Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.
Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.
Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Fitnah
Nama Sekte Surgawi Langit semakin hari semakin bersinar terang, hingga akhirnya menutupi sebagian kemasyhuran Sekte Awan Tinggi yang sudah berdiri ratusan tahun.
Di Aula Utama Sekte Awan Tinggi, suasana terasa berat dan sunyi. Ketua Sekte Chang duduk di kursi kebesaran, wajahnya tidak menunjukkan kegembiraan sedikit pun.
Di sekelilingnya berdiri para Tetua, termasuk Tetua Ming yang pernah berkunjung ke gerbang Sekte Surgawi Langit.
Semuanya diam, menatap bayangan yang ditampilkan oleh Batu Perekam — gambar keempat murid itu saat mereka mengalahkan orang tua dan leluhur klan mereka.
"Keempat anak itu... tahap kultivasi mereka masih di tingkat Pemula," ucap Ketua Chang pelan, suaranya terdengar getir. "Namun mereka mampu mengalahkan orang yang berada di tahap Pemadatan Qi bahkan Transformasi. Semata-mata karena teknik dan pusaka yang mereka miliki."
Tetua Ming mengangguk perlahan, wajahnya serius. "Saya sudah melihat sendiri kemegahan gerbang mereka. Sekte itu tidak sederhana. Teknik yang mereka wariskan kepada murid saja sudah melampaui apa yang kita miliki. Jika kita membiarkan mereka terus tumbuh, posisi kita di benua ini akan tergantikan dalam waktu singkat."
"Kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi," ucap Tetua lainnya dengan nada tegas. "Kita harus bertindak sebelum mereka menjadi terlalu kuat."
***
Di istana Kerajaan Langit Biru, suasana tidak jauh berbeda. Kaisar, Putra Mahkota, dan para penasihat berkumpul setelah mendengar laporan terbaru. Wajah Putra Mahkota tampak gelap dan penuh kekhawatiran.
"Rakyat mulai membandingkan kita dengan Sekte Surgawi Langit," ucapnya pelan namun terdengar kesal. "Mereka berkata bahwa sekte itu menerima siapa saja tanpa memandang asal-usul, sementara kita hanya mendekati keluarga kaya dan bangsawan. Jika rakyat mulai berpihak kepada mereka, kekuasaan kerajaan bisa terancam."
Kaisar menghela napas panjang, lalu menatap semua orang yang hadir. "Kita tidak bisa menyerang secara terang-terangan. Itu akan membuat rakyat semakin membenci kita. Tapi kita juga tidak bisa membiarkan mereka terus tumbuh tanpa hambatan."
Dari pertemuan itu, lahirlah sebuah rencana yang gelap. Mereka tidak akan menyerang secara langsung.
Sebaliknya, mereka akan menyebarkan berita buruk tentang Sekte Surgawi Langit, menuduh mereka menghancurkan klan besar tanpa alasan yang jelas, dan menyebut mereka sebagai sekte yang berbahaya dan penuh kekuatan jahat.
Namun satu hal yang tidak mereka sadari — setiap kata yang mereka ucapkan, setiap rencana yang mereka susun, semuanya terdengar jelas oleh seseorang yang berdiri di puncak tertinggi Gunung Langit.
Lin Yue berdiri di sana, cadarnya berkibar pelan di angin sore. Di benaknya, suara Sistem terdengar pelan namun jelas.
"Mereka mulai takut," ucap Lin Yue pelan, matanya menatap ke arah kejauhan tanpa berkedip. "Dan rasa takut itu akan membuat mereka melakukan hal-hal bodoh. Biarkan mereka berusaha. Sekte ini berdiri di atas kebenaran. Dan tidak ada rencana jahat yang bisa menghancurkan kebenaran itu."
...----------------...
Namun di balik pujian dan kekaguman itu, angin buruk mulai berhembus pelan. Orang-orang yang dikirim oleh Sekte Awan Tinggi dan pihak kerajaan mulai menyebarkan cerita yang berbeda.
Mereka berkata bahwa keempat murid itu adalah orang-orang kejam yang menghancurkan rumah keluarga sendiri tanpa belas kasihan, membunuh orang-orang tak berdosa, dan merampas harta klan demi kekayaan sekte mereka.
Mereka menyebut Sekte Surgawi Langit sebagai sekte jahat yang mengajarkan murid untuk tidak tahu berterima kasih dan membangkang kepada leluhur.
Berita itu sampai ke telinga banyak orang. Sebagian yang tidak menyaksikan kejadian itu sendiri mulai ragu.
Namun sebagian besar rakyat biasa justru tahu kebenarannya — mereka yang tinggal di desa dekat kediaman keempat klan itu sudah tahu betapa kejamnya keluarga-keluarga itu sejak lama.
Mereka melihat sendiri bagaimana keempat murid itu bertindak — tidak ada pembantaian, anak-anak dan orang yang tidak bersalah dibiarkan pergi, dan hanya mereka yang berbuat jahat yang kehilangan kekuatan.
"Jika sekte itu jahat, mengapa mereka tidak membunuh siapa pun?" ucap orang-orang di pasar dengan lantang. "Mengapa mereka membiarkan orang biasa pergi dengan selamat? Yang hancur hanyalah mereka yang selama ini menindas rakyat dan berbuat semena-mena!"
Kabar itu sampai kembali ke Sekte Awan Tinggi. Ketua Chang mendengar laporan itu dengan wajah semakin gelap.
Rencananya tidak berjalan seperti yang diharapkan. Rakyat tidak mudah dibodohi. Justru karena fitnah itu, semakin banyak orang yang mulai mencari tahu kebenaran, dan semakin banyak yang kagum pada keadilan yang ditegakkan oleh Sekte Surgawi Langit.
"Kita tidak bisa membiarkan hal ini terus berlanjut," ucap Ketua Chang dengan suara berat. "Kita harus mencari cara lain. Jika kita tidak bisa mencoreng nama mereka di mata rakyat, kita harus mencari alasan yang lebih kuat untuk bertindak."
"Kita belum tahu seberapa kuat sekte itu sebenarnya. Gerbangnya memang sudah kita ketahui letaknya, namun formasi pelindung di sana membuat siapa pun tidak bisa masuk tanpa izin. Bahkan kekuatan di dalamnya pun tidak bisa terlihat dari luar. Lebih baik kita menunggu dan mengamati dulu, sambil mencari cara untuk menembus formasi pelindung itu!" ucap Tetua Ming.
***
Sementara itu, di puncak gunung, keempat murid inti itu telah kembali. Mereka berdiri di hadapan Lin Yue di bawah Pohon Roh.
Aura mereka tidak berubah menjadi lebih gelap, justru terasa lebih tenang dan kokoh. Beban masa lalu yang membelenggu hati mereka selama bertahun-tahun kini telah terangkat. Dendam itu sudah disalurkan melalui keadilan, bukan melalui amarah buta.
"Mereka menyebarkan fitnah tentang kita," ucap Su Yao pelan. "Apakah Guru tidak khawatir?"
Lin Yue menuangkan teh pencerahan ke cangkir batu, lalu mendorongnya ke arah mereka berempat. "Kebenaran tidak perlu dibela dengan kata-kata. Waktu yang akan membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang perlu kalian lakukan hanyalah satu hal — teruslah menjadi orang yang adil. Jika kalian tetap di jalan yang benar, tidak ada fitnah yang bisa menenggelamkan nama sekte ini selamanya."
Zhang Hu menunduk hormat. "Murid mengerti. Orang boleh berkata apa saja. Yang penting tindakan kita tidak berubah."
"Bagus," ucap Lin Yue lembut namun tegas. "Istirahatlah. Kalian telah menyelesaikan urusan masa lalu dengan baik. Sekarang, waktunya untuk melangkah ke masa depan. Masih banyak hal yang harus kalian pelajari, dan kekuatan yang harus kalian capai. Karena musuh kita tidak akan diam selamanya."
Keempatnya mengangguk patuh lalu berbalik pergi. Lin Yue menatap punggung mereka yang semakin tegap dan mantap.
Sekte Awan Tinggi dan Kerajaan Langit Biru tidak akan berhenti hanya dengan fitnah. Mereka akan mencari cara lain, dan suatu hari nanti, mereka akan berani bergerak secara terang-terangan.
Namun sampai saat itu tiba, Sekte Surgawi Langit akan terus tumbuh dan berkembang, tak tergoyahkan oleh angin buruk apa pun.
"Biarkan mereka berkata apa saja," ucapnya pelan pada diri sendiri sambil menatap awan yang berarak di kejauhan. "Kebenaran pada akhirnya akan selalu menang. Dan sekte ini... dibangun di atas fondasi yang tidak bisa digoyahkan oleh siapa pun."
.
.
.
.
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥