“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
"Dimana Elara?" Dreven yang baru pulang dari kantor tak mendapati Elara di kamar mereka, hingga dia bertanya pada Marta yang dia temui di koridor.
"Sepertinya Nona Elara masih di ruang baca, Tuan," kata Marta dengan sopan.
Dreven mengerutkan kening. Ruang baca? Apakah wanita itu hobi membaca tengah malam seperti ini?
Tanpa berkata apa-apa lagi, dia menggerakkan kursi roda elektroniknya menuju ruang baca dengan gerakan yang mulus dan tenang. Kursi roda canggih itu meluncur tanpa suara, mencerminkan kekayaan keluarga Dastan.
Begitu dia membuka pintu, pemandangan yang dia lihat membuatnya sedikit terkejut.
Elara sedang duduk di kursi dekat jendela, mengenakan gaun tidur satin berwarna maron yang membalut tubuhnya dengan elegan. Rambut panjangnya terurai, dan di tangannya ada sebuah buku tebal yang sedang dia baca dengan tenang. Posturnya tegak, anggun, seperti seorang ratu yang sedang menikmati kesendiriannya.
Seolah kehadiran Dreven tidak berarti apa-apa, Elara bahkan tidak mengangkat kepalanya.
Dreven menghentikan kursi rodanya di ambang pintu dan menyilangkan tangan di dadanya. "Jadi, pengantin baruku lebih memilih menghabiskan malam di ruang baca daripada menungguku di kamar?" katanya dengan nada sinis.
Elara hanya membalik halaman bukunya tanpa menoleh. "Untuk apa menunggu pria yang bahkan tidak penting kehadirannya di ranjangku."
Dreven mengepalkan tangannya, namun segera mengendalikan emosi. Dia menggerakkan kursi rodanya mendekati Elara.
"Apa yang kau baca?" Tanyanya dengan penasaran, mencoba menyembunyikan ketertarikannya.
Elara melirik sekilas ke arahnya sebelum kembali fokus pada bukunya. "Sesuatu yang tidak akan menarik perhatian pria sepertimu."
Dreven tersenyum miring, lalu dengan cepat meraih buku itu dari tangannya—gerakannya gesit meskipun dari kursi roda. "Sejarah kerajaan dan strategi perang?" Dia mengangkat alis, jelas tidak menyangka. "Aku kira kau lebih suka novel roman murahan."
Elara mendengus, lalu tanpa ragu menarik kembali bukunya dengan gerakan anggun. "Apa itu perlu kau pedulikan? Kenapa kau kesini, jika tidak ada urusan cepatlah pergi. Aku benci bau keringat dan parfum pria yang menyengat."
Dreven terkekeh kecil, seolah tidak tersinggung sama sekali. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi roda, menatap Elara dengan tatapan santai namun penuh ketertarikan.
"Kau benar-benar istri yang tidak ramah," gumamnya, seakan menikmati sikap dingin Elara. "Biasanya wanita akan menanyakan aku habis dari mana, dengan siapa, atau setidaknya menunjukkan sedikit kecemburuan."
Elara meliriknya sekilas, lalu kembali membaca. "Aku bukan wanita bodoh yang membuang waktu untuk sesuatu yang tidak penting."
Dreven mengangkat alis. "Jadi, aku tidak penting?"
Elara menutup bukunya perlahan, menatapnya dengan tajam. "Untukku? Tidak."
Alih-alih marah, Dreven justru tersenyum semakin lebar. Dia menggerakkan kursi rodanya mendekat hingga berada tepat di samping Elara.
"Sayang sekali, kita ini pasangan suami istri. Cepat atau lambat, aku akan menjadi bagian dari hidupmu." Suaranya rendah, hampir seperti bisikan.
Elara tidak bereaksi, hanya menghela napas panjang sebelum berkata dengan datar, "Dan cepat atau lambat, aku juga akan menceraikanmu."
Dreven terkekeh, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat dari kursi rodanya. "Mari kita lihat siapa yang lebih dulu menyerah."
Elara tersenyum sinis. "Kita lihat saja."
Ketegangan memenuhi ruangan itu, seperti dua ekor predator yang saling menguji batas satu sama lain. Tapi Elara tahu, ia tidak akan kalah dalam permainan ini.
Hingga Dreven akhirnya pergi, membuat nafas Elara kembali tenang. Akhirnya tak ada gangguan lagi untuknya.
Begitu melihat jam sudah lebih dari jam dua belas malam, Elara memilih untuk kembali ke kamar tidur.
Dia dengan tenang membuka selimutnya dan masuk sebelum mematikan lampu kamar tidurnya. Selimutnya masih terhampar di lantai seperti semalam—tidak ada yang berubah.
Tapi baru beberapa saat dirinya hampir terlelap, sebuah suara kursi roda elektronik terdengar mendekat. Dreven masuk ke kamar, menatap Elara yang terbaring di lantai dengan selimut tipisnya.
"Kau benar-benar tidur di lantai?" tanyanya dengan nada tidak percaya.
Elara membuka matanya perlahan, menatap Dreven dengan tatapan dingin. "Bukankah Tuan sendiri yang mengatakan jangan mengharapkan apapun dari pernikahan ini? Apa kau bunglon? Sesuka mu berubah-ubah?"
Dreven terdiam sejenak, lalu tersenyum sinis. "Kau juga bunglon, kadang berbicara sopan, kadang berbicara bak seorang ratu. Bukankah kita pasangan yang serasi?"
Elara mendengus, membalikkan tubuhnya menjauh. "Aku tidak ingin bermain kata-kata denganmu di tengah malam. Jika tidak ada urusan, lebih baik Tuan tidur."
Namun Dreven tidak bergerak. Dengan gerakan mulus kursi roda elektroniknya, ia mendekati tumpukan selimut Elara. Tangannya meraih selimut tipis itu, menariknya perlahan.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Elara dengan waspada, duduk tegak.
Dreven menyeringai. "Aku tidak bisa membiarkan istriku tidur di lantai seperti budak. Ayahku pasti akan marah jika tahu."
"Aku tidak peduli," jawab Elara dingin. "Lantai sudah cukup nyaman untukku."
"Tapi aku peduli." Dreven menggerakkan kursi rodanya menuju ranjang, lalu dengan susah payah memindahkan dirinya ke atas tempat tidur. "Kau naik ke sini."
Elara menatapnya dengan tatapan tajam. "Tidak."
"Elara!." Suara Dreven rendah, mengandung peringatan. "Aku tidak akan mengulanginya. Naik ke ranjang."
"Kau pikir kau bisa memerintahku?" Elara berdiri dengan anggun, tangan di pinggang, menatap Dreven dengan tatapan seorang ratu yang sedang menghadapi bawahannya. "Aku bukan budakmu, Dreven. Aku adalah istrimu di atas kertas, bukan pelayan yang siap kau perintah seenaknya."
Dreven terdiam, sedikit terkejut dengan kemarahan yang terpancar dari wanita itu. Namun, ia segera tersenyum.
"Kau benar," katanya akhirnya. "Kau bukan pelayanku. Tapi kau masih istrimu. Dan sebagai suami, aku memintamu untuk tidur di ranjang. Itu permintaan, bukan perintah."
Elara mengerutkan kening, tidak percaya dengan perubahan sikap Dreven. "Apa maksudmu?"
"Aku hanya tidak ingin mendengar omelan ayahku besok pagi," jawab Dreven dengan nada malas. "Kau tahu bagaimana dia. Jika dia tahu kau tidur di lantai, dia akan mengomeliku sepanjang hari."
Elara menatap Dreven dalam-dalam, mencoba mencari kebohongan di matanya. Tapi pria itu hanya bersandar di ranjang dengan ekspresi tenang.
Dengan enggan, Elara berjalan ke sisi lain ranjang dan duduk di tepinya. "Baiklah. Tapi jangan coba-coba menyentuhku."
Dreven terkekeh pelan. "Tenang saja. Aku sudah tahu kau bisa menendang dengan kuat. Aku tidak ingin mengalami malam kedua dengan lantai sebagai tempat tidurku."
Elara membaringkan tubuhnya dengan hati-hati, menjaga jarak sejauh mungkin dari Dreven. "Kau benar-benar pria yang aneh," gumamnya.
"Dan kau wanita yang aneh juga," balas Dreven, menatap langit-langit. "Tapi kita berdua memiliki banyak kemiripan , bukan?"
Elara tidak menjawab. Dengan cepat, ia memejamkan matanya, berusaha mengabaikan kehadiran pria di sampingnya. Tapi bau maskulin Dreven—campuran parfum kayu dan aroma khasnya—tercium jelas di ruangan itu.
"Dan Elara," suara Dreven terdengar pelan di keheningan malam. "Kau tidak perlu berpura-pura tidur. Aku juga tidak bisa tidur."
Elara tidak menjawab, hanya bergeming. Namun matanya terbuka lebar, menatap gelapnya langit-langit. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Dreven tersenyum kecil di kegelapan, merasakan ketegangan yang sama dari wanita di sampingnya.
---
Saat pagi tiba, Elara menggeliat pelan. Ia mengerjapkan mata, merasakan kehangatan yang tidak biasa di sampingnya. Begitu kesadarannya pulih, ia tersentak kaget.
Dreven tidur dengan nyaman di sampingnya, satu lengannya melingkar di pinggangnya dengan erat. Bagaimana pria lumpuh ini bisa memeluknya? Elara tidak tahu—mungkin Dreven memang memiliki kekuatan lengan yang kuat karena terbiasa memindahkan tubuhnya sendiri.
Mata Elara berkilat marah. Brengsek! Kapan dia memelukku?!
Dengan sekali tendang, Elara berhasil mendorong Dreven ke tepi ranjang. Namun pria itu hanya terjatuh ke lantai dengan suara pelan karena kursi roda elektroniknya sudah ia tempatkan di samping ranjang.
Bruk!
Dreven terjatuh ke lantai dengan suara benturan yang terdengar, dan wajahnya meringis kesakitan. "Astaga, Elara!" gerutu Dreven, mengusap pinggulnya yang terasa nyeri. "Apa kau selalu menyambut pagimu dengan kekerasan?"
Elara duduk di tepi ranjang, menatapnya dengan tatapan dingin. "Apa kau selalu punya kebiasaan memeluk wanita tanpa izin?"
Dreven menghela napas panjang, lalu dengan malah memindahkan dirinya kembali ke kursi roda. "Kita ini suami istri. Aku punya hak untuk semua ini." Katanya sambil mengusap pinggulnya yang sakit.
Tapi sebelum Elara ingin membalas, suara ketukan pintu membuat dia menoleh.
"Masuk," katanya dengan datar.
"Maaf mengganggu waktu anda, Tuan, Nyonya. Namun hari sudah hampir siang, dan anda belum melakukan adat setelah malam pertama," kata pelayan itu dengan sopan.
"Adat?" Elara terlihat bingung, dia tak pernah tahu adat pernikahan di sini seperti apa.
Dreven menyeringai dari kursi rodanya, menatap Elara dengan tatapan penuh arti. "Oh? Jangan bilang kau tidak tahu tentang adat malam pertama?"
Elara mengerutkan kening, perasaannya tiba-tiba tidak enak. "Jelaskan," katanya, menoleh ke arah pelayan.
Pelayan itu menundukkan kepala sedikit, tetap bersikap sopan. "Setelah malam pertama, pasangan yang baru menikah harus minum teh bersama di taman keluarga, sebagai tanda keharmonisan pernikahan. Ini juga untuk menunjukkan kepada semua pelayan dan anggota keluarga bahwa hubungan kalian berjalan dengan baik."
Elara terdiam sejenak, lalu mendesah pelan. "Hanya minum teh?"
Pelayan itu mengangguk. "Iya, Nyonya. Namun, kalian harus duduk berdampingan selama acara berlangsung, dan ada beberapa doa yang akan dibacakan untuk mendoakan kebahagiaan pernikahan kalian."
Dreven melirik Elara dengan senyum jahil. "Terdengar mudah, bukan?"
Elara mendengus, lalu berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. "Baiklah, aku akan turun dalam sepuluh menit."
Pelayan itu membungkuk hormat, lalu keluar dari kamar.
Begitu pintu tertutup, Dreven bersandar di kursi rodanya dengan ekspresi puas. "Menarik. Aku penasaran bagaimana kau akan berpura-pura jadi istri yang bahagia di depan semua orang."
Elara berbalik dan menatapnya tajam. "Aku juga penasaran, berapa lama kau bisa bertahan tanpa mempermalukan diri sendiri di depan ayahmu."
Dreven tertawa kecil. "Aku suka tantangan."
Elara tak menanggapi dan segera masuk ke kamar mandi, meninggalkan Dreven dengan seringai khasnya.
"Kau benar-benar wanita yang sulit ditebak, Elara," gumam Dreven pelan, matanya menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
Dan untuk pertama kalinya, pria lumpuh itu merasa bahwa pernikahan ini mungkin tidak semenakutkan yang dia bayangkan.
Bersambung
karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/