Zora pulang ke kampung halaman Setelah sekian lama tinggal di kota, kepulangan dia kali ini tentu untuk merawat orang tua yang sudah begitu lanjut usia dan hanya Dia anak yang dimiliki oleh keluarga tersebut.
Rumah yang begitu besar dan terkesan begitu menyeramkan sekali bila hanya dilihat dari luar, tapi ternyata bukan hanya di luar dan di dalam telah menyimpan misteri yang begitu mengerikan sekali, bahkan Zora sama sekali tidak menyangka bahwa itu semua bersangkutan dengan dirinya.
Apa yang terjadi dengan rumah itu?
Apa kah Zora bisa bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04. Penampakan
Devano masih membatin sendirian dengan segala keanehan yang di alami oleh Bu Susi itu, sengaja Devano tidak keluar dari kamar tersebut untuk memastikan apakah memang Bu Susi tidak pernah tertidur di malam hari sampai pagi itu datang dan hanya terbeliak ke atas seperti sedang melihat sesuatu di atas langit-langit kamar.
Dan sudah pukul tiga pagi namun belum ada sama sekali yang berbeda sehingga membuat Devano segera mendekati Bu Susi untuk memastikan terlebih dahulu, agak aneh juga bila manusia tidak pernah tertidur di malam hari seperti yang di alami oleh sang mertua saat ini, Pasti karena ada masalah yang tidak beres di dalam tubuh Bu Susi.
Mata Devano tak lepas menatap tubuh Sang mertua karena dia merasakan bahwa Bu Susi ini mengalami sesuatu yang tidak beres dan kemungkinan bukan butuh dokter saja, namun untuk berbicara tentang hal itu kepada Zora tentu saja tidak mungkin karena Devano tahu sendiri bahwa sang istri tidak akan mempercayai dukun atau ustad.
''Hah.''
Devano tersentak kaget ketika dia sedang termenung memikirkan semua permasalahan ini, mendadak saja dalam selimut yang sedang dipakai oleh Bu Susi itu muncul gelombang seperti sesuatu yang bergerak liar di dalam sana sehingga membuat Bu Susi juga terlihat begitu ketakutan sekali sekarang.
Tanpa ragu lagi karena dia juga takut terjadi sesuatu kepada Bu Susi, maka Devano bergegas untuk membuka selimut tersebut agar dia bisa memastikan sendiri apakah memang ada sesuatu di dalam selimut itu atau hanya pandangan mata dia saja yang sedang bermasalah semenjak datang ke rumah tua yang menakutkan ini.
Wuuuuutt.
Jreeeeng.
''Allahu Akbar!'' Devano jatuh terpental ke belakang karena ketakutan.
''Heheeee.....
Sosok dengan mulut terkoyak lebar sehingga menampakkan barisan gigi berwarna hitam itu, wajah hancur seperti tertumbuk oleh sesuatu dan sosok tersebut menatap Devano penuh dengan kebencian sehingga pria ini sangat ketakutan karena dia juga tidak pernah melihat makhluk tak kasat mata seperti itu.
''Aaauuhhhh.... aaaauhhhh!''
Bu Susi tampaknya juga melihat makhluk tersebut sehingga dia berusaha untuk berteriak dan menyuruh Devano pergi dari dalam kamar, namun Devano tidak menyerah sehingga dia langsung menyambar Al quran yang ada di sana dan memukul tepat pada kepala sosok yang sangat mengerikan di atas kasur bersama dengan Bu Susi.
''Ya allah, itu tadi apa dan dia Kenapa ada di sini?'' jantung Devano berdegup kencang karena dia sangat kaget.
''Auuuuhhh....
''Ibu, apa dia setiap malam mendatangi dirimu seperti ini?'' Devano kepikiran dengan hal itu.
''Aaauuhhhh....
''Pelan pelan, Bu! tolong katakan apa yang telah terjadi dan dia itu siapa.'' Devano duduk di sebelah Bu Susi kembali.
Namun Bu Susi malah meneteskan air mata sehingga membuat Devano merasa kebingungan atas reaksi tersebut, Sebenarnya apa yang telah terjadi sehingga membuat wanita ini begitu kesakitan dan juga sekarang terlihat sangat menderita dengan kejadian demi kejadian yang ada di dalam rumah.
''Kenapa Ibu menangis? siapa dia sebenarnya dan Apa memang setiap malam dia datang untuk menemui ibu?!'' Devano mengusap air mata sang mertua.
''Zoraaaaa...
''Zora sudah tidur di dalam kamar karena dia butuh istirahat setelah lelah melakukan perjalanan.'' Devano menjawab ucapan Bu Susi.
''Pe...
''Ya allah, bahkan untuk berbicara saja Ibu sangat sulit.'' keluh Devano merasa sangat iba.
''Ibu istirahat saja ya, aku akan keluar dari kamar.'' Devano tidak tahan melihat derita sang mertua.
Bu Susi yang mendengar ucapan menantu dia malah mengangguk setuju bila Devano segera keluar dari dalam kamar, Devano pun segera keluar dari kamar tersebut dengan perasaan yang tidak karuan karena dia sungguh bingung atas semua permasalahan yang sudah terjadi ini.
''Aku akan mencoba berbicara dengan Zora agar dia mau mencari dukun atau ustadz.'' tekad Devano.
''Itu sudah bukan sakit biasa karena selama ini dokter juga tidak mengatakan Bagaimana sakit yang di alami oleh ibu.'' Devano semakin yakin untuk meminta bantuan dengan cara lain.
Dia merasa ngeri sendiri ketika membayangkan saat manusia tidak pernah bisa tidur, pasti Bu Susi begitu menderita karena dia hanya bisa terbaring dengan tubuh kaku dan juga tidak bisa istirahat dengan jelas untuk, sebab dia juga sudah meminum obat tidur namun tetap saja tidak bisa memejamkan mata walau hanya sekejap.
...****************...
Zora terbangun di pagi hari dengan keadaan tubuh segar karena tadi malam tertidur pula tanpa terbangun sama sekali, namun dia tidak menemukan keberadaan Devano di sebelah dia saat ini sehingga membuat Zora segera keluar dari kamar untuk mencari keberadaan sang suami untuk memastikan keadaan nya.
''Ya ampun, malah tidur di sini dia.'' gumam Zora ketika melihat Devano di sofa.
''Aku masak sarapan saja kalau begitu, eh tapi mau lihat Ibu dulu.'' Zora segera menuju lantai dua.
Tap.
Tap.
Langkah wanita muda cantik jelita ini segera menuju lantai atas dengan perasaan yang begitu riang, tidak ada perasaan aneh yang terselip di dalam hati Zora Karena dia sudah berusaha meyakinkan diri bahwa itu semua hanya halusinasi yang tak akan pernah hilang bila dia menuruti pemandangan mata tersebut pemandangan mata tersebut, jadi dia harus berusaha keras untuk menepi segala sesuatu yang akan datang ketika sedang sendirian.
''Apa ini?'' Zora masih berusaha untuk positif namun jejak yang ada di lantai itu membuat dia merasa ngeri.
Sreeet.
''Amis.'' gumam Zora ketika mencium aroma itu.
''Jejak kaki siapa yang berbau amis begini? Mbak Paini jelas belum datang dan Ibu tidak bisa berjalan.'' batin Zora kian merasa tidak enak saja.
Maka Zora segera masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan sang Ibu dan memastikan apakah memang tadi malam Bu Susi ada berjalan di lorong rumah tersebut, namun Bu Susi tetap terbaring seperti biasa karena sampai sekarang dia tidak memiliki kekuatan untuk berjalan seperti ketika masih sehat dulu.
''Kenapa Ibu tutup juga bagian kepala seperti itu?'' Zora membuka selimut yang menutupi kepala Bu Susi.
Jreeeeeeng.
''Aaaaagkkk!''
''Matiiiiii...... heheee....
''Si... siapa kau?!'' Zora gemetaran karena ini adalah wanita bertudung hitam.
''Mati!'' wanita bertudung hitam itu meloncat dan mencekik leher Zora.
''Jangan, aaaaah jangan!'' Zora berusaha untuk menepis nya.
''Kau juga layak untuk mati, semua yang ada di sini harus nya mati saja!'' teriak tudung hitam.
Zora sama sekali tidak paham Kenapa wanita ini seolah begitu membenci dirinya dan seluruh penghuni yang ada di dalam rumah ini, Sebenarnya apa yang telah terjadi dan apa nasib wanita tersebut sehingga dirinya memiliki dendam yang begitu membara di dalam hidup ini.
Selamat pagi, jangan lupa like dan komentar nya ya.