Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.
Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.
Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Tara yang mendengar adiknya membela dirinya hanya bisa menahan tawa. Dalam hati ia bersyukur Akmal masih terlalu kecil untuk memahami bahwa kalimat polosnya barusan telah berhasil membuat Ratna semakin kesal.
"AKMAL! Kalian itu ya!" Ratna melotot, ia bangkit dari duduknya, menghentakkan kaki berjalan masuk ke kamar.
"Mal," Bu Nina memberi isyarat agar anaknya diam. "Jadi bagaimana Bu?"
Nenek Bani mengusap lututnya pelan, lalu memandang seluruh anggota keluarga yang hadir satu per satu. "Ya, mau bagaimana lagi." Beliau mengembuskan napas panjang sebelum mengambil keputusan. "Kalau Ratna tetap menolak, kita sepakati saja... Tara yang dijodohkan dengan Sarif."
Keputusan itu membuat suasana kembali sunyi.
Nina tampak hendak menyampaikan keberatannya. "Tapi, Bu..."
Belum sempat kalimatnya selesai, Nenek Bani mengangkat tangan memberi isyarat agar tidak menyela. "Nggak ada tapi-tapi.".Nada suara beliau tidak tinggi, tetapi cukup tegas untuk membuat semua orang diam.."Perjodohan ini bukan main-main. Ibu sudah berjanji kepada sahabat Ibu sejak lama. Sekarang Tara sudah menyatakan kesediaannya. Jadi, tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan."
Tak seorang pun berani menyahut. Di keluarga besar Bani, jika Nenek Bani sudah mengetuk keputusan, maka pembahasan dianggap selesai.
Sementara Tara hanya mengedip beberapa kali. Lho... kok cepat banget putusannya? Baru satu jam yang lalu ia datang ke ruang tamu sebagai penonton. Sekarang... Ia pulang dengan status calon istri seorang prajurit bernama Sarif.
***
Begitu rapat keluarga selesai, Nina langsung berjalan menuju kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun..Tara, Taufan, dan Akmal saling berpandangan, lalu buru-buru mengikuti sang ibu.
Baru saja pintu kamar tertutup, Bu Nina yang sejak tadi terlihat tegar akhirnya tak mampu lagi menahan air matanya..Tangisnya pecah. Bahu perempuan itu bergetar hebat.
"Ibu...".Tara terkejut. Ia segera menghampiri dan memegang kedua tangan ibunya.."Lho, kok Ibu nangis?"
Nina menggeleng pelan. Air matanya terus mengalir.."Ibu merasa lemah, Ra.".Suaranya bergetar. "Sekadar membela kamu saja Ibu nggak bisa."
Ucapan itu membuat Tara terdiam.
"Bagaimana ini?" lanjut Nina sambil memeluk putri sulungnya erat. "Masa kamu harus dijodohkan? Kamu kan baru sembilan belas tahun." Tangisnya semakin menjadi. "Andai ayah kalian masih hidup..." Kalimat itu terputus karena isak tangis. "Nggak akan mungkin terjadi seperti ini."
Tara balas memeluk ibunya erat. Untuk pertama kalinya sejak menerima perjodohan itu, ia merasakan betapa berat beban yang dipikul sang ibu. Sementara di sudut kamar, Taufan dan Akmal hanya bisa terdiam. Melihat ibu mereka menangis seperti itu membuat hati keduanya ikut sesak. Ruangan kecil itu mendadak dipenuhi keheningan, hanya sesekali terdengar isak tangis Nina yang belum juga reda.
Tara mengusap pelan air mata yang membasahi pipi ibunya. Meski hatinya sendiri campur aduk, ia memaksakan senyum agar sang ibu tidak semakin larut dalam kesedihan. "Bu..." Suaranya lembut. "Tara nggak apa-apa, kok."
Nina menggeleng, masih terisak.
"Tara baik-baik saja." Tara menggenggam kedua tangan ibunya erat. "Ibu kan tahu... Tara itu hebat." Ia tersenyum kecil, berusaha mencairkan suasana. "Dan Tara juga kuat."
Mendengar kalimat itu, Nina justru menangis semakin keras. "Tara..." Namanya terucap lirih, penuh rasa bersalah. Tangis perempuan itu kembali pecah. Ia memeluk putri sulungnya erat, seolah takut kehilangan. Nina tahu betul seperti apa anaknya. Semakin Tara berkata dirinya baik-baik saja, semakin ia yakin putrinya sedang menyembunyikan perasaannya. Justru karena Tara terlalu kuat, terlalu dewasa untuk usianya, hati Nina terasa semakin perih. Seharusnya, di usia sembilan belas tahun, putrinya masih bebas mengejar mimpi, menikmati masa muda, dan menentukan jalan hidupnya sendiri. Bukan menerima sebuah perjodohan demi meringankan beban keluarga.
Tara balas memeluk ibunya sambil mengusap punggungnya perlahan. "Jangan nangis lagi, Bu. Nanti Tara ikut nangis juga." Padahal, diam-diam mata Tara sendiri mulai berkaca-kaca. Ia hanya berusaha menjadi kuat, karena kalau ia ikut menangis, siapa yang akan menguatkan ibunya?
***
Malam sebelum keluarga Sarif datang untuk acara pertemuan sekaligus lamaran, rumah besar keluarga Bani mulai dipenuhi kesibukan. Sementara di bagian paling belakang rumah, kamar Nina dan ketiga anaknya justru sudah mulai sepi. Mereka memilih beristirahat lebih awal setelah seharian membantu menyiapkan segala keperluan.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan di pintu membuat Akmal yang sedang bermain ponsel beranjak membukanya. Begitu pintu terbuka, matanya langsung membulat. "Lho... Nenek?"
Nenek Bani berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah paper bag berukuran cukup besar.
Akmal sampai mengucek matanya sebentar. "Nenek, tumben ke sini?" Pertanyaan polos itu bukan tanpa alasan.
Sejak Nina dan ketiga anaknya menempati kamar di bagian paling belakang rumah besar itu, Nenek Bani hampir tidak pernah datang ke sana. Beliau lebih sering beraktivitas di bagian depan rumah, tempat sebagian besar anggota keluarga berkumpul. Kalaupun ingin memanggil mereka, biasanya cukup lewat anggota keluarga lain. Karena itulah, kedatangan Nenek Bani malam itu terasa begitu tidak biasa.
Nenek Bani tersenyum tipis. "Nenek mau memberikan baju untuk kakakmu." Beliau melongok ke dalam kamar. "Mana Tara?"
Mendengar namanya dipanggil, Tara segera keluar dari kamar sambil mengusap rambutnya yang masih setengah basah seusai mandi. "Ada apa, Nek?" Tatapannya kemudian jatuh pada paper bag yang dibawa sang nenek. "Kok bawa hadiah buat aku?" Tara sempat terpaku beberapa detik. Seingatnya, ini adalah pertama kalinya sejak ayahnya meninggal dunia, Nenek Bani datang sendiri ke kamarnya dan memberikan perhatian khusus kepadanya.
Selama ini, perhatian sang nenek lebih banyak tercurah kepada Ratna. Sebagai cucu perempuan tertua, Ratna memang sering diajak dalam berbagai urusan keluarga. Tanpa disadari, perlakuan istimewa itu membuat Ratna tumbuh menjadi pribadi yang cukup keras pada pendapatnya sendiri.
Sementara keluarga Nina lebih sering menjalani hari-harinya di bagian belakang rumah tanpa banyak menjadi pusat perhatian. Kalaupun ada yang paling sering dipanggil atau diperhatikan Nenek Bani dari keluarga mereka, itu adalah Taufan. Sebagai cucu laki-laki tertua di generasi saat ini, Taufan sejak kecil dianggap sebagai penerus keluarga besar Bani. Karena itulah, Nenek Bani kerap memberi nasihat, mengajaknya berbincang, bahkan menaruh harapan besar di pundaknya.
Sedangkan Tara... Ia sudah terbiasa menjadi gadis yang tidak banyak ditanya dan tidak banyak diminta. Maka ketika malam itu Nenek Bani datang membawa sebuah paper bag khusus untuknya, Tara benar-benar merasa terkejut. Entah mengapa, perhatian sederhana itu justru membuat hatinya terasa hangat. Mungkin, setelah sekian lama, sang nenek akhirnya mulai melihatnya bukan hanya sebagai cucu yang tinggal di rumah itu, tetapi juga sebagai seorang gadis yang sebentar lagi akan memulai kehidupan barunya.
Tara menerima paper bag itu dengan kedua tangan. Senyumnya mengembang lebar, lalu ia menatap Nenek Bani dengan wajah berbinar. "Kalau begini," gumamnya pelan sambil terkekeh, "ternyata dijodohkan nggak buruk juga, ya."