang Ibu minum sekarang!"

Nisa terkekeh pelan, mengangguk setuju. "Betul, Rumi... Kakekmu itu racikan kopinya persis kaya racikan Ibu. Kopi hitam murni tanpa gula sedikit pun. Kata Kakek dulu, ---'Pahitnya kopi itu bikin pikiran jernih, Nisa. Bikin kita ingat kalau hidup ini gak selalu manis, tapi kalau dinikmati pakai rasa syukur, pahitnya pun terasa nikmat.'---"

Haruma tersenyum haru mendengar ucapan itu. "Haruma ingat banget, Bu... 5 tahun lalu sebelum Kakek meninggal, Kakek selalu memangku Dek Niza yang masih umur 4 tahun di teras ini. Kakek suka ngajarin Niza baca doa-doa pendek sambil nungguin Haruma pulang kuliah kedokteran."

"Iya, Kak Ruma," timpal Harumi hangat. "Kakek juga yang paling bangga pas denger Rumi lulus tes masuk kepolisian. Kakek sampai syukuran potong tumpeng kecil di rumah ini, terus Kakek bilang, ---'Cucu kedua Kakek ini hebat! Jadi polisi yang jujur ya, Nduk! Jaga nama baik Ayah sama Ibumu!'---"

Nisa mengusap cangkir kopi di tangannya, air mata kerinduan menetes pelan mengenai pergelangan tangannya. Nisa pun sangat merindukan Ayahnya.

"Kakek tuh..." ujar Nisa dengan suara bergetar rindu. "Sebelum Kakek wafat 5 tahun lalu... Kakek sempat bisikkan pesan terakhir ke telinga Ibu."

Haruma dan Harumi menatap Ibunya dengan pandangan khusyuk. "Pesan apa, Bu?"

Nisa menatap kedua putrinya bergantian dengan sorot mata yang dipenuhi cinta abadi.

"Kakek bilang, ---'Nisa... Bapak bangga banget punya menantu kaya Zaki, dan punya cucu-cucu hebat kaya Haruma, Harumi, sama Niza. Jaga anak-anakmu itu baik-baik ya, Nis... Haruma sama Harumi itu adalah perhiasan rumahmu. Meskipun mereka berdua bukan lahir dari rahimmu sendiri, tapi jiwa mereka sudah menyatu dengan darahmu.'---" kata Nisa meniru nada suara Almarhum Ayahnya itu.

Mendengar pesan terakhir dari almarhum Kakek Rusdi, Haruma dan Harumi tak sanggup lagi menahan keharuan di dada mereka. Keduanya memeluk Nisa semakin erat, menangis pelan dalam dekapan sang Ibu yang teramat penyayang.

"Kakek orang yang sangat baik..." bisik Haruma di bahu Ibunya. "Semoga Allah memberikan tempat paling mulia dan indah buat Kakek di surga-Nya."

"Aamiin ya Rabbal 'Alamin..." sahut Nisa dan Harumi serempak dengan doa yang paling tulus.

Suasana di teras rumah itu kembali diselimuti oleh kedamaian yang teramat sakral.

Kenangan akan Almarhum Pak Rusdi tidak membawa duka yang merusak, melainkan menyuntikkan rasa kehangatan dan penguat iman bagi mereka yang ditinggalkan.

Nisa menyesap kembali sisa kopi hitam pahit di cangkirnya hingga habis. Rasa pahit yang hangat itu kini terasa sangat nikmat dan manis di dalam jiwanya.

"Ya sudah..." ujar Bu Nisa lembut mengusap punggung kedua putrinya. "Kopinya Ibu sudah habis. Udara malam juga makin dingin. Ayo kita masuk ke dalam, kasihan kalian besok harus dinas pagi lagi ke kota."

"Iya, Bu," jawab Haruma tersenyum manis seraya berdiri dari bangku kayu. Ia mengambil cangkir keramik kosong dari tangan Ibunya.

Harumi ikut berdiri, merenggangkan kedua tangannya yang lemas rileks ke udara. "Wah, rasanya seneng banget bisa denger Ibu curhat malam ini."

Mereka bertiga pun melangkah bersama memasuki pintu utama rumah kayu yang hangat.

Haruma mematikan lampu ruang tengah, lalu mengunci pintu kayu depan tersebut dari dalam dengan selot ganda yang aman.

Di dalam ruang tengah yang remang-remang oleh lampu dari arah teras rumah, Nisa mengusap kepala Haruma dan Harumi secara bergantian sebelum mereka masuk ke kamar masing-masing.

"Selamat tidur ya, anak-anak Ibu yang cantik," bisik Nisa penuh kasih sayang.

"Selamat tidur juga, Ibu tercinta," balas Haruma dan Harumi serempak.

Kedua bidadari penegak keadilan itu melangkah masuk ke dalam kamar mereka, siap untuk merebahkan tubuh dan mengumpulkan stamina baru demi tugas esok hari.

Sementara Nisa melangkah pelan menuju kamar utama, menyusul suaminya, Zaki, yang sedang terlelap dalam damai.

Malam di desa mereka kian larut dalam keheningan yang teduh.

Di bawah naungan atap rumah tua yang dibalut oleh ketulusan doa, cinta, dan pemaafan murni, keluarga Zaki dan Nisa terlelap dalam perlindungan sempurna Sang Maha Kuasa.

Dendam berdarah masa lalu telah mati ditelan bumi...

Dan esok pagi...

Cahaya fajar yang baru siap menyambut langkah Haruma dan Harumi untuk kembali menerjang kegelapan dunia luar, membawa panji keadilan demi keselamatan sesama.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti apa coba keluarga Taipan itu?

intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
iyakah medium ship spiritual ini?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Jadi efek sihir nya nggak ada luka fisik dari luar seperti sihir pada umumnya tapi yg diserang organ dalam nya.

berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Penasaran seperti apa Sakte the one, sihir pengambil usia ini bwt apa? entintas apa yg akan di bangkit kan
Sri Jumiati
bagus ceritanya .👍👍
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seenggaknya klo terbuka, misal mereka ada apa-apa Nisa bisa membantu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
NiZa putri atw Putra sih ?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Knp kek yg Mama ku omongin sihh? bwt orang tua ya seperti itu sedewasa apapun, sesukses apapun, bwt mereka anaknya adalah tetep anak kecil mereka.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Definisi rezeki tak kemana
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nah iya bener itu ide atasan Rumi, pura-pura tutup kasus dulu, kematian Jonathan dgn tersangka suroto, tapi dibelakang msh diselidiki. masuk logika sih...
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
pastinya sakte the one ini di backup orang penting, klo nggak ada backingan yg kuat nggak mungkin trs bertahan bertahun-tahun
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
RIP KiSuroto sadis ya cara mati nya
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Hanya sampe disitu ki Suroto? kek nya msh ada yg lebih dari dia ya di sekte the one ini
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Sehebat apakah KiSuroto?
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
perantara sihir nya udah elit ya di T7 ini, bukan bangsa lelembut lgi tapi manusia setengah jin mungkin wkwkwk sihir nya udah di darah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Astaga suroto kek nggak ada nama lain
penampilan nya udah elit kok nama nya itu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
seperti itu ya ruang outopsi baru tau aku, detail betul penggambarannya berasa ada di rumah sakit dokpol wkwkwk
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
waduhh serem, dibungkam dari jauh... penasaran the one ini sapa
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Karier udah oke tinggal jodoh ya ruma rumi
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Mereka tidak perlu orang lain lgi bwt jadi partner diskusi Mereka, kna berdua pun Mereka udah saling melengkapi.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!