Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus yang tajam menyapu halaman belakang sekte pinggiran. Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang dingin, menarik napas panjang. Malam ini terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun menderita dan dihina oleh sesama murid, ia akhirnya bangkit dan menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tertidur di dalam darahnya: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian yang selama ini tersumbat perlahan mulai beresonansi, menandakan ia telah melangkah mantap di tahap awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh.
Ia membuka mata perlahan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri di anjungan tebing.
Gadis itu adalah Su Qingyue. Untuk pertama kalinya, Lin Chen melihatnya dari jarak sejauh ini, tampak sangat dingin dan cantik tiada tara, seolah-olah ia bukanlah makhluk yang berasal dari dunia yang fana ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Latihan Neraka
Berita tentang tantangan hidup dan mati di Arena Bintang dalam waktu satu bulan menyebar layaknya badai yang menyapu seluruh penjuru Akademi Bintang Tujuh.Hampir semua murid inti menertawakan Lin Chen, seorang murid baru yang baru saja menginjak ranah Pengumpulan Qi Tingkat 3. Di mata mereka, Lin Chen hanyalah orang bodoh yang mencari mati karena berani menerima tantangan dari Liu Zhan, penguasa pelataran inti yang berada di puncak Tingkat 9 dan hanya selangkah lagi menuju ranah Pondasi Abadi.
Di persimpangan jalan setapak menuju area asrama elit, Su Qingyue menghentikan langkahnya. Gadis itu berbalik dan menatap Lin Chen lekat-lekat.
"Kau mengerti betapa berbahayanya ini?" Suara Qingyue terdengar dingin, menembus langsung ke tulang, namun ada nada kekhawatiran yang tak bisa sepenuhnya ia tutupi. "Fluktuasi Qi milik Liu Zhan sangat liar, seperti harimau yang siap menerkam. Perbedaan enam tingkat di ranah Pengumpulan Qi bukanlah sesuatu yang bisa dijembatani hanya dengan keberanian."
Lin Chen tersenyum tipis. Tangannya menyentuh dada, tempat lempengan giok abu-abu kusam berisi rahasia Teknik Tinju Penghancur Bintang Purba itu tersimpan.
"Jika aku mundur hari ini, aku akan terus mundur di masa depan," jawab Lin Chen dengan nada santai namun mematikan. "Fokuslah pada latihanmu, Qingyue. Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa pada saat seleksi murid warisan nanti, kau akan menjadi lawan terberatku? "
Mendengar ucapan itu, wajah Su Qingyue memerah sedikit. Ia buru-buru memalingkan wajahnya dan meremas ujung jubah putihnya. "Terserah kau saja. Kalau kau mati dipukuli, aku tidak akan menguburkanmu," ucapnya pelan, lalu berbalik melangkah menuju area Puncak Salju tempat guru pembimbingnya menunggu.
Meski kata-katanya tajam, Lin Chen tahu bahwa di balik sikap acuh tak acuhnya, gadis itu benar-benar peduli padanya. Lin Chen menarik napas panjang, lalu bergegas menuju Lembah Gravitasi Ekstrem di belakang akademi, sebuah fasilitas latihan yang jarang dikunjungi karena tekanannya yang menyiksa.
Begitu Lin Chen melangkah masuk ke dalam ruang batu di Lembah Gravitasi, tekanan seberat puluhan ribu kati langsung menimpa tubuhnya. Namun bagi seseorang yang tulangnya telah ditempa di dalam kawah magma dengan Teknik Penempaan Tubuh Gajah Purba, tekanan ini masih bisa ditahan.
Di dalam Dantian-nya, roh kuno Tua Hitam mulai memberikan instruksi dengan nada serius.
"Bocah, dengarkan baik-baik. Teknik Tinju Penghancur Bintang Purba bekerja lansung ," jelas Tua Hitam. "Bagi kultivator biasa, teknik ini adalah bunuh diri karena lengan mereka akan meledak menjadi kabut darah sebelum tinju itu mengenai lawan."
Lin Chen mengangguk. Ia duduk bersila, memejamkan mata, dan mulai menyalurkan Qi spiritualnya yang sangat padat ke arah lengan kanannya.
Zzzttt!
Seketika itu juga, rasa sakit yang luar biasa merobek serat ototnya. Meridian di lengan kanannya membengkak hingga urat-uratnya menonjol keluar seperti cacing ungu. Rasa sakitnya seolah lengannya sedang diisi dengan lahar panas yang siap meledak.
"Tahan! Jangan biarkan Qi-nya buyar!" teriak Tua Hitam. "Tulang dan meridianmu setara dengan artefak tingkat bumi karena Teknik Penempaan Tubuh Gajah Purba. Percayalah pada fondasimu! "
Lin Chen menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Suara gemeretak tulang terdengar mengerikan dari dalam lengannya. Ia memaksakan kompresi energi itu terus berlanjut. Sedikit demi sedikit, cahaya emas-hitam yang pekat mulai terbentuk di kepalan tangannya, memancarkan distorsi ruang yang mengerikan.
Latihan ini berlangsung setiap hari, berulang-ulang dari fajar hingga tengah malam. Tubuh Lin Chen hancur dan pulih secara lansung, mendorong batas ketahanan fisiknya hingga ke titik ekstrem.
Sementara itu, di sebuah paviliun es di Puncak Salju, Su Qingyue sedang menggerakkan pedangnya. Hawa dingin menusuk tulang memancar dari gulungan biru kristal yang berisi Seni Pedang Teratai Salju Surgawi. Setiap tebasannya membekukan udara di sekitarnya.
Di tepi paviliun, Tetua Puncak Salju seorang wanita paruh baya dengan aura yang sedingin badai musim dingin menatap muridnya dengan dahi berkerut.
"Berhenti!" perintah Tetua Puncak Salju.
Qingyue menghentikan tarian pedangnya, menyarungkan senjatanya, dan menunduk hormat.
"Pikiranmu kacau, Qingyue. Teknik Pedang Teratai Salju Surgawi menuntut hati yang seratus persen beku dan tanpa emosi fana," tegur sang Tetua dengan suara tajam. "Apakah kau memikirkan bocah dari sekte pinggiran yang mencari mati dengan menantang Liu Zhan itu?"
Qingyue terdiam. Jari-jarinya mengerat pada gagang pedangnya. Selama sebulan ini, bayangan Lin Chen yang berlatih entah di mana selalu mengganggu konsentrasinya. Ia tahu betapa liarnya kekuatan Liu Zhan.
"Dia tidak mencari mati, Guru," jawab Qingyue perlahan, matanya menatap lurus menembus kabut salju. "Dia hanya sedang menebas jalan ke depan, melawan hukum rimba di akademi ini. Dan saya percaya, dia akan membuktikan bahwa semua orang salah."
Tetua Puncak Salju mendengus pelan, setengah kecewa dan setengah bernostalgia. Ia tidak melarangnya, namun memberikan peringatan keras, "Bakat elemen khususmu sangat langka. Jangan biarkan seorang pemuda menghancurkan masa depanmu. Jika dalam pertarungan esok dia mati terbunuh, kau harus memutus perasaan itu selamanya."
Qingyue tidak menjawab. Ia menatap ke arah pelataran Arena Bintang di kejauhan, berdoa dalam hati agar pemuda itu menepati janjinya.
Tiga puluh hari berlalu. Masa tenang di Akademi Bintang Tujuh akhirnya berakhir.
Di dalam Lembah Gravitasi Ekstrem, Lin Chen berdiri di depan sebuah tebing batu hitam yang sangat keras. Pakaiannya compang-camping, tubuhnya dipenuhi luka goresan energi yang mengerikan, namun sepasang matanya memancarkan kilau setajam ujung tombak.
Ia menarik napas panjang. Tidak ada lagi keraguan. Raungan gajah purba yang sangat buas bergema dari dalam tulang-tulangnya. Lin Chen menarik tinjunya ke belakang, mengompresi seluruh Qi di Dantiannya ke satu titik, dan melontarkannya lurus ke depan.
BAM—!!!
Tidak ada suara pecahan batu. Tebing batu hitam raksasa di depannya itu bahkan tidak retak ia langsung meledak dan terurai menjadi debu halus yang tersapu angin!
Kekuatan kehancuran dari tingkat pertama Teknik Tinju Penghancur Bintang Purba ini benar-benar tidak masuk akal.
Lin Chen menatap kepalan tangannya yang berasap dengan senyum dingin.