Rakanza Elson adalah mimpi buruk bagi musuh-musuhnya. Dingin, tak tersentuh, dan bos terkuat organisasi Teratai Hitam. Namun di balik kekuasaan dan ketampanannya, Rakanza menyimpan dua rahasia. Mysophobia parah dan ketakutan akan sentuhan yang membuatnya menganggap pernikahan sebagai sebuah kutukan.
Hingga suatu malam di Meksiko, sebuah misi membawanya pada Annabella. Gadis misterius yang terkurung di laboratorium eksperimen ilegal. Dipenuhi rasa jijik pada tempat yang kotor dan terkontaminasi, Rakanza seharusnya membiarkan gadis itu tewas. Namun, karena tuntutan orang tuanya untuk segera menikah, Rakanza terpaksa menikahi gadis itu. Namun tak sangka, setelah wajah istrinya disembuhkan, ternyata istrinya mirip dengan adik iparnya.
Di sisi lain, Rafandra, adik Rakanza merasa telah menemukan cinta sejati saat berhasil melamar Luviana Winston. Namun, dibalik senyum manis Luviana sang pianis terkenal, ada kebohongan besar yang siap menghancurkan segalanya. Luviana yang dicintainya ternyata menyimpan agenda balas dendam yang mematikan.
Siapa sebenarnya Annabella? Dan apa hubungannya dengan keluarga Winston?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Lain?
Hujan deras mengguyur ibu kota malam itu. Rintiknya menghantam kaca jendela tanpa jeda mengiringi suara iring-iringan mobil pengantin yang baru saja berhenti di gerbang utama Mansion Elson.
Di tempat lain, keheningan justru menyelimuti kediaman Winston.
Arsen masuk dengan bahu yang berat. Sejak tadi, pandangannya kosong. Melepas putri kesayangannya ternyata jauh lebih sesak dari yang ia bayangkan.
Adara mengelus lengan suaminya pelan. "Yuk masuk, Dad. Anak-anak juga pasti sudah capek."
Di belakang mereka, Layla masih berdiri di teras. Matanya menatap hujan yang jatuh, tapi pikirannya melayang entah ke mana.
Lucian dan Lucky saling bertatapan. Sikap diam adik bungsu mereka itu tidak biasa.
"La, kenapa?" Lucian menghampiri.
Layla menoleh perlahan. Wajahnya resah, bibirnya bergetar menahan sesuatu.
"Bang... kalian ngerasa gak sih? Kak Luvia itu berubah banget."
Lucian mengerutkan kening. "Berubah gimana?"
"Seharian ini dia gak ngajak aku bicara sama sekali. Padahal dulu, sebelum dia berangkat kuliah ke New York, Kak Luvia itu manja banget sama aku. Harusnya tadi dia peluk aku sambil nangis karena mau pisah... tapi ini..."
Suara Layla mengecil. "Tadi dia bahkan gak pamit ke kita. Dia langsung masuk ke mobil suaminya. Kayak... kayak kita ini bukan keluarganya lagi."
Lucky dan Lucian diam. Sejujurnya, kegelisahan yang sama juga mengganjal di dada mereka. Hanya saja sebagai kakak, mereka berusaha menutupinya.
"Mungkin Kakakmu cuma capek, La. Acaranya kan padat dari pagi sampai malam," ujar Lucky mencoba menenangkan.
Layla menggeleng pelan, matanya berkaca-kaca. "Bukan capek, Bang. Firasaatku bilang, Kak Luvia yang tadi itu... seperti orang lain."
"Jaga bicaramu, La!" Suara Lucky sedikit meninggi, ia memegang bahu Layla tegas. "Dia tetap Luvia, saudara kandung kita. Sudah sah jadi istri Rafa. Kamu gak boleh ngomong begitu."
Layla tak menjawab. Ia memilih berbalik dan mengurung diri di kamarnya.
Lucky mendengus lalu pergi ke kamarnya sendiri. Sementara Lucian masih berdiri di teras. Matanya menatap gembok gerbang yang tadi sore ia dapati rusak. Ada yang janggal.
Tanpa banyak bicara, ia melangkah ke ruang kerja. Tangannya meraih mouse untuk membuka rekaman CCTV.
__
Di Mansion Elson. Senyum manis tak pernah lepas dari wajah sang putri palsu saat kakinya melangkah masuk ke dalam kemegahan itu.
Akhirnya. Tanpa pertumpahan darah, tanpa ancaman senjata, ia berhasil masuk ke sarang keluarga Elson. Rencananya berjalan jauh lebih mulus dari yang ia kira.
Sempurna! Tinggal tunggu waktu yang tepat untuk meracuni mereka semua satu per satu.
Namun senyum itu sedikit retak ketika ia menyadari dua sosok tak ada di pesta tadi. Kalendra dan Sienna.
Harusnya mereka ada di sana. Harusnya mereka juga masuk dalam daftar targetnya malam ini.
"Sayang, yuk ke kamar. Kamu pasti capek banget," bisik Rafa di sampingnya, hangat. Tangannya terulur, ingin menggenggam tangan istrinya. Malam pertama yang sudah lama ia tunggu akhirnya tiba.
Begitu para pelayan hilang di tikungan koridor, tangan Rafandra ditepis dengan kasar.
PLAK!
"Aku mau langsung tidur," ucap si putri palsu dingin dan tanpa menatap Rafandra sedikit pun. Rafandra terpaku. Senyum hangat di wajahnya luntur seketika. Ia menatap punggung istrinya yang berjalan menjauh, mencoba berpikir positif.
Mungkin dia memang sangat lelah...
__
Sementara itu di rumah Rakanza. Suasana mencekam. Rakanza duduk bersedekap di kursi, tatapannya dingin mengunci Julian yang baru selesai memeriksa istrinya yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang.
"Kamu ini gimana sih, Rakanza! Punya istri itu dijaga! Dibikin tenang! Jangan dibikin depresi terus!" semprot Julian, kesal bukan main.
Rakanza diam. Seribu bahasa. Ia menerima semua omelan sepupunya itu tanpa membantah.
Di luar kamar, Gavin tampak baru saja dari warung makan bersama dua anak Julian.
Setelah Julian keluar, Rakanza berdiri. Langkahnya mendekati ranjang. Ia menatap wajah yang tertutup cadar itu. Datang. Ragu. Perlahan, tangan berbalut sarung tangan steril itu terulur, hanya beberapa senti lagi untuk menyingkap tabir itu.
Namun di detik terakhir, tangannya berhenti di udara. Ia menariknya kembali. Dengan berat, ia kembali duduk di kursi dan memejamkan mata.
Baru sejenak ia memejam, sebuah isakan pilu memecah keheningan. Rakanza membuka mata. Istrinya sudah terbangun dan terduduk sambil menarik kedua lututnya. Ia membenamkan wajah di antaranya. Tangisnya pecah, begitu putus asa.
"Ada apa? Kau mimpi buruk?" tanya Rakanza, bingung.
Luviana terisak semakin keras.
"Saya... saya sudah tidak dibutuhkan lagi di dunia ini..." suaranya serak, hancur. "Sudah tidak ada tempat untuk saya pulang... Gadis jahat itu sudah mengambil semua kebahagiaan saya..."
"Gadis siapa?"
"Gadis palsu yang mencuri identitas saya! Gadis yang dinikahi adikmu! Annabella! Dia yang mencuri hidup saya! Dia iblis!"
Tangisnya meledak. "Tapi percuma... Tidak akan ada yang percaya... Daddy... Mommy... Luvia rindu... Aku putri asli kalian..."
Rakanza meremas jemarinya kuat. Amarahnya naik karena istrinya lagi-lagi mengoceh dan menuduh adik iparnya. Tapi melihat emosinya hancur, ia menahan diri. Tanpa sepatah kata, ia keluar dari kamar untuk mencari Julian.
Di atas ranjang, Luviana menatap langit-langit dengan mata yang sembab.
"Seandainya... seandainya wajahku tidak rusak seperti ini, mungkin aku bisa membongkar kejahatannya... Percuma... Raka saja tidak percaya padaku, apalagi Daddy dan Mommy... Mereka pasti menganggapku gila..."
"Ya Allah... ampuni aku, beri aku petunjuk..."
"Aunty... kenapa menangis? Uncle Laka pukul Aunty?"
Luviana tersentak. Buru-buru ia merapikan cadarnya.
Di samping ranjang, Lily berdiri dengan tatapan iba. Di sebelahnya, ada seorang anak laki-laki yang berdiri dengan tenang.
"Lily, ini siapa?" tanya Luviana pelan.
Lily tersenyum lebar. "Ini Kakak Elio! Saudala kembal Lily, tapi ndak milip! Mukanya milip Uncle Laka waktu kecil kata Ayah."
Luviana menatap Elio lekat. Garis wajahnya memang mirip Rakanza, hanya saja matanya jauh lebih lembut.
"Ya, namanya juga keponakan, pasti ada miripnya," gumam Luviana.
Elio melangkah maju. Tanpa suara, tangan kecilnya menyodorkan sapu tangan bersih.
Hati Luviana mencelos. Anak ini berwajah tampan mirip Rakanza, tapi sifatnya bertolak belakang. Begitu manis dan perhatian.
"Terima kasih ya, Nak..." ucapnya tulus. Belum sempat keharuan itu mengendap, suara nyaring terdengar.
KRUUKKK...
Perut Luviana berbunyi keras. Wajahnya langsung memerah di balik cadar. Lily dengan sigap mengambil mangkuk bubur ayam pemberian Gavin. Tanpa ragu, ia naik ke tepi kasur dan menyuapi Luviana dengan semangat.
Mereka sempat terkejut saat melihat wajah di balik cadar itu, tapi mereka tidak lari. Mereka tetap di sana.
"Dek, pelan-pelan. Nanti tumpah ke baju Aunty," tegur Elio seperti kakak tertua.
"Ndak tumpah kok, cuma netes dikit," balas Lily sambil cengengesan.
Melihat tingkah menggemaskan mereka, untuk pertama kalinya, senyum hangat terukir di wajah Luviana. Sesak di dadanya perlahan terangkat. Sebuah harapan kecil muncul di benaknya.
Mungkin... mungkin Ayah mereka bisa bantu menyembuhkan wajahku ini?
dasar anabella hantu gila astaga 😡😡😡