Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Langkah kaki Parrie terasa begitu santai menelusuri koridor gedung utama. Jadwal perkuliahan siang yang mendadak ditunda oleh dosen pengampu memberikan sedikit ruang bernapas bagi Parrie. Dengan punggung jemarinya yang masih sedikit memerah akibat hantaman di koridor belakang tadi, Parrie memutuskan untuk langsung pulang dan menyendiri.
Namun, begitu kakinya melangkah keluar menuju pelataran parkir universitas yang luas, langkah Parrie terhenti seketika.
Di bawah naungan pohon mahoni yang rindang, berdiri sesosok pria tegap berpakaian kemeja hitam yang lengannya digulung kaku hingga siku.
Dimitriou Kaetos Ashford sedang bersandar anggun di kap mobil sports mewahnya yang mengkilap. Pria itu mengapit sebuah rokok yang asap tipisnya membumbung tinggi, menatap lurus ke arah Parrie dengan pandangan mata yang sengaja dibuat dingin dan acuh tak acuh.
Melihat kehadiran pria itu, Parrie tidak lagi merasa tegang, takut, ataupun menyimpan dendam. Sebuah senyuman manis dan hangat—senyuman yang sarat akan pemahaman baru—terukir begitu tulus di bibirnya.
Kaetos yang mendapati senyuman hangat itu mendadak mengeras kaku. Ia membuang puntung rokoknya ke tanah, mematikannya dengan ujung sepatu, lalu berdeham pelan demi menutupi rasa salah tingkah yang menghantam dadanya.
"Ada hal yang ingin kubicarakan," ujar Kaetos dengan nada suara yang sengaja dibikin berat dan penuh perintah.
"Bicaralah," balas Parrie lembut. Suaranya terdengar begitu menenangkan, tanpa ada sisa nada jutek ataupun ucapan cuek seperti hari-hari sebelumnya.
Kaetos menyipitkan matanya, merasa heran setengah mati dengan perubahan drastis pada sikap gadis di depannya ini. Namun, enggan terlihat lemah di bawah tatapan puluhan pasang mata mahasiswa di sekitar pelataran parkir yang mulai berbisik-bisik, Kaetos melambaikan tangannya kaku ke arah pintu penumpang.
"Masuk ke dalam mobil," perintahnya singkat dan tegas, sama sekali tidak peduli pada tatapan penasaran orang-orang yang mengawasi mereka.
Parrie menatap pintu mobil itu sejenak, lalu tanpa membantah sedikit pun, ia melangkah maju dan membuka pintu sports car berwarna hitam legam tersebut, mendaratkan tubuhnya di kursi penumpang yang sangat familiar baginya.
Begitu pintu mobil tertutup rapat, Kaetos langsung menancap gas. Suara raungan mesin mobil membelah keheningan pelataran kampus, melaju cepat meninggalkan area universitas.
Atmosfer di dalam kabin mobil terasa begitu pekat dan tegang. Kaetos fokus menatap jalanan di depan dengan cengkeraman tangan yang begitu kuat pada kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
Belum ada tiga menit mereka meninggalkan gerbang kampus, Kaetos secara mendadak meraih sesuatu dari kursi belakang dengan tangan kirinya, lalu melempar benda itu ke pangkuan Parrie dengan gerakan kasar.
BUK.
Sebuah buku harian bersampul kulit cokelat yang tampak usang tergeletak di atas pangkuan Parrie. Buku harian miliknya.
"Aku tidak membutuhkannya lagi," cetus Kaetos dengan suara dingin, matanya tetap lurus menatap kaca depan. "Aku harap kau berhenti membayangkan hal-hal yang tidak mungkin di dalam sana."
Parrie menatap buku harian di pangkuannya. Jemarinya mengusap lembut sampul kulit yang terasa dingin itu. Ia tidak membalas ucapan Kaetos, hanya memalingkan wajahnya menatap pemandangan kota di balik jendela mobil.
Kau sedang mencoba mengusirku lagi, Kae... batin Parrie menahan senyum tipis di bibirnya. Kau pura-pura membenciku hanya agar aku lari menjauh, bukan?
Kaetos berdehem keras, melirik Parrie dari sudut matanya dengan raut wajah yang tampak makin kaku dan penuh kekesalan. "Buka blokir nomorku," desak Kaetos tiba-tiba. "Kenapa kau sulit sekali dihubungi sejak kemarin?"
Parrie menoleh, menatap samping wajah Kaetos yang tegas dan tampan. Senyuman tipis di bibirnya makin merekah. "Maafkan aku, Kae. Nanti begitu sampai, aku akan langsung membuka blokirnya."
Melihat senyuman hangat Parrie yang sama sekali tidak menampakkan amarah, dada Kaetos makin berguncang heboh. Pria itu salah tingkah luar biasa, meremas kemudi makin kuat seraya mendengus kasar. Parrie yang menyadari betapa imut dan konyolnya sikap pura-pura tangguh Kaetos saat sedang salah tingkah, tertawa geli dan ngakak serasa ingin meledak di dalam hatinya.
Namun, kehangatan kecil itu seketika runtuh saat pikiran-pikiran gelap dan prasangka beracun di dalam kepala Kaetos mendadak memuncak kembali.
Kaetos menginjak pedal gas makin dalam, lalu bertanya dengan nada suara yang mendadak berubah menjadi sangat tajam dan berbahaya, "Kau memiliki hubungan apa dengan Glenmore Ford?"
Parrie tertegun, menoleh penuh heran. "Apa?"
"Kau menjadi jalangnya sekarang, huh?!" desis Kaetos penuh prasangka yang membakar dadanya oleh amarah dan cemburu liar.
DEG.
Kata-kata busuk itu menghantam dada Parrie seperti sabetan sembilu. Parrie Rose memang sudah memahami trauma dan kegilaan mental yang diidap oleh pria pujaannya ini, namun dituduh menjadi wanita simpanan pria lain—selain menjadi wanita milik Kaetos—adalah sebuah penghinaan besar yang tidak akan pernah bisa ia terima!
"Apa maksudmu, sialan?!" potong Parrie dengan nada suara yang membumbung tinggi, matanya membelalak penuh ketidakpercayaan. "Apa kau mengira aku semurahan itu?!"
"Lalu kalau tidak, kenapa kau bisa mengenalnya?!" gertak Kaetos dengan urat-urat leher yang menonjol keluar. "Aku tahu betul siapa kau, Parrie! Kau itu hanya gadis miskin yatim piatu yang tidak punya latar belakang apa pun!"
Parrie meremas bukunya kuat-kuat, dadanya naik turun terengah-engah oleh rasa perih yang meluap. "Tidak usah menjelaskan statusku sedetail itu, aku tahu diri! Berhenti di depan sana! Turunkan aku sekarang juga!" teriak Parrie histeris seraya menunjuk ke arah pinggir jalan raya.
Bukannya memelankan laju mobil, Kaetos justru tertawa sinis—sebuah tawa yang sarat akan depresi dan kegilaan jiwanya yang terdistorsi.
"Kutahu! Kalau kau marah dan histeris seperti ini, itu artinya kau memang jalang dari bajingan Ford itu!" simpul Kaetos dengan logat gila yang sama sekali tidak masuk akal.
Parrie menganga lebar, menatap Kaetos dengan tatapan mengerikan dan penuh rasa kasihan. Apa... apa separah ini penyakit mentalnya? batin Parrie meraung. Rasa sesak di dadanya makin tak tertahankan, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya menetes basah membasahi pipinya atas tuduhan kejam dan prasangka tak berdasar tersebut.
Parrie menyapu air matanya kasar, lalu menunjuk buku harian cokelat di pangkuannya. "Apa aku pernah menulis soal niat menjadi seorang jalang di dalam buku ini, Kaetos?! Hah?! Jawab aku!"
CIIIITT!!!!!!
Ban mobil sports itu meledakkan bunyi decitan yang teramat nyaring di atas aspal saat Kaetos menginjak rem secara mendadak! Mobil berhenti terhenyak di bahu jalan raya yang sepi.
Sebelum Parrie sempat menarik napas, Kaetos memutarkan tubuh tegapnya. Dengan gerakan yang sangat cepat, kasar, dan penuh ketakutan yang meluap, Kaetos menarik tengkuk Parrie, memajukan tubuhnya dan membungkam bibir Parrie dengan sebuah ciuman yang luar biasa panas!
"Mmmph!"
Ciuman itu berlangsung tiba-tiba, menuntut, menggebu-gebu, dan sarat akan keputusasaan yang membakar. Kaetos melumat bibir Parrie dengan gairah yang liar, mencengkeram rahang gadis itu seolah-olah takut Parrie akan melayang menghilang dari jangkauannya.
"Kau hanya jalangku..." bisik Kaetos dengan suara parau dan napas yang memburu liar di antara ciuman mereka, menatap lurus ke dalam mata Parrie dengan pandangan penuh obsesi yang pekat. "Kau hanya milikku! Siapa pun itu... tidak ada yang boleh memilikimu selain aku!"
Parrie menatap mata tajam yang dipenuhi oleh kelemahan dan trauma mendalam itu. Rasa amarahnya seketika menguap tanpa sisa, tergantikan oleh rasa cinta yang meluap-luap. Parrie menganggukkan kepalanya pelan, mengikis jarak di antara mereka dan mengusap pipi tegap Kaetos dengan lembut.
"Aku hanya milikmu, Kae..." bisik Parrie tulus, suaranya bergetar penuh kepasrahan dan cinta murni. "Hanya milikmu."
Mendengar pengakuan tulus itu, Kaetos tertegun sejenak. Ia kembali menancap gas mobilnya, melaju cepat membelah jalanan kota New York menuju satu tujuan utama: Penthouse mewah di lantai teratas.
Penthouse yang selama enam bulan terakhir menjadi saksi bisu atas ikatan gila, duka, gairah, dan takdir rumit di antara mereka berdua.
••••
Ceklek.
Pintu penthouse mewah itu terbuka dan langsung tertutup rapat kembali dengan dentuman pekat.
Begitu melangkah masuk ke dalam koridor penthouse yang sepi, Kaetos tidak menyalakan lampu utama. Di dalam temaram cahaya sore yang menerobos masuk dari dinding kaca raksasa, Kaetos langsung menarik tubuh Parrie ke dalam pelukannya.
Ciuman intim dan membara kembali meletus di antara mereka. Sebuah ciuman yang menjadi sarana pelepasan atas seluruh rasa rindu yang tertahan selama sebulan, rasa frustrasi yang menyiksa jiwa, dan kecemburuan gila yang membakar otak.
Parrie menyambut ciuman itu dengan penuh kepasrahan dan kehangatan. Ia melingkarkan kedua lengan halusnya di leher tegap Kaetos, membiarkan pria itu menyesap bibirnya dengan gairah yang kian tak terkendali.
Di dalam dadanya, Parrie membawa sebuah harapan besar. Ia berharap kehangatan dan rasa cinta yang ia berikan malam ini akan menjadi awal dari membaiknya hubungan mereka yang hancur.
Jika dulu Parrie merasa hancur karena beranggapan cintanya bertepuk sebelah tangan dan merasa tidak setara dengan pria Ashford ini, maka sekarang... Parrie menyadari bahwa cinta tulus yang ia miliki adalah satu-satunya kekuatan yang sanggup menyembuhkan Kaetos dari penjara traumanya!
Kaetos tidak pernah merasa mual setiap kali menyentuh atau memeluk Parrie. Kaetos tidak pernah merasa jijik atau mengamuk ketakutan seperti halnya rumor yang diceritakan oleh Irys maupun Glenmore. Di dalam dekapan Parrie, tubuh Kaetos selalu merespon dengan kehangatan dan gairah murni tanpa ada benteng pertahanan.
Itu artinya... Kaetos sanggup sembuh! Kaetos bisa menjadi pria yang normal kembali tanpa harus terus-menerus disiksa oleh bayang-bayang trauma berdarah di masa lalu!
Apalagi Parrie mengingat betul, selama empat bulan pertama mereka hidup bersama di penthouse ini, Kaetos selalu bersikap sangat lembut, protektif, dan memperlakukannya bagaikan permata yang berharga.
Perubahan Kaetos menjadi sosok monster yang kasar baru terjadi setelah Parrie jujur mengungkapkan kata 'aku mencintaimu'—sebuah pengungkapan yang rupanya memicu ketakutan Kaetos akan keselamatan Parrie dari kegilaan otaknya sendiri.
Napas Kaetos memburu berat di ceruk leher Parrie. Pria itu menyandarkan tubuh Parrie di dinding koridor, mencium garis rahang gadis itu dengan sapuan bibir yang begitu panas dan posesif.
"Aku... aku tidak bisa berhenti, Parrie..." bisik Kaetos dengan suara serak yang berat dan bergetar hebat di telinga Parrie, jemarinya cemas menelusuri pinggang halus gadis itu. "Aku tidak bisa melepaskanmu lagi..."
Parrie tersenyum tipis di dalam temaram ruangan. Ia mendongakkan kepalanya, meremas rambut hitam Kaetos yang halus dengan jemarinya, lalu berbisik lembut tepat di depan bibir pria pujaannya.
"Aku tidak menyuruhmu untuk berhenti, Kaetos..." ujar Parrie tulus dengan pandangan mata murni penuh kehangatan. "Lakukanlah. Aku juga sangat... sangat merindukanmu."
Mendengar izin tulus dari bibir Parrie, seluruh benteng keangkuhan dan ketakutan di dalam otak Kaetos runtuh total. Pria tegap itu mengangkat tubuh Parrie ke dalam garapannya, melangkah lebar membawa gadis pujaannya menuju kamar tidur utama di dalam kegelapan yang hangat.